Seluruh bangunan yang berada di pulau Kanawa terancam di gusur, karena kepemilikannya berpindah tangan pada pria asing berasal dari Jerman. Yang akan merubah semua isi pulau tersebut untuk di jadikan tempat wisata yang akan menambah kekayaannya.
Pria asing itu adalah Jerricco
Alessandro, pria sukses dalam bidang teknologi dan wisata mancanegara.
Tidak ingin mata pencaharian warga hilang begitu saja karena ke serakahan pria itu, Damara harus merelakan diri menjadi istri Jerry, agar dirinya serta seluruh warga pulau Kanwa tetap bisa bekerja dan mencari pundi-pundi rupiah.
"Hidupnya harus membawa banyak keuntungan besar untukku!" pria paru baya tersebut menyeringai sambil memandangi foto wanita berparas cantik dengan rambut sebahu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riska Almahyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Jerricco
Alice berjalan ke belakang untuk membuatkan minuman, untuk menantu dan sekretarisnya. Alice membawa nampan berisi dua gelas minuman serta dua toples camilan ke ruang tamu.
Alice menata minuman dan toples di atas meja kecil yang berada di ruang tamunya. “Di minum,na.”
“Terima kasih,Bu.” Jerricco menyesap minuman yang di buatkan oleh Alice. Begitu juga dengan Kevin, yang mengikuti tuannya.
Alice duduk di sofa, menatap Jerricco, “Mau bertemu Damara?” Pertanyaan itu sengaja Alice lontarkan untuk berbasa-basi. Dia tahu betul tujuan Jerricco datang ke sini, tapi ini urusan rumah tangga mereka Alice tidak ingin ikut campur.
“Iya, Bu,” jawab Jerricco di iringi senyuman di bibirnya.
“Mari ibu antar ke kamar Damara,” ucap Alice. Dia bangkit dari duduknya dan berjalan di ikuti Jerricco di belakangnya.
Sementara Kevin memilih berdiam diri, dia mengeluarkan telepon genggam miliknya untuk mengecek pekerjaannya.
Sementara di kamarnya, Damara mendengar jelas suara ketukan pintu. “Rara,” panggil Alice.
“Iya Bu, masuk saja.”
Damara malas bangkit dari posisi tidurnya, matanya membulat sempurna melihat kedatangan Jerricco di kamarnya.
Damara memilih membuang muka, dia belum memiliki jawaban pasti mengenai keputusannya tapi Jerricco malah menghampirinya.
Bahkan tidak tahu malu Jerricco duduk di pinggir tempat tidur milik Damara. Damara masuk kesal hatinya masih sakit, dia tidak ingin berbicara sedikit pun dengan Jerricco.
Damara memilih memunggungi Jerricco, berharap pria itu keluar dari kamarnya. Tapi sepertinya Jerricco tidak mudah pergi setelah mendapat penolakan, bahkan Damara merasakan belaian lembut di rambut sepundaknya.
Damara memilih tak bergeming, ia memejamkan matanya menahan rasa sakit yang kembali menjalar ke hatinya.
Puas membelai lembut rambut Damara, Jerricco ikut merebahkan tubuhnya di depan Damara. Dia melihat tetesan air yang keluar dari kelopak mata Damara.
Jerricco merengkuh tubuh Damara ke dalam pelukannya, Isak tangis itu terdengar jelas di telinganya.
Jerricco tahu, Damara benar-benar sakit hati karena dirinya. Jerricco mengelus punggung Damara, memberikan kecupan di puncak kepala Damara.
Dia tidak bisa berkata apa pun, Jerricco mengakui dirinya salah karena memikirkan wanita lain. Hanya saja bayangan itu selalu datang, tanpa dia minta.
Damara menumpahkan tangisnya, tidak peduli Jerricco akan mengatainya wanita lemah. Karena yang di rasakan Damara begitu menyakitkan, meskipun pelukan Jerricco terasa hangat dan menenangkan.
Semakin lama isak tangis Damara semakin kecil, bahkan Jerricco sudah tidak mendengarnya lagi. Jerricco sedikit melonggarkan pelukannya untuk melihat wajah Damara, wajah cantik itu kini terlihat sangat kacau. Matanya sedikit membengkak, hidungnya memerah layak badut.
Jerricco tersenyum melihat kondisi mengenaskan wanita di dalam pelukannya, yang kini tengah terlelap dengan nafas teratur.
Dengan perlahan Jerricco melepaskan pelukannya, agar tidak membangunkan Damara. Dia berjalan keluar kamar Damara menuju ruang tamu, di sana ada Kevin serta Alice yang tengah berbincang.
Jerricco duduk di samping Kevin, dia menatap Alice. “Bu, apa Ibu tidak keberatan jika saya ikut menginap di sini untuk menemani Damara?”
Alice mengangguk, “Tidak sama sekali, Nak Jerricco boleh menginap di sini.” Ini yang membuat Alice menyetujui Jerricco menikahi Damara, saat itu Alice ingat betul saat Arvan mendatangi kediamannya.
Pria yang kini menjadi menantunya sangat sopan, tidak hanya itu dia mengutarakan semua maksud menikahi Damara. Bahkan Arvan mengancam Damara pun tanpa ragu pria itu utarakan pada Alice, tanpa ada sesuatu yang di tutupi.
Kenapa setelah menikah terjesan spt gadis cengeng..?
koq aku ga paham yaa