Di dunia fantasi Eldoria yang dikuasai oleh perserikatan klan penyihir, Aura Zephyra adalah perwujudan dari kepolosan masa muda. Sebagai putri sulung dari Klan Penyihir Angin yang agung, hidup remajanya dipenuhi dengan tulusnya cinta kepada tunangannya, Gavin Elrod. Namun, di hari pernikahan mereka yang seharusnya menjadi momen paling bahagia, cinta itu berubah menjadi mimpi buruk. Gavin mengkhianatinya, membantai seluruh klannya, dan menusuk dada Aura demi merebut Inti Sihir Angin untuk ambisi takhtanya. Di ambang kematian, dalam kobaran api kuil yang hancur, Aura mengutuk Gavin dengan air mata darah.
Bukannya lenyap, jiwa Aura justru terlempar kembali ke masa lalu—dua tahun sebelum tragedi pembantaian itu terjadi. Terbangun di tubuh remajanya yang berusia tujuh belas tahun, Aura bukan lagi gadis naif yang bisa dibodohi. Keajaiban regresi waktu tidak hanya membawa ingatannya, tetapi juga membangkitkan atribut sihir terlarang yang telah punah ribuan tahun: Sihir Es Kuno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kutukan dari Abyss
Malam jatuh dengan cepat di perbatasan Utara, membawa serta badai salju yang kian mengamuk menembus kegelapan ekstrem.
Dirasa terlalu berisiko untuk melanjutkan perjalanan dalam kepungan gunung es yang membutakan, Kaelen memerintahkan pasukan Ksatria Hitam untuk mendirikan kemah pertahanan darurat di dalam area Desa Okvanh yang kosong.
Api unggun magis dinyalakan di beberapa titik taktis, memancarkan cahaya kemerahan yang kontras dengan kabut kelabu yang kian mengepung desa. Cahaya itu menari-nari di atas dinding kayu rumah-rumah mati, menciptakan bayangan panjang yang tampak seperti hantu yang mengintai di balik kegelapan.
Di dalam tenda komando yang terbuat dari kulit binatang buas berlapis mantera, Aura sedang mempelajari peta wilayah Utara yang terbentang di atas meja kayu tebal. Jemarinya yang ramping menunjuk ke arah Ngarai Angin Dingin, sebuah celah raksasa di ujung utara yang memisahkan kekaisaran dengan tanah terlarang.
"Jika Gavin membutuhkan darah dan jiwa untuk mengaktifkan altar kuno, dia tidak akan berhenti di desa ini, Kaelen," ucap Aura, suaranya terdengar berat di tengah desau angin yang menghantam dinding tenda. "Tujuannya pasti Ngarai Angin Dingin. Di sana terdapat segel kuno yang menahan Behemoth Frost. Kehidupan laluku tidak pernah mencapai tahap ekstrem ini karena Gavin menguasai kekaisaran lewat jalur politik di ibu kota, bukan dengan membangkitkan monster purba dari dasar es abadi."
Kaelen Vane berdiri tegak di dekat pintu tenda, memperhatikan luar menembus celah kain dengan tangan bertumpu pada gagang pedang emas kekaisaran.
Sang Monster Utara itu memancarkan aura dingin yang bahkan sanggup menekan hawa beku dari luar. Sebagai Pangeran Tanpa Mahkota yang memegang kendali atas militer Utara, matanya merefleksikan kemarahan yang tertahan atas hilangnya rakyatnya sendiri secara misterius.
"Jika bajingan itu menginginkan perang total dengan membangunkan monster, maka kita akan memberikan kehancuran yang setimpal, Aura," sahut Kaelen, suaranya rendah namun bergetar oleh kekuatan mana yang pekat. "Namun, kita harus memastikan garis logistik kita aman dari intervensi kabut ini sebelum bergerak lebih jauh ke utara."
Auuuurgghhh!
Sebuah jeritan melengking memecah kesunyian malam. Itu bukan suara manusia, bukan pula suara serigala salju biasa, melainkan raungan parau yang terdengar seperti perpaduan antara lolongan binatang buas dan rintihan rantai besi yang berkarat ditarik dari dasar tanah.
Suara mengerikan itu disusul oleh dentingan senjata yang beraduan hebat dan teriakan panik dari para prajurit di luar tenda.
"Serangan mendadak!" Boris berteriak dari luar, menyibak kain penutup tenda dengan kasar. Zirah besi hitamnya yang perkasa kini telah terpercik oleh cairan hitam pekat yang mengeluarkan asap tipis korosif.
"Yang Mulia! Makhluk-makhluk bayangan keluar dari balik kabut! Mereka tidak mempan oleh tebasan pedang biasa para ksatria!"
Mendengar hal itu, Kaelen dan Aura langsung melesat keluar menembus badai.
Di tengah perkemahan, kekacauan hebat tengah terjadi. Sosok-sosok makhluk yang terbuat dari gumpalan kabut hitam pekat dengan sepasang mata merah menyala melompat dari kegelapan malam, mencabik-cabik barisan pertahanan Ksatria Hitam dengan kuku-kuku mereka yang panjang.
Setiap kali pedang ksatria menebas makhluk itu, tubuh kabut mereka hanya terbelah menjadi asap sebelum menyatu kembali dalam hitungan detik dan membalas serangan dengan kecepatan yang tidak manusiawi.
"Mundur dan buat formasi melingkar! Jangan biarkan mereka memecah barisan!" Kaelen berteriak, suaranya yang menggelegar mengalahkan gemuruh badai salju.
Sang Pangeran Tanpa Mahkota menarik pedang emas pemberian Kaisar dari sarungnya. Dalam sekejap, api darah berwarna merah menyala membubung tinggi dari bilah pedang tersebut, memancarkan gelombang panas yang dahsyat dan menerangi kegelapan malam.
Sebagai Monster Utara, Kaelen menerjang maju tanpa rasa takut sedikit pun, menebaskan pedang apinya ke arah tiga makhluk bayangan yang sedang mengincar seorang prajurit muda. Api darahnya terbukti efektif; makhluk-makhluk bayangan itu menjerit melengking kesakitan saat tubuh kabut mereka terbakar habis menjadi abu hitam begitu bersentuhan dengan api mananya.
Di sisi lain perkemahan, Aura tentu tidak tinggal diam. Ia mengangkat kedua tangannya ke udara, membiarkan rambut peraknya menari-nari ditiup badai. Mana es murni dalam tubuhnya bergolak hebat, menciptakan puluhan tombak berbentuk mawar es raksasa yang meluncur deras dari langit malam, menancap dan membekukan pergerakan makhluk-makhluk kabut tersebut hingga mereka terkunci di atas tanah bersalju.
"Jangan biarkan kabut itu menyentuh kulit kalian! Mundur ke belakang api unggun magis!" seru Aura memperingatkan para prajurit dengan suara lantang.
Namun, taktik yang dirancang Gavin melalui kekuatan Abyss kali ini jauh lebih licik dari yang mereka duga. Di tengah hiruk-pikuk pertempuran, sesosok bayangan yang berukuran lebih besar bermanifestasi secara tiba-tiba tepat di belakang seorang prajurit muda yang tengah lengah menghindari serpihan es.
Melihat bahaya yang mengancam anak buahnya, Boris melompat dengan gagah berani untuk menghadang. Ia mengangkat perisai beratnya demi menghalau hantaman cakar bayangan raksasa tersebut.
Sabetan fisik makhluk itu berhasil ditahan oleh perisai Boris, namun cakar kegelapan tersebut mendadak meledak menjadi kabut hitam pekat yang langsung menyelimuti lengan kanan sang komandan veteran.
"Arghhh!" Boris melenguh kesakitan dengan sangat hebat, tubuh perkasa itu seketika berlutut di atas salju saat zirah besi hitamnya mulai meleleh terpapar cairan korosif Abyss yang sangat panas.
Urat-urat hitam legam mulai menjalar dengan sangat cepat dari pergelangan tangannya menuju lengan atas, memancarkan pendaran ungu tua yang mengerikan—persis seperti tanda kutukan yang kini menjalar di wajah Gavin.
Kaelen yang melihat tangan kanannya tumbang langsung bergerak secepat kilat. Ia menebas makhluk bayangan raksasa itu hingga musnah menjadi abu dengan api darahnya, lalu berlutut di samping Boris yang merintih kesakitan.
"Boris! Tahan kesadaranmu!"
Aura segera berlari mendekat, wajahnya dipenuhi rasa cemas. Kedua tangannya memancarkan cahaya perak es murni yang menyilaukan, mencoba membekukan aliran kutukan hitam tersebut guna menghentikan penyebarannya menuju jantung Boris.
Namun, begitu sihir penyembuhan es murninya menyentuh lengan Boris, mana es murni tersebut justru berbenturan hebat dengan energi Abyss yang menolak keberadaan energi suci dunia. Benturan dua mana itu justru menyebabkan Boris memuntahkan darah hitam kental dari mulutnya dan menjerit lebih histeris.
Aura terkejut setengah mati, menarik kembali tangannya dengan wajah pucat pasi dan mata terbelalak.
"Sihirku ... sihir es murniku tidak bisa menembus kutukan ini, Kaelen. Energinya menolak mana es murni dan justru mengonsumsi energi kehidupan Boris dari dalam untuk memperkuat dirinya sendiri."
Melihat Boris yang terengah-engah dengan kesadaran yang perlahan menipis di atas salju, serta sisa-sisa makhluk bayangan yang mulai mundur kembali ke dalam kabut kelabu seolah-olah tugas utama mereka untuk melukai perwira tertinggi Aliansi Utara telah selesai, keheningan yang mencekam pun menyelimuti seluruh perkemahan.
Aura menatap kedua telapak tangannya sendiri yang bergetar hebat di balik sarung tangannya. Untuk pertama kalinya sejak dia terlahir kembali di kehidupan kedua ini, rasa percaya diri mutlak yang dia banggakan runtuh total.
Pengetahuannya tentang masa depan tidak mencatat skenario mengerikan ini. Mereka bahkan belum sampai di benteng utama wilayah Utara, namun tangan kanan terbaik Kaelen sudah lumpuh oleh jenis kekuatan gelap yang sama sekali tidak mereka pahami.
Di dalam kegelapan malam Utara yang tak berujung dan dingin, Aura tersadar dengan rasa takut yang menjalar: permainan ini bukan lagi tentang balas dendam politik yang elegan, melainkan pertarungan hidup dan mati melawan entitas Abyss yang siap menelan mereka bulat-bulat.
Aura dan Kaelen kini benar-benar terdesak setelah Boris terkena kutukan Abyss.