NovelToon NovelToon
Berbagi Cinta Dengan Maduku

Berbagi Cinta Dengan Maduku

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Poligami / Tamat
Popularitas:982.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: violla

Atas dorongan nenek Ari menikah lagi dengan Dilla wanita pilihan nenek. Namira rela dimadu karena belum bisa memberikan keturunan untuk Ari. Bahkan, pernikahan itu berlangsung di depan matanya.

Kehadiran Dilla merubah rumah tangga mereka, sejak hari itu Namira berbagi cinta dengan madunya, meskipun Ari berusaha berlaku adil namun tetap saja menyisahkan luka di hati kedua istrinya.

Bukan hanya cinta Ari yang berusaha dipertahankan, gelar seorang ibu dari bayi yang lucupun menjadi rebutan.

Sampai kapan Namira dan Dilla tinggal di bawah atap yang sama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon violla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEANDAINYA

"Kamu tahu apa yang membuat aku bertahan sampai sekarang, Mas?" Namira mengelus lengan Ari yang masih bersimpuh di depannya.

Ari menggeleng lemah. "Sudah pasti bukan karena cinta. Aku sadar, apalah aku Namira, seandainya dibandingkan dengan pria lain di luar sana yang lebih baik dari aku pasti berhak dan pantas mendapatkan cintamu. Tapi jujur, aku tidak sanggup untuk itu."

Namira mangut-mangut memerhatikan raut wajah Ari. Bertahun-tahun hidup dengan Ari tentu ia bisa membaca kesedihan di raut wajah suaminya. Namira tahu kalau saat ini Ari tidak sedang membual.

"Kalau bukan karena cinta, untuk apa aku bertahan di sisimu? Kalau gitu bukannya lebih baik aku membaginya untuk orang lain? Apa kamu siap kalau seandainya itu terjadi, Mas?"

Ari semakin menggenggam erat tangan Namira.

"Nggak! Jangan berandai-andai lagi. Aku nggak kuat membayangkannya. Akan aku singkirkan semua laki-laki yang berani mendekati dan merebutmu dariku!"

Ari menciumi tangan Namira, kini ia tahu seperti apa perasaan Namira saat ia berdekatan dan membagi cintanya pada Dilla. Pastilah hati Namira hancur namun, Namira masih berusaha berdiri dan bertahan di sisinya menggenggam hatinya yang sudah hancur berkeping-keping.

Hanya membayangkan Namira membagi cintanya untuk pria lain saja sudah membuat darahnya mendidih. Lalu bagaimana kalau itu benar-benar terjadi? Tentu saja Ari tidak akan sanggup dan tidak sekuat Namira yang rela menerimanya.

Ari menjatuhkan kepalanya di paha Namira. Bahkan, untuk mengucapkan kata maaf pun ia sudah tidak berani.

Tangan Namira mengelus kepala Ari.

"Aku tidak tahu seperti apa jalan hidup yang sudah ditentukan untukku, yang aku tahu aku harus ikhlas menerima dan menjalaninya. Bukan karena cinta semata tapi, ada janji yang harus aku tepati di dalamnya. Aku hanya mau menikah sekali seumur hidup, Mas."

Ucapan Namira semakin membuat Ari malu, sebab bukan hanya Namira yang mengucapkan janji itu, dulu di hari pernikahan mereka, dirinya pun mengucapkan janji yang sama namun, seiring berjalannya waktu ia sendiri yang mengingkarinya.

"Ntah kebaikan apa yang sudah aku buat dulu sampai Allah memberiku cinta dari istri sepertimu, maafkan aku yang tidak bisa menjaga cintamu Namira. Tapi, aku pun tidak akan bisa melepaskan cintamu."

Punggung Ari bergetar saat bicara bahkan, telapak tangan Namira sudah basah terkena air matanya.

"Sudahlah, Mas. Tidak perlu kita bahas lagi. Lebih baik kita fokus membesarkan Arya."

Namira meraih dagu Ari membuat pandangan mereka bertemu.

"Terima kasih untuk kejutan manis ini. Aku suka, Mas." Namira tersenyum.

Ari tidak tahan lagi, ia pun memeluk Namira dan berulang kali mencium seluruh wajah Namira. Dinner itu terus berlanjut di bawah ribuan bintang yang bertaburan di langit malam.

***

Keesokan harinya.

Setelah mendengar kabar bahagia dari Ari, Nenek datang diam-diam ke Villa tanpa memberi kabar kepada siapapun. Maksudnya nenek mau memberikan kejutan untuk semua orang. Tapi, ternyata ketahuan oleh Ari yang saat itu baru ke luar dari ruang kerja di lantai dasar. Ya, sesekali Ari memantau kantornya di ruang kerja.

"Nenek tidak perlu bawa banyak hadiah seperti ini."Ari membantu supir memindahkan kado-kado dari mobil ke ruang tamu.

"Kado ini bukan untukmu. Tapi, untuk kedua cucu menantu dan cicitku!" Nenek melihat lantai dua. "Di mana mereka?"

"Masih sepagi ini, mereka masih tidur."

"Bawa nenek ke sana. Nenek penasaran dengan ketampanan Arya!"

Ari menggandeng nenek menaiki anak tangga menuju lantai dua, kamar bayi dan kamar Dilla terdapat pintu yang bisa langsung terhubung.

"Di mana bayinya?" bisik Nenek yang hanya melihat Dilla tidur pulas di atas tempat tidur.

"Ada di kamar ini, Nek." Ari membuka pintu penghubung tersebut dan mempersilahkan nenek masuk lebih dulu.

Nenek mematung di depan pintu melihat Namira menimang Arya. Sepertinya, Namira tidak tahu kalau nenek berdiri tidak jauh di belakangnya.

"Sayang, jangan nangis ya. mama Dilla masih istrahat. Arya bobok sama Mama Namira."

Sudah menjadi kebiasaan bayi yang baru lahir rewel di malam hari. Arya pun begitu, ia tergolong bayi yang suka ditimang-timang. Tidurnya tidak nyenyak kalau diletakkan di dalam box bayi. Orang bilang sudah bau tangan.

Nenek terharu melihat ketulusan Namira merawat Arya padahal, bisa saja ia membangunkan Dilla agar Namira bisa tidur tapi, Namira rela meluangkan waktu dan perhatiannya untuk anak Dilla.

Nenek mengetuk pintu.

"Namira....."

Namir memutar badan dan terkejut melihat nenek.

"Kapan datang, Nek? Kenapa tidak kasih kabar?"

Nenek mendekati Namira.

"Jangan berdiri terlalu lama, Nek. Duduk sini." Namira mengajak Nenek duduk dk sofa. Sementara Ari turun ke bawah mengambil kursi roda nenek agar tidak terlalu banyak berjalan.

"Nenek datang ke sini mau kasih kejutan untuk kalian. Tapi, justru nenek yang terkejut melihatmu seperti ini."

Dahi Namira mengernyit.

"Kamu tampak tulus menyayangi Arya. Aura keibuanmu terpancar nyata Nenek yakin suatu hari nanti semua doa-doamu akan dikabulkan. Maaf, kalau selama ini nenek sudah terlalu banyak menyakitimu."

Mata nenek berkaca-kaca membayangkan perasaan Namira.

"Jangan terus-terusan menyalahkan diri sendiri, Nek. Lagipula kehadiran Arya sudah mengobati perasaanku. Aku pun sangat menyayanginya."

Namira tersenyum.

"Nenek mau gendong, Arya?"

Nenek mengangguk senang, kemudian Namira memberikan Arya ke pada nenek.

"Aku buatkan teh herbal untuk nenek."

"Terima kasih."

Tidak lama setelah Namira ke luar kamar, Ari datang membawa kursi roda dan meletakkannya di sudut ruangan. Kemudian ia duduk di samping nenek.

"Pantas saja kamu sangat mencintai Namira. Hatinya sangat tulus dan lembut."

"Dan hati itu yang sudah aku sakiti, Nek." Ari menjawab tanpa melihat nenek, matanya hanya tertuju pada wajah anaknya.

Nenek menghela napas panjang.

"Nenek yang salah karena sudah memaksakan kehendak nenek." Suara nenek terdengar bergetar.

"Sudahlah, Nek. Semua sudah baik-baik saja. Namira dan Dilla sudah bisa berdamai dengan keadaan. Mereka sudah saling menyayangi seperti saudara kandung."

"Tidak." Nenek menggeleng. "Baik-baik saja di luar belum tentu baik di dalam. Terlebih lagi, kehadiran Arya pasti masih menimbulkan luka di hati Namira."

Nenek memandang wajah Arya. "Semua salah nenek. Tapi, melihat wajah teduh Arya membuat hati ini tenang. Tapi, tidak menampik masih akan ada percikan api cemburu antara Namira dan Dilla."

Nenek melihat Ari lagi.

"Dulu, nenek pernah memintamu menceraikan Namira jika kamu menolak menikahi Dilla. Karena kamu tidak mau kehilangan Namira, kamu pun setuju menikahi Dilla."

Ari hanya diam mendengarkan nenek.

Nenek memastikan keadaan sekitar di mana tidak ada yang mendengar percakapannya dengan Ari.

"Kita berandai-andai. Seandainya, saat ini kamu dihadapkan pilihan antara Dilla istri yang sudah melahirkan anakmu dan Namira wanita kamu cintai dari dulu. Siapa yang akan kamu pilih?" tanya nenek.

Ari sontak melihat nenek, wajahnya pun sudah lebih serius.

"Jangan suruh aku memilih, Nek...."

"Seandainya," jawab nenek lagi.

Hening sesaat, Ari memikirkan segala sesuatunya. Jika dibilang cinta mana yang lebih besar selama ini ia merasa sudah adil membaginya. Namun, jika diantara Dilla dan Namira masih ada yang tersakiti itu diluar keinginannya.

Antara wanita yang sudah melahirkan anaknya atau wanita yang menemani sejak dirinya bukan siapa-siapa.

"Namira!" tegas Ari.

***

Inpoh dikit😣

Selama ini naik darah bacanya, maafken ya heheheh. KESEMPATAN KEDUA juga gitu, jadi aku nabung bab dulu.

Biar kita gak nakk darah hiks, aku punya chat story terbaru.

Mengisahkan tentang gadis yang dijadikan penebus hutang orang tuanya. Siapa tahu ada yang mau mampir dipersilahkan ya kak heheheh.

Klik saja profil aku. Jangan lupa dijempolin dan kasih komentar ya. Terima kasih🤗

1
Dysha♡💕
kata kisah India itu loh pretty Sinta sama Rani sama Bambang salman
Nur Halima
Luar biasa
Safa Almira
syuka
🙏💕
😇
Saras Aussie
Luar biasa
Saras Aussie
Lumayan
Mega Mkf
tp kl alurnya gini aku se7 thorr,,, karna memang baik namira atau dilla tdk ada yg slh jg,tnggl siapa di antara ke 2nya yg berbesar hati untk mengalah,,, yg jelas biar di bilang bahagia tp tdk ada yg bahagia kl hati sudah terbagi,,,💪💪💪👍👍👍
Irene
suka ceritanya engga banyak alurnya
Yunerty Blessa
walaupun singkat tapi mantap dan teruskan usaha kak thor dalam penulisan nya dan sukses selalu kak thor 😘😘
Yunerty Blessa
akhirnya mereka hidup bahagia bersama pasangan masing-masing..Namira bahagia bisa merasakan kehamilan dan lahir nya puteri cantik nya
makasih kak thor dalam penulisan nya 😘😘
Yunerty Blessa
akhirnya Namira bisa hamil juga..
Yunerty Blessa
seperti nya mereka akan bertemu kembali....apakah Dilla pergi lagi atau kah kembali demi anaknya..
Yunerty Blessa
pilih salah satu daripada mereka Ari..kau terlalu ego
Yunerty Blessa
sabar Namira..suatu saat kau pasti akan hamil
Yunerty Blessa
rasakan itu itu Ari.. seperti mana perasaan isteri mu seperti itu juga yang kau rasakan..
Yunerty Blessa
mantap namira
Yunerty Blessa
kena kau Dilla .
Yunerty Blessa
seperti nya Dilla mau ambil alih tugas Namira..
Yunerty Blessa
sungguh tegar hati mu Namira
Yunerty Blessa
moga saja Ari bisa adil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!