Luna Christina seorang gadis mandiri, ceria dan baik hati namun sedikit bar-bar, rambut birunya yang unik menjadi daya tarik tersendiri bagi setiap orang yang melihatnya. Dia terikat skandal dengan seorang pria lumpuh yang ingin mengakhiri hidupnya sendiri. Ia terpaksa harus menikah dengan Gamaliel Park seorang pria dingin yang diselamatkannya. Tanpa Luna ketahui pria itu adalah CEO dari perusahaan terbesar di negeri ini.
Misteri dan masa lalu apakah yang akan terungkap melalui pernikahan mereka?
Akankah Luna mampu bertahan dengan Gama yang terpuruk? apa yang akan Gama lakukan untuk menguak misteri kematian keluarganya? silahkan dibaca!!!
Season 2
Bima si pria dingin yang sudah menginjak usia 34 tahun belum juga menemukan tambatannya hatinya, dia hanya pasrah dan tidak memikirkan hal itu, baginya menjalin hubungan dengan seseorang akan sama beratnya dengan membangun bisnis dengan perusahaan besar.
Suatu hari dia bertemu seorang gadis sedingin Es yang ternyata sama sama dikhianati oleh kekasih mereka masing-masing.
Cinta pertama Bima menikah dengan cinta pertama gadis itu, saat mantan mereka muncul dihadapan mereka masing-masing, meminta untuk kembali membangun hubungan, saat itulah keduanya menghancurkan kedua masa lalu mereka dengan cara menjalin pernikahan kontrak!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Harsie Alive, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
"Hey jangan sampai kalian menyentuh milikku! sampai itu terjadi bersiap-siaplah menjadi penghuni neraka!"
"Siapa yang kau maksud?"
...****************...
"Ada orang di dalam!" teriak mereka dari luar rumah.
Luna panik, ia mondar-mandir di depan pintu rumah, sesekali ia mengintip mereka dari jendela.
"Siapa orang-orang itu? apa mereka renternir yang dimaksud Cindy? aduh apa Gama yang punya utang? ya ini pasti Gama nih yang punya utang," gumam Luna sambil menggigit jarinya dan berjalan kesana kemari.
Hingga beberapa menit Luna menunggu apakah orang-orang itu sudah pergi namun mereka malah menggedor-gedor pintu rumah Luna.
Tok...tokkk....tokk...
"Buka! hey ada orang kan!!" teriak mereka dari luar, ada tiga orang pria dengan pakaian kasual namun wajahnya tidak terlihat jelas karena mereka memakai kacamata, bahkan ada yang pakai masker dan topi juga.
"Astaga, bagaimana ini?" gumam Luna.
Gama yang sudah selesai mandi, menghampiri Luna dengan kursi rodanya. Ia heran melihat gadis itu mondar mandir seperti setrikaan di depan pintu.
"Hey ada apa?" tanya Gama sambil menaikkan satu alisnya.
"Arghk...haishh kau mengejutkanku," kesal Luna menatap Gama sambil mengelus dadanya.
Luna menghampiri Gama sambil berkancah pinggang dengan raut wajah penuh curiga.
"Apa? kenapa wajahmu kau tekuk, kau seperti nenek lampir sekarang," balas Gama yang sedikit kesal.
"Kau!...kau punya utangkan?" ucap Luna sambil menunjuk Gama.
Gama terkejut mendengar ucapan Luna, sejak kapan seorang Presdir punya utang pikirnya.
"Aku tidak punya utang dan tak pernah berutang, justru orang yang berutang padaku," balas Gama.
Luna semakin panik, kalau Gama tidak punya utang lalu siapa pria di depan rumahnya.
"Ada apa? kenapa kau panik?" tanya Gama.
"Emmm.....i...itu, ada tiga orang pria asing di depan rumah, a...aku tidak tau siapa mereka," ucap Luna dengan wajah khawatir.
"Mereka menggedor pintu rumah, ini sudah malam dan jarang orang datang ke tempat ini, bagaimana ini?" ucap Luna.
Gama mendekati Luna yang terlihat sangat takut dan khawatir.
"Sepertinya dia punya trauma dengan orang asing dan situasi seperti ini, biasanya dia tidak sepanik ini," batin Gama.
Gama menggenggam tangan Luna dengan lembut, Luna cukup terkejut saat Gama memegang tangannya, namun perasaannya cukup tenang saat Gama memegang tangannya.
"Luna, jangan panik tarik nafas dulu ayo lakukan agar kau tenang!" ucap Gama.
"Hufffhhh....haaahhhh....huuuffft...hahhh..." Luna melakukan seperti yang dikatakan Gama, benar saja rasanya lebih tenang.
"Berapa orang tadi?" tanya Gama lembut agar Luna tidak panik.
"Tiga, ada tiga orang," ucap Luna.
"Apa kau mengenal mereka?"tanya Gama.
Luna menggelengkan kepalanya.
"Mereka naik apa kesini?" tanya Gama.
"Naik mobil mewah, ada tiga juga, sepertinya mereka membawa mobil masing-masing," ucap Luna.
"Warna apa?" tanya Gama, Luna sempat bingung kenapa Gama sampai menanyakan warna mobilnya.
"Warna biru muda, Kuning dan hitam, sepertinya itu mobil sport," ucap Luna.
"Ck... darimana tiga kunyuk itu tahu aku disini? pasti ini ulah Mark!" batin Gama kesal.
Gama memegang tangan Luna dengan erat.
"Luna, tenang ya jangan takut aku tau siapa mereka, salah satu dari mereka sudah bertemu dengan kita saat di mall kemarin, sepertinya asistenku berhasil melacak keberadaanku," ucap Gama.
"Sekarang, kamu ambil ember dan isi dengan air dingin, nggak usah banyak pokoknya yang bisa kamu bawa," ucap Gama.
Luna mengerutkan keningnya, "Air dingin ? buat apa?" tanya Luna sedikit heran.
"Ambil saja, kita akan beri hukuman pada mereka," ucap Gama dengan seringai licik di wajahnya.
Luna paham, "Baiklah, tapi lepaskan tanganku dulu," ucap Luna sedikit gugup.
"Ah iya, maaf" balas Gama yang malah ikut gugup.
"Tak apa, sebentar ku ambil airnya," ucap Luna sambil berjalan menuju kamar mandi di dekat dapur.
Gama mendekat ke arah jendela kaca, diintipnya ketiga orang yang dimaksud Luna itu.
Tok....tokk...tokk
"Halo, ada orang!! buka pintunya!! jika tidak dibuka akan ku dobrak!!" teriak salah seorang dari mereka.
"Ck...dasar pembuat masalah!" ketus Gama, tebakannya tepat mereka bertiga orang yang dikenalnya.
"Apa perlu kita dobrak saja pintunya?" ucap pria berjaket hitam.
"Bodoh! kau ingin diteriaki maling disini?" ketus temannya yang memakai baju Merah.
"Lalu bagaimana? kau lihat tempat ini seram sekali, kurasa banyak hantu disini!" bisiknya.
"Ck..... diamlah, aku juga takut bego!" ketus pria berbaju merah itu.
Krekk... krekk..cicicicctt..
"Arkhh...apa itu!" teriak pria berjaket hitam sambil memeluk temannya yang memakai topi dan masker yang sedari hanya diam memperhatikan mereka berdebat.
"Lepaskan!" ucapnya dengan nada dingin sedingin cuaca malam itu.
"Aku takut Ken!" gerutu pria itu tak mau lepas.
"Ck...lemah!" balas pria yang dipanggil Ken itu.
"Cepatlah panggil lagi, ini dingin sekali," gerutu Ken yang mulai menggigil.
Si baju merah kembali mengetuk pintu berharap ada orang yang membukakan pintu untuk mereka, sebab kesialan menimpa mereka bertiga, bensin mobil Ken dan si baju merah habis sama dengan si jaket hitam yang ban mobilnya malah kempes tepat saat mereka tiba ditempat itu.
Gama tertawa puas melihat ketiga orang itu menderita di luar, cuaca malam di sekitar rumah Luna sangat dingin, mungkin karena banyak pepohonan di sekitar tempat itu serta dekat dengan aliran sungai.
Luna datang membawa air di dalam ember, ia terkejut melihat Gama yang malah cekikikan di dekat jendela.
"Hey apa kau jadi gila karena melihat mereka?" ledek Luna.
Gama menatap Luna jengah, "Ck.....kau selalu meledekku," ketusnya.
"Berikan ember itu padaku,"ucap Gama.
Luna menurut dan melakukan apa yang diminta pria itu.
"Untuk apa sih?" heran Luna namun Gama tidak menjawab.
"Sekarang kau buka pintunya dan langsung pindah ke belakangku, akan kuberi mereka hukuman," ucap Gama dengan seringai di wajahnya, Luna terkejut melihat wajah Gama yang tampak penuh niat dengan rencananya.
"Terserahmu saja," ketus Luna.
Luna membuka pintu dan langsung berlari ke belakang kursi roda Gama.
Byuuuuuurrrrrrrrrr.......................
Si jaket hitam dan baju merah terkena siraman air dingin dari Gama, kalau Ken? dia menggunakan si jaket hitam sebagai perisai.
"Arghhkkkkk......di....dingin..." teriak mereka berdua.
Ken yang sigap dan tahu sikap Gama sudah memprediksi hal ini dari awal, dan benar tebakannya, Gama menyiramkan air dingin ke arah mereka, beruntung dia cepat mendorong si jaket hitam ke depan sehingga ia terhindar dari siraman air dingin.
"Bwahahahhaha............" terdengar suara tawa yang menggelegar dan memecah keheningan malam itu.
Luna terkikik geli saat melihat ekspresi kedua pria yang terkena siraman air itu.
"Pffthh....hahahha, kau membuat mereka terkejut," tawa Luna di belakang Gama.
"Itu hukuman karena mereka membuatmu ketakutan tadi," ucap Gama.
"Pasti mereka kedinginan, kau pendendam sekali ya," balas Luna yang masih tertawa.
Sedangkan mereka bertiga? mereka terdiam saat melihat seseorang yang selalu menghindari mereka, sahabat mereka yang berubah menjadi dingin, tidak pernah senyum bahkan tertawa pun tidak pernah lagi selama setahun ini, kini sedang tertawa puas di hadapan mereka.
"Gama!!" teriak si baju merah histeris dan langsung maju ingin memeluk Gama, namun yang ada dia malah terjatuh karena Luna cepat-cepat menarik kursi roda suaminya.
Brukkk...
"Awwhh.....shhhh, sakit sekali," ringis pria itu sambil menggosok Lututnya yang membentur lantai.
"Pfhhtt hahahah," mereka tertawa lagi, bukannya membantu mereka malah menertawai pria malang itu.
"Haiisshhh...kenapa kau menyiram kami?" tanya pria berjaket hitam sambil melepas kacamatanya, Luna terkejut ternyata pria itu adalah Bima yang mereka temui di mall.
"Kalian membuat keributan disini, itu hukuman untuk kalian," ketus Gama.
.
.
.
like, vote dan komen 😊😉