Dia kembali bukan untuk melindungi, tapi untuk mengeksekusi.
Lima belas tahun di medan perang mengubah Nathan Wiratama menjadi Raja Perang yang ditakuti dunia. Kini, ia pulang demi satu misi: memburu dalang pembantaian keluarganya.
Demi melacak sang iblis, Nathan menyamar menjadi pengawal pribadi Elena, janda konglomerat yang memiliki banyak musuh. Di sana, ia juga harus menghadapi Clara, putri majikannya yang perlahan jatuh cinta pada pesona dinginnya.
Satu per satu bukti terkuak, membawa Nathan pada kenyataan paling brutal: Iblis yang ia cari selama ini adalah Elena—wanita yang kini ia lindungi dengan taruhan nyawa.
Saat topeng hancur, akankah Nathan tetap mencabut nyawa Elena, meski harus menghancurkan hati Clara?
"Tidak ada yang bisa melindungi Anda dari saya, Nona."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sapuan dalam Sunyi
Lampu kilat taktis mini buatan Rendra bekerja dengan efisiensi yang mengerikan. Bagi sembilan pria yang sedang mengandalkan kacamata malam, gelombang cahaya putih berkekuatan 100.000 lumen itu tidak hanya membutakan sensor optik alat mereka, tetapi juga mengirimkan rasa sakit yang menusuk langsung ke dalam retina mata melalui saraf-saraf optik yang terkejut.
"AARRGGHH!!! Lepaskan kacamatanya! Lepaskan!!!" teriak pemimpin Gamma dengan suara serak, tangannya yang gemetar merenggut paksa helm taktis beserta monokular hijau di kepalanya hingga tali pengikatnya nyaris putus.
Di sekelilingnya, kekacauan mutlak meledak dalam hitungan detik. Sembilan tentara bayaran profesional itu kini kehilangan seluruh orientasi taktis mereka. Di dalam ruang tengah yang gelap gulita tanpa cahaya sedikit pun, mata mereka yang perih hanya bisa melihat bayangan hitam besar dan sisa-sisa bintik putih yang menari-nari di pelupuk mata.
Namun bagi Nathan, kegelapan ini adalah sekutu terbesarnya.
Berbeda dengan musuh-musuhnya yang mengandalkan kacamata malam generasi standar, kacamata malam militer yang dikenakan Nathan telah dilengkapi dengan fitur auto-gated photocathode, teknologi mutlak yang secara otomatis memutus aliran listrik pada tabung penguat cahaya dalam waktu sepersekian mikrodetik begitu mendeteksi lonjakan cahaya ekstrem. Visual hijau di matanya sempat meredup sesaat, namun langsung kembali normal dalam waktu kurang dari setengah detik.
Ia melihat sembilan targetnya bergerak kacau, saling menabrak, dan memegangi wajah mereka. Bagi Nathan, mereka bukan lagi unit taktis yang mematikan. Mereka hanyalah sekumpulan hewan buruan yang buta dan panik di dalam kandang.
Nathan bergerak maju tanpa suara. Langkah kakinya yang mengenakan bot militer khusus terasa seringan bulu di atas lantai marmer lobi tengah yang digenangi darah.
Target pertama berada paling dekat dengannya di sisi kanan, seorang anggota Tim Beta yang sedang berlutut sambil mengucek matanya yang berair deras. Nathan meluncur dari balik bayang-bayang pilar seperti kabut yang dingin. Sebelum pria itu sempat mendongak karena mendengar desau angin yang halus, tangan kiri Nathan yang dilapisi sarung tangan taktis Kevlar sudah mencengkeram dahi pria itu dari belakang, menariknya ke atas untuk meregangkan lehernya.
Jleb.
Pisau taktis karbon hitam di tangan kanan Nathan meluncur mulus, menusuk tepat di celah antara tulang selangka kiri dan leher, memotong arteri karotis dan paru-parunya sekaligus. Nathan memutar pisau itu seperempat lingkaran untuk memastikan kerusakan mutlak, lalu menahan jasad yang lemas itu agar tidak jatuh menghantam lantai dengan keras.
Tersisa delapan.
Hanya berjarak dua meter di sebelahnya, seorang penembak dari Tim Gamma merasakan ada sesuatu yang dingin jatuh di atas punggung tangannya. Saat ia meraba permukaan kulitnya, cairan kental berbau besi menyengat langsung terasa di jarinya.
"D-Darah..." bisik pria itu dengan suara bergetar.
Sebelum ia sempat meneriakkan peringatan kepada rekan-rekannya, moncong pistol berperedam suara kaliber 9 mm milik Nathan sudah menempel erat di balik pelipis kiri helm taktisnya yang terbuka.
Pfft.
Suara letupan halus berbarengan dengan guntur yang kembali menggelegar di luar jendela kaca besar. Peluru kaliber 9 mm menembus tengkorak pria itu dengan presisi mutlak, menghancurkan pusat motoriknya seketika. Tubuhnya langsung ambruk ke samping, menimpa sofa beludru besar tanpa sempat mengeluarkan erangan.
Tersisa tujuh.
"Ada di antara kita! Dia ada di lobi tengah! Tembak bebas! Tembak bebas!" teriak Bara, si penembak jitu, yang mulai kehilangan akal sehatnya karena stres ekstrem.
Bara tidak peduli lagi dengan perintah pemimpin Gamma untuk menahan tembakan. Dengan mata yang masih berair dan berbayang putih, ia mengangkat senapan serbu pendeknya ke depan dan menekan pelatuknya dengan liar.
Pfft-pfft-pfft-pfft-pfft!
Rentetan tembakan berperedam membelah kegelapan lobi tengah. Kilatan cahaya dari moncong senjata menerangi ruangan secara intermiten, mengirimkan serpihan kayu sofa dan debu marmer ke udara. Namun, tembakan liar itu tidak mengenai Nathan. Tembakan itu justru menghantam dada salah satu rekannya sendiri dari Tim Beta yang berdiri panik di seberang ruangan.
"A-Ahhh... Bara... keparat... kamu menembakku..." rintih pria dari Tim Beta itu sebelum akhirnya ambruk dengan dada yang hancur oleh peluru rekan sendiri.
Tersisa enam.
"Bara, hentikan tembakanmu, bodoh!" raung pemimpin Gamma, tangannya yang memiliki bekas luka bakar mencengkeram kerah jaket taktis Bara dan menghempaskannya ke dinding lobi. "Dia sengaja memancing kita untuk saling membunuh!"
Namun, taktik perang saraf Nathan bekerja dengan terlalu sempurna. Di dalam kegelapan, dengan bau darah yang semakin pekat dan suara guntur yang terus menggelegar dari luar, para tentara bayaran ini merasa seolah-olah lobi tengah telah berubah menjadi perut monster raksasa yang siap menelan mereka hidup-hidup.
Nathan memanfaatkan kepulan debu dan kepanikan akibat tembakan liar Bara. Ia melompat ke atas meja kayu ek panjang yang berada di sudut ruangan, bergerak secara vertikal untuk keluar dari sudut pandang horizontal musuh yang menyempit akibat efek tunnel vision.
Dari atas meja, di bawah visual hijau kacamata malamnya, Nathan membidik dua orang anggota Tim Beta yang sedang berdiri berdampingan di dekat pintu akses koridor barat, mencoba mencari jalan keluar untuk melarikan diri.
Pfft. Pfft.
Dua tembakan presisi dilepaskan dalam waktu kurang dari satu detik. Kedua peluru tersebut menembus bagian belakang leher mereka dengan sangat akurat, memutuskan sumsum tulang belakang mereka seketika. Kedua tubuh itu ambruk ke depan secara sinkron, seperti boneka yang tali-talinya dipotong secara tiba-tiba.
Tersisa empat.
Kini, kesadaran mengerikan menghantam sisa-sisa pasukan Robert. Dari sembilan orang yang melangkah masuk ke dalam lobi tengah, kini hanya tersisa empat orang yang masih hidup, pemimpin Gamma, Bara si penembak jitu yang kini gemetar hebat, dan dua orang anggota Tim Gamma yang berdiri merapat di dekat tangga utama menuju lantai dua.
"Kita harus mundur... kita harus mundur sekarang juga!" bisik salah satu anggota Gamma di dekat tangga, suaranya bergetar menahan tangis ketakutan yang tidak bisa disembunyikannya lagi. "Pria ini bukan manusia... dia adalah iblis..."
"Tidak ada jalan mundur!" desis pemimpin Gamma dengan gigi yang mengatup rapat menahan amarah yang bercampur dengan rasa takut yang teramat sangat. "Jika kita melarikan diri sekarang, Robert akan memburu kita sampai ke ujung dunia. Tembak siapa saja yang bergerak di depan kalian!"
Namun, ketakutan telah melumpuhkan koordinasi taktis mereka sepenuhnya.
Nathan turun dari meja kayu ek dengan kehalusan seekor kucing. Ia menyelinap di balik bayang-bayang pilar tangga utama, tepat di bawah posisi dua anggota Gamma yang sedang berdiri panik.
Dengan satu gerakan cepat, Nathan menjangkau bagian belakang kaki salah satu pria tersebut dari celah anak tangga kayu, menariknya dengan kekuatan penuh hingga pria itu kehilangan keseimbangan dan jatuh telentang menuruni tangga dengan keras.
BRAKK!
Sebelum pria yang terjatuh itu sempat memproses apa yang terjadi, lutut kanan Nathan yang berat sudah mendarat dengan kekuatan penuh tepat di atas dadanya, meremukkan tulang rusuk dan menusuk jantungnya seketika.
Pria yang satu lagi di atas tangga langsung memutar laras senjatanya ke bawah dengan panik, mencoba membidik siluet Nathan di bawah remang cahaya petir dari jendela balkon lantai dua.
Namun, Nathan bergerak lebih cepat. Ia mencengkeram tubuh jasad di bawahnya, menggunakannya sebagai tameng hidup saat pria di atas tangga melepaskan tembakan liar.
Pfft-pfft-pfft!
Tiga peluru menghantam punggung jasad yang dipegang Nathan. Bersamaan dengan tembakan terakhir, Nathan melemparkan pisau taktis karbon hitam di tangan kanannya dengan akurasi yang luar biasa dari posisi berlutut.
WUSH!
Pisau itu melesat membelah kegelapan, menembus bagian bawah dagu pria di atas tangga dan menembus hingga ke otak besarnya. Pria itu langsung membeku, senjatanya terlepas dari genggaman, sebelum akhirnya jatuh tersungkur ke depan menuruni anak tangga marmer yang dingin.
Tersisa dua.
Kini, hanya ada kesunyian yang mencekam di dalam lobi ruang tengah. Derai hujan di luar yang menghantam dinding kaca terdengar semakin keras, berbaur dengan suara napas yang terengah-engah dan bergetar dari dua orang yang masih tersisa di tengah ruangan.
Pemimpin Gamma dan Bara berdiri saling memunggungi, memegang senjata mereka dengan tangan yang basah oleh keringat dingin. Di sekeliling mereka, jasad rekan-rekan mereka bergelimpangan dalam berbagai posisi yang mengerikan, dikelilingi oleh genangan darah segar yang perlahan mulai mendingin di atas lantai marmer putih.
"Tunjukkan dirimu, keparat!" teriak Bara dengan suara serak yang dipenuhi keputusasaan mutlak. "Tunjukkan dirimu! Mengapa kamu harus bersembunyi seperti pengecut?!"
Dari kegelapan di balik pilar besar di depan mereka, terdengar langkah kaki yang sangat teratur.
Ketuk. Ketuk. Ketuk.
Langkah kaki itu terdengar sangat tenang, sangat santai, seolah-olah pria yang sedang melangkah itu tidak baru saja menghabisi belasan tentara bayaran profesional dalam hitungan menit.
Nathan Wiratama melangkah keluar dari kegelapan. Ia melepaskan kacamata malamnya, membiarkannya tergantung di leher jaketnya. Matanya yang gelap menatap lurus ke arah kedua mangsanya dengan ketenangan yang luar biasa dingin. Di tangan kanannya, ia memegang pistol berperedam yang ujung larasnya masih mengeluarkan asap tipis, sementara tangan kirinya disembunyikan di balik saku jas hitamnya yang tetap bersih tanpa setitik darah pun.
"Bara... di sebelah kananmu..." bisik pemimpin Gamma dengan bibir yang gemetar, mencoba mengangkat senjatanya untuk membidik dada Nathan.
Namun, sebelum Bara sempat memutar tubuhnya untuk mengarahkan senapan serbunya, Nathan sudah terlebih dahulu menarik pelatuk pistolnya dengan gerakan mikro yang hampir tidak terlihat.
Pfft.
Satu peluru kaliber 9 mm melesat tanpa suara, menembus tepat di tengah dahi Bara.
Mata penembak jitu itu melotot kosong, setitik lubang merah kecil muncul di antara kedua alisnya sebelum tubuhnya ambruk ke belakang seperti pohon yang tumbang ditiup angin kencang.
Tersisa satu.
Kini, hanya ada pemimpin Gamma yang tersisa di dalam lobi tengah kediaman Wijaya.
Pria dengan bekas luka bakar di tangan kanannya itu menurunkan senjatanya secara perlahan. Ia menyadari bahwa segala kalkulasi taktis militer, persenjataan canggih, dan keunggulan angka miliknya telah hancur berkeping-keping di depan pria yang berdiri di hadapannya ini. Di dalam dunia hitam tentara bayaran, ada satu aturan mutlak: jika kamu bertemu dengan iblis dari unit hitam, hal terbaik yang bisa kamu lakukan adalah berdoa agar kematianmu berjalan dengan cepat.
"Siapa... siapa kamu sebenarnya?" tanya pemimpin Gamma dengan suara yang bergetar hebat, matanya menatap tajam ke arah Nathan yang kini berdiri hanya berjarak tiga meter di depannya. "Pengawal sipil tidak memiliki kemampuan seperti ini... kamu adalah monster dari unit hitam..."
Nathan tidak menjawab pertanyaan itu. Ia melangkah satu langkah lebih dekat, matanya menatap dingin ke arah luka bakar di tangan kanan pria tersebut.
"Robert mengutus kalian untuk membawa Clara," ucap Nathan dengan suara berat dan datar. "Di mana Robert menunggumu malam ini?"
Pemimpin Gamma tertawa pelan, sebuah tawa getir yang dipenuhi keputusasaan. "Jika aku memberi tahumu... apakah kamu akan membiarkanku hidup?"
"Tidak," jawab Nathan jujur tanpa keraguan sedikit pun. "Tapi aku akan memastikan kematianmu berjalan tanpa rasa sakit."
Pria itu menatap Nathan selama beberapa detik, mencoba mencari celah kebohongan di wajah pengawal misterius itu. Namun yang ia temukan hanyalah kebekuan es yang mutlak. Pria di depannya tidak sedang menawarkan negosiasi, dia sedang memberikan sebuah belas kasihan terakhir yang dingin.
"Pelabuhan tua Sektor Utara... Gudang nomor tujuh," bisik pemimpin Gamma akhirnya, bahunya tampak layu seolah seluruh kekuatannya telah habis menguap. "Robert ada di sana bersama tim pendukung logistik... mereka menunggu laporan keberhasilan kami malam ini..."
Nathan mengangguk perlahan, menerima informasi berharga tersebut dengan kepuasan dingin di dalam batinnya.
"Terima kasih," ucap Nathan lembut.
Sebelum pemimpin Gamma sempat mengedipkan mata, tangan kanan Nathan bergerak dengan kecepatan yang melampaui batas refleks manusia biasa.
Pfft.
Peluru kaliber 9 mm menembus tepat ke jantung pemimpin Gamma tersebut. Pria itu tidak merasakan sakit yang lama, dadanya hanya terasa dingin sesaat sebelum matanya perlahan menutup dan tubuhnya ambruk ke atas lantai marmer lobi, bergabung dengan sisa-sisa pasukannya yang telah tewas mendahuluinya.
Nathan berdiri tegak di tengah lobi ruang tengah yang kini telah berubah menjadi ladang pembantaian yang sunyi.
Suara gemuruh guntur di luar rumah perlahan mulai menjauh, digantikan oleh suara rintik hujan yang kembali menderas dengan tenang. Keheningan yang pekat kembali menyelimuti kediaman mewah keluarga Wijaya di Jalan Widya Mulia, sebuah keheningan yang menipu, menyembunyikan kenyataan mengerikan tentang belasan nyawa yang baru saja melayang di dalam istana marmer tersebut.
Nathan mengembuskan napas perlahan melalui hidung. Ia memasukkan kembali pistolnya ke dalam sarung senjata tersembunyi di balik jasnya, lalu melirik jam taktis di pergelangan tangan kirinya.
Pukul 20.45 malam. Seluruh penyusup dilumpuhkan.
Ia merapikan jas hitamnya yang tetap rapi, mengambil selembar saputangan dari saku dalamnya untuk menyeka setitik noda debu di ujung sepatunya, lalu berjalan perlahan menuju tangga utama untuk memeriksa kondisi Clara di lantai dua. Tarian kematian di kediaman Wijaya malam ini telah selesai, dan kini saatnya bagi Nathan untuk kembali mengenakan jubah seorang pengawal pribadi yang setia dan tenang bagi sang putri mahkota Megantara.