Hi teman, ini adalah karya pertama aku di noveltoon.
Disini saya hanya belajar menulis, dan saya hanya ingin sedikit bercerita, tentang perjalanan kehidupan, seorang Aditya Koesdiansyah.
Seorang pemuda tampan, yang menjadi tulang punggung keluarganya, setelah Dokter memvonis Ayahnya sakit.
Bagaimana kelanjutanya, tetep mampir di karya Author yang baru ini.
Karena insya Alloh Author akan rajin Update tiap hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GANTENG KALEM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NEW STYLE LUNA
Di sela sela kesibukanya menjadi driver pribadi di Aluna company, Adit tak pernah lupa untuk menyempatkan dirinya selalu memenuhi kewajiban Sholat lima waktunya.
Apalagi besok sudah memasuki bulan suci Ramadhan, Adit semakin rajin mendekatkan diri ke sisinya.
Seperti biasanya, ntah kebetulan atau bagaimana. Pada satu hari sebelum memasuki bulan Ramadhan, pekerjaan Luna tak penuh seperti biasanya. Hingga waktu masih sore pun dia sudah mengajak Adit agar mengantarnya pulang.
"Yank, apa hari ini sangat melelahkan?" tanya Adit sambil melajukan mobilnya secara perlahan meninggalkan Aluna company.
Luna yang duduk di sebelah Adit, dirinya memandang Adit sambil menggelengkan kepala.
"Kenapa emang?, mau ngajakin aku makan?" tanya Luna dengan sejuta senyum manisnya.
"Boleh, tapi setelah itu anterin Adit beli mukena ya buat Galuh sama Ibu." pinta Adit yang membalas sejuta senyuman pada Luna.
"Mukena?" tanya Luna yang merasa asing mendengarnya.
"I ya, mukena sayang. mukena di gunakan wanita ketika mereka akan melakukan sholat." jelas Adit.
Luna sejenak terdiam mendengar Adit menjelaskan arti dari mukena. Dan tak berselang lama, mobil yang di tumpangi Adit dan Luna kini telah sampai di restoran kesukaan Luna.
Di sela sela acara makan pun, Luna kini terlihat murung dan tidak seceria sebelumnya.
"Sayang, kamu kenapa. Kok melamun terus sedari tadi?" Adit memegang tangan Luna dengan wajah yang kini terlihat cemas.
"Aku tidak apa apa kok, yuk makan lagi." Luna melanjutkan acara makanya dan membuang jauh pikiran yang sedari tadi mengganjal pikirannya.
Di sela sela perjalanan menuju toko mukena pun, Luna masih terlihat melamun hingga membuat Adit tak enak hati.
Apakah ada kata kata yang terucap dari mulutku yang melukai hatinya?.
Adit menepikan mobilnya di pinggir jalan dan mematikan mesin mobilnya sesaat.
"Sayang kamu kenapa, aku perhatikan dari tadi kamu itu melamun terus." telisik Adit yang ingin mengetahui isi hati kekasihnya.
Luna terkesiap kaget dan tersadar dari lamunan sesaatnya.
"Mukena." ucapan itu lolos dari mulut Luna tanpa di sengaja.
Adit mengerutkan dahinya merasa heran mendengar Luna yang mengucap mukena.
"Maaf, maksud aku tadi kamu ngomong apa?" Luna terlihat sedikit gugup.
Adit membelai rambut Luna dan mengecup keningnya.
"I ya, sekarang aku tahu yang kamu pikirkan dari tadi, ayo, kita lihat mukena dan kamu boleh langsung mencobanya." ucap Adit yang membuat Luna langsung berubah ceria.
Adit kembali melajukan mobilnya menunju toko perlengkapan ibadah yang jaraknya kini tak jauh dari tempat dirinya menepi.
Di toko perlengkapan ibadah, Luna sedikit merasa asing dengan model dan potongan pakaian, yang menurutnya baru di temui seumur hidup bagi dirinya.
"Kamu kenapa sayang?, mau coba ini?" Adit menebak karena melihat Luna belum melepas pegangan tangannya pada salah baju muslim yang di lihatnya.
"He..he..he, apa aku pantas menggunakanya?" tanya Luna yang kurang merasa percaya diri.
"Tentu saja, kamu cantik. apalagi di balut dengan baju muslim ini." Adit tersenyum memberi keyakinan pada Luna.
Adit mengambil baju muslim berikut hijabnya yang berwarna maroon dan mengajak Luna untuk masuk ke change room dan mencobanya.
Di dalam change room, Luna sedikit terlihat sedikit kebingungan menggunakan hijab atasannya.
Luna membuka pintu change room dan meminta salah satu pelayan agar membantu menggunakan balutan hijabnya.
"Anda luar biasa cantik sekali." puji pelayan tersebut pada Luna yang kini berdiri di depan cerminya.
"Benarkah?" Luna memutar badannya di depan cermin untuk memastikan penampilanya.
"Saya serius, suami anda yang sedang duduk di luar, pasti makin sayang." ucap si pelayan yang kagum melihat kecantikan Luna yang di balut Hijab.
"Ayo, kita keluar dan tunjukan pada suami anda." ucap si pelayan yang membuat Luna makin merona.
Perlahan Luna keluar dari change room dan menghampiri Adit yang sedang menunggunya sambil membaca majalah.
"Adit," panggil Luna.
Adit mendongak dan memperhatikan penampilan baru Luna.
"Masya Allah, cantiknya." Adit ternganga melihat kecantikan Luna dengan penampilan barunya menggunakan hijab.
"Mingkem," Luna menutup mulut Adit dengan jarinya.
"Maaf sayang, kamu cantik sekali dengan penampilan berbalut hijab ini." puji Adit yang sukses membuat Luna merona.
"Ok, Ayo kita ke kasir dulu dan kamu ganti bajunya." ucap Adit yang kini berdiri sambil memegang tangan Luna.
"Langsung aku pakai saja, gak apa apa kan?" tanya Luna sambil memandang Adit dan beralih pada si pelayan yang sedari tadi berdiri di sebelah Luna.
"Tidak apa apa kok," Jawab si pelayan sambil terkekeh.
Adit menggandeng tangan Luna menuju kasir untuk membayar semua belanjaannya. Dan setelah selesai mereka berdua memutuskan untuk pulang.
"Dit," panggil Luna.
"Apa sayang?" Adit sekilas memandang Luna dan kembali fokus pada jalanan yang di lewatinya.
"Boleh, aku main ke rumah kamu?" tanya Luna yang sedikit ragu karena takut Adit menolaknya.
Adit tersenyum manis menatap sekilas Luna.
"Ya boleh dong, sayang." jawab Adit sambil terkekeh.
Sesampai di rumah, Adit langsung mematikan mesin mobil, dia membuka pintu dan berlari kecil membukakan pintu mobilnya untuk Luna.
Luna berjalan mengikuti Adit dari samping melangkah masuk ke dalam rumahnya.
Di dalam rumah, Adit yang baru saja menemui orang tuanya, dirinya langsung mencium punggung tangan kedua orangtuanya yang di ikuti Luna sesudahnya.
"Baru pulang, Non?" tanya Mak Siti yang terus tersenyum melihat Luna.
"I ya, Bu." Luna membalas senyuman.
"Ya sudah yuk kita duduk di ruang tamu." ajak Adit pada Luna dan kedua orang tuanya.
Setelah duduk mereka terlihat berbincang kecil, dan tak berselang lama Baron Alfonso menelpon Luna dan mengatakan bahwa dirinya kini telah pergi melakukan perjalanan bisnisnya.
"Telepon dari siapa?" tanya Adit yang kini duduk di samping Luna dengan badan yang sudah segar karena mandi.
"Tadi Papi nelpon, kayanya beliau ada perjalanan bisnis ke luar lagi." jelas Luna.
"Terus, Non Luna sama siapa?" tanya Mak Siti.
"Ya sendirian, Bu." jawab Luna yang kini terlihat sedih.
"Ya sudah, kalau Non Luna mau. Non Luna bisa tidur disini di kamar Adit, biar Adit tidur di ruang tamu di sofa." saran Mak Siti yang tak tega melihat wajah sedih Luna.
Luna mendongak kaget melihat Mak Siti berucap seperti itu.
"Emang boleh, Bu?" tanya Luna yang masih merasa ragu.
"Ya boleh dong, Non." Herman menimpali ucapan Istrinya.
Luna tersenyum memandang Adit.
"Ya sudah, kamu siapkan handuk baru buat Non Luna mandi, terus kamu rapihkan tempat tidur dan ganti spreinya." titah Mak Siti yang langsung di kerjakan Adit.
Setelah memberikan Luna handuk barunya, Adit langsung menyapu, mengepel dan mengganti spreinya dengan yang baru.
"Akhirnya selesai juga," Adit mengusap peluh di dahinya.
Dia membawa ember pel dan sapu keluar dari kamarnya.
"Sudah, Dit?" tanya Mak Siti.
"Sudah, Mak. Sudah Adit kerjakan semuanya." Adit mengangguk pada Ibunya.
"Nanti kalau Non Luna sudah selesai, ajak dia makan malam bareng kita." titah Mak Siti seraya berlalu menuju dapurnya.
Setelah semua makan malam di siapkan, semua anggota keluarga duduk berkumpul kecuali Luna.
"Dit, Non Lunanya mana?" tanya Mak Siti.
"Tunggu Mak, Adit coba susul lagi." Adit bangun dari duduk menuju kamar dirinya yang kini di tempati Luna.
Di dalam kamar, Adit mendapati Luna yang masih duduk termenung di atas tempat tidur.
"Sayang kamu kenapa, ayo kita makan dulu." ajak Adit.
"Aku malu Dit." jawab Luna yang terus memegang tangan Adit.
Adit menarik Luna masuk ke dalam pelukannya.
"Kamu jangan malu ya, karena nanti kita akan menjadi keluarga." ucap Adit sambil mengecup lembut kening Luna.
Luna bangun dan mengikuti Adit dari belakang menuju ruang makan.
Di depan pintu kamar Adit tiba tiba menghentikan langkah dan berbalik menghadap Luna.
"Kenapa?" tanya Luna yang sedikit merasa heran.
"Ada yang ketinggalan." ucap Adit
"Apa itu?" tanya lagi Luna.
Pok ...
Adit mencuri ciuman kecil di bibir Luna mencercap dalam, dan langsung melepaskanya.
semanhat bang😊😊😊