"Saat ayahku memilih menyelamatkan putri kesayangannya, dia mengorbankanku tanpa ragu."
Savira Dharma menghabiskan seluruh hidupnya mengejar sesuatu yang tidak pernah ia miliki: pengakuan dari ayahnya.
Sebagai putri kandung keluarga Dharma, ia belajar lebih keras, bekerja lebih lama, dan mengorbankan masa mudanya demi membuktikan bahwa dirinya layak dicintai. Namun ketika skandal penggelapan dana mengguncang Dharma Group, Savira dijadikan kambing hitam untuk melindungi keluarga yang selama ini ia bela.
Ditinggalkan sendirian di tengah hujan fitnah, ayahnya memilih diam.
Malam itu, Savira melompat dari puncak gedung perusahaan yang telah merenggut seluruh hidupnya.
Namun kematian bukanlah akhir.
Saat membuka mata, ia kembali menjadi gadis tujuh belas tahun—tujuh tahun sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.
Kali ini, Savira tidak akan mengemis cinta.
Ia tidak akan mengorbankan dirinya demi keluarga yang tak pernah memilihnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Perebutan Teritorial
Lampu kristal mansion Dharma menyinari deretan produk kosmetik baru yang dipajang di ruang tamu utama.
Botol-botol kaca berdesain mewah itu disusun menyerupai piramida keemasan. Cahayanya memantul menyilaukan mata, mengalahkan pendaran lampu gantung di atasnya. Sebuah spanduk sutra raksasa terbentang di latar belakang, memamerkan wajah Nadia Dharma yang dihiasi mahkota berlian kecil.
Tulisan "Putri Keberuntungan" tercetak tebal di bawah senyum manis gadis itu.
Savira melangkah pelan melewati deretan pilar pualam. Matanya memindai tumpukan produk kosmetik tersebut dengan tatapan sedingin lautan es. Hawa pendingin ruangan menyapu kulit lengannya, membawa aroma bahan kimia wangi yang terasa menusuk hidung.
Nadia berdiri tepat di samping piramida kaca itu. Gadis itu mengenakan gaun sutra merah menyala yang sangat mencolok. Jari-jarinya yang lentik membelai salah satu botol parfum dengan gerakan memuja.
Nadia sama sekali tidak sedang memuja cairan kosmetik di dalam botol tersebut. Gadis tiruan itu sedang memuja validasi absolut dari Wijaya Dharma yang berhasil ia raih.
"Cantik sekali, bukan?" Suara melengking Nadia memecah kesunyian koridor yang membeku.
Savira menghentikan langkahnya. Ia menoleh sedikit, menatap gadis itu dengan otot wajah yang kaku tanpa ekspresi.
Nadia memutar tubuhnya, mengangkat dagu tinggi-tinggi. Sorot mata gadis itu memancarkan arogansi yang sangat rapuh. Ia bertindak layaknya penguasa tunggal, seolah ia harus terus berteriak agar seisi dunia mempercayai posisinya di rumah ini.
"Ini adalah proyek utama Dharma Group untuk kuartal ini." Nadia memeluk botol kaca itu di depan dadanya erat-erat. "Papa mempercayakannya padaku secara langsung."
Savira tidak merespons pancingan murahan itu. Tangannya masuk ke dalam saku celana panjangnya, meraba bungkus plastik permen stroberi yang belum ia buka. Rasa manis buatan di dalam pikirannya adalah satu-satunya penawar yang menahan rasa mual di perutnya.
Jemarinya juga menyentuh ujung tajam jepit rambut melati yang patah. Ia menekannya pelan, membiarkan sensasi perih skala kecil menambatkannya pada realitas.
Ketiadaan reaksi Savira justru memicu kepanikan agresif di dalam dada Nadia. Gadis berbaju merah itu melangkah maju secepat kilat, menghalangi jalur Savira menuju tangga utama.
"Papa memberiku proyek ini karena aku membawa hoki, tidak seperti kau yang membawa sial." Nadia mendesiskan kalimat itu dengan napas memburu.
Kalimat itu meluncur liar, berusaha mengoyak dinding pertahanan mental Savira. Nadia butuh melihat Savira hancur. Gadis itu butuh melihat Savira menangis untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia adalah satu-satunya putri yang dicintai oleh ayahnya.
Dada Savira berdenyut nyeri. Luka pengabaian bertahun-tahun itu kembali bergesekan dengan realitas yang brutal. Namun, ia mengatupkan rahangnya kuat-kuat, menolak memberikan setetes pun kepuasan pada gadis di hadapannya.
Aroma melati samar menguar dari tubuh Savira. Wangi bunga itu perlahan menenangkan ritme jantungnya yang sempat melonjak liar. Ia menatap lekat pupil mata Nadia yang bergetar dipenuhi ketakutan tak berdasar.
Tiba-tiba, suara ketukan sepatu kulit terdengar memantul dari ujung anak tangga.
Wijaya Dharma turun dengan ritme langkah yang sangat teratur. Pria paruh baya itu mengenakan rompi rajut abu-abu mahal di atas kemeja putihnya. Wajahnya memancarkan ketenangan absolut layaknya dewa yang turun dari singgasana.
Nadia langsung mengubah drastis postur tubuhnya. Aura agresifnya lenyap ditiup angin, digantikan oleh kepatuhan manis seorang putri kecil yang tidak berdaya.
"Papa," panggil Nadia dengan suara lembut yang dibuat-buat. "Aku sedang menunjukkan produk baruku pada Vira."
Wijaya berhenti melangkah di anak tangga terakhir. Pria itu menoleh ke arah ruang tamu. Senyum kebapakan yang luar biasa hangat mengembang perlahan di bibirnya.
"Kosmetik itu terlihat sempurna di tanganmu, Nadia," puji Wijaya dengan nada suara selembut beludru. "Kau benar-benar membawa keberuntungan bagi keluarga ini."
Mata hitam Wijaya yang kosong sama sekali tidak memancarkan cinta. Sosiopat itu hanya sedang menyiram aset investasinya agar tumbuh lebih menghasilkan. Ia merawat delusi Nadia demi menjaga wajah mulus Dharma Group di depan publik.
Pandangan pria itu kemudian bergeser menatap Savira. Senyumnya tidak memudar sedikit pun, tetapi suhu udara di koridor itu mendadak anjlok hingga membekukan sumsum tulang Savira.
"Jangan mengganggu adikmu yang sedang bersinar, Savira." Wijaya menegur dengan sangat sopan. "Biarkan dia menikmati hasil kerja kerasnya."
Pria itu tidak membentak. Ia tidak mengeraskan volume suaranya. Ia mencekik sisa harga diri Savira menggunakan kelembutan nada yang sangat mematikan.
Savira merasakan aliran darahnya membeku. Paru-parunya seakan diikat kuat oleh kawat berduri, membuatnya lupa cara menarik napas. Ingatan tentang tubuhnya yang menghantam aspal keras kembali berkelebat ganas di otaknya.
Wijaya mengangguk pelan, lalu berjalan berlalu begitu saja menuju ruang makan pribadi. Ia tidak menoleh lagi. Ia sama sekali tidak peduli pada luka menganga yang baru saja ia koyak di dalam dada darah dagingnya sendiri.
Savira mematung kaku di tempatnya berdiri. Keringat dingin merembes cepat membasahi punggungnya.
Nadia tertawa kecil. Tawa melengking yang memancarkan kemenangan mutlak atas perebutan teritorial kasih sayang ayah mereka.
"Kau dengar itu?" bisik Nadia penuh kemenangan, memajukan wajahnya ke arah Savira. "Kau tidak memiliki tempat di panggung ini, Vira."
Savira melepaskan genggamannya pada jepit rambut patah di dalam sakunya. Ia mengangkat wajahnya perlahan, menghapus seluruh bayangan luka dari matanya. Kejeniusan taktis yang membeku kembali mengambil alih sistem sarafnya.
Otak Savira bekerja melampaui batas emosinya. Kosmetik di belakang Nadia ini diproduksi menggunakan bahan pengawet ilegal yang mematikan. Ia telah membedah formula kimianya siang tadi. Kesombongan yang dipamerkan Nadia saat ini hanyalah sebuah tarian bodoh di atas bom waktu yang siap meledak.
Kaca jendela besar di koridor bergetar pelan. Langit sore di luar sana mendadak berubah segelap arang, membawa gemuruh guntur yang bersiap menelan seisi kota.
Savira tersenyum sangat tipis sambil menatap mata Nadia, "Nikmatilah panggungmu selagi masih berdiri, Nadia."