“Aku tidak akan menceraikanmu, Tiara.”
Haikal mengucapkan kalimat itu tanpa sedikit pun keraguan.
“Dan aku mengizinkanmu tetap tinggal di rumah ini.”
Air mata Tiara mulai mengalir lagi.
“Tapi, izinkan aku untuk menikah lagi.”
Tiara menatap pria yang selama ini menjadi tempatnya menggantungkan seluruh hidup. Pria yang baru saja ia kira akan menerima kekurangannya yang divonis mandul oleh Dokter.
Ternyata, Haikal hanya tidak ingin kehilangan istrinya. Ia ingin mempertahankan Tiara sebagai istri pertama sekaligus mengambil wanita lain sebagai calon ibu bagi anak-anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoungLady, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Pintu ruang rawat itu terbuka perlahan.
Permana masuk lebih dahulu, kemudian Tiara mengikutinya. Di tangan Tiara terdapat sebuah tas kecil berisi buah-buahan yang sengaja ia bawa untuk Rumi.
Di atas ranjang rumah sakit, Rumi terbaring lemah. Wajahnya terlihat jauh lebih tua dibandingkan terakhir kali Tiara melihatnya. Selang infus terpasang di tangannya, sementara beberapa alat medis berada di samping tempat tidur.
Begitu melihat Tiara, mata Rumi langsung membesar.
Air mata mengalir begitu saja.
“Ti... Tiara...”
Suara Rumi sangat lemah. Bahkan untuk mengucapkan nama itu saja bibirnya terlihat kesulitan.
Tiara terdiam.
Ada perasaan aneh yang memenuhi dadanya.
Dulu, mungkin ia akan merasa puas melihat Rumi dalam keadaan seperti itu. Tetapi sekarang tidak.
Luka yang pernah diberikan perempuan itu memang belum sepenuhnya hilang, tetapi Tiara sudah belajar melepaskannya.
Tiara berjalan mendekat.
“Ibu.”
Rumi menangis semakin deras.
Tangannya bergerak seolah ingin meraih Tiara.
Tiara pun menggenggam tangan itu.
“Jangan menangis, Bu.”
Rumi menggeleng berkali-kali.
Bibirnya bergerak, tetapi suaranya hampir tidak terdengar.
“Ma...af...”
Satu kata itu membuat dada Tiara sesak.
Rumi menangis.
“Maafkan Ibu...”
Tiara menundukkan kepala.
Kemudian ia tersenyum tipis.
“Aku sudah memaafkan semua kesalahan Ibu.”
Rumi menatapnya.
“Aku juga minta maaf kalau selama menjadi menantu Ibu, ada perkataan atau perbuatanku yang menyakiti hati Ibu.”
Air mata Tiara ikut jatuh.
“Yang lalu biarlah berlalu, Bu.”
Permana yang sejak tadi berdiri di belakang Tiara kemudian mendekat.
Tangannya perlahan merangkul pinggang Tiara dari belakang.
Gerakan itu terlihat begitu alami.
Begitu penuh perlindungan.
Rumi menatap keduanya.
Ada kesedihan sekaligus kelegaan di matanya.
Namun tiba-tiba pintu kembali terbuka.
Haikal masuk.
Langkahnya terhenti.
Dadanya seketika terasa sesak.
Pemandangan di hadapannya membuat seluruh tubuhnya kaku.
Tiara.
Perempuan yang dulu menjadi istrinya.
Kini berdiri dalam pelukan pria lain.
Permana.
Pria yang selama ini menjadi pemberi pinjaman untuk bisnisnya.
Pria yang sekarang telah menjadi suami Tiara.
Haikal mengepalkan tangan.
Ada rasa sakit yang menusuk dadanya.
Namun ia tidak memiliki hak untuk marah.
Tiara dan Permana sudah sah menjadi suami istri.
Justru dirinya yang telah menghancurkan rumah tangga mereka.
Haikal menarik napas panjang.
Kemudian berjalan mendekat.
“Tiara.”
Tiara menoleh.
Mata mereka bertemu.
Untuk beberapa detik, tidak ada satu pun yang berbicara.
Haikal akhirnya menundukkan kepalanya.
“Aku datang untuk meminta maaf.”
Tiara diam.
“Aku tahu mungkin kata maaf dariku tidak akan pernah cukup.”
Suara Haikal bergetar.
“Aku pernah menghina kamu. Aku pernah memperlakukanmu dengan buruk. Aku bahkan menuduhmu sebagai perempuan mandul.”
Tiara memejamkan mata sebentar.
Kalimat itu pernah menghancurkan harga dirinya.
Namun kini, ia tidak ingin lagi hidup dalam luka itu.
Haikal melanjutkan.
“Kemarin aku baru melakukan tes kesehatan.”
Tangannya mengepal.
“Hasilnya keluar hari ini.”
Rumi menatap anaknya.
Haikal menelan ludah.
“Yang sebenarnya bermasalah adalah aku.”
Ruangan mendadak sunyi.
“Bukan kamu yang mandul, Tiara.”
Suara Haikal semakin lirih.
“Akulah yang memiliki masalah kesuburan.”
Rumi langsung menangis.
“Haikal...”
“Aku sudah menghancurkan harga dirimu karena sesuatu yang ternyata merupakan kesalahanku sendiri.”
Haikal menatap Tiara.
“Maafkan aku.”
Tiara terdiam cukup lama.
Kemudian ia berkata pelan,
“Haikal, yang lalu biarlah berlalu.”
Haikal menatapnya.
“Kita akhiri saja dendam dan rasa sakit masa lalu ini.”
Kalimat itu justru membuat Haikal semakin sakit.
Karena ia tahu, bagi Tiara semuanya telah selesai.
Tetapi bagi dirinya...
belum.
“Jujur saja,” katanya dengan suara bergetar. “Aku belum rela melepaskanmu dengan pria lain.”
Permana langsung menatap Haikal.
Tatapannya berubah dingin.
“Segeralah move on.”
Haikal menatap Permana.
“Tiara pergi karena kau memperlakukannya dengan buruk.”
Permana tidak meninggikan suara.
Namun setiap katanya terdengar tegas.
“Daripada terus memikirkan istri orang lain, lebih baik kau fokus membayar utangmu kepada bank milikku.”
Wajah Haikal menegang.
Permana melanjutkan,
“Bulan depan kalau kau terlambat membayar lagi, aku akan menarik aset milikmu yang dijadikan jaminan.”
Rumi langsung menangis.
“Jangan... jangan bahas itu...”
Tiara menoleh kepada Permana.
“Pak.”
Permana memandang istrinya.
“Jangan bahas masalah itu di sini.”
Tiara menggenggam tangan Rumi.
“Tidak enak ada Ibu Rumi. Dia sedang sakit. Aku takut dia jadi semakin terbebani pikirannya.”
Permana terdiam.
Tatapannya kemudian berpindah kepada Rumi.
Perempuan tua itu menundukkan wajah.
Air matanya terus mengalir.
Permana akhirnya menghela napas.
Kemudian ia menatap Haikal.
“Lihat istriku.”
Haikal terdiam.
“Lihat bagaimana dia masih begitu baik kepada kalian.”
Permana menunjuk Tiara.
“Padahal apa yang sudah kalian lakukan kepadanya dulu?”
Haikal tidak mampu menjawab.
“Kalian menghina dia.”
Suara Permana semakin berat.
“Kalian menyalahkan dia atas sesuatu yang bukan kesalahannya.”
Ia merangkul Tiara lebih erat.
“Bahkan ketika dia sudah pergi, dia masih mampu datang menjenguk ibumu.”
Tiara menatap Permana.
“Pak...”
Namun Permana belum selesai.
“Mulai detik ini, aku akan melindungi dan menjaganya.”
Tatapannya tajam mengarah kepada Haikal.
“Aku tidak peduli apa yang pernah terjadi di antara kalian.”
Permana menarik napas.
“Tapi kalau kau, Haikal, berani menyentuh wanitaku lagi...”
Kalimatnya terputus.
Ruangan mendadak terasa begitu sunyi.
Haikal menatap Permana dengan wajah tegang.
Rumi juga berhenti menangis.
Sementara Tiara merasakan sesuatu yang aneh dari nada bicara suaminya.
Permana menatap Haikal tanpa berkedip.
“Aku akan membuat perhitungan.”
Belum sempat Haikal menjawab, tiba-tiba ponsel Haikal berdering.
Haikal mengangkatnya.
Wajahnya yang semula tenang perlahan berubah serius.
“Apa?”
Ia mendengarkan beberapa detik.
Kemudian tatapannya berubah tajam.
“Apa katamu?”
Tiara langsung mengerutkan kening.
Permana ikut menatap Haikal.
Haikal berdiri tegak.
“Apa maksudmu aset itu sudah dipindahkan?”
Haikal membeku.
Rumi menatap anaknya dengan wajah panik.
Permana perlahan menurunkan ponselnya.
Lalu menatap Haikal.
“Sepertinya kita punya masalah yang jauh lebih besar daripada sekadar utang bank.” Celoteh Permana.
“Apa maksudmu, Pak?" Tanya Tiara.
Permana tidak langsung menjawab.
“Seseorang baru saja berusaha membawa kabur aset yang menjadi jaminan utangku.” Celetuk Haikal.
Tiara membelalakkan mata. Siapa yang tega melakukannya? Apa mungkin pelakunya itu...
Bersambung....