Berniat ingin membatalkan perjodohan dengan bersandiwara bersama seorang wanita yang tak sengaja ia tabrak.
Siapa sangka, bahwa ternyata wanita itulah yang akan di jodohkan dengan nya.
Bagai buah simalakama, nasi sudah menjadi bubur, dirinya sudah terlanjur mengatakan ingin menikah dan mencintai wanita tersebut.
Lalu, bagaimana kelanjutan kisah keduanya setelah menikah?
Akankah rasa cinta itu tumbuh? Atau malah harus berakhir setelah keduanya menemukan cinta sejati masing-masing?
Yuk, simak kisahnya om dokter Bastian dan gadis bar bar Denisa.
follow IG mommy : @Mommy_Ar29
Follow TikTok : @Mommy_Ar95
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mode cemburu
Hingga sore hari, Nisa masih begitu betah berada di rumah Michele. Siang yang awalnya ia ingin menemui suaminya di rumah sakit, nyatanya urung karena keasikan mengobrol dengan Michele dan juga Anna. Saat jam pulang kantor, akhirnya Nisa baru pamit dan menuju rumah sakit. Beberapa jam yang lalu, Bastian mengabari bahwa dirinya akan ada operasi mendadak, jadi tidak bisa pulang cepat.
Menaiki taxi, kini ia sudah sampai di rumah sakit. Tidak perlu berasa basi, ia segera melenggang menuju ruangan suaminya. Lagi, hal yang tidak ia sukai saat membuka pintu ruangan Bastian ialah, di saat dirinya melihat suaminya tengah berbincang dengan rekan nya, dokter Widhi.
"Sayang," Bastian tersenyum menatap kedatangan istrinya, namun beda hal nya dengan Nisa dan juga dokter Widhi, keduanya nampak diam dan saling menatap.
"Kayaknya aku ganggu deh," kata Nisa dengan ekspresi wajah datar nya, namun matanya jelas melirik sinis ke arah dokter Widhi yang masih stay duduk di tempat nya.
"Ganggu apaan sih, jangan mulai lagi deh." tau bahwa istrinya dalam mode cemburu, Bastian segera memeluk nya dari belakang dan menggiring Nisa untuk duduk di kursi nya, "Kamu duduk disini dulu." imbuh nya lalu pamit keluar sebentar.
"Halo, perkenalkan saya Widhi, saya dan dokter Bastian—"
"Kalian hanya berteman sejak saat SMA," saut Nisa segera memotong ucapan dokter Widhi, "Saya tau kok, suami saya pernah cerita."
"Ah, syukurlah kalau begitu. Semoga tidak akan ada kesalahpahaman," kata dokter Widhi tersenyum.
"Tidak akan ada kesalahpahaman, kalau dokter Widhi tidak sering sering menemui suami saya di ruangan pribadi seperti ini," jawab Nisa dengan santai.
"Saya hanya konsul, tidak lebih."
"Oh! " tidak ingin berdebat, Nisa hanya menjawab nya dengan ber oh ria.
Entah mengapa, dirinya tidak menyukai sosok dokter Widhi. Walaupun terlihat kalem dan lembut, entah mengapa hati Nisa berkata lain. Cukup lama keduanya saling diam di ruangan itu, hingga saat Bastian datang dengan membawa sebuah berkas di tangan nya.
"Nah ini yang kamu minta. Seperti yang aku jelasin tadi, kamu bisa pelajari semuanya disini. Dan kalau ada yang kamu gak ngerti, nanti bisa tanya lagi." ucap Bastian sembari memberikan berkas kepada dokter Widhi.
"Baiklah, terimakasih kak. Kalau begitu saya permisi," ujar dokter Widhi tersenyum kepada Bastian dan Nisa lalu pergi.
"Terimakasih kak," cibir Nisa menirukan gaya bicara dokter Widhi.
"Kamu cemburu?" goda Bastian dan langsung duduk di sisi meja depan Nisa.
"Enggak! ngapain cemburu! gak penting!" cetus nya lalu ia mendorong kursi nya ke belakang agar menjauh dari Bastian, "Dah lah, aku mau pulang." imbuh nya seraya bangkit dari tempat duduk.
"Kamu udah makan?" tanya Bastian segera mengejar istrinya yang sedang dalam mode galak.
"Udah!" jawab nya dengan cepat tanpa menghentikan langkah nya.
"Makan apa? dimana? sama sahabat kamu?" tanya Bastian lagi yang berusaha mensejajarkan jalan nya di samping Nisa.
"Makan ati!" seru Nisa, "Terimakasih kak," lagi lagi Bastian malah tertawa melihat istrinya dalam mode cemburu, hingga membuat Nisa semakin merasa kesal dan marah.
"Enak dong ati, pakai kentang gak? atau pakai—"
"Bastian iihhh, sumpah kamu itu suami ter- nyebelin yang pernah aku lihat!" seru nya dan langsung memukul bahu suaminya.
"Emang suami kamu ada berapa? sampai kamu bisa bandingin mana yang ter-nyebelin segala!" saut Bastian masih mode meledek.
Tiba tiba Nisa menghentikan langkah nya saat sudah sampai di lobi rumah sakit. Dahinya sedikit berkerut, lalu tiba tiba matanya membola dengan sempurna.
dulu pas kia ngidam kn om Abas yg repot