Rhea adalah seorang pengacara muda idealis yang harus menelan pahitnya kehidupan setelah di-PHK secara sepihak dari firma hukum ternama. Musibah Rhea tak berhenti di situ, sore setelah pemecatannya, dia mengalami kecelakaan lalu lintas parah yang membuatnya koma selama hampir sebulan. Tak ingin menyerah pada nasib, Rhea bangkit dari keterpurukannya. Menggunakan sisa uang pesangon yang pas-pasan, dia nekat mendirikan biro bantuan hukum mandiri di sebuah ruko kecil daerah Tebet bersama Zora, sahabat karibnya yang selalu setia mendampingi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diana mainur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Rahasia di Balik Lantai Dua
Bima melangkah tergesa-gesa menyusuri lorong sempit menuju area dapur belakang. Kakinya gemetaran hebat, sementara dadanya naik turun menahan guncangan panik akibat insiden kecil di depan pintu tadi. Bima meletakkan kardus itu berisi bahan makanan yang agak penyok itu di atas meja stainless dengan perlahan.
Seorang pria paruh baya mengenakan celemek koki lusuh, Pak Yudi, salah satu staf senior di dapur yang sedang memotong sayuran mendadak menghentikan pekerjaannya. Ia menatap Bima dengan pandangan prihatin yang teramat dalam.
"Mas Bima..." panggil Pak Yudi pelan, mendekati Bima. "Kamu gak kenapa-kenapa, Mas Bima? Tadi Bapak lihat dari kejauhan Mas Bima didorong lagi sama Fadel."
"Gak apa-apa Pak Yudi," Bima menunduk dalam-dalam sambil mengusap serapan debu di lutut celananya yang agak robek.
Pak Yudi menghela napas panjang, meletakkan pisau dapurnya lalu menepuk pundak kurus Bima yang terasa menonjolkan tulang.
"Mas Bima... sampai kapan mau diam begini? Restoran ini kan dibangun dari keringat almarhum Pak Bambang, ayah kandung Mas Bima sendiri. Kenapa Mas Bima gak mau melawan sih sama mereka? Ini kan haknya Mas Bima sepenuhnya. Kenapa Mas cuma diam aja dipukuli dan dijadikan pembantu kayak gini," suara Pak Yudi bergetar menahan amarah dan iba.
Bima memejamkan matanya rapat-rapat. Bayangan wajah almarhum ayahnya di malam naas itu kembali melintas, membuat bulu kuduknya merinding ketakutan.
"Saya gak bisa, Pak. Mereka itu... mereka itu sangat berbahaya. Kalau saya melawan, bukan cuma saya aja yang celaka, tapi Pak Yudi dan para staf lainnya pasti bakal dipecat atau disakiti sama Rudi dan Fadel," bisik Bima parau, tangannya mengepal kencang di atas meja.
"Tapi Mas, almarhum Pak Bambang pasti sedih di alam sana kalau lihat anaknya disiksa begini..." Pak Yudi mengepalkan tangannya di samping tubuh
"Tolong, Pak Yudi," potong Bima dengan tatapan mata yang memohon dan penuh ketakutan murni. "Jangan bahas ini lagi. Biarkan seperti ini dulu. Saya cuma mau selamat."
Sementara, di ruangan kantor yang terletak di lantai dua di restoran Restu Ibu.
Rika berjalan bolak-balik di atas karpet tebal dengan raut wajah yang diliputi kecemasan. Perhiasan emas di pergelangan tangannya saling beradu, menciptakan denting berisik. Di dekat meja kerja kayu ukir bekas milik Pak Bambang, Fadel berdiri menyandarkan tubuhnya sambil meremas segelas wiski.
"Fadel, perasaan Mami gak enak," ujar Rika cepat menghentikan langkahnya. "Bagaimana bisa si pengacara Rayven itu mendadak mampir makan siang ke restoran ini? Tanpa kasih kabar sama sekali ke kita?"
"Mami jangan panik dulu kenapa sih? Dia kan tadi bilang cuman kebetulan lewat dan mau mampir makan," Fadel meneguk wiskinya sampai kandas lalu meletakkan gelasnya kasar.
"Kamu percaya gitu aja. Rayven itu pengacara elit termahal di Jakarta. Pria seperti dia gak bakal mampir ke restoran biasa cuma karena kebetulan lapar. Pasti ada sesuatu yang dia selidiki," bentak Rika dengan nada tertahan.
"Maksud Mami, dia mulai curiga sama draf berkas balik nama warisan yang kita serahkan kemarin," Fadel mengerutkan dahinya dengan matanya memicing curiga.
"Gak cuma itu," bisik Rika, merendahkan suaranya sembari melirik ke arah pintu yang tertutup rapat. "Gimana kalau dia menemukan sesuatu dari sebab kematian Papi kamu? Gimana kalau ada yang bocor."
"Gak mungkinlah Mi," sahut Fadel dingin.
"Semua bukti medis sudah kita bereskan. Surat kematian dari dokter juga serangan jantung biasa. Lagipula kalau pengacara Rayven itu sampai berani ikut campur terlalu dalam atau mau membatalkan kuasa hukum kita..." Fadel tersenyum tipis dan licik. "Rudi kan ada. Biar Rudi yang urus dia seperti kita membereskan tua bangka itu."
Rika menelan ludah kasar, sedikit ditenangkan oleh nada dingin anak lelakinya itu. Namun, bayangan tatapan mata Rayven yang tajam dan tak tersentuh di meja makan tadi masih menyisakan hawa dingin di tengkuknya.
Tiga puluh menit kemudian...
Klinting!
Suara bel pintu ruko biro Rhea berdenting. Kaca depan ruko yang tadinya retak parah kini sudah ditutupi papan triplek rapi sementara, menunggu pemasangan kaca baru besok pagi.
Rayven melangkah masuk dengan raut wajah yang sangat serius. Ia tidak membuang waktu dan langsung mendatangi meja kerja Rhea. Zora yang sedang menyeduh kopi di pantry sampai menghentikan gerakannya.
"Saya baru aja dari Restoran Restu Ibu," kata Rayven langsung tanpa basa-basi.
"Nah kan, benar tebakan gue, pasti Mas Rayven gak betah kalau cuma duduk diam di kantor, secara kan dia pengacara elit ternama. Terus gimana Mas? Ketemu sama duo lampir itu gak?" semprot Zora ceriwis.
"Ketemu," jawab Rayven sambil menarik kursi tamu di hadapan Rhea.
Zora pun ikut duduk di bangku sebelahnya dan ikut mendengarkan.
"Mereka kaget banget pas lihat saya ada di sana," lanjut Rayven.
"Terus," cecar Rhea.
Rayven mencondong ke depan merendahkan suaranya. "Saya juga ngelihat foto Pak Bambang tergantung di dinding restoran. Wajahnya persis banget sama sosok hantu yang ada di mobil saya semalam."
"Hmm dan satu hal lagi. Pas saya mau keluar dari restoran, saya gak sengaja tabrakan sama pemuda kurus dan pucat banget. Badannya penuh bekas lebam dan luka. Sebelum itu, saya melihat Fadel memukul dan mendorong pemuda itu di dapur," lanjut Rayven dengan raut wajah teramat padat.
Rhea menajamkan pandangannya. "Pemuda pucat?"
"Kalau saya perhatikan baik-baik... wajahnya mirip banget sama Pak Bambang," tegas Rayven.
"Bima..." bisik Rhea pelan. "Itu pasti Bima, anak kandung Pak Bambang."
Rayven mengangguk mantap. "Bisa dipastikan. Tapi kondisi anak itu memprihatinkan banget, Rhe. Dia kelihatan begitu ketakutan banget sama Fadel dan ibu tirinya itu. Kita gak punya banyak waktu sebelum mereka makin nekat menindas anak itu."
"Kalau begitu kita gak bisa cuma menunggu kamu membatalkan kuasa hukum di kantor," ujar Rhea tegas.
"Bentar. Terus rencana kita apaan nih?" sela Zora panik. "Jangan bilang kita mau datang ke restoran itu sambil teriak 'Kalian pembunuh ya'?"
Rhea tersenyum sinis menatap sahabatnya itu.
"Kita bakal menyusup masuk lewat area belakang restoran malam ini, Ra" kata Rhea.
"Hah. Menyusup. Lu gila ya, Rhe. Mau ngapain coba malam-malam ke sana? Kan lu sendiri yang bilang kalo barang buktinya udah dibakar sama Rudi," mata Zora membelalak menatap Rhea.
"Arwah Pak Bambang kasih petunjuk kalau ada sesuatu yang beliau sembunyikan di ruangan kerjanya itu sebelum meninggal. Cuma tempat itu yang bisa kasih kita jawaban sekarang," timpal Rhea tegas.
"Kalau gitu saya ikut. Saya gak akan biarkan kalian berdua bergerak sendiri ke restoran itu," potong Rayven cepat.
Zora mengelus dadanya yang menegang. "Aduh... ini biro hukum apa agen rahasia sih? Tapi yaudah deh, gue ikut. Kalau gak ada gue, siapa yang mau jagain lu, Rhe."