Jodoh tak mengenal batas dan jarak, walau berbeda negara dan benua tapi Tuhan memiliki skenario sendiri untuk mempertemukan keduanya yang tak mungkin bisa dihindari umatnya.
Begitu juga dengan Dr. Steven Lee dan Anna Wibisana, yang dipertemukan di sebuah desa kecil di Perancis ketika keduanya sama-sama terlula oleh cinta. Tertatih mereka berdua saling mengisi untuk mencoba kembali bangkit dari kesalahan masa lalu yang kelam, sampau akhirnya retakan di hati mereka perlahan mulai kembali utuh.
Tapi, masa lalu kembali menghancurkan hati salah satu dari mereka.
Yours best teacher is yours last mistake.
-Autumn Girl-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alana Kanaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Tak terasa sudah beberapa hari Dr. Lee dan keluarga barunya tinggal di Jakarta, sambutan dari keluarga Anna yang hangat diluar dugaannya. Mereka sangat menyayangi Alice, Ibunya Anna selalu membawa cucunya itu kemanapun seolah memamerkan gadis kecil itu kepada semua kenalannya dengan bangga, begitu juga dengan Ayah Anna yang terihat malas untuk pergi kerja dan pulang lebih awal hanya untuk bermain dengan cucunya.
Seolah tak mau ketinggalan Byan-pun selalu mengajak Alice berkeliling menaiki motor setiap sore dan itu adalah aktifitas kesukaannya, setiap sore dia sudah siap dengan jaket, topi dan kacamatanya duduk di atas motor milik Byan, dan adik Anna itu akan dengan senang hati mengajaknya berkeliling.
Semua terlihat sempurna layaknya keluarga bahagia, mereka pergi ke pantai, melihat ikan di aquarium raksasa, taman hiburan dan makan di tempat-tempat yang menyuguhkan makanan terbaik di Ibu Kota. Ya semua sempurna buat mereka semua, tapi keluarga Anna tak mengetahui ketika malam menjelang maka perasaan putri dan menantu keasayangannya itu akan bercampur aduk.
Dada mereka akan berpacu hebat ketika dengan perlahan kaki mereka melangkah menuju kamar tidur, semua kegembiraan hari itu seolah menguap begitu saja berganti dengan ketegangan. Mereka bahkan tak berani hanya untuk saling menatap mata pasangannya, seolah kalau mereka melakukan itu maka sebuah dosa besar akan terjadi, walaupun keduanya tahu kalau itu bukanlah dosa bagi keduanya.
Dr. Lee biasanya akan masuk ke kamar ketika malam sudah sangat larut dan meyakini kalau Anna sudah terlelap, kamar Anna tidak begitu luas hanya terdapat sebuah tempat tidur berukuran sedang, lemari pakaian dan meja rias, tak ada sofa yang bisa ia jadikan tempat tidur dan Anna tak mengijinkannya untuk tidur di lantai, alhasil mereka-pun tidur di tempat tidur yang sama dengan tubuh saling memunggungi.
Hari pertama mereka lewati degan sangat canggung dan entah kenapa malam itu Dr. Lee tak bisa memejamkan matanya yang terus terjaga hingga terdengar adzan subuh dari masjid yang berada di daerah rumah orangtua Anna, barulah perlahan dunia mimpi merangkulnya untuk beristirahat.
Sebagai pria modern dan juga normal ini bukan pertama kalinya ia tidur satu ranjang dengan seorang perempuan, tapi ini pertama kalinya ia tidur dengan seorang perempuan tanpa melakukan apapun, terlebih lagi perempuan itu adalah istrinya sendiri. Dan itu sangat menyiksanya.
Terkadang ia bisa melihat Anna menatapnya dengan penuh kasih sayang dan itu malah menjadi beban untuknya walaupun tanpa dipungkiri ia menyukai hal itu, setiap Anna menatapnya dengan pandangan penuh kasih sayang tanpa diduga hatinya sedikit berdesir, tapi ia tahu kalau itu bukan perasaan Anna sesungguhnya.
Seperti sekarang, jam sudah menunjukan pukul satu malam dan ia mengira kalau Anna sudah tertidur tapi gadis itu kini tengah menatapnya dengan mata berbinar dan senyum mengembang ketika melihatnya memasuki kamar mereka.
“Kau… belum tidur?” Tanya Dr. Lee terlihat terkejut mendapati perempuan itu masih terjaga.
“Belum, aku harus menyelesaikan ini dulu… aku takut besok tak sempat membereskannya,” jawab Anna masih dengan senyum manisnya kemudian kembali larut membereskan pakaian mereka bertiga ke dalam koper, malam ini adalah malam terakhir mereka tinggal di Jakarta dan besok mereka harus kembali ke Perancis.
Dr. Lee mengangguk mendengar jawaban itu kemudian duduk di ujung tempat tidur.
“Apa kau akan membawa semua pakaian itu?” Tanya Dr. Lee ketika menyadari banyaknya pakaian Anna dan juga Alice yang baru dibelikan oleh ibu Anna ketika mereka berjalan-jalan kemarin.
“Tidak, aku akan meninggalkan sebagian di sini… rencananya setelah semua selesai aku akan kembali ke sini,” ucap Anna berusaha tegar karena ia menyadari arti kata semuanya di sini bukan hanya masalah tentang hak asuh tapi juga pernikahan kontrak mereka.
Dr. Lee terdiam beberapa saat karena dalam hati ia-pun paham apa maksud dari ucapan Anna, ia membuang napas panjang membuat Anna melirik ke arahnya, pria itu mempesona seperti biasanya dengan kaos putih dan celana tidur hitam sambil bertumpang kaki dengan tangan ke belakang sebagai tumpuan ia terlihat seperti model yang tengah melakukan pemotretan untuk sebuah iklan, untuk beberapa saat Anna menikmati pemandangan itu.
Merasa diperhatikan Dr. Lee menatap Anna yang masih menatapnya, beberapa saat mereka hanya saling pandang dengan tatapan penuh makna membuat udara di dalam ruangan itu menjadi panas, sampai akhirnya Anna berdehem sambil berdiri.
“Apa AC-nya mati?” ucap Anna sambil mengambil remot dan menaikan suhu pendingin ruangan, dengan canggung ia meletakan remot itu kembali lalu membereskan koper untuk kemudian ia taruh di pojok ruangan. Melihat sikap Anna yang canggung diam-diam membuat Dr. Lee tersenyum.
“Se-sebaiknya kita tidur,” ajak Anna dengan gugup sambil berjalan kearah tempat tidur dan masih terlihat gugup.
Dr. Lee kini bersandar di kepala tempat tidur sambil bertumpang tangan, kaki panjangnya diselonjorkan, sedangankan Anna sudah berada di balik selimut yang membungkus tubuhnya sampai leher.
“Apa kau tidak memberitahu orangtuamu tentang masalah Alice?” Tanya Dr. Lee pelan membuat Anna membalikkan badan menghadapnya.
Sebelum menjawab ia bangkit duduk untuk bersandar di kepala tempat tidur seperti pria disampingnya sambil memeluk guling.
“Tidak,” jawabnya singkat, ada kesedihan di dalam sorot matanya ketika diingatkan tentang masalah yang harus ia kembali hadapi ketika kembali ke Paris besok.
“Kenapa?” Tanya Dr. Lee yang kini duduk menghadap Anna dan menatap perempuan bermata hitam itu dengan serius.
“Aku tak mau membuat mereka sedih untuk kesekian kalinya karena aku, dan aku tak ingin menambah beban pikiran mereka tentang ini.”
Mendengar jawaban Anna membuat Dr. Lee kembali terdiam dan larut dalam pikirannya sendiri.
“Apa yang sedang kau pikirkan?” Anna bertanya setelah melihat pria di sampingnya terdiam dengan mata menerawang.
“Tidak… aku hanya tak menyangka kalau ternyata keluargamu menerimaku dengan tangan terbuka,” jawab Dr. Lee sambil tersenyum berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Mereka semua menyukaimu, terutama Mamah dan Bi Nani,” ucap Anna sambil tertawa ketika mengingat ibunya dan asisten rumah tangga mereka seringkali memuji ketampanan pria berhidung mancung itu dan mengatakan kalau ia seperti artis-artis Korea.
“Sebenarnya aku jauh lebih tampan dari para aktor itu,” ujar Dr. Lee penuh percaya diri membuat Anna kembali tertawa.
“Kenapa kau tertawa? Apa kau tak percaya kalau aku lebih tampan,” ucap Dr. Lee dengan wajah serius menghadap Anna yang malah membuatnya semakin terbahak-bahak.
“Aku tak percaya ini! Kau menertawakanku?!” Seru Dr. Lee dengan tangan memegang pipi Anna yang masih terbahak, membuatnya menekan kedua samping pipi perempuan itu hingga wajahnya terihat seperti ikan kembung dan kini giliran Dr. Lee yang tertawa.
“Kau terlihat lucu,” ucap Dr. Lee sambil menggoyang-goyangkan kepala Anna yang sedang meronta berusaha melepaskan cengkraman pria itu, “Kau terlihat seperti Dori di film Nemo,” lanjutnya sambil terbahak membuat Anna mendelik padanya.
“Lepaskan!” pinta Anna dengan wajah ikannya.
“Kau ingin aku melepaskanmu.. Dori.” Dr. Lee kembali tertawa ketika melihat Anna memberengut marah kearahnya.
“Aku akan melepaskanmu, tapi jawab pertanyanku.. apa aku lebih tampan dari Lee Minho?” Tanyanya membuat Anna mengangkat alis matanya kemudian mengangguk.
“Heiii… kau terlihat tidak tulus ketika menjawabnya,” ucap Dr. Lee sambil menggelengkan kepala, “Ok, aku ulangi… apa aku lebih tampan dari para artis Korea?”
Anna kini terdiam matanya terlihat menatap Dr. Lee dengan lembut, ia menatap matanya yang tajam tapi memberikan keteduhan, hidungnya yang mancung, bibirnya yang terlihat seksi, dan rahangnya yang kokoh.
Dr. Lee seolah tak bisa bernapas ketika Anna mengamatinya dengan seksama, pandangan itu... pandangan yang selalu membuat hatinya berdesir setiap mata hitam perempuan itu memandangnya dengan sorot penuh kasih sayang membuatnya perlahan melepaskan tangannya dari pipi Anna.
“Kau, lebih tampan daripada mereka,” jawab Anna sambil menatap mata Dr. Lee dengan penuh keyakinan.
“Benarkah?” suara Dr. Lee terdengar serak, mata mereka masih saling pandang membuat Anna menelan ludahnya kasar sambil mengangguk.
Dengan perlahan kepala Dr. Lee mendekati kepala Anna yang kini jantungnya bertalu dengan hebat, matanya terbelalak menyadari apa yang akan terjadi kemudian, matanya kini terlihat berkabut menatap mata Anna kemudian turun menatap bibir merah gadis itu yang terlihat sangat menggoda.
Jarak mereka kini semakin dekat membuat Anna memejamkan matanya, hatinya berdebar seolah itu adalah ciuman pertamanya yang selalu ia nantikan selama ini. Mereka telah menikah yang terntu saja menjadikanya syah dimata hukum dan agama seandainya ciuman itu berlanjut lebih jauh lagi.
****
karyamu selalu menghibur..
untung gw baca Ayumi -Erik duluan,jadi paham alurnya