"Apa kita berdua dijodohkan!" Celia dan Alfian sama-sama terpeki kaget ketika orang tua mereka merencanakan Perjodohan di masa muda mereka.
"Benar sekali," sahut Darius.
"Ini tidak masuk akal. Pa, kami berdua masih sekolah dan bahkan kami tidak akrab," sahut Alfian.
"Tenanglah Alfian, justru perjodohan ini akan membuat kalian akrab dan belajar untuk menuju hidup di masa depan," aahhh Darius.
Alfian dan Celia benar-benar tidak menyangka bahwa mereka akan dijodohkan, mereka sudah mencoba untuk protes, tetapi para orang tua itu menginginkan hubungan mereka diikat dalam ikatan pertunangan.
Alfian dan Celia saling bertukar cincin sebagai ikatan diantara mereka berdua jika ada hubungan spesial yang tidak akan terpisahkan oleh apapun.
Raut wajah Alfian dan Celia terlihat murung, tidak memiliki pilihan selain menuruti permintaan orang-orang dewasa.
Celia terpaksa melakukannya agar memiliki akses lebih luas untuk bisa sekolah di luar negeri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9 Di Hukum Bersama
Kelas 2 Ipa A.
Seperti biasa ketika kedatangan guru di jam pelajaran tersebut membuat murid-murid Kembali ke tempat duduk masing-masing.
"Selamat pagi anak-anak!" sapa guru wanita tersebut
"Pagi Bu," sahut semuanya serentak.
"Kita punya tugas di rumah bukan, ayo sekarang kumpulkan tugasnya," ucap Bu Tati.
Semua murid-murid mulai membuka tas mereka dengan mengeluarkan buku tugas tersebut dan mengantarkan ke depan kelas.
Sementara Celia terlihat kebingungan yang mengacak-acak tasnya.
"Bukankah tadi aku sudah membawanya," ucap Celia terlihat panik.
Diego dan Yogi saling melihat satu sama lain dengan senyum penuh arti.
"Siapa yang tidak mengumpulkan tugasnya maju ke depan!" ucap Bu Tati.
Alfian berdiri dari tempat duduknya dan langsung maju ke depan membuat Valery dan Kania saling melihat.
"Alfian tidak selesai?" tanya Valery.
"Kita berdua bahkan nyontek tugas dia," sahut Yogi dan Diego terlihat kebingungan saat teman mereka sudah berdiri di depan kelas.
"Kamu ini kebiasaan Alfian, selalu sepele dengan tugas-tugas yang Ibu berikan," Bu Tati geleng-geleng kepala melihat muridnya.
"Celia kamu sudah mengumpulkan tugas?" tanyanya ketika perhatiannya tertuju Celia yang masih mencari bukunya.
"Maaf Bu, buku saya ketinggalan," jawab Celia dengan gugup.
"Alasan aja Bu, paling juga tugasnya tidak selesai," sahut Yogi.
"Ya namanya juga murid baru, aura aura tingkah pemalasnya sudah kelihatan," sambung Diego.
"Mungkin saja tugasnya sulit dan memilih alasan untuk meninggalkan buku tugas daripada mengerjakan," sambung Kania.
Valery hanya tersenyum melihat bagaimana kelimpungan Celia saat ini.
"Bu di hukum juga dong, mana ada toleransi untuk murid baru, kan sudah beberapa hari sekolah di sini dan lagi pula tugas yang diberikan juga ketika dia sudah berada di sekolah ini," sahut Valery sudah pasti tidak rela sahabatnya dihukum sendirian.
"Celia ayo kamu maju ke depan!" titah Bu Tati
Celia menurut dengan berdiri tampak lesu dari tempat duduknya, Celia tidak mungkin membangkang karena memang tugasnya tidak bisa dia kumpulkan.
"Hanya ada dua orang yang tidak menyelesaikan tugas dengan alasan masing-masing. Kalian berdua akan dihukum," ucap Bu Tati.
"Ini adalah tugas kesenian, tugas teori yang Ibu berikan kepada kalian tetapi kalian berdua tidak mampu menyelesaikannya dengan baik dan tidak mampu mengumpulkannya seperti teman-teman kalian, untuk hukuman kalian berdua, kalian harus menghafal berbagai alat musik dan juga dari daerah masing-masing dan untuk tugas kedua kalian harus membuat kerajinan yang menarik," ucap Bu Tati.
"Sebanyak itu," protes Alfian.
"Jika keberatan maka ibu akan menambah satu tugas lagi," sahut Bu Tati memberi ancaman.
"Baik Bu, saya akan mengerjakannya!" Celia sudah pusing dengan banyaknya tugas dari sekolah tersebut dan tidak ingin tugas bertambah lagi.
"Baguslah...." sahut Tati.
*****
Karena tidak mengerjakan tugas membuat Celia dan Alfian mendapat hukuman tidak mengikuti jam pelajaran kesenian dan jam pelajaran itu dimanfaatkan keduanya untuk menghafal yang harus disetorkan di jam istirahat pada Bu Tati.
*****
Celia dan Alfian saat ini berada di anak tangga yang berada di lapangan basket. Jika Celia sejak tadi terlihat menghafal dengan serius dan maka berbeda dengan Alfian yang tampak tidur dengan kedua tangannya berada di bawah kepalanya.
"Gamelan..."
"Seruling..."
Suara Celia ternyata tidak membuat Alfian terganggu dalam tidurnya, tetapi karena keheningan dan Celia yang berbicara sendiri membuat Celia menoleh ke arah Alfian.
"Woy tidur mulu, buruan hafal!" tegur Celia membuat mata Alfian terbuka.
"Atau jangan-jangan sengaja ya tidak mengerjakan tugas agar tidak mengikuti jam pelajaran kesenian!" tebak Celia penuh kecurigaan.
"Ya, kesenian sangat membosankan," jawab Alfian
"Tetapi karena kesengajaan tidak mengerjakan tugas dan mendapatkan dua tugas, bukankah itu sama saja," ucap Celia.
Alfian tidak merespon dan kemudian duduk, Alfian mengambil liquid dari dalam sakunya dan langsung meniupnya dengan hembusan asap yang begitu banyak membuat Celia mengipas-ngipas bagian wajahnya untuk menyingkirkan asap tersebut dan bahkan Celia sampai batuk-batuk.
"Woy asap tuh ke mana-mana, penyakit tahu!" kesal Celia.
Uhuk-uhuk-uhuk-uhuk.
Alfian sama sekali tidak peduli dan justru merasa keren bisa melakukan hal itu.
"Memang lo tidak sayang sama tubuh kamu, lo, sekolah di tempat yang bagus, pendidikan yang luar biasa dan sudah pasti dipelajari bahwa rokok bisa merusak paru-paru, paru-paru lo bisa bermasalah di usia lo yang akan semakin bertambah!" ucap Celia.
"Lo Dokter?" tanya Alfian.
"Untuk masalah kesehatan secara dasar seperti ini anak kecil juga tahu, jika asap rokok dan bagi orang yang menggunakan rokok akan mengalami masalah pada paru-parunya di usia yang akan semakin matang," jawab Celia.
"Mama saja seorang dokter tidak pernah mengatakan ini kepadaku, jadi jangan sok tahu belum jadi apa-apa sudah sok tahu penyakit ini dan itu," ucap Alfian.
"Issss, dibilangin ngeyel!" kesal Celia.
"Cepat buruan hafal dan langsung disetor, gue mau ke kantin bosan di sini," ucap Alfian.
"Yang adanya gue yang berbicara seperti itu, sejak tadi mulutku berbusa menghafal tugas yang diberikan oleh Bu Tati dan sementara lo tidur mulu," sahut Celia dengan sewot.
Alfian menghela nafas dan kemudian berdiri dari tempat duduknya.
"Heh lo kemana?" tanya Celia.
"Setor hapalan," jawab Alfian.
"Setor hapalan, memang dia sudah selesai menghafal, perasaan dia sejak tadi tidur," ucap Celia kebingungan.
"Tunggu!" Celia berdiri dan menyusul Alfian.
*****
Arini dan Alfian saat ini sudah berada di ruang guru dan langsung berhadapan dengan Bu Tati.
Celia tampak gugup dengan kedua tangan saling menggenggam erat. Napasnya terdengar pelan namun tidak beraturan.
"Kalian berdua sudah menyelesaikan tugas pertama dari ibu?" tanya Bu Tati.
"Sudah Bu," jawab Celia.
"Baiklah kalau begitu siapa yang pertama kali terlebih dahulu menyetorkan hafalannya?" tanya Bu Tati bergantian melihat kedua murid tersebut yang berdiri saling bersebelahan.
"Saya Bu," sahut Celia dengan percaya diri mengangkat tangan.
"Baik, Celia sekarang sebutkan alat musik tradisional beserta daerah asalnya yang sudah Ibu minta untuk dihafalkan," ucap Bu Tati dengan tenang.
Celia menelan ludah. Ia mencoba mengingat satu per satu alat musik yang sebelumnya telah dihafal.
"E-eh... angklung... berasal dari Jawa Barat," ucapnya pelan.
"Sasando... berasal dari Nusa Tenggara Timur.
"Lalu... tifa... berasal dari Papua dan Maluku."
Suasana ruangan semakin hening.
Celia sempat terdiam beberapa detik. Keningnya berkerut, berusaha mengingat nama alat musik berikutnya. Jemarinya mulai gemetar karena takut salah.
"Sa-sa... saluang..." katanya terbata-bata. "Berasal dari Sumatera Barat."
"Kolintang berasal dari Sulawesi Utara. Gamelan berasal dari Jawa Tengah dan Yogyakarta. Kendang berasal dari Jawa Barat."
Celia terus menyetorkan hafalannya dengan penuh kegugupan sampai akhirnya hafalan itu sudah selesai.
"Celia kamu sudah cukup baik menyetorkan hafalan kamu, meski masih ada beberapa yang kurang jelas penyebutannya dan kamu juga belum terlalu sempurna, tetapi dengan waktu yang sangat singkat Ibu menghargai usaha kamu dan tanggung jawab kamu sebagai pengganti tugas kamu," ucap Bu Tati membuat Celia menganggukkan kepala.
"Baiklah kalau begitu silakan Alfian kamu lanjutkan," sahut Bu Tati.
Alfian menganggukkan kepala.
"Angklung berasal dari Jawa Barat, sasando berasal dari Jawa Timur, kolintang berasal dari Sulawesi Utara, saluang berasal dari Sumatera Barat,"
Celia sampai menoleh ke arah Alfian yang menyetorkan hafalannya dengan sangat lancar tanpa terbata-bata seperti dirinya.
Bersambung....