Anara Putri, gadis delapan belas tahun yang harus mengandung benih lelaki yang merupakan Kakak iparnya, atas kecelakaan di sebuah hotel tanpa kesengajaan. Padahal saat itu Anara baru saja lulus sekolah menengah kejuruan.
Bagi sang ayah, Anara hanyalah anak pembawa sial. Oleh sebab itu, dia begitu di benci oleh keluarganya sendiri. Bahkan, Anara harus menutup rapat identitas ayah dari bayi yang di kandungnya karena tidak mau menyakiti hati sang Kakak.
Lantas, akankah Anara mendapat kebahagiaannya? Bagaimana dengan Anara ketika semua rahasia itu terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amallia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua janin satu Ayah
Anara baru pulang dari klinik. Dia sudah di periksa oleh Dokter. Dia terkejut dengan hasil pemeriksaannya. Ternyata dirinya tengah hamil anak dari Kakak iparnya. Anara bingung harus ngapain. Jika dia meminta pertanggung jawaban, itu tidak mungkin dia lakukan. Tapi, dia tidak bisa jika harus mengurus anaknya sendirian. Apa kata orang jika melihatnya mengandung tanpa suami.
Anara buru-buru masuk ke dalam kamarnya. Dia menyembunyikan hasil pemeriksaannya di tempat yang aman.
Anara kembali keluar kamar. Dia akan menyapu halaman belakang. Karena tadi pagi dia belum sempat menyapu disana.
Anara mendengar langkah kaki. Dia menatap ke ruang keluarga. Ternyata yang datang Vanesa dan Andika.
"Sayang, aku senang sekali loh. Akhirnya kamu hamil anak aku." ucap Andika kepada Istrinya.
Deg
Anara menghentikan langkahnya saat mendengar jika Kakaknya sedang hamil. Ada rasa iri di dalam hatinya karena Kakaknya hamil di dampingi seorang suami. Namun, dia buru-buru menepiskan rasa itu. Dia tidak boleh berfikiran yang macam-macam. Dia harus bisa melewati semua itu sendirian. Karena, jika dia lemah, siapa yang akan menjaga anaknya kelak.
Anara kembali melanjutkan langkahnya menuju ke halaman belakang.
"Sayang, kenapa kamu cemberut?" Andika menatap wajah Istrinya.
"Kalau aku hamil, bagaimana dengan karirku?"
"Kamu tidak perlu bekerja lagi, sayang. Biar Mas yang mencukupi semua kebutuhan kamu."
"Tapi kalau nanti badanku gemuk gimana?"
"Tidak masalah, kalau kamu gemuk malah makin cantik." Andika merengkuh pinggal Istrinya.
Sialan, gara-gara anak ini, aku harus mengakhiri karirku.' batin Vanesa
Andika mengajak Istrinya menuju ke kamar.
Cuaca di luar rumah semakin panas. Beberapa kali Anara menghentikan aktifitasnya sejenak. Dia merasa jika akhir-akhir ini mudah lelah.
Lebih baik aku minum dulu,' Anara menaruh sapu lidi yang sedang dia pegang. Lalu dia melangkah masuk ke dalam rumah.
Anara ingin sekali minum air es. Namun melihat kondisinya yang sedang hamil muda, dia tidak boleh sering minum air es.
"Sendirian saja," Andika menepuk pelan punggung Anara. Sehingga Anara yang sedang minum terbatuk.
Uhuk uhuk
"Aduh kasihan sekali, sini biar aku bantu," Andika hendak mengambil gelas yang ada di tangan Anara. Namun Anara menjauhkan dirinya.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri," ucap Anara
"Sayang, mana minumanku? kok lama sekali sih ambil minum saja," Vanesa menghampiri suaminya ke dapur.
"Maaf sayang, ini baru mau aku ambilin," Andika mengambil gelas lalu menuangkan air dingin untuk Istrinya.
Anara melihat Vanesa handak meminum air dingin.
"Nona Nesa, Maaf sebelumnya bukannya saya ikut campur. Tapi kalau sedang hamil muda jangan minum air dingin." ucap Anara
Vanesa menatap Anara yang sedang berdiri tak jauh darinya.
"Tahu dari mana kalau saya hamil? Jangan-jangan tadi kamu menguping pembicaraan saya," Vanesa menatap Anara penuh selidik.
"Maaf, tadi tidak sengaja mendengar," ucap Anara
"Sudahlah sayang, kita kembali ke kamar saja,"ucap Andika
"Iya Mas, lagian ngapain juga mengobrol sama pembantu," Vanesa menaruh gelas yang sudah kosong ke atas meja.
Andika melangkah menuju ke kamar sambil merengkuh pinggang Istrinya. Dia menoleh ke belakang dan mengedipkan sebelah matanya. Anara yang melihat itu merasa kurang suka dengan Andika. Menurutnya, Andika itu terlihat seperti playboy.
°°
Pak Indra sudah tahu mengenai kehamilan anaknya. Walaupun dia tahu jika ternyata usia kehamilan Vanesa itu lebih lama dari pada usia pernikahannya, namun Pak Indra tidak mempermasalahkan itu.
"Nak, kamu jaga cucu Papah yah, ini cucu pertama Papah loh," ucap Pak Indra yang terlihat sangat bahagia.
"Iya Pah, Nesa janji akan selalu menjaga anak ini," ucap Vanesa
Walaupun sebenarnya aku tidak mau hamil dulu," ucapnya lagi dalam hati.
Dari kejauhan, Anara melihat Ayahnya yang terlihat bahagia. Kebetulan dia sedang memasak. Namun saat dia mendengar suara gelak tawa, dia mendekati sumber suara.
Apa Papah juga akan bahagia jika mengetahui kehamilanku,' batin Anara sambil mengusap perutnya yang masih datar.
Vanesa melihat Anara yang sedang memperhatikan mereka.
"Pah, lihatlah itu pembantu kita sering sekali menguping. Sepertinya dia punya niat jahat." ucap Vanesa sambil melihat Anara.
Pak Indra menatap ke arah pandang Vanesa.
"Sudah biarkan saja," ucap Pak Indra
"Iya sayang, mungkin dia ingin berkumpul sama kita," ucap Andika
"Enak saja,"
Mereka kembali mengobrol membahas anak yang masih di kandung Vanesa.
Pak Indra sudah merencanakan banyak hal untuk cucunya nanti.
Cukup lama mengobrol, kini ketiganya memilih untuk istirahat di kamar masing-masing.
Anara kembali melanjutkan memasak makan malam. Walaupun sebentar-sebentar dia duduk karena cape, tapi itu tetap dia lakukan karena sudah menjadi tugasnya.
"Ah capenya," gumam Anara sambil memegangi pinggangnya.
Kebetulan Anara sudah selesai memasak. Dia pergi beristirahat di kamarnya setelah dia menghidangkan semua masakannya di atas meja makan. Setelah rasa lelahnya hilang, Anara segera mandi karena keburu adzan maghrib berkumandang.
Anara sudah selesai mandi, dia menatap jam yang ada di dinding. Ternyata sebentar lagi adzan maghrib. Dia memilih untuk mengenakan mukena lalu mengaji sambil menunggu adzan.
Selesai sholat maghrib, Anara keluar kamar karena dia merasa lapar.
Anara melihat keluarganya sedang makan malam bersama. Anara hanya melewati mereka. Dia melangkah menuju ke dapur. Anara mengambil Nasi dan sup yang tadi dia sisakan untuknya. Dia duduk di bawah sambil menikmati makanannya.
"Nak, makan yang banyak yah, biar anak kamu selalu sehat."
Anara mendengar suara Ayahnya berbicara.
"Iya Pah, Nesa akan makan yang banyak dan bergizi." jawab Vanesa
"Kalau ingin apa-apa tinggal minta sama Mas," ucap Andika
"Iya sayang," jawab Vanesa
Anara mendengar semua pembicaraan mereka.
Apa aku berdosa, jika aku menginginkan semua kebahagiaan yang Kak Nesa miliki.' batin Anara
awas andika punya saingan 😂😂😂😂😂