follow IG author. naura_shafa95
❌ JANGAN PROMO DI NOVEL ON-GOING SILAHKAN PROMO DI NOVEL YANG SUDAH TAMAT❌
Nara gadis cantik yang berasal dari kampung di tawari pekerjaan untuk menjadi pengasuh anak pengusaha kaya raya yang bernama Sean Aditama Prakasa.
Seiring berjalannya waktu, Aren Sang Putra meminta Nara untuk menjadi Mommy-nya. Akankah Sean menerima permintaan Putranya itu? Saksikan terus kisah mereka hanya di Noveltoon!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naura Shafa mahbubah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuduhan Sean
Sean tercengang mendengar ucapan putranya, ia mengusap wajahnya perlahan untuk menenangkan hatinya yang sedang memburu kesal. Nara hanya bisa diam, ia tahu Sean pasti marah besar kepadanya. "Tante, maukah menjadi olangtua untuk Alen?" pinta Aren senyum mengembang.
Ting ...
Pintu lift terbuka, Nara segera keluar membuntuti Sean yang saat ini ada di depan lebih dulu sambil menggendong Aren menuju ruang kebesarannya. Sekertaris yang bernama Suci memberi hormat kepada Sean juga Nara yang melewati dirinya di depan pintu kebesaran. "Cantik sekali calon istri Pak Sean," gumam Suci dalam hati.
Sean membuka pintu kebesaran, Nara hanya bisa mengikutinya sambil berjalan perlahan. Seketika juga Sean tiba-tiba berhenti di depannya sehingga Nara menabrak punggung tubuh kekar Sean.
"Awwh."
Sean membalikan tubuhnya sambil menatap dingin yang menusuk relung hati Nara. Aren pun Sean lepaskan supaya bisa bermain di sofa, kebetulan juga ada mainan yang sudah di sediakan sekertaris Suci. Sebelum Sean berangkat ke kantor ia terlebih dahulu menghubungi Suci supaya menyedikan mainan untuk Aren di ruang kantornya.
"Sayang kamu main lah," titah Sean yang segera di angguki oleh Aren. Nara hanya bisa diam menunduk entah apa yang akan dilakukan Sean kepadanya. Ia hanya bisa pasrah kena semprot dan tuduhan lagi dari mulut Sean lagi.
"Apa kau bersedia untuk menjadi orangtua Aren?" tanya Sean dengan tegas dan dingin membuat bulu kuduk Nara merinding ia sangat takut.. Sean dengan cekatan segera menyeret lengan Nara berjalan kearah jendela. Ia melepaskannya dengan kasar, Nara hanya bisa diam tidak bisa berkutik atau pun melawannya. Sean mengehembuskan nafasnya kasar, ia menatap Nara dengan tajam. Seperti itulah yang sering dilakukan Sean kepada Nara saat mereka berhadapan.
"Tuan, apa maksudmu?" tanya Nara memperjelas.
"Dengar, kau mau menjadi orangtua Aren atau kau mau cek yang sudah saya sediakan senilai seratus juta rupiah," jawab Sean ketus membuat Nara mematung tidak percaya atas apa yang di lontarkan Sean kepadanya. "Tuan, saya di sini hanya sebagai pengasuh Aren, saya tidak berniat untuk menjadi orangtua Aren seperti yang Anda tuduhkan kepada saya," timpal Nara kesal.
Sean berdiam diri melihat ke luar jendela, ia membuka sedikit jendela itu. Hembusan angin dari luar terasa di pelupuk wajah Nara, Sean segera menutupnya kembali. "Saya tahu wanita sepertimu suka memanfaatkan keadaan. Kau telah meracuni Mamih juga putraku agar saya bisa menikah denganmu. Bukankah itu tujuanmu? Jelaskan Nara, aku tidak suka pembohong sepertimu!" nada suara Sean mulai meninggi membuat Nara diam membeku. Air matanya ia tahan agar tida jatuh mengalir dari pelupuk matanya. Nara mencengkam kuat baju yang ia gunakan, menahan semua emosi yang ada di dalam benaknya. Sean begitu tega menuduhnya yang bukan-bukan. Nara tidak mengerti apa penyebab Sean kepadanya begitu kejam padahal Nara sudah sebaik mungkin menjaga putranya dan bukan untuk menjadi orangtua Aren. Sean sudah muak dengan sikap lugu Nara, ia akan berusaha untuk menyingkirkannya dalam waktu dekat.
"Jangan menangis, kau hanya pura-pura lemah saja di depanku. Buktinya kau bisa meracuni Mamih juga Aren Putraku," tuduh Sean senyum menyungging.
"Stop,Tuan. Anda salah besar, tuduhan'mu tidak terbukti saya hanya wanita biasa yang hanya mencari uang untuk membiayai ibuku di kampung dia sedang sakit keras, saya mohon Tuan jangan menuduhku yang bukan-bukan," isak tangis Nara sambil menunduk.
"Aku tidak butuh cerita palsumu Nara, satu minggu lagi kau harus pergi meninggalkan rumahku," kecam Sean membuat Nara merasakan sakit di relung hatinya. Tidak lama Sean segera meninggalkan ruang kebesarannya, Nara sendiri masih mematung di dekat jendela.
suka dech!
Keren...Keren...aq suka!!...
Thanks Author udah bikin novel dengan cerita dan idea" yg Brilient 👍👏...
Bakalan kangen Sean❣️Nara....
semoga Aren tetap setia hahaha
#sukses selalu author ✨🌹