Semuanya nampak baik-baik saja, dia ceria , bahagia , ramah , kuat dan tegar! Tetapi itu hanya cover nya saja, dan yang kenyataannya adalah?
Dia rapuh, cengeng dan juga sakit!
Dan semua nya berubah ketika dia sembuh dari sakit yang membuat mental nya terganggu.
Dia bukan lagi wanita ramah dan ceria, melainkan wanita cuek dengan wajah datar dan segudang frestasi dan kekayaan!
*
Zahra Khoerunisa, memilih untuk pergi dan meninggalkan cinta pertama nya daripada bertahan dengan sakit yang teramat sakit.
-Di ambil dari kisah nyata-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hnislstiwti., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Hari berlalu dan sejak 1 minggu yang lalu kehidupan Zahra lebih baik lagi. Apalagi ada keluarga yang mensuport nya.
1 minggu kemarin, Zahra habiskan setiap hari nya hanya bersama dengan sang Keluarga. Bahkan tak jarang Raymond merajuk karena selalu di abaikan oleh Zahra.
Ya, sejak hubungan nya mendapatkan restu dari kedua keluarga. Hubungan Zahra dan Raymond semakin dekat saja, tetapi jika di dalam perusahaan mereka bersikap seperti orang asing pada umum nya.
Tepat pada hari ini, Zahra dan Raymond mengantarkan Doni dan yang lainnya untuk pergi ke Bandara.
Mereka akan kembali ke tanah air untuk mempersiapkan pernikahan antara Doni dan Ana.
"Jaga diri mu baik-baik ya, Nak" ucap Ibu dengan lembut.
Zahra mengangguk dalam pelukan sang Ibu, dia sendiri akan pulang nanti saat pernikahan itu di gelar.
"Awas lu kalau gak pulang" ucap Doni dengan sinis.
"Iya iya aku pulang kok" balas Zahra terkekeh.
Lalu mereka memeluk Zahra bergantian, sedangkan Ray hanya menatap nya dari dalam mobil Zahra.
Ia tidak ingin ada netizen yang melihat dirinya bersama dengan seorang wanita.
Setelah melihat keluarga nya pergi, Zahra menghapus air mata nya dan melangkah pergi ke arah mobil nya.
Zahra masuk dan duduk di belakang bersama dengan Ray, ia menyeka air mata nya yang meluncur kembali.
"Menangislah jika memang ingin menangis, itu bukan tanda lemah kok, hmm" ucap Ray dengan memegang tangan Zahra lembut.
Zahra menatap Ray dengan sendu, ia masih rindu dengan orangtua nya. Tetapi ia juga punya tanggung jawab dalam bekerja dan bahkan ia harus bekerja keras untuk event itu.
Zahra ingin membuktikan pada semua orang, bahwa ia juga mampu mengangkat derajat sang keluarga.
"Hiks hiks, aku aku masih rindu pada mereka" tangis Zahra pecah saat Ray memeluk nya dengan lembut.
"Mau ikut pulang?" tawar Ray dengan menghapus air mata Zahra.
Zahra menggelengkan kepala, ia tahu bahwa Ray pasti akan mengizinkan dia pulang padahal pekerjaan di perusahaan sedang banyak.
"Tidak, aku ingin pulang setelah event nanti, aku ingin memberikan hadiah untuk kedua orangtua ku" balas Zahra dengan tegas.
Ray tersenyum, rasanya ia ingin sekali mencium wanita yang ada di pelukannya ini.
"Kalau begitu jangan nangis, tunjukan padaku , pada orangtua mu bahwa kau mampu memenangkan event itu. Aku tidak akan membantu mu sama sekali, aku hanya mendaftarkan nama mu saja" ucap Ray dengan penuh suport.
Zahra mengangguk, ia tersenyum pada Ray.
"Terimakasih, karena selama ini kau sudah selalu ada di sampingku meski dulu aku acuh dan cuek" ucap Zahra lembut.
"Tidak apa, yang terpenting kau sekarang adalah calon Istri ku" balas Raymond dengan yakin.
"Ck, yakin sekali kalau aku mau sama anda, Tuan muda" olok Zahra dengan terkekeh.
"Yakin dong, kalau kau tidak mau mana mungkin kau akan membalas memelukku dan bahkan tidak melepaskannnya" goda Ray dengan tersenyum miring.
Ehh.
Saat Zahra akan melepaskan pelukannya, justru dengan erat Ray memeluk Zahra.
"Biarkan begini dulu" ucap Ray lirih.
Zahra luluh, ia membiarkan Ray memeluknya dan ia juga membalas pelukan itu, bahkan Zahra menyandarkan kepala nya di dada bidang Ray.
Irwan yang sedang mengemudikan mobil itu pun tersenyum tipis.
Pasalnya baru sekarang ia melihat sang Tuan begitu berbinar dan bahagia.
Sepanjang perjalanan ke mansion Ray, dua anak manusia yang berada di kursi belakang masih saja berpelukan dengan diam.
Mereka berdua sangat menikmati pelukan hangat itu, Zahra pun sudah sangat lama tidak merasakan pelukan hangat dan juga nyaman begini.
"Semua nya telah berlalu, aku akan memulai lagi dengan lembaran baru dan menerima semua ini. Semoga saja kenyamanan dan ketulusan ini tidak akan membuatku patah ke dua kali nya" batin Zahra dengan memejamkan mata nya.
Mereka sampai tidak sadar bahwa mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di halaman mansion.
"Maaf Tuan, kita sudah sampai" ucap Irwan sopan.
"Hemmm" balas Raymond dengan deheman.
Ray lalu melepaskan pelukannya dan begitu pula dengan Zahra.
Mereka lalu keluar dari dalam mobi dan berjalan ke dalam mansion.
Disana, Bunda dan Citra sudah menunggu Zahra yang memang akan pergi berbelanja bersama.
"Mau pada kemana sih?" tanya Ray yang memang tidak tahu akan rencana sang Bunda
"Kita akan jalan-jalan terus belanja, jadi minta kartu Kakak satu" jawab Citra mengadahkan tangannya pada Ray.
Ray mendengus, tetapi ia memberikan juga kartu nya pada Zahra dan bukan pada sang Adik.
"Ayo lets go berangkat" teriak Citra dengan senang.
Bunda dan Zahra terkekeh , lalu mereka keluar dari mansion tersebut.
"Bersenang-senanglah" ucap Raymond lembut.
"Baiklah, jangan marah kalau aku habiskan uang mu" balas Zahra dengan terkekeh.
Ray hanya tersenyum, lalu ia mengantarkan Zahra keluar dari mansion.
Di luar, sudah ada sopir dan juga mobil sang Bunda.
"Hati-hati" ucap Ray pada ketiga wanita yang sangat di cintai nya.
"Okee, jangan tunggu kami pulang yaa" balas Citra dengan tertawa kecil.
"Kalau kamu sama Bunda mau menginap disana boleh saja, kalau Zahra sih akan Kakak jemput" ucap Ray dengan santai.
"Huhhh dasar bucinnnn" teriak Citra dengan kesal.
Ray hanya acuh, ia lalu melenggang masuk ke dalam mansion bersama dengan Irwan.
Sedangkan Zahra dan yang lainnya sudah pergi menuju ke Mall yang tak jauh dari sana.
**
Ray dan Irwan sibuk mengerjakan beberapa pekerjaan yang tertunda.
Bahkan Ray juga mengerjakan pekerjaan yang akan datang, karena ia akan ikut serta pulang ke tanah air bersama dengan Zahra.
"Bagaimana tentang mantan Suami Zahra?" tanya Ray tanpa mengalihkan tatapannya.
"Dia akan segera menikah, kalau tidak salah dalam 2 hari lagi. Awalnya 2 bulan lagi tetapi karena Wendi akan ada pekerjaan di luar negeri jadi ia majukan jadwal nya" jawab Irwan.
"Dan, mantan suami Nona Zahra akan ke Negara kita bahkan ke Kota ini" ucap Irwan.
Tak.
Ray menyimpan pensil yang ada di tangannya, ia menghela nafas kasar.
"Aku tidak takut Zahra akan berpaling, yang aku takutkan dia akan mengganggu Zahra" ucap Raymond.
"Anda tenang saja, Tuan. Saya sudah menjaga Nona Zahra dengan pengawal bayangan yang tidak hanya 1" balas Irwan.
Ray mengangguk, ia juga takut bahwa Zahra akan terendus oleh musuk bisnis nya.
Makanya Ray akan selalu menyembunyikan status nya dengan Zahra karena ia takut Zahra akan jadi sasaran empuk musuh nya.
"Jangan sampai lengah, aku takut musuh bisnis kita akan menyerang Zahra" ucap Raymond.
"Baik Tuan, sebisa mungkin anda juga jangan mengekspos kedekatan kalian. Apalagi kalau menikah nanti" balas Irwan.
Ray menganggukan kepala, mereka lalu tenggelam lagi dalam pekerjaan yang menumpuk di meja kerja Ray.
.
.
.
ini perkataan atau sekedar kalimat cerita
pasti yg mandul itu Wendy scra pamannya kn GK BS punya ank dengan Tante mila