Dijual oleh keluarganya sendiri sejak kecil, Viona Lin tumbuh sebagai pembantu keluarga Jiang. Hidupnya berubah ketika ia dipaksa mendonorkan ginjalnya untuk menyelamatkan Dylan Jiang, pewaris keluarga yang berkuasa.
Mengetahui pengorbanan itu, Dylan membawa Viona pergi dari keluarga Jiang. Namun alih-alih mendapatkan kebebasan, Viona justru terjebak dalam perhatian dan obsesi Dylan yang semakin sulit ia hindari.
Ketika seorang pria bertekad menjadikan dirinya miliknya selamanya, masih bisakah Viona menemukan jalan untuk bebas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
"Jay, umumkan siapa saja yang masih layak berada di perusahaan ini... dan siapa yang harus angkat kaki," perintah Dylan sambil kembali duduk di kursi Presiden Direktur.
"Baik, Tuan."
Perintah itu membuat seluruh ruangan langsung gempar.
Beberapa direktur dan investor saling berpandangan.
"Dylan, kau tidak bisa bertindak semaumu!" ujar Delvin dengan nada kesal. "Orang-orang yang berada di ruangan ini telah mengabdi bertahun-tahun kepada Jiang Group."
Dylan tersenyum tipis.
"Oh?"
"Apa mereka benar-benar mengabdi pada perusahaan... atau hanya mengabdi pada kepentinganmu?"
Delvin langsung terdiam.
Dylan melanjutkan, "Apakah mereka masih berguna atau tidak, sebentar lagi kita akan mengetahuinya."
Jay membuka map hitam yang dibawanya.
"Setelah melakukan audit terhadap kinerja manajemen selama lima tahun terakhir, berikut keputusan Presiden Direktur."
Semua orang menahan napas.
"Direktur Keuangan, Tuan Wang. Tetap menjabat."
Pria paruh baya itu langsung menghela napas lega.
"Direktur Operasional, Tuan Chen. Tetap menjabat."
"Manajer Produksi, Nona Li. Dipertahankan."
Beberapa orang mulai merasa lega.
Namun ekspresi Jay tiba-tiba berubah serius.
"Direktur Pengadaan, Tuan Xu."
Pria itu langsung berdiri.
"Mulai hari ini, Anda diberhentikan."
"Apa?" serunya terkejut.
"Audit menunjukkan Anda menerima komisi ilegal dari beberapa pemasok sehingga merugikan perusahaan."
Wajah Tuan Xu langsung pucat.
Jay melanjutkan.
"Direktur Pemasaran, Tuan Luo. Anda juga diberhentikan karena memalsukan laporan anggaran promosi."
Ruangan mulai ricuh.
Beberapa orang yang namanya disebut langsung memprotes.
"Ini tidak adil!"
"Anda tidak bisa memecat kami begitu saja!"
Dylan menyilangkan kedua tangannya.
"Bisa."
Satu kata itu langsung membuat ruangan kembali sunyi.
"Aku adalah pemegang saham mayoritas."
Tatapannya menyapu seluruh ruangan.
"Orang yang bekerja dengan jujur tidak perlu takut. Tetapi siapa pun yang selama ini memanfaatkan Jiang Group untuk memperkaya diri sendiri..."
Dylan mengetuk meja perlahan.
"...hari ini adalah hari terakhir kalian bekerja di sini."
Jay membuka lembar terakhir dari mapnya.
"Keputusan terakhir."
Seluruh ruangan kembali hening.
Jay menatap Delvin.
"Tuan Jiang."
Delvin mengangkat kepalanya.
"Berdasarkan keputusan pemegang saham mayoritas, mulai hari ini Anda resmi diberhentikan dari jabatan Presiden Direktur Jiang Group."
Ruangan langsung gempar.
"Apa?"
"Presiden Jiang diberhentikan?"
Wajah Delvin langsung memerah karena marah.
"Dylan! Kau tidak bisa melakukan ini!"
Dylan menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Aku bisa. Saat ini aku adalah pemegang saham mayoritas. Sesuai anggaran dasar perusahaan dan hasil rapat pemegang saham, aku berhak mengganti jajaran direksi."
Jay kembali melanjutkan,
"Selain itu, seluruh fasilitas perusahaan yang selama ini digunakan oleh Tuan Jiang harus dikembalikan hari ini. Termasuk ruang kerja, kendaraan dinas, kartu akses, dan seluruh wewenang perusahaan."
Delvin mengepalkan kedua tangannya.
"Dylan... kau benar-benar ingin mengusir ayahmu sendiri?"
Dylan menatapnya tanpa sedikit pun rasa iba.
"Mulai hari ini, Jiang Group tidak lagi membutuhkan orang yang telah membawa perusahaan ini ke ambang kehancuran."
Ia menunjuk ke arah pintu.
"Silakan tinggalkan ruang rapat."
Delvin masih berdiri di tempat.
Dylan melirik Jay.
"Jay."
"Ya, Tuan."
"Kalau Tuan Jiang tidak ingin pergi dengan hormat..."
Dylan tersenyum tipis.
"Silakan minta petugas keamanan mengantarnya keluar."
Mendengar itu, dua petugas keamanan yang sudah menunggu di luar langsung masuk ke ruang rapat.
"Tuan Delvin, silakan."
Delvin menatap Dylan dengan mata memerah.
Ia tidak pernah membayangkan akan dikeluarkan dari perusahaan yang telah dipimpinnya selama bertahun-tahun.
Sementara para investor hanya bisa menyaksikan tanpa berani bersuara.
Mulai hari itu, era Delvin Jiang di Jiang Group resmi berakhir.
Delvin berdiri mematung.
Dua petugas keamanan telah berdiri di sampingnya, menunggu perintah berikutnya.
Ia menatap Dylan dengan penuh kebencian.
"Dylan, jangan lupa. Akulah yang membesarkanmu."
Dylan tersenyum tipis.
"Membesarkanku? Sejak ibuku meninggal, kau mengirim aku ke luar negeri. Dan hidup bersama selingkuhan mu."
Delvin terdiam.
"Kau hanya sibuk membangun keluarga barumu."
Tatapan Dylan semakin dingin.
"Jadi, jangan berbicara seolah-olah kau telah menjalankan tugasmu sebagai seorang ayah."
Wajah Delvin berubah pucat.
"Silakan, Tuan Jiang," ujar salah seorang petugas keamanan dengan sopan.
Delvin mengepalkan tangannya.
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan berjalan keluar dari ruang rapat.
Tatapan seluruh investor mengikutinya hingga pintu tertutup.
Dylan lalu memandang seluruh peserta rapat.
"Mulai hari ini, Jiang Group berada di bawah kepemimpinanku. Tujuanku hanya satu. Mengembalikan Jiang Group menjadi perusahaan terbaik."
Ia berdiri dari kursinya.
"Aku tidak peduli siapa kalian sebelumnya. Selama kalian bekerja dengan kemampuan dan integritas, posisi kalian akan tetap aman. Tetapi jika ada yang bermain curang..."
Tatapan Dylan menyapu seluruh ruangan.
"...aku tidak akan memberi kesempatan kedua."
Semua orang langsung mengangguk.
Jay kemudian melangkah maju.
"Tuan, dana investasi sudah siap. Kapan akan mulai disalurkan?"
"Hari ini juga."
"Baik, Tuan."
"Prioritaskan pembayaran utang kepada seluruh pemasok dan mitra kerja. Setelah itu, bayarkan gaji karyawan yang sempat tertunda."
"Baik."
Para investor saling berpandangan.
Salah seorang investor senior berdiri.
"Presiden Dylan."
"Ada apa?"
"Atas nama seluruh pemegang saham, kami menyambut kepemimpinan Anda. Kami berharap Jiang Group bisa bangkit kembali di bawah kepemimpinan Anda."
Dylan mengangguk singkat.
"Selama kalian bekerja untuk kepentingan perusahaan, aku tidak akan mengecewakan kalian."
Di luar gedung Jiang Group...
Delvin melangkah keluar dengan wajah muram.
Ia menoleh ke arah gedung yang telah dipimpinnya selama puluhan tahun.
Kini, ia bahkan tidak memiliki hak untuk kembali memasuki ruang kerjanya sendiri.
Ia mengepalkan kedua tangannya.
"Dylan... suatu hari nanti, aku akan merebut kembali Jiang Group."
Namun, dari balik jendela lantai tertinggi, Dylan berdiri memandang ke arah ayahnya.
Tatapannya dingin tanpa sedikit pun rasa iba.
"Permainan ini baru saja dimulai, Delvin Jiang."
Sore itu.
Moly baru saja kembali dari rumah sakit. Begitu memasuki mansion keluarga Jiang, ia melihat beberapa pria berjas hitam sedang berdiri di ruang tamu bersama Jay.
"Ada apa ini?" tanya Moly kebingungan.
Tak lama kemudian, Dylan menuruni anak tangga dengan tenang.
"Dylan? Kenapa kau ada di sini?" tanya Moly.
"Aku datang mengambil kembali rumah ini," jawab Dylan datar.
Moly tertawa sinis. "Rumah ini milik keluarga Jiang. Apa hakmu datang ke sini dan mengusirku?"
Dylan melirik Jay.
Jay segera menyerahkan sebuah map kepada Moly.
"Silakan baca."
Moly membukanya. Semakin lama membaca, wajahnya semakin pucat.
"Tidak... ini tidak mungkin."
"Rumah ini dibeli menggunakan harta ibuku. Selama bertahun-tahun kalian hanya menempatinya. Sekarang semua dokumen kepemilikannya sudah kembali kepadaku," ujar Dylan.
"Dylan, kau tidak bisa melakukan ini! Aku sudah tinggal di sini bertahun-tahun," bentak Moly.
"Justru itu masalahnya. Kau menikmati hidup di rumah milik ibuku selama bertahun-tahun."
Moly menggertakkan giginya.
"Kalau begitu, kau mau kami tinggal di mana?"
"Itu bukan urusanku."
"Dylan, Sanny masih dirawat di rumah sakit. Apa kau tega mengusir kami sekarang?"
Dylan menatap Moly tanpa sedikit pun rasa iba.
"Ketika ibuku menderita karena ulah kalian, apakah kau pernah merasa tega?"
Moly langsung terdiam.
"Jay."
"Ya, Tuan."
"Beri Nyonya Moly waktu lima belas menit untuk mengemasi barang-barang pribadinya. Setelah itu, ganti seluruh kunci mansion ini."
"Baik, Tuan."
"Dylan, kau benar-benar ingin mengusirku?" tanya Moly dengan suara bergetar.
"Bukan mengusirmu."
Dylan tersenyum tipis.
"Aku hanya mengambil kembali rumah milik ibuku. Kalau kau tidak pergi dengan baik-baik, aku akan meminta petugas keamanan mengantarmu keluar."