NovelToon NovelToon
TERLAHIR KEMBALI : KONTRAK 500 JUTA JADI CINTA SEUMUR HIDUP

TERLAHIR KEMBALI : KONTRAK 500 JUTA JADI CINTA SEUMUR HIDUP

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Racun Outfit

Ditolak mentah-mentah ,Lili cuman bisa nangis kehujanan di parkiran.

Tiba tiba CEO tempatnya magang berkata.

"Daripada nangisin sampah, nikah sama saya aja."

Lili kira bercanda.

Besoknya lamaran beneran datang.

Kontrak setahun 500 juta.

Tapi yang awalnya kontrak berubah jadi benih benih cinta.

Kontrak 500 juta sudah dihapus.
sekarang cuma ada satu kontrak
SEUMUR HIDUP.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Racun Outfit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28 - RUMAH BIRU VS APARTEMEN 22

Jam enam pagi, aku berdiri di tengah rumah biru dengan dua koper.

Satu koper hitam besar, satu lagi koper biru kecil yang rodanya sudah agak miring.

Koper hitam isinya jas hitam Damian, dasi, kemeja putih, rok hitam, Excel pajangan yang sekarang sudah rapi, dan bando biru delapan belas ribu yang sudah dicuci sepuluh kali.

Koper biru kecil isinya kaos tiga puluh lima ribu, piyama couple biru langit renda versus polos, selimut putih bolong yang dulu dipakai berempat, sapu lidi yang bulunya rontok satu, dan kaleng cat kecil sisa pojok kanan kemarin.

Mama dengan daster kuning berdiri sambil melipat tangan.

"Lili, kalian mau pindahan lagi?"

Ibu dengan daster pudar ikut mendekat.

"Nak, kopernya kok dua? Mau ke mana?"

Aku menghela napas panjang.

"Bu, Ma, kami sedang menghadapi masalah besar."

Damian yang sedang melipat kaos tiga puluh lima ribunya langsung menoleh.

"Masalah apa lagi?"

Aku menunjuk ke arah koper hitam.

"Di Jakarta ada kantor lantai dua belas, AC 16 derajat, pantry sup buntut, dan apartemen lantai 32."

Lalu aku menunjuk ke arah atap.

"Di sini ada rumah biru, atap baru bunyi SRRRRRRR, tikar pandan, Pak RT, kucing oren, dan test pack yang dilakban hitam."

Mama mengerutkan dahi.

"Jadi kalian mau pilih yang mana?"

Damian meletakkan kaosnya.

"Kami sudah rapat."

Mama langsung tegang.

"Rapat apa? Rapat direksi? Jangan-jangan mau robohkan rumah biru lagi?"

"Bukan, Ma."

Damian duduk di sampingku.

"Rapat keluarga. Hasilnya, Senin sampai Kamis kami di Jakarta. Jumat sampai Minggu di rumah biru."

Ibu melongo.

"Jauh, Nak. Balikpapan-Jakarta harus naik pesawat."

"Gak apa-apa, Bu. Tiketnya pakai uang novel Lili yang kemarin 100 persen ACC. Anggap saja ongkos bando."

Aku langsung menyahut.

"Benar! Bando biru ikut Jakarta, kaos 35 ribu ikut Balikpapan, sup buntut ikut dua-duanya."

Mama langsung tepuk tangan.

"Setuju! Tapi test pack ikut mana?"

Aku dan Damian saling pandang.

"Test pack tetap di atas kulkas," jawabku.

"Sudah dilakban hitam. Ada tulisan BUKAN GARAM! BUKAN IKAN ASIN! MILIK MAMA YUNI!"

Ibu mengangguk puas.

"Bagus. Jangan sampai kucing oren memakannya lagi."

Aku menoleh ke arah kucing oren yang sedang duduk dekat pintu.

"Dia bukan mau makan test pack, Bu. Dia cuma penasaran."

Damian menyahut, "Kemarin dia hampir menjatuhkan tiga kotak sekaligus."

Mama langsung menunjuk kucing itu.

"Mulai sekarang kamu dilarang naik kulkas!"

Kucing oren cuma mengeong.

Sepertinya dia tidak merasa bersalah sedikit pun.

Ibu kemudian mengambil kalender kecil di dinding.

"Kalau begitu, Jumat Ibu masak nasi kuning. Sabtu Pak RT pasti minta gorengan lagi. Minggu Mama bawa sup buntut ke Jakarta."

Mama langsung mengangkat rantang jumbo.

"Mama sudah siapin dua rantang. Satu buat pantry lantai dua belas, satu buat Pak RT."

"Ma, kalau sup buntutnya habis di pesawat bagaimana?" tanyaku.

Mama melotot.

"Memangnya kamu mau makan semuanya?"

Aku mengangguk pelan.

Damian langsung tertawa.

Jam sembilan pagi, kami akhirnya berangkat.

Pak RT mengantar sampai depan gang menggunakan motor. Kucing oren ikut duduk di keranjang depan.

"Bu Lili! Pak Damian! Jangan lupa kalau di Jakarta kangen suara atap, video call saja!"

Aku tertawa.

"Memangnya bisa, Pak?"

"Bisa! Nanti saya siram atap pakai selang biar bunyinya SRRRRRRR!"

"Jangan, Pak! Nanti dikira bocor lagi!"

Pak RT tertawa keras.

Sebelum masuk mobil, aku sempat menoleh sekali lagi ke rumah biru.

Atapnya masih mengilap terkena cahaya matahari. Dinding birunya terlihat lebih bersih setelah dicat ulang.

Dulu rumah ini penuh ember, kebocoran, dan masalah.

Sekarang rasanya berat juga meninggalkannya, meskipun cuma beberapa hari.

Ibu melambaikan tangan.

"Jangan lupa pulang Jumat!"

Mama ikut berteriak.

"Dan jangan lupa bawa bando!"

Damian mengangkat tangan.

"Siap, Ma!"

Di perjalanan menuju bandara, aku menyandarkan kepala ke bahu Damian.

"Mas."

"Hm?"

"Kita benar-benar punya dua rumah sekarang?"

"Iya."

"Kalau nanti aku kangen rumah biru?"

"Kita pulang."

"Kalau kangen apartemen?"

"Kita balik Jakarta."

Aku tersenyum.

Ternyata punya dua rumah bukan berarti harus memilih salah satu.

Di pesawat, Damian tiba-tiba berbisik.

"Bu Damian, kangen mana? AC 16 derajat atau SRRRRRRR?"

Aku menoleh.

"Kangen dua-duanya. Kangen AC 16 derajat dengan selimut cuma satu. Kangen juga tikar pandan dan atap seng yang sekarang sudah pensiun dari tugas bocor."

Damian tertawa.

"Kalau begitu kita bikin rumah ketiga."

Aku mengerutkan dahi.

"Rumah apa lagi, Mas?"

"Rumah di tengah jalan. Isinya cuma bando 18 ribu sama kaos 35 ribu."

Aku mencubit pinggangnya.

"Dasar CEO aneh!"

Jam dua siang, kami akhirnya sampai di apartemen lantai 32.

Begitu pintu terbuka, udara dingin langsung menyambut.

AC 16 derajat masih menyala. Selimut putih cuma satu terlipat di sofa. Di atas meja ada kontrak novel yang sudah ditandatangani.

Aku langsung melepas sepatu.

"Mas, dingin banget!"

Damian mengambil remote AC.

"Mau dinaikkan suhunya?"

"Jangan! Nanti selimut kita tambah satu."

Dia tertawa.

Aku mengganti baju dengan piyama couple biru langit. Damian memakai kaos tiga puluh lima ribunya.

Setelah itu kami membuka video call.

Di layar muncul Mama, Ibu, Pak RT, dan kucing oren.

"Lili! Damian! Sudah sampai Jakarta?" seru Mama.

"Sudah, Ma!"

"Atap aman?" tanya Damian.

Mama dan Ibu langsung menjawab bersamaan.

"AMAN! SRRRRRRR!"

Tiba-tiba kamera diarahkan ke atap.

Benar saja, seng baru itu terlihat mengilap.

Aku tertawa.

"Test pack aman?"

Mama mengangkat tiga kotak yang masih dilakban hitam.

"Aman! Tulisan BUKAN GARAM! BUKAN IKAN ASIN! masih jelas!"

Pak RT ikut mendekat ke kamera.

"Kucingnya juga aman! Sudah saya awasi. Jangan khawatir!"

Damian mengangkat alis.

"Pak, jangan sampai kucingnya kabur."

"Tenang! Saya sudah jadi petugas keamanan rumah biru."

Aku tertawa sampai perutku sakit.

Malam itu hujan turun di Jakarta dan Balikpapan hampir bersamaan.

Di Jakarta terdengar tik tik tik dari kaca jendela. Di Balikpapan, atap seng mengeluarkan suara SRRRRRRR.

Aku duduk di sofa, menyandarkan kepala ke bahu Damian.

"Mas, rumah kita sebenarnya yang mana?"

Damian menoleh dan membetulkan bando biru di kepalaku.

"Rumah kita yang ada kamu."

Aku terdiam sebentar.

"Jawaban kamu sekarang romantis."

"Memangnya biasanya bagaimana?"

"Biasanya cuma ngomong soal kaos tiga puluh lima ribu."

Dia tertawa lalu menggenggam tanganku.

Aku meraba bando di kepala.

"Berarti malam ini rumah kita di sini."

"Iya. Besok Jumat rumah kita di sana."

Aku tersenyum.

Dulu aku cuma punya kos nunggak 2,1 juta, kipas yang hampir pensiun, dan bunga 35 ribu yang pernah bikin hidup terasa berat.

Sekarang aku punya dua rumah.

Satu dengan AC 16 derajat.

Satu lagi dengan atap seng bunyi SRRRRRRR tanpa ember.

Dan di kedua rumah itu, ada Damian yang selalu menggenggam tanganku.

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok.

Tapi setidaknya sekarang aku tidak takut lagi kehilangan rumah.

Karena rumah bukan cuma bangunan.

Rumah adalah tempat kami selalu punya alasan untuk pulang.

Bahkan kalau yang dibawa pulang cuma bando delapan belas ribu dan kaos tiga puluh lima ribu.

1
sunflower
oh romantisnya sayang sedikit updatenya
sunflower
ya gak ada kelanjutannya
sunflower
ah gengsi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!