Erika yang merupakan gadis cantik dan baik, harus menikah kontrak dengan pria yang sudah merebut kesuciannya.
Perjanjian mereka hanya sampai Erika melahirkan seorang anak untuk Bima.
Tanpa di duga Erika melahirkan bayi kembar, tapi Erika tapi dia merahasiakan dirinya mengandung bayi kembar. Dan setelah lahir, Erika mengambil salah satu dari bayinya, dan satunya lagi di ambil oleh Bima.
Akankah Erika bisa bertemu lagi dengan bayi kembarnya yang bersama Bima, dan apakah Bima dan Erika bisa menjadi keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AngelKiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pujian dari ayah
Kini Erika bekerja di salah satu perusahaan yang ada di Bandung, Erika bekerja sebagai karyawan sebagai seorang asisten manajer.
Posisi yang dia dapatkan setelah bekerja keras selama bertahun-tahun, dan selama itu 8 tahun terakhir Erika kembali melanjutkan kuliahnya di Bandung.
"Erika..."
"Iya, Pak Iwan."
"Kerjamu sangat bagus, dan ini adalah surat pemindahan mu."
"Maksudnya?"
"Iya, Karena di kantor pusat banyak terjadi masalah jadi saya merekomendasikan mu untuk bekerja di kantor pusat."
"Tapi, apa itu tidak terlalu berlebihan pak?"
"Tidak, kamu sangat pintar dan rajin. Saya yakin kamu pasti bisa, dan di sana kamu akan di tugasnya menjadi asisten."
"Asisten manajer?"
"Entah, mereka belum menentukan asisten apa. Tapi itu semua tergantung saat kau datang ke sana dan menunjukkan kemampuan mu."
"Baik, pak Terimakasih."
"Iya sama-sama. Semoga kamu menjadi orang sukses."
"Amin.."
Setelah berbincang-bincang dengan Pak Iwan, Erika langsung bergegas pulang. Dia harus mempersiapkan segalanya, karena besok lusa dia akan pergi ke Jakarta.
Sekilas Erika teringat akan kenangan pahitnya di Jakarta, tapi dia berharap semoga dia tak bertemu dengan orang itu.
Sesampainya di rumah, Erika langsung memberikan kabar bahagia ini kepada keluarganya.
Dan yang pasti semua anggota keluarganya sangat bahagia mendengar hal itu.
"Jadi sekarang kita harus berkemas?"
"Iya, tapi kita berangkatnya besok lusa."
Terlihat kedua adik kembarnya itu nampak senang, karena mereka pasti sangat merindukan kampung halaman mereka.
"Apa gak papah kita kembali lagi ke sana?" Tanya ibunya Erika pada Erika.
"Gak papah kok Bu, lagi pula Erika udah ngelupain hal itu. Dan mungkin dia juga udah lupa sama Erika."
"Ya udah, syukur lah kalau begitu."
"Bunda...." Teriak Daffa yang baru bangun tidur.
"Sayang, anak bunda baru bangun." Ucap Erika.
"Iya bunda, bunda. Tadi di cekolah Daffa dapat nilai A." Ucap Daffa yang bicaranya pun masih cadel.
"Alhamdulillah, anak bunda pinter banget." Ucap Erika sambil mencium pipi anaknya.
Erika kemudian teringat akan putranya yang satu lagi, apakah sekarang dia baik-baik saja. Tapi Erika yakin jika putranya itu akan hidup bahagia karena keluarga Bima adalah keluarga yang sangat kaya raya, Bima pasti akan memberikan semua yang anaknya inginkan. Tak seperti Erika yang tak bisa membelikan apa yang Daffa inginkan.
"Bunda, kenapa bunda. Sedih.." Tanya Daffa.
"Bunda gak sedih kok, cuman bunda bahagia karena memiliki anak yang pintar seperti kamu." Ucap Erika sambil memeluk putranya itu.
...
Terlihat Davit tengah berjalan menyusuri lorong rumah, di tangan mungilnya terdapat sebuah kertas hasil ujian miliknya.
Kali ini Davit mendapatkan nilai sempurna, dan dia ingin memberitahukan ayahnya soal ini.
"Ayah.." Panggil Davit kepada ayahnya yang sedang duduk di taman.
"Ada apa?" Tanya Bima dengan tatapan cuek.
Lalu Davit memberikan kertas hasil ujian miliknya, kemudian Bima melihat kertas itu. Sebuah senyuman tipis terlihat di wajah Bima.
"Bagus." Ucap Bima.
Satu kata itu langsung membuat Davit bahagia, karena sangat jarang ayahnya itu memujinya dalam suatu hal.
"Te.. rimakasih." Ucap Davit sambil tersenyum.
"Emm.. Kalau begitu, segeralah ganti baju dan makan." Ucap Bima.
"Baik, ayah." Jawab Davit.
Dengan langkah kaki mungilnya Davit langsung berjalan ke kamar tidurnya. Bima menatap tajam punggung kecil milik anaknya itu yang perlahan mulai menghilang di balik pintu.
"Anak itu sangat mirip dengan mu, terutama matanya." Gumam Bima.
"Tuan sangat perhatian pada tuan muda." Ucap asistennya yang ada di samping Bima.
"Aku memang selalu memperhatikannya agar dia menjadi orang yang sukses dan di segani banyak orang." Ucap Bima.
"Iya Tuan.."
Di dalam kamar.
Davit yang baru beres berganti baju langsung menatap cermin besar di hadapannya, dia melihat wajahnya yang mirip dengan ayahnya.
"Ayah sangat tampan, dan aku pun sangat tampan dan juga imut." Ucapnya sambil memegangi pipinya sendiri.
"Tuan muda, saatnya makan siang." Ucap pengasuh Davit.
"Iya, Bi." Jawab Davit.
Di ruang makan, Davit hanya makan sendiri. Ayahnya tak pernah sekalipun makan bersamanya.
"Bibi, Davit mau tanya sesuatu apa boleh?" Tanya Davit.
"Tentu saja." Jawab pengasuhnya.
"Apa bibi kerepotan saat mengasuh ku?" Tanyanya lagi.
"Tentu saja tidak, Tuan muda sangatlah dewasa meski umur Tuan muda masih muda. Dan saya pun tak kerepotan jika mengasuh Tuan muda." Jawabnya sambil tersenyum.
"Terimakasih Bibi, apa Bibi tahu siapa ibu ku?"
Bibi pengasuh pun terdiam, "Emm.. Bibi tidak tahu. Tuan." Jawabnya.
Dan Davit pun tersenyum sambil kembali menyantap makanan miliknya.