NovelToon NovelToon
KEPERCAYAAN YANG BERHARGA

KEPERCAYAAN YANG BERHARGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Obsesi / Mengubah Takdir / Trauma masa lalu / Chicklit
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: Lewier Lisye

Sebuah kisah nyata tentang kehidupan seorang gadis cantik berhati lembut yang dipenuhi dengan beragam kebohongan yang ia buat hanya karena ia takut dengan apa yang akan ia hadapi,
Hingga akhirnya berujung dengan pernikahan yang membuatnya harus mengubur dalam dalam rasa penyesalannya karena harus berusaha untuk mencintai hal yang dicintai oleh suaminya, termasuk agama dan keyakinan pria yang menjadi pemuja hatinya itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lewier Lisye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: Puncak Obsesi dan Kepasrahan di Bawah Langit Malam

Malam kian larut, namun hujan badai yang mengguyur pinggiran kota Jakarta seolah tak memiliki niat untuk mereda. Di dalam minibus hitam yang melaju ugal-ugalan membelah kegelapan, Naya meringkuk pasrah. Tubuhnya yang basah kuyup bergetar hebat. Rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang tak ada apa-apanya dibandingkan rasa takut yang meremas jiwanya. Pergelangan tangannya terasa perih dan panas akibat ikatan kabel plastik yang mengikat rapat di belakang tubuhnya.

Di sudut jok yang lusuh, Naya terus memejamkan mata. Di tengah guncangan mobil yang kasar, jiwanya melayang pada masa lalu—pada jalinan kebohongan yang ia rakit sendiri demi menyembunyikan identitas dan trauma masa lalunya. Selama tiga tahun ini, ia hidup di balik topeng. Ia menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya hanyalah seorang wanita bersahaja dengan masa lalu yang kelam, berpura-pura menjadi sosok ideal demi diterima oleh keluarga Ardiansyah. Kebohongan yang semula ia buat untuk melindungi dirinya dari penolakan, kini justru menjadi jerat yang mencekik lehernya sendiri.

Namun, di atas semua ketakutan dan kebohongan itu, bayangan Gavin menghantui benaknya. Gavin Ardiansyah—suami yang menikahinya dengan segala kesempurnaan, pria yang memujanya tanpa batas, pria yang agamanya begitu agung hingga Naya yang awalnya terasing dari keyakinan itu harus berjuang setengah mati untuk belajar mencintai apa yang dicintai suaminya. Naya mengingat bagaimana Gavin selalu membimbingnya dengan lembut, bagaimana jemari pria itu mengusap kepala Naya setiap kali mereka selesai menunaikan shalat berjamaah, dan bagaimana tasbih kayu kokka—yang kini tercecer di lantai kamar mereka—selalu menjadi saksi bisu atas ikhtiar Naya untuk memantaskan diri di samping suaminya.

"Kenapa...? Kenapa kamu harus melakukan ini, Rian?" bisik Naya dengan suara parau yang hampir tenggelam oleh gemuruh mesin.

Rian melirik tajam dari kaca spion tengah. Matanya memerah, tampak bagaikan mata iblis yang kehilangan akal sehatnya. "Kenapa?! Kamu masih bertanya kenapa, Naya?!" bentak Rian seraya menginjak pedal gas lebih dalam. Mobil melompat menabrak genangan air tinggi. "Gavin menghancurkan hidupku! Dia mengambil asetku, memenjarakan rekan-rekanku, dan sekarang dia membuatku menjadi buronan! Kalau aku tidak bisa memiliki bisnis itu, kalau aku harus hancur, maka Gavin juga harus kehilangan hal paling berharga dalam hidupnya... yaitu KAMU!"

"Kamu yang menghancurkan dirimu sendiri!" jerit Naya, memberanikan diri menatap mata Rian. Air mata mengalir deras membasahi pipinya yang pucat. "Kamu yang korupsi, kamu yang mencoba memeras Ardiansyah Group, dan kamu yang mengkhianati kepercayaan! Gavin hanya menegakkan keadilan!"

"Tutup mulutmu!" raung Rian histeris. Pria itu menghentakkan tangannya ke kemudi, membuat mobil sempat melenceng sedikit sebelum kembali lurus. "Kamu tidak tahu apa-apa! Kamu hanya wanita piala yang dinikahi Gavin untuk menutupi rasa terobsesinya! Dia tidak mencintaimu karena dirimu, Naya! Dia terobsesi padamu! Dan malam ini, aku akan membuktikan bahwa pria 'suci' dan 'sempurna' itu tak lebih dari seorang pembunuh jika didorong hingga ke batasnya!"

Naya terdiam, napasnya tersengal. Kalimat Rian mengenai "obsesi" Gavin menusuk dadanya. Naya tahu betul, di balik kelembutan dan kesalehan Gavin, ada sisi kegelapan yang sangat menakutkan—sebuah posesifitas dan obsesi tingkat tinggi yang kerap muncul jika ada yang mencoba mengusik Naya.

TIINNNNN!

Suara klakson yang memekakkan telinga terdengar menggema dari arah belakang.

Naya menoleh cepat ke kaca belakang. Cahaya lampu tembak yang sangat terang dan menyilaukan membelah tirai hujan. Sedan hitam milik Gavin melaju dengan kecepatan gila, jaraknya kini hanya tinggal beberapa meter di belakang minibus. Gavin tidak lagi peduli pada keselamatan dirinya sendiri; ia mengemudikan mobilnya bagaikan malaikat pencabut nyawa yang tengah menagih janji.

"Jahanam!" maki Rian saat melihat sedan itu semakin mendekat. Rian sengaja membelokkan setir secara mendadak, mencoba memotong jalur dan membuat Gavin kehilangan kendali.

Namun Gavin tidak mengerem sama sekali. Malah sebaliknya, mesin sedan itu meraung lebih dahsyat. Gavin menabrakkan sudut depan mobilnya ke bagian belakang minibus Rian.

BRAKKK!

Guncangan hebat membuat Naya terlempar ke lantai mobil. Jeritan ketakutan keluar dari tenggorokannya. Rian berjuang mempertahankan kendali setir, namun jalanan pelabuhan yang licin dan berlumpur membuat ban minibus kehilangan cengkeraman. Minibus itu meluncur tak terkendali, menghantam tumpukan kontainer tua yang mangkrak di pinggir Dermaga Muara Baru, sebelum akhirnya berhenti dengan kondisi bagian depan ringsek berat.

Kepala Naya terantuk sudut jok, membenturkan rasa pening yang luar biasa. Dalam pandangannya yang samar dan buram, ia melihat asap putih menguar dari kap mobil Rian. Rian yang terluka di dahi mengumpak kasar, bergerak cepat meraih pisau lipatnya yang terjatuh di lantai, lalu menyeret Naya keluar secara paksa dari pintu penumpang yang penyok.

Hujan deras langsung menyapu wajah dan tubuh Naya saat kaki telanjang yang tak beralas itu menyentuh tanah lumpur berkerikil.

"Berdiri, brengsek!" bentak Rian, menarik rambut Naya hingga wanita itu meringis kesakitan. Rian memiting leher Naya dari belakang, menempelkan mata pisau yang dingin dan tajam itu tepat di atas urat nadi leher Naya.

Di hadapan mereka, sekitar sepuluh meter jauhnya, pintu sedan hitam terbuka.

Gavin melangkah keluar.

Pria itu tidak memakai payung, tidak memakai jas mewahnya. Hanya kemeja putih yang kini basah kuyup melekat di tubuh atletisnya, dengan dua kancing atas yang terbuka. Rambut hitamnya yang biasa tertata rapi kini basah berantakan menutupi dahinya. Namun yang paling mengerikan adalah matanya. Mata cokelat gelap yang biasanya memancarkan ketenangan dan kedamaian saat membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an, kini berubah menjadi tatapan yang benar-benar kosong, dingin, dan sarat akan aura pembunuhan yang membakar.

Gavin melangkah mendekat. Langkah kakinya tenang, terukur, namun setiap pijakannya di atas lumpur seolah membawa keputusasaan bagi siapa saja yang melihatnya.

"Jangan mendekat, Gavin! Satu langkah lagi, aku potong leher istri kesayanganmu ini!" ancam Rian histeris, menyayat sedikit kulit leher Naya hingga darah segar berwarna merah pekat menetes, bercampur dengan air hujan yang mengalir turun ke dada gaun Naya.

Langkah Gavin terhenti. Matanya tertuju pada tetesan darah di leher Naya. Saat melihat warna merah itu, dadanya bergemuruh hebat. Rahangnya mengatup rapat hingga urat-urat di lehernya menonjol.

"G-Gavin... jangan..." bisik Naya lirih, suaranya hampir habis. "Tolong... jangan..."

Gavin menatap Naya. Selama sepersekian detik, kilatan rasa sakit yang teramat sangat melintas di mata pria itu. "Naya..." panggil Gavin dengan suara parau yang amat dalam, suara yang sarat akan rasa cinta yang begitu menyiksa. "Maafkan aku... aku terlambat melindungimu."

"Gavin! Dengarkan aku, bajingan!" teriak Rian, napasnya memburu penuh kemenangan egois. "Serahkan seluruh berkas bukti kejahatanku yang ada di tangannya! Batalkan semua tuntutan hukum! Sediakan helikopter di dermaga ini dalam waktu lima belas menit! Jika tidak, Naya mati di tanganku!"

Gavin tidak menjawab ancaman itu. Pria itu perlahan mengangkat wajahnya, menatap Rian. Di mata Gavin, tidak ada lagi rasa takut. Yang ada hanyalah amarah yang telah melampaui batas kemanusiaan.

"Rian," suara Gavin terdengar sangat pelan, namun mampu membelah suara gemuruh petir yang menyambar di atas dermaga. "Kamu tahu apa kesalahan terbesar dalam hidupmu?"

Rian mengerutkan keningnya, mencengkeram Naya semakin erat. "Apa yang kamu bicarakan?!"

"Kesalahan terbesarmu..." Gavin melangkah maju satu langkah, sangat perlahan. "...adalah berpikir bahwa aku akan membiarkanmu bernapas setelah kamu menyentuh milikku."

"Jangan maju! Aku sungguh-sungguh akan memotong lehernya!" jerit Rian panik. Kegilaan di mata Gavin membuat nyali Rian yang semula memuncak mendadak ciut.

Tiba-tiba, suara deru mesin dari sepuluh mobil SUV hitam meraung dari arah belakang. Mobil-mobil itu langsung mengepung area dermaga, menyalakan lampu tembak mereka hingga lokasi pertumpahan darah itu menjadi terang benderang seperti siang hari. Puluhan pria berpakaian serba hitam—tim keamanan Ardiansyah Group yang dipimpin oleh Evan—keluar dengan senjata api terarah presisi ke arah Rian.

"Tuan Gavin!" teriak Evan dari jauh. "Area sudah terkepung!"

Rian menjadi semakin histeris. Pandangannya liar menatap sekeliling. Di saat fokus Rian terpecah selama setengah detik karena terkepung lampu-lampu mobil, Gavin bergerak.

Gerakan Gavin sangat cepat dan mematikan. Pria itu menerjang ke depan bagaikan kilat.

Sebelum Rian sempat menarik pisaunya untuk menggorok leher Naya, Gavin sudah menepis pergelangan tangan Rian dengan pukulan yang sangat keras. Suara tulang patah terdengar menyayat hati bersamaan dengan jeritan kesakitan Rian saat pisau lipat itu terlempar jatuh ke dalam lumpur.

Dengan gerakan refleks seorang pria yang terlatih, Gavin menarik tubuh Naya ke dalam pelukannya, melepaskan wanita itu dari cengkeraman Rian, lalu mendorong Naya secara lembut ke belakang tubuhnya.

Di detik berikutnya, amarah gila yang terpendam di dada Gavin meledak sepenuhnya.

Gavin tidak menggunakan senjata. Ia menghantamkan tinjunya tepat ke wajah Rian dengan kekuatan penuh. Rian tersungkur ke tanah berlumpur, namun Gavin tidak berhenti. Pria yang dikenal sebagai pengusaha terpandang dan sosok suami yang taat beragama itu kini seperti kesetanan. Gavin berlutut di atas tubuh Rian, mencengkeram kerah bajunya, dan membenturkan pukulan demi pukulan ke wajah pria yang telah melukai istrinya.

BAM! BAM! BAM!

"Gavin! Cukup!" jerit Naya gemetar, melihat darah segar berhamburan dari wajah Rian yang sudah tak berdaya. Rian mengerang kesakitan, tak mampu lagi melawan saat Gavin terus menghantamnya tanpa ampun.

"Ini untuk ketakutannya!" pukulan pertama mendarat.

"Ini untuk air matanya!" pukulan kedua memecahkan bibir Rian.

"Dan ini... untuk darah yang kamu keluarkan dari lehernya!" Gavin mengangkat kepalan tangannya tinggi-tinggi, siap mendaratkan pukulan mematikan yang bisa menghancurkan tengkorak kepala Rian.

"GAVIN, DEMI ALLAH CUKUP!"

Jeritan Naya membelah malam. Kata-kata itu—nama Tuhan yang selama ini selalu Gavin ajarkan padanya, nama yang selalu Gavin sebut dalam setiap doa dan sujudnya—membuat tangan Gavin yang terkepal rapat membeku tepat beberapa sentimeter di atas wajah Rian yang sudah hancur berdarah-darah.

Dada Gavin naik turun dengan hebat. Hujan menyapu darah Rian yang menempel di buku-buku jari Gavin yang memar dan terluka. Pria itu menatap tangannya sendiri yang bergetar hebat, lalu perlahan menoleh ke arah Naya.

Naya berdiri bersimpuh di atas lumpur, menangis terisak-isak dengan tangan masih terikat di belakang. Wanita itu menatap Gavin bukan dengan rasa benci, melainkan dengan rasa iba dan penyesalan yang teramat dalam.

"Jangan biarkan dia membuatmu menjadi seorang pembunuh, Gavin..." bisik Naya di antara isolasi tangisnya. "Jangan hapus kebaikanmu hanya karena pria ini... Aku mohon..."

Napas Gavin tersengal-sengal. Tatapan matanya yang tadi liar dan mengerikan perlahan-lahan mulai melunak saat menatap mata Naya yang basah. Kesadaran dan akal sehatnya seolah ditarik kembali dari jurang kegelapan oleh suara wanita yang begitu dicintainya.

Gavin melepaskan cengkeramannya dari kerah baju Rian yang sudah pingsan tak berdaya. Pria itu berdiri perlahan, membiarkan Evan dan tim keamanannya berhamburan maju untuk meringkus Rian yang tak berkutik dan mengamankan area.

Gavin melangkah mendekati Naya. Pria itu berlutut di depan istrinya yang menggigil di atas tanah berlumpur. Dengan jemari yang gemetaran dan memar, Gavin meraih bagian belakang tubuh Naya, lalu memotong ikatan kabel plastik yang melukai pergelangan tangan Naya menggunakan pisau kecil yang diambil Evan dari saku jasnya.

Begitu ikatannya terlepas, Naya langsung menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukan Gavin.

Naya merengkuh leher suaminya dengan erat, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Gavin yang basah kuyup. "Maafkan aku... maafkan aku, Gavin... Ini semua karena kebohonganku... Ini semua salahku..." tangis Naya pecah, meluapkan seluruh rasa sakit, trauma masa lalu, dan rasa bersalah yang telah menggerogoti jiwanya selama bertahun-tahun.

Gavin merengkuh tubuh kecil Naya dengan sangat posesif dan protektif, seolah-olah jika ia melonggarkan pelukannya sedikit saja, wanita itu akan lenyap dari dunia ini. Gavin menyembunyikan wajahnya di leher Naya, menyesap aroma tubuh istrinya yang bercampur dengan air hujan dan darah, seraya terisak pelan—sebuah pemandangan langka di mana seorang Gavin Ardiansyah meneteskan air mata.

"Tidak, Naya... tidak..." bisik Gavin dengan suara yang bergetar hebat di telinga Naya. "Kamu tidak salah... Kamu milikku. Kamu istriku. Demi Allah, aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyakitimu lagi... bahkan jika aku harus membakar dunia ini untuk melindungimu."

Di tengah guyuran hujan badai yang melingkupi Dermaga Muara Baru, dua insan yang saling terikat dalam kepalsuan masa lalu dan obsesi yang dalam itu saling memeluk erat. Gavin mengecup puncak kepala Naya bertubi-tubi, mengalirkan rasa hangat di tengah dinginnya malam yang mencengkam.

Namun, di balik kelegaan malam itu, Naya tahu bahwa perjuangan mereka belum berakhir. Kebohongan besar tentang masa lalunya telah terbuka di hadapan ibu mertuanya, Eleanor. Perbedaan keyakinan dan trauma yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat kini siap menjadi badai baru yang akan menguji sejauh mana ikatan pernikahan mereka dapat bertahan.

Saat Gavin membopong tubuh Naya yang lemah menuju ke dalam mobilnya yang hangat, Naya menatap langit malam yang gelap melalui kaca jendela yang basah. Dalam hatinya, sebuah doa sederhana terucap—sebuah doa yang dulu tak pernah ia mengerti, namun kini menjadi satu-satunya pegangan jiwanya: ia ingin mencintai Allah, sebagaimana suaminya mencintai-Nya, agar cinta terlarang dan obsesi yang mengikat mereka dapat berubah menjadi takdir yang suci dan direstui.

(Bagaimanakah nasib pernikahan Naya dan Gavin selanjutnya ketika Eleanor mulai membongkar rahasia kelam masa lalu Naya? Dan sanggupkah Naya sepenuhnya membuka hatinya untuk keyakinan yang kini menjadi benteng terakhir hidupnya?)

#halo guys, jangan lupa like subscribe dan komen, ngasih gift juga dan bintang 5 yah, jadikan novel ini favoritmu, pantengin terus kelanjutan ceritanya yah, ada cerita aku yg lain yg ngga kalah seru juga loh, judulnya AKU TAK SALAH, dan TAKDIR YANG MEMPERMAINKAN KITA, ingat guys, subscribe, like, dan komen, share juga yah 🙏😭😘

1
Renjana
hadir kak😊
Lisye Aisyah Hematang: Makasih kak 🙏
total 1 replies
azza Binury
mudahan pembacanya rame ya kak. Kata-kata nya bagus lho ... aku masih belajar
Lisye Aisyah Hematang: Amin, makasih kak... Semangat yah kak, pasti bisa 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!