Alisha berpikir perusahaan tempat kerja nya waktu itu tidak masuk akal,karena ia di pecat, hanya karena dirinya terlalu cantik.
Alisha berharap tempat kerja nya kali ini lebih baik dari kemarin.
Tapi kenyataannya, ia malah bekerja di perusahaan orang yang paling ia hindari, yaitu ayah putri kecilnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hanaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Abaikan Aku
Alisha menuju lantai dua puluh lima menggunakan lift.
waktu itu jam menunujukkan pukul dua belas siang.
Alisha berjalan ke arah Sita, sekretaris Sean.
"Sita, pak Aldi masuk nggak?"
Tanya Alisha.
"PAk Aldi nggak masuk.
Hari ini, acara beliau kerja di lapangan bersama Tomi.
Ada yang perlu ku bantu?"
Jawab Sita.
"Nggak usah, aku cuma pengen tahu aja pak Aldi dimana.
Ya udah aku balik aja"
Alisha lalu kembali dan segera makan siang bersama Nana dan Radit.
Setelah Alisha pergi.
Sita melapor pada Sean, bahwa Sita sudah melakukan sesuai perintah Sean.
Sita heran, kenapa pak Aldi menghindari Alisha?
Apa mungkin mereka sedang bertengkar?
Ya sudahlah, ini bukan urusan nya.
Sedang Sean yang ada di dalam kantor nya tersenyum puas.
Se tidaknya kini ia tahu sedikit, perasaan Alisha.
************
Sudah hampir satu minggu ini Sean menjauhi Alisha.
Alisha berpikir mungkin Sean sudah tidak menginginkan dirinya.
Dan Alisha maklum dengan sikap Sean yang mulai menjauhinya.
Radit dan teman teman nya sekantor kini tahu, Alisha sudah mempunyai anak.
Alisha juga mengatakan suaminya sudah meninggal dua tahun yang lalu.
Alisha memang sudah tidak ingin menutup nutupi keberadaan Bella.
Karena Alisha sebenarnya hanya menutupi keberadaan Bella dari Sean.
Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore.
Para karyawan kantor mulai pulang.
Begitu juga dengan Alisha.
seytelah selesai bersiap siap.
Alisha, Nana, dan Radit pulang bersama.
Mereka naik lift bersama.
Di lobi perusahaan pun mereka juga jalan bersama.
Di lobi, ketika Alisha berjalan keluar.
Tiba tiba Sean dan Tomi masuk gedung dari pintu keluar.
Alisha agak kaget, namun Alisha harus menyembunyikan nya.
Alisha dan Sean berpapasan, namun keduanya tidak saling menyapa.
Apalagi Sean, wajahnya benar benar kaku.
Aura dingin yang kuat keluar dari raut wajah dan tubuh Sean.
Akhir nya Alisha, Nana, dan Radit sampai di luar gedung.
Di luar gedung, Radit menyilangkan kedua tangan ke depan dada nya, seolah kedinginan.
"Di dalam terasa gak sih, waktu pak Aldi lewat, dingin banget suasana nya"
celetuk Radit.
"Iya.... Terasa banget, ini pasti karena ada Alisha.
Coba kalau tadi Alisha nggak bareng sama kita, pasti rasa nya nggak akan sedingin tadi.
rasa nya kayak.....
Ada balok es berjalan....."
Nana tertawa menimpali Radit.
"Jahaha.......
Kalian nggak lucu banget"
Bibir Alisha tertawa,tapi wajahnya datar.
"Tapi emang nya ada masalah apa sih Sha antara kamu sama pak Aldi?"
Tanya Nana.
"Mungkin pak Aldi kecewa, karena aku ternyata sudah punya anak"
Alisha mengangkat ke dua pundaknya, di dalam hati Alisha pun sebenarnya menangisi Sean yang menjauh darinya.
Tapi Alisha harus tegar, ini adalah resiko keputusan Alisha.
"Kalau pak Aldi nggak mau, gue juga mau sama elu Sha"
Radit cengengesan.
Sebenar nya Radit lumayan ganteng juga.
Tapi sikap Radit yang agak selengekan dan sering menggoda cewek cantik, membuat Alisha tidak tertarik.
"Kamu mau, Tapi alisha mau gak?"
Nana juga kurang tertarik dengan cowok se jenis Radit.
"Sha maaf,aku duluan ya? Aku mau membantu keperluan pernikahan kakak ku, Kakak ku akan menikah satu minggu lagi nih"
Nana meminta maaf pada Alisha.
Terrkadang Nana juga mengantar Alisha pulang.
Tapi hanya beberapa kali saja.
Itu karena Alisha sering menolak ajakan Nana untuk pulang bareng.
Alisha tidak enak pada Nana, bila sering mengantar Alisha pulang.
Lagi pula rumah Alisha dan Nana tidak se arah.
"Pulang aja dulu na, biar Alisha aku yang jagain"
Jawab Radit menggombal.
"Ok, aku pulang dulu ya?"
Nana melambaikan tangannya.
Alisha dan radit membalas lambaian tangan Nana.
Radit lalu naik ke motor ninj* nya yang sedari tadi terparkir di samping gedung.
Motor radit berwarna hijau.
Radit lalu menghampiri Alisha.
"Karena sekarang elo bukan gebetan pak Aldi, gimana kalau kita pulang bareng Sha?
Sekalian mau kenalan sama calon anak gue"
Radit senyum senyum menatap Alisha.
"Nggak usah dit, aku udah pesan Ojol"
Alisha memeriksa ponsel nya, ojol pesanannya ternyata masih jauh, bahkan ojol pesanannya terlihat tidak bergerak.
'Apa macet ya?'
Batin Alisha.
Tiba tiba ponsel Alisha berdering.
"Assalamu alaikum bu Sum, ada apa?"
Alisha menjawab telepon dari bu Sum.
"Mbak Alisha sudah pulang kerja belum?"
Tanya bu Sum.
"Sudah bu Sum, tapi saya masih nunggu ojek saya, ada apa bu Sum?"
Alisha agak cemas, jangan jangan terjadi sesuatu pada Bella.
"Badan Bella agak hangat mbak Alisha, mungkin kebanyakan minum es krim.
Bella tadi seharian minum es krim habis enam bungkus.
Dan sirup penurun panas Bella tinggal sedikit.
Nanti mbak Alisha waktu di jalan, sekalian beli sirup penurun panas ya?"
"Iya bu Sum, ya udah saya segera pulang bu Sum.
Assalamu alaikum...."
Alisha menutup telponnya.
Alisha menatap Radit yang sedari tadi menunggu Alisha.
"Tunggu aku sebentar ya Dit"
Alisha lalu memeriksa ponselnya lagi.
Alisha men cancel ojol pesanannya yang masih jauh.
"Dit aku boleh numpang pulang sama kamu?"
Tanya Alisha.
"Boleh, ada apa Sha? kayaknya tadi serius banget"
"Nggak ada apa apa Dit, tadi pengasuh anak ku bilang, kalau anak ku badan nya agak panas.
Jadi aku harus segera pulang.
Bolehkan aku ikut?"
Tanya Alisha.
"Boleh"
Jawab Radit singkat.
Radit senang, ternyata Alisha mau pulang dengan Radit naik motornya.
Alisha kemudian naik ke motor ninj* milik Radit.
Hari ini Alisha kebetulan memakai celana panjang.
Maka Alisha naik motor Radit dengan gaya kaki naik kuda.
Motor Radit agak naik di bagian belakang nya, Jadi ketika Alisha naik, karena belum terbiasa naik motor ninj*.
Alisha tanpa sengaja, tubuhnya pun agak terjungkal ke depan.
Sehingga mau tak mau, dada Alisha yang hangat dan kenyal menempel di punggung Radit.
Alisha dengan susah payah akhirnya berhasil menegak kan tubuhnya.
Kini dada Alisha tidak lagi menempel di punggung Radit.
Ketika akan keluar dari gerbang gedung Osean Medical Company.
Motor Radit tiba tiba terhenti.
Sehingga alisha pun agak terjungkal lagi ke depan.
Dan dada Alisha pun menempel lagi di punggung Radit.
Lagi lagi Alisha dengan susah payah menegakkan tubuh nya.
Membuat jarak antara dirinya dan Radit, agar tidak terlalu menempel.
"Yang bener dong Dit kalau bawa motor.
aku terjungkal nih"
Alisha memukul pelan pundak Radit.
"Di jalan banyak kendaraan Sha, gue harus ngerem dulu lah.
Nih pegangan sini, biar nggak jatuh"
Radit menunjuk pinggang nya, berharap Alisha mau memeluk pinggang nya untuk ber pegangan.
Tanpa Alisha tahu, Radit senyum senyum menghadap ke depan.
Radit senang motornya mampu membuat Alisha dan perempuan perempuan lain yang naik motor nya terjerembap ke depan.
Sehingga dada mereka yang hangat menempel di punggungnya.
Inilah yang di sukai Radit dari motornya.
Bahkan Radit mengatur sedemikian rupa agar Alisha bisa terjerembab lagi ke depan.
'Kesempatn tidak boleh di lewatkan'
batin Radit.
"Nanti mampir dulu ke apotik ya Dit?"
Pinta Alisha setelah motor radit melaju agak kencang.
Dan Radit nya menjawab permintaan Alisha dengan meng anggukkan kepalanya.
Radit membawa motor nya dengan kecepatan agak tinggi.
Radit berharap, Alisha mau merangkul pinggang nya untuk berpegangan.
Tapi harapan Radit tinggal lah harapan.
Karena Alisha memilih memegang pundak Radit sebagai pegangan.
Tanpa Alisha dan Radit sadari.
Sepasang mata penuh amarah dan emosi, Menatap mereka dari lantai dua, gedung Osean Medical Company.
Sepasang mata tersebut memandang tajam dan penuh ke cemburu an ke arah Radit dan Alisha yang sedang berboncengan.
Bersambung.......
Tinggalkan jempol kalian untuk ku.......
Dan ku tunggu vote kalian untuk mendukung karya ku........
teruskan usaha kak thor dalam penulisan nya 😘😘
tamat yang sungguh mantap 👍😘