Semalaman suara gaduh di atas genteng itu membuat bulu kuduk merinding.
Entah apa yang tengah ribut di atas genteng sana. Karena, tak terlihat wujudnya.
Karena gangguan itu, akhirnya yang punya rumah membiarkan rumahnya kosong. Namun, Bu Heni tidak membiarkannya kosong begitu saja. Dia menawarkan rumah itu untuk di kontrakan dengan harga yang sangat murah.
Setiap Orang yang menempati rumah itu selalu merasakan hal-hal yang aneh dan tidak masuk akal. Seperti munculnya bayangan hitam yang tinggi besar di ujung teras.
Terror bercak darah di sekeliling rumah membuat bulu kuduk merinding. Apalagi tengah malamnya muncul Makhluk aneh yang menyeramkan. Pundak terasa di tindih balok es yang super dinginpun di rasakan oleh Bunga, orang yang kesekian yang menempati rumah itu.
Bunga dan Angga tetap mencoba untuk bertahan, hingga akhirnya mereka kalah dan mundur dari rumah itu. Setelah Bunga melihat Makhluk aneh yang berwujud ular berkepala manusia yang berambut panjang serta memakai mahkota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosa_Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mau pindah rumah.
Setelah sarapan pagi, Bunga segera bergegas mengunjungi rumahnya bu Heni, yang berada tepat, di belakang rumah yang dia tempati bersama suaminya.
"Assalamualaikum..." Bunga mengucapkan salam dari teras depan rumah yang cukup besar dan mewah, untuk ukuran di kampung itu.
Rumahnya bu Heni, memang rumah yang paling besar dan paling mewah di kampung itu, dengan halaman depan dan halaman samping yang sangat luas.
Di belakang rumahnya, setelah halaman belakang, ada berpetak-petak sawah miliknya. Kebun sayuran dan palawija pun ada di dekat sawah itu.
Dan Kolam ikan yang lumayan besar juga ada di halaman belakang rumahnya, dengan kandang ayam kampung dan beberapa jenis ayam di atasnya.
Sungguh suasana yang membuat mata ini terasa sejuk memandanginya.
Di halaman depan yang luas itu, beraneka jenis bunga sengaja di tanam dan tumbuh dengan subur di sana.
Sungguh pemandangan yang sangat indah dipandang mata.
Apalagi, di tambah dengan pohon anggur yang menaungi jalan setapak dari pintu gerbang halaman, menuju ke teras depan rumah itu. Dengan buah anggurnya yang nampak bergelantungan.
Sungguh! Suatu pemandangan yang sangat indah, menentramkan hati yang memandangnya, membuat betah untuk berlama-lama tinggal di sana.
Membuat kaki ini enggan untuk melangkah dan beranjak meninggalkannya.
Begitu juga dengan Bunga, dia terus memandangi suasana di sekelilingnya, sambil berdecak kagum akan suasana di sekeliling rumah bu Heni.
Hingga dia bisa melupakan kejadian semalam, yang sangat menyeramkan dan membuatnya ketakutan, hingga tak sadarkan diri.
Diapun bisa melupakan Suaminya yang semalam tidak pulang.
Hingga, balasan salam dari yang punya rumah pun tidak kedengaran oleh telinganya. Saking asyiknya dia memandangi bunga-bunga yang tumbuh subur di hadapannya.
Bu Heni tersenyum-senyum melihatnya.
Dia tidak mau mengganggunya,
diapun lalu duduk di kursi yang ada di sana, sambil tersenyum memandangi tingkahnya Bunga.
Setelah lumayan agak lama dia memandangi tingkahnya Bunga,
" Eheum!..." Bu Heni berdehem agak kencang, hingga Bunga sampai terperanjat di buatnya.
Diapun segera menoleh ke arah datangnya suara.
" Eeh.. Ibu, assalamualaikuum..."
Bunga mengucapkan salam kembali untuk yang kedua kalinya.
"Waalaikumsalam... " Bu Heni menjawabnya sambil tersenyum.
" Ma'af bu..." Ujar Bunga tersipu malu.
" Enggak apa-apa, kamu nampaknya sangat menyukai halaman rumah saya ini. Duduklah!..." Bu Heni meminta Bunga untuk duduk bersamanya.
" Iya Bu, terimakasih." Sahutnya sambil duduk di samping bu Heni.
" Kamu nampaknya betah memandangi halaman rumah saya ini." Ucap bu Heni lagi, membuka percakapan.
" Iya bu... Saya sangat betah kalau sudah berada di sini memandangi bunga-bunga yang indah bermekaran, benar-benar nyaman bu, membuat rasa setres hilang seketika." Sahutnya.
" Memangnya kamu setres kenapa?... Apa yang membuatmu setres?... Apa ada yang menerormu?..." Tanya bu Heni, di tatapnya wajah Bunga dengan rasa sayang. Dia sudah menganggap Bunga, seperti anaknya sendiri.
Mendengar pertanyaan dari bu Heni, Ingatan Bunga kembali ke peristiwa semalam yang dia alami Sendirian itu, karena Angga, Suaminya tidak pulang.
" Oh.. Iya bu... Saya ke sini itu, mau mengatakan sesuatu peristiwa yang sangat menyeramkan!... Sungguh sangat menakutkan!... Saya ngeri dan takut melihatnya. Bulu kudukku merinding, bahkan aku sampai tidak sadarkan diri." Bunga menyampaikan kejadian semalam yang dia alami itu dengan penuh semangat.
" Memangnya semalam ada kejadian apa?... Coba ceritakan kepada Ibu, bikin penasaran aja." Bu Heni seperti menggodanya.
" Benar bu, aku tidak bohong! Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri." Ujar Bunga dengan wajahnya yang serius.
Di peganginya tangan bu Heni, seakan ingin menyatakan keseriusannya.
" Iya... Saya hanya bercanda, memangnya ada peristiwa apa di rumahmu itu? Kenapa baru pagi ini kamu ke sini?..." Bu Heni bertanya lagi.
" Aku melihat sosok makhluk aneh yang sangat menakutkan, bu. Wujudnya seperti seekor ular yang lumayan besar... Dengan rambut yang panjang terurai hingga menutupi setengah badannya. Dan... Makhluk aneh itu... Memakai mahkota di atas kepalanya, " Ucap Bunga, dia berhenti sejenak dan mengambil nafas dalam-dalam.
Bu Heni, nampak terperanjat kaget setelah mendengar penjelasan dari Bunga, yang katanya melihat makhluk aneh di rumahnya, semalam.
" Iya benar,bu... Aku melihatnya! Aku tidak bohong!..." Bunga mencoba meyakinkan bu Heni.
" Iya... Iya... Saya percaya, saya tidak menganggapmu berbohong
saya percaya. Cuma... Saya jadi teringat akan perkataannya Eyang Kurdi waktu itu, waktu kami akan menebang pohon beringin tua yang kebetulan tumbuh di sana." Bu Heni mengatakannya dengan bergumam.
Hingga hanya samar-samar terdengar oleh Bunga.
" Coba, jelaskan seluruhnya tentang kejadian itu, bagaimana kejadian yang selengkapnya. Coba ceritakan kepadaku!." Perintah bu Heni dengan serius.
" Begini bu, waktu kemarin itu sampai jam sembilan malam, suamiku belum pulang juga, hujan yang deras sejak Maghrib, mungkin itu yang membuat Anjar tidak pulang. Aku pun lalu menunggunya sambil tiduran di kamarku. Sengaja aku tidak menutup tirainya, biar aku bisa langsung melihat pintu depan."
Bunga berhenti dulu sejenak, lalu menarik nafas perlahan-lahan.
"Lalu?..." Bu Heni seakan tidak sabar mendengar penjelasan dari Bunga.
" Selagi aku tiduran, tiba-tiba... Dari balik kusen pintu kamarku, aku... Aku melihat sesuatu yang bergerak, dan... Seperti bayangan hitam, panjang terurai. Lama kelamaan, bayangan hitam itu nampak seperti sesosok makhluk yang sangat aneh, seperti seekor ular yang lumayan besar, tapi... Kepalanya di tumbuhi oleh rambut yang sangat panjang, lebat dan hitam.
Kepalanya memakai mahkota yang sangat indah." Bunga berhenti lagi bicaranya, seperti tadi menghirup nafas dulu.
Bu Heni, mengerutkan keningnya, seperti yang tengah berpikir keras. Matanya tak lepas menatap wajah Bunga yang tengah menceritakan kejadian yang menimpanya semalaman.
" Di mahkotanya itu, ada sesuatu yang nampak bersinar terang dan sangat menyilaukan mata, ennggak tahu benda apa itu?.. Yang pasti, mataku silau melihatnya. Dan, bu... Makhluk aneh itu, masuk ke lengan jaketku yang ku gantungkan di samping kusen pintu kamarku itu. Seluruh tubuhnya masuk ke lengan jaketku itu, hingga membuat jaketku bersinar bu!..." Bunga menuturkan kembali pengalamannya.
" Hanya beberapa sa'at saja bu, makhluk aneh itu lalu hilang dari pandanganku, entah kemana... Aku periksa jaket itu, tapi tidak menemukan apa-apa." Lanjutnya.
" Suamimu sudah pulang belum, Waktu kejadian itu?..." Tanya bu Heni, penasaran.
" Bang Angga sampai sekarang belum pulang Bu, enggak tahu kenapa. Mungkin karena hujan deras." Sahut Bunga lagi.
" Kamu... Semalam sendirian?... Apa kamu tidak berteriak minta tolong, atau... Memanggil saya. Kenapa tidak ke sini saja?... " Bu Heni merasa heran.
" Semalam kan hujan sangat deras, jadi teriakanku tidak ada yang mendengarnya. Aku mau ke sini, tapi takut mengganggu, bu. Akhirnya, ya... Aku atasi sendiri dengan sekuat tenaga, walau takutnya setengah mati." Lanjutnya.
" Setelah makhluk yang aneh itu menghilang, aku coba mencarinya dengan hati takut dan was-was. Takut dia datang lagi. Dan.. Ternyata, makhluk aneh itu datang lagi kira-kira tengah malam, dia menampakkan wujudnya dengan jelas, di pojok dapur. Sampai aku tidak sadarkan diri saking takut dan seram melihatnya." Tutur Bunga lagi, mengakhiri ceritanya.
" Ya Allah... Kamu sendirian, semalaman dalam ketakutan, ma'afkan ibu tidak mendengar teriakkanmu... Sampai kamu tersadar kembali sendiri. Hiiih... Ibu tidak bisa membayangkan bagaimana ketakutannya kamu malam tadi." Bu Heni sampai bergidik mendengar penuturan Bunga yang sangat menyeramkan itu.
" Aku terbangun, sa'at gema Adzan Subuh berkumandang, bu." Gumam Bunga perlahan.
" Aku... Mau pindah saja bu... Aku enggak mau di datangin makhluk aneh itu, aku takut sekali buu." Ujar Bunga dengan suara yang tercekat di tenggorokan.
Bu Heni, mendekatinya dan memeluk Bunga dengan erat.
Dia tidak bisa membayangkan bagaimana kalau dirinya yang mengalami hal seperti itu.
" Menurut ibu, sebaiknya kamu menunggu suamimu pulang dulu,
ibu tidak akan mencegahnya. Ibu mengerti dengan perasaanmu. Seandainya ibu yang mengalami hal itu, ibu tidak tahu bagaimana takutnya ibu sa'at itu. Sebelum Suamimu pulang, kamu di sini saja dengan ibu, ya!... Ibu harap kamu jangan menolaknya." Bu Heni meminta Bunga supaya tinggal bersamanya.
" Iya bu..." Jawab Bunga pelan.
Bunga tidak menolaknya, karena diapun tidak mau untuk menempati rumah itu lagi.
salam dari "Ternyata aku keturunan RPD" mampir kak
"Tak mungkin... Semua rompi kan di jepit, Enggak mungkin fi terbangkan angin.
itu ☝️☝️ ga mungkin di terbangkan angin 🤔🤔