Fiona Delvina
Seorang psychopath gila, itulah panggilan yang pantas bagi seorang gadis berdarah dingin ini. kasus pembunuhan yang ia lakukan sudah tak terhitung jumlahnya, kelihaian gadis itu dalam menyembunyikan jati diri membuat orang orang disekitarnya tidak ada yang mengira bahwa dialah pelaku pembunuhan tersebut. Fiona melakukan itu semata-mata hanya untuk mencari siapa pembunuh adik, kakak, serta papanya, dendam lama Fiona membuat gadis itu menjadi serigala pembunuh tanpa jejak.
Elbara Cesar Roosevelt
Pria yang tak kalah kejamnya dari Fiona, Elbara merupakan CEO dari bidang perfilman action tentu saja semua itu hanya topeng untuk menyembunyikan sifat aslinya karena orang orang mengenal Bara sebagai pria hebat yang selalu berhasil mengantar para aktor debut dalam filmnya. Bara juga terkenal ramah pada staf dan orang orang sekitar tapi siapa yang tau bahwa pria itu hidup penuh dengan dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosma Yulianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28
"hey kenapa cepat sekali marah kami tidak melakukan apapun diruang kerja mu,"
Bara membawa Fiona masuk kedalam kamarnya, ini untuk pertama kali Fiona menginjakkan kaki dilantai atas karena selama ini Bara tidak memberikan izin pada Fiona.
"Ka-kau,"
Bara memberikan isyarat agar Fiona duduk di sofa dekat jendela nya, Fiona duduk mengikuti isyarat tersebut agar aman dari ancaman.
"Bara.."
Bara terduduk di depan Fiona lalu menyandarkan kepalanya dipangkuan gadis itu.
"Aku tidak mau ini terjadi dua kali Fiona,"
"Heuh?" Fiona masih bingung kenapa Bara berbicara sangat halus padanya.
"Aku membiarkan mu tinggal disini karena aku ingin membantu mu Fiona bukan membiarkan mu merusak privasi ku," ujar Bara.
Fiona mengelus kepala Bara, dia merasa bersalah kali ini karena melewati batas terlalu banyak.
"Maafkan aku ini salah ku Bara,"
Sial kenapa ini terasa nyaman, batin Bara.
"Jangan lagi ya,"
Sial sikap lembutnya berhasil menghancurkan pertahanan ku, batin Fiona.
"Bara aku merasa kasus orang tua ku sudah terlalu lama, aku ingin menyerah saja," ucap Fiona.
Bara memegang tangan Fiona yang mengelus kepalanya.
"Kenapa?"
"Aku rasa ini akan sia sia, sedikitpun tidak ada petunjuk tentang pembunuhan itu," jawab Fiona sendu.
"Tidak Fiona kita pasti bisa menemukan nya, yakin padaku kita bisa,"
Fiona menatap manik hitam Bara yang penuh semangat, kenapa tiba-tiba pria ini yang terlalu semangat sekarang.
"Aku masih terus bertanya kenapa kau ingin membantu ku Bara, aku tidak berhenti menanyakan ini,"
"Karena aku melihat mu lelah menjalani semua ini sendiri, aku akan segera mengakhiri semua penderitaan mu sehingga kau akan merasa senang setiap harinya," ucap Bara.
"Fiona dokter mengatakan papa ku mungkin saja akan sadar dalam waktu dekat ini, kau mau menjadi kekasih ku?"
Uhuk..uhuk
Fiona melepas tangannya dari genggaman Bara lalu memegang dadanya.
"Kau baik baik saja?" Tanya Bara khawatir.
"Aku baik baik saja," jawab Fiona sedikit menjauh agar Bara tidak menyentuh nya.
"Aku serius Fiona aku membutuhkan seorang kekasih saat ini,"
"Ya kenapa harus aku Bara, Liora bisa kan," ucap Fiona.
"Hanya kau yang mengetahui siapa aku, kau yang mengetahui aku lebih dari orang lain aku tidak bisa menyembunyikan apapun dari mu,"
Fiona tidak bisa menjawab perkataan Bara, walaupun ini gila tapi dia memang mengatakan itu sekarang.
"Kau bisa mencobanya dulu jangan langsung menolak," bujuk Bara.
"Aku tidak menyukai mu bagaimana bisa menjadi kekasih mu," ujar Fiona terang terangan.
Setidaknya jangan terlalu jujur, batin Bara.
"Fiona aku tidak bisa sedekat ini dengan gadis manapun bahkan kekasihku yang pernah kubunuh tidak sedekat dengan mu, bagaimana cara ku mencari seorang gadis dan menjadikan nya kekasih ku dalam waktu singkat," tutur Bara.
"Tapi aku tidak bisa,"
"Aku akan melakukan apapun yang kau inginkan,"
"Bara bukan itu masalah nya tapi..."
Bara menarik tengkuk Fiona lalu mencium bibirnya, dia tidak ingin mendengar penolakan kesekian kalinya lagi.
"Ba..."
Bara sedikit memaksa Fiona untuk membalas ciuman nya namun gadis itu belum siap bahkan tidak tau bagaimana caranya, alih alih mengerti dia hanya sibuk mengurus korbannya bahkan tidak memiliki partner untuk melakukan hal semacam ini.
"Bara aku tidak suka dipaksa!!"
Bara membuka matanya dan langsung menjauh dari Fiona.
Bodoh! Bisa bisanya kau menikmati ciuman dari orang yang tidak menyukai mu, batin Bara.
"Maafkan aku Fiona aku benar-benar minta maaf, aku kehilangan kontrol kau baik baik saja?"
Bara memegang bibir Fiona yang terlihat berdarah karena perbuatannya, Fiona menepis tangan Bara agar tidak menyentuh bagian yang berdarah.
"Maafkan aku Fiona,"
"Aku harus pergi tidak seharusnya aku disini,"
"Jangan aku mohon,"
Fiona tetap pergi meninggalkan Bara keluar dari kamar itu.
"Fiona jangan pergi," cegah Bara sembari mengunci pintu.
"Bara jangan main-main aku sedang tidak ingin berdebat,"
"Jawab aku kau mau menjadi kekasih ku?"
"Kau gila ya," ucap Fiona frustasi.
"Ya aku sudah gila,"
"Ck terserah kau saja sekarang aku harus pergi,"
Fiona menggeser tubuh Bara agar pergi dari depan pintu, Bara menarik Fiona lalu mencium keningnya sebelum keluar dari kamar.
Brakk!!
Fiona berlari turun dari kamar Bara, aura kamar itu sedikit menyeramkan ditambah ajakan Bara yang ingin menjadikan nya kekasih.
"Pria gila brengsek kenapa tiba-tiba meminta ku menjadi kekasihnya, dia mencium ku tanpa izin aahh kau juga hati brengsek!!" Umpat Fiona kesal merasakan jantungnya gugup sedari tadi.
Jam 3 dini hari sampai sore??
🤔🤔