NovelToon NovelToon
Kisah Cinta Pendekar Pedang

Kisah Cinta Pendekar Pedang

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:221
Nilai: 5
Nama Author: Firdaus Rangkuti

Sebuah kerajaan terbesar punya misi menangkap semua petarung liar untuk kedamaian. Namun semua perguruan seni bertarung pedang menolaknya. Karena mereka tahu kalau kerajaan ingin mengatur masyarakat dengan menguasai sumber daya.

Sepasang pendekar pedang ini menjadi penyelamat untuk melawan sebuah kerajaan besar. Mereka melakukan perjalanan bersama untuk mengumpulkan rahasia teknik pedang tersembunyi dan dua pedang Sakti.

Pedang Zen Xi di Desa Win, lalu pedang Zoi Chu di Desa Hon. Namun mereka harus melewati rintangan dan tempat untuk bisa sampai di tujuan. Lalu mereka kembali untuk mengalahkan Kerajaan Sinpor.

Setelah masalah Kerajaan Sinpor selesai, kisah cinta mereka berdua sempat mendapatkan penolakan dari orang tua perempuan, karena perbedaan kelas sosial. Namun mereka berdua punya cara agar mereka berdua bisa menikah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Firdaus Rangkuti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kemampuan Bertarung

Para anggota Geri sedang melihat keadaan desa di dekat Rio dan Jinsin, heran melihat ke langit tiba-tiba mendung. Suara gemuruh terdengar, mereka semua tetap berdiri melihat situasi desa ke bawah. Lalu hujan turun dengan deras membasahi tubuh Rio dan Jinsin masih berpelukan. Seorang anggota Geri juga mengelap wajah yang basah melihat situasi ke bawah dengan suhu udara yang dingin.

Lalu Rio melepas pelukan Jinsin, namun dia tetap tidak ingin melepas pelukan itu yang masih di pegang erat olehnya dengan kedua tangan melingkar di tubuh Rio. Lalu Rio bingung dan melihat sekeliling Desa Swon sudah turun hujan membasahi wajah dan rambut sampai menetes di wajah kepala Jinsin.

"Sudah Jinsin, jangan khawatir." ucap Rio mengelus kepala Jinsin yang basah melihatnya dengan ekspresi sedih. Di sisi lain, kelompok Mozi yang berada di dekat kedai, kedatangan kelompok besar. Aliansi kelompok petarung ini langsung mengeroyok kelompok Mozi dengan di pukul di jalan setapak depan kedai.

Mereka semua ada yang di masukkan ke dalam tong sampah, di jedutkan ke tembok, lalu mereka semua tergeletak tidak beraturan. Namun Mozi berhasil kabur ke tempat Geri dengan kelincahan lari melewati kelompok musuh yang kuat dan banyak. Mozi berhasil sampai bergabung dengan kelompok aliansi. Dia bernapas dengan terengah-engah di depan Geri.

"Geri, mereka datang, semua anggotaku telah di kalahkan." ucap Mozi.

"Sampaikan ini kepada Rio." ucap Geri beri perintah. Jinsin masih memeluk Rio dan seorang anggota Geri menghadap melapor. Rio menoleh kepada anggota Geri dan menaikan alis mata sambil memeluk Rio di tengah hujan.

"Rio, mereka datang. Anggota Mozi di kalahkan." ucap anggota Geri.

"Baik." ucap Rio.

Tidak lama kemudian, kelompok Somo juga datang menghadap Geri. Dia melaporkan bahwa aliansi kelompok petarung itu sangat banyak mereka bawa pedang tajam seperti seorang pendekar pedang. Setelah Rio mendengar laporan kepada Somo di atap cor, dia agak kaget tentang jumlah musuh yang banyak dan mereka sudah mengacak desa. Lalu Jinsin langsung melepas pelukan Rio di tengah hujan deras membasahi wajahnya dan menatap mata Rio ekspresi sedih.

"Jinsin mereka datang, kau siap?" tanya Rio memegang wajah Jinsin dengan kedua tangan.

"Siap." ucap Jinsin menghapus air mata di tengah hujan yang membasahi wajahnya.

"Semuanya aku punya rencana." ucap Rio melompat ke gang kecil untuk berkumpul.

Setelah rencana di jelaskan kepada semua anggota aliansi. Mereka mencari kelompok besar itu. Setelah mereka sampai, di sebuah jalan setapak yang besar di Desa Swon. Rio berdiri paling depan bersama Geri, Mozi dan Somo serta anggotanya di belakang. Kemudian ada kelompok besar bernama aliansi petarung dari Desa Swon yang berjumlah 23 anggota berdiri paling depan. Seorang pria rambut panjang memegang pedang bertubuh kekar penampilan sangat keren bernama Wodi.

Mereka semua berdiri berhadapan dari jauh di jalan setapak besar. Suasana desa di sekitar berubah jadi sunyi. Warga sekitar menutup pintu dengan rapat lalu lari meninggalkan rumah dan tokonya pergi ke tempat aman. Angin sunyi bertiup kencang, di tengah dua kelompok besar dan kelompok kecil yang akan bertarung.

"Hei, disana?" ucap Wodi sambil meludah ke kanan tersenyum haus bertarung. Rio menatap kelompok besar yang di pimpin oleh seorang petarung yang menurutnya cukup hebat. Kemudian Jinsin juga melihat banyak petarung hebat berdiri di hadapannya dengan wajah serius.

"Kenapa kau serang mereka?" tanya Rio.

"Untuk apa ya. Terserah ku." ucap Wodi merendahkan.

"Tik, Sring." seorang pria besar memegang pedang siap menyerang sebagai orang pertama.

"Geri, Mozi, Somo." Kau bisa atasi yang satu ini?" tanya Rio.

"Mereka punya pedang sedangkan kami tidak." ucap Geri.

"Yah ampun." ucap Rio.

"Biar aku saja." ucap Jinsin berjalan mendekati musuh pertama.

"Dug. Dug dug. Dug. Duaar bruuuk."

Jinsin berlari dan mendaratkan pukulan terkuat ke wajah pria besar itu yang sedang pegang pedang sampai tubuh pria itu tercampak ke sebuah rumah warga desa hingga ambruk dengan ekspresi wajah Jinsin marah.

"Wow, hebat." ucap Wodi kagum. Lalu Pria besar itu tidak bisa bangkit lagi karena tubuhnya sudah mengalami luka akibat terjedut rumah warga desa sangat kuat dan pukulan di wajah sampai tidak sadarkan diri.

"Siapa lagi, maju!" teriak Jinsin memegang kedua tangan di genggam siap memukul.

"Cantik juga wanita kuat itu ya." ucap Wodi tertarik sambil berdiri memasukkan kedua telapak tangan ke dalam dua kantung.

"Jinsin. Kau." ucap Rio melihat Jinsin maju lebih dulu.

"Ayo maju semua yang bawa pedang dan senjata biar ku hajar kalian semua." ucap Jinsin marah besar. Semua anggota kelompok besar tidak berani maju saat ocehan Jinsin menyuruh untuk bertarung langsung.

"Wow jadi kalian takut ya. Cuma segini kemampuan kalian semua, rendah sekali!" teriak Rio memanasi kelompok musuh.

"Orang itu, beraninya!" ucap Wodi mengerutkan jidatnya dengan perasaan marah.

"Tunggu, kami akan ikut bertarung." ucap seorang warga desa berdiri di belakang Rio dan kelompoknya.

"Apa?" Rio melihat ke belakang kaget. Sekelompok warga desa membawa peralatan kebun bersiap membantu Rio dan Jinsin melawan kelompok petarung yang disana.

"Kita tertolong!" ucap Geri. Kelompok warga desa dalam jumlah besar telah mengepung kelompok besar petarung aliansi Wodi dari belakang mereka berdiri dari samping dan dari atas atap rumah warga desa. Jumlah mereka banyak dan mereka semua berbadan besar.

"Apa, kalian bercanda!" teriak Wodi.

"Semuanya, serang!" teriak Jinsin beri perintah.

Para warga desa berlarian menyerang kelompok aliansi Wodi. Rio di lewati banyak warga desa berdiri bersama aliansi lain. Anggota aliansi termasuk Mozi, Geri dan Somo juga ikut maju melawan mereka semua. Jinsin hanya diam melihat banyak orang saling bertarung. Kelompok Wodi yang tidak mengalami serangan namun para warga desa yang menyerangnya di tendang ke tempat lain untuk fokus melihat Rio diam tidak maju.

"Kenapa dia tidak ikut maju?" tanya Wodi.

"Sring........"

Rio dan Wodi melompat ke atas saling menyerang dengan pedang mereka di udara. Rio dan Wodi saling menatap dengan tajam. Sedangkan Jinsin melihat mereka saling adu kekuatan di antara orang-orang yang sedang bertarung dan berkelahi di bawah.

"Ting...."

Rio dan Wodi melepas pukulan pedang mereka sampai melompat mundur. Dengan cepat Jinsin berlari menangkap Rio di antara keramaian orang berkelahi dengan menangkap tubuhnya dari belakang.

"Kau tidak apa-apa, Rio." ucap Jinsin bertanya sambil memeluk dari belakang. Lalu Wodi mendarat mundur, kedua kaki menahan seretan agar tidak terjatuh dan menghentikan kecepatan tekenan mundurnya setelah saling menyerang.

"Aku tidak apa-apa Jinsin. Terima kasih sudah menolong ku." ucap Rio melihat Jinsin tersenyum.

"Iya, Rio. Sekarang kita harus melawan dia bersama-sama." ucap Jinsin.

"Benar, kita harus mengalahkan orang itu sepertinya dia pemimpin kelompok besar ini." ucap Rio. Suasana sekeliling mereka berdiri di penuhi oleh banyak warga desa bertarung dengan kelompok besar Wodi. Berisiknya keadaan membuat suasana Desa Swon memang seperti area perkelahian besar.

1
fnrm
🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!