Berawal dari petaka sebuah konser band terkenal, seorang gadis harus membuatnya menerima reward besar karena baru putus cinta. Gadis itu tidak tau bahwa dirinya sedang di kerjai teman kuliahnya hingga membuat seorang Letnan terkena imbasnya.
Disisi lain, akibat petaka tak sengaja, sang Letnan terpaksa harus menanggung akibatnya. Bukan hal mudah menaklukan hati pria yang ternyata adalah Abang dari gadis tersebut, namun pada kenyataannya, lebih sulit menaklukan gadis yang tiba-tiba masuk dalam hidupnya tanpa permisi, apalagi jejak kehidupannya kini di mulai pada wilayah dengan resiko yang cukup tinggi, wilayah yang bisa di katakan rawan, KARANG HITAM.
KONFLIK.. Harap SKIP bagi yang tidak bisa ber KONFLIK.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Belum terima kenyataan.
Phia kembali tidak bisa menelan makan malamnya. Semua serasa tercekat di tenggorokan.
"Bu.. Apa ada jeruk manis hangat?" Tanya Bang Riegan pada pemilik rumah makan sederhana tak jauh dari Batalyon.
"Waduhhh.. Tidak ada, Pak. Paling hanya jeruk nipis saja." Jawab pemilik rumah makan tersebut.
Bang Riegan sejenak berpikir, jemarinya mengetuk meja beberapa kali sebelum memutuskan sesuatu.
"Ada tomat kan, Bu. Minta irisan tomat di seduh pakai air panas, gulanya satu setengah sendok." Pinta Bang Riegan.
"Iya, Pak. Ada."
~
"Ini terlalu manis." Kata Phia.
"Kamu pusing seharian, makan sedikit, masih mual dan muntah. Air gula ini bisa mengembalikan tenagamu. Disini sudah dingin, nggak usah minum es dulu." Jawab Bang Riegan kini sedikit lebih menegaskan suaranya.
Phia menatap wajah Bang Riegan yang dengan telaten menyuapi air seduhan tomat tersebut sesendok demi sesendok.
"Perjalanan masih jauh atau tidak?" Tanya Phia.
Bang Riegan melirik salah seorang anggotanya, ia pun tidak tau seberapa jauh lagi perjalanan yang harus di tempuh.
"Ijin, Ibu.. Sekitar sepuluh menit lagi." Jawab Prada Guntara.
:
Phia mengedarkan pandangan ke seisi rumah. Bangunan itu nampak begitu sederhana, jauh dari bayangannya selama ini. Ia menggosok kedua lengannya, hawa dingin seakan mencubit kulit.
"Kita tinggal di sini, Bang?? Nggak ada tempat yang lain????"
"Yang lain itu, yang seperti apa?? Hotel bintang tujuh????" Kata Bang Riegan sambil mengangkat koper milik Phia.
Phia menghentakan kakinya lalu semakin masuk ke dalam rumah hingga sampai di bagian belakang.
"Kyaaaaaaaaaaaaaa..."
Sontak saja jeritan Bu Danton membuat Bang Riegan kaget. Refleks ia meletakkan koper dengan kasar lalu menuju ke arah sumber suara.
"Ada apa, Phiaa???" Sigap Bang Riegan menarik Phia ke belakang punggungnya.
"Ituu.. Ituuu apa???" Tunjuk Phia dengan wajah pucat.
Bang Riegan melihat ke arah belakang rumah, tiba-tiba ada seekor burung kecil terbang dan hinggap di lengannya. Phia yang masih takut terus menghindar tapi Bang Riegan memegangi tangannya.
"Nggak apa-apa, burung hantu ini masih bayi. Dia nggak jahat." Kata Bang Riegan.
"Nggak.. Nggak mauuuu.. Takuuuutt.." Tolaknya tapi burung itu melompat naik di atas bahunya. "Aaaaaaaaaa......" Phia langsung memeluk Bang Riegan.
Kedua ajudan menahan tawa tapi mata Bang Riegan langsung membulat besar penuh ancaman, seketika tawa itu tenggelam.
"Takuuuuuuutt..!!!!!!" Pekik Phia.
Paham ketakutan Phia, Bang Riegan terus mendekatkan anak burung hantu itu pada Phia.
"Dia nggak akan menyakitimu, dia hanya butuh rasa hangat karena induknya tidak ada." Bang Riegan mengarahkan tangan Phia untuk menyentuh burung kecil tersebut. Phia menolak tapi Bang Riegan tetap memintanya untuk menyentuhnya. "Apa dia menyakitimu??? Nggak, kan???"
Perasaan Phia jauh lebih baik. Ia meninggalkan Bang Riegan dan masuk ke kamar lalu menguncinya. Di dalam kamar tersebut, ia menyadari.. Tempat tidur itu jauh dari tempat tidur miliknya, bukan kasur yang seperti ia gunakan. Hatinya yang tadinya tenang kini kembali gelisah.
tok.. tok.. tok..
Phia tau pasti Bang Riegan yang mengetuknya, ia pun membuka dan melancarkan protesnya.
"Aku nggak mau tempat tidur itu. Aku nggak pernah lihat bentuk yang begitu."
"Itu namanya kasur kapas randu. Di jaman sekarang sudah berkurang, tapi kasur seperti itu juga nyaman." Jawab Bang Riegan.
"Nggak mau, aku bawa uang. Aku mau beli kasur yang baru." Kata Phia.
"Di wilayah seperti ini, perjalanan hanya bisa di lakukan satu minggu sekali. Kecuali ada kepentingan khusus."
Phia berontak, ia bagai terperangkap di dalam sangkar. Ia meluapkan rasa kesalnya dan mendorong Bang Riegan agar segera keluar dari kamar.
"Kita disini tidak untuk holiday. Pindah kesini berarti harus bisa beradaptasi dengan lingkungan yang ada."
"Aku nggak bisa. Aku mau cari penginapan." Phia kembali menarik kopernya dan berjalan meninggalkan tempat.
Kedua ajudan pun panik tapi Bang Riegan memberi kode agar ajudannya tidak ikut campur dalam urusan rumah tangganya.
Bang Riegan lalu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. "Mana duvet dan matras topper yang saya minta???" Panggilan telepon itu kemudian ia putuskan sepihak.
Dengan langkah tenang, Bang Riegan berjalan mengikuti sang istri. Ia membiarkan Phia susah payah menarik kopernya. Hari sudah sore, kabut dan gerimis mulai turun.
Sepanjang jalan Phia menangis karena tidak betah. Penglihatannya tertutup penuh oleh air mata, ia mengusap air matanya, namun tak sengaja kakinya menyandung batu hingga berdarah dan terduduk.
"Abaaaang.. Bang Reigar..!!!!!!" Gumamnya setengah mengadu.
Bang Riegan pun berjongkok, ia menyelipkan anak rambut Phia ke belakang telinga. "Tidak ada Bang Reigar disini, yang ada hanya Bang Riegan... Roan Riegan Martumoga. Tidak usah macam-macam, kamu belum paham lingkungan disini. Kamu tidak bisa berkutik tanpa saya dan tanpa ijin dari saya." Ucap lembut itu terlontar dari wajah datar Letnan Riegan tapi, setiap kata yang penuh dengan penekanan.
Perlahan Bang Riegan mengangkat tubuh Phia sambil memberi kode pada ajudannya untuk membawa koper itu kembali ke rumah.
Hati-hati sekali Bang Riegan merebahkan Phia di atas sofa. Tanpa bicara, ia mengambil matras topper dan duvet yang baru saja di antarkan lalu menatanya di atas tempat tidur.
Setelah semua beres, Bang Riegan memindahkan Phia di atas tempat tidur. "Sementara begini dulu, kalau sudah ada lajur ke kota, saya belikan kasur yang baru."
Bang Riegan menuju dapur, ia mengambil baskom dan air hangat dari termos yang tadi sudah sempat di siapkan.
Sampai di kamar, Bang Riegan duduk di atas tempat tidur lalu menyandarkan kaki Phia pada pahanya. Dengan lembut ia membersihkan kaki istri kecilnya.
"Nggak usah sok baik, nggak usah sok perhatian. Aku nggak suka sama kamu." Omel Phia.
"Iya, saya tau."
"Jadi kenapa, kamu mau ribet seperti ini. Kalau kamu tidak menghalangiku menggugurkan dia, hidup kita tidak akan serumit ini." Kata Phia.
"Jangan pernah menyalahkan kehamilanmu, anak tidak pernah meminta hadir dari orang tua yang mana. Kalau ada yang harus di salahkan, salahkan saya.. Bapaknya."
.
.
.
.
.
.
.
.
lanjut mba Nara👍👍
Bang Jan...udah beri bang Hernad pencerahan tp knp jadinya kyk gini😄😄🤭
kocak ini ...lanjut mba Nara👍
lanjut mba nara🤭
semangat jg buat mba Nara👍