"Mas... apakah kamu tidak mencintaiku, walaupun hanya sedikit?" tanya Indah dengan suara bergetar.
Namun jawaban yang ia terima menghancurkan hatinya.
"Lupakan saja, Indah. Aku tidak mencintaimu. Hatiku hanya untuk dia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Marisa putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28 - ada janggal
Hujan turun deras sekali malam ini, udara terasa dingin menusuk. Di ruang tengah, Indah dan Tante Maya mengobrol hangat — tawa kecil terdengar sesekali, membuat suasana terasa begitu akrab dan dekat.
Rizki duduk agak terpisah, memperhatikan ibunya yang tampak begitu bersinar bahagia di dekat Indah. "Sudah lama aku tidak melihat Mama sesenang ini. Kalau saja dia tidak terlalu menyukai Hana... aku harap aku juga bisa membuat Mama sebahagia ini," batinnya pelan.
"Indah, kamu tidak mau menginap saja malam ini? Tante senang sekali ada yang menemani," ajak Tante Maya tiba-tiba.
Indah tersenyum canggung. "Terima kasih Tante, tapi sepertinya kurang enak kalau menginap di sini. Maaf ya."
"Tidak apa-apa, Tante mengerti. Lagipula sudah malam dan hujan turun deras. Kalau begitu, biar Rizki yang mengantarmu pulang ya, supaya aman."
"Wah, tidak usah Tante, jangan merepotkan Rizki," tolak Indah halus.
"Tidak merepotkan kok. Tante khawatir kamu pulang sendirian di jam seperti ini." Tante Maya lalu menoleh ke arah anaknya. "Rizki, antarkan Indah pulang ya. Jaga dia baik-baik, ingat — bagi Mama, Indah sudah seperti anak perempuan sendiri yang Tante punya."
"Iya, Mah. Tenang saja," jawab Rizki lembut.
Mereka berjalan menuju pintu depan.
"Hati-hati di jalan ya, Indah."
"Iya, Tante."
"Datanglah lagi ke sini kapan saja ya."
"Siap, Tante."
Rizki membukakan pintu mobil untuk Indah — sopan dan terhormat, memang begitulah sifat aslinya. Mereka pun masuk ke dalam mobil, melaju membelah rintik hujan. Indah merasa lega, bagaimanapun juga, tidak baik berlama-lama di rumah pria yang belum jelas hubungannya.
Di dalam mobil, keheningan sempat menyelimuti.
Sampai akhirnya Rizki bersuara pelan, memecah keheningan.
"Indah... kalau kamu memang punya waktu luang, datanglah saja ke rumah untuk menemani Mama. Dia memang kesepian di sana sendirian."
Indah menoleh sedikit, tersenyum tipis. "Iya, Rizki. Aku juga senang bisa menemani Tante Maya. Lagipula, beliau sendiri yang mengundang kemarin."
"Aku tahu," jawabnya singkat.
Rizki melirik sekilas. "Biarlah Mama ditemani Indah. Sejak kehadirannya, aku benar-benar melihat Mama lebih bersemangat dari biasanya."
"Oh iya... soal perkataan Mama saat makan tadi," ucap Rizki tiba-tiba agak canggung, "jangan dimasukkan ke hati ya. Beliau kadang terlalu bersemangat."
"Tidak apa-apa, Rizki. Aku mengerti kok," jawab Indah lembut.
"Mama memang kadang suka bertanya hal-hal yang terlalu pribadi, maafkan ya."
"Benar-benar tidak masalah. Aku tidak keberatan menjawabnya."
Rizki terdiam sejenak. "Indah memang tidak pernah berubah sejak dulu. Tetap lembut, tetap pengertian."
Lampu lalu lintas berubah merah, Rizki menghentikan mobilnya.
Di sinilah ia melihatnya — Indah menurunkan sedikit kaca mobil. Di pinggir jalan, seorang anak kecil berdiri basah kuyup sambil memegang seikat mawar. Indah tersenyum ramah padanya.
"Dek, satu tangkai berapa?"
"Lima puluh ribu, Kak."
"Kakak ambil semuanya ya."
"Beneran, Kak?"
"Iya, ini uangnya. Sisanya untuk kamu, anggap saja rezeki dari Kakak."
Anak itu tersenyum lebar, matanya berbinar. "Terima kasih banyak, Kak! Semoga Kakak dan suaminya selalu bahagia, sehat, dan awet terus sampai tua ya!"
Indah tersipu, pipinya memerah. Dalam hatinya, ia berdoa pelan: "Amin... andai saja itu benar suatu hari nanti."
Sementara di sampingnya, Rizki menahan senyum, wajahnya ikut terasa hangat memerah. "Ya ampun, anak kecil itu mengira kami pasangan suami istri..." pikirnya. Namun yang lebih membuatnya terkesan bukan itu — melainkan betapa tulusnya hati wanita di sebelahnya ini. Selalu peduli, selalu memberi, bahkan pada orang asing yang baru saja ia temui.
"Hati Indah terbuat dari apa ya? Begitu lembut, begitu indah..."
Sesampainya di depan rumah Indah, Rizki ikut turun dan membukakan pintu untuknya. Belum sempat Indah menekan tombol bel, pintu rumah sudah terbuka dari dalam — ternyata Laras, ibunya Indah, sudah menunggu di sana.
"Indah, baru pulang kamu? Tumben sekali malam-malam begini," sapa Bu Laras sambil tersenyum. Lalu ia melirik ke arah Rizki. "Eh, ada Nak Rizki juga rupanya."
Rizki tersenyum sopan. "Iya, Tante. Maaf ya baru pulangkan Indah sampai jam segini."
"Tidak apa-apa, Nak. Tante justru senang kok, yang penting anak Tante pulang dengan selamat."
"Mama ih..." bisik Indah sambil tersipu malu.
"Oh iya Tante, Rizki pamit pulang dulu ya," ucap Rizki sambil sedikit membungkukkan badan.
"Wah, tidak mau mampir sebentar?"
"Terima kasih Tante, lain kali saja. Sudah malam dan hujan juga," tolaknya halus.
"Yasudah kalau begitu. Hati-hati di jalan ya, Nak, hati-hati sama jalannya yang licin."
"Siap, Tante. Terima kasih. Titip salam untuk Tante Maya ya."
"Iya pasti. Sampai rumah kabarin ya."
Rizki mengangguk, lalu masuk ke mobilnya dan perlahan melaju meninggalkan rumah Indah.
Laras tersenyum menggoda putrinya.
"Kok kamu pulang bareng Rizki? Mama jadi penasaran nih."
Indah buru-buru menjawab, "Tadi kan buru-buru, Mah. Langsung saja ke rumah Tante Maya begitu selesai di rumah sakit."
"Loh, kamu ke rumahnya ada urusan apa?"
"Tante Maya yang mengundang makan malam. Beliau juga sambil menanyakan kabar Mama kok."
"Ooh begitu ceritanya... Kok tidak cerita dulu sama Mama kalau mau ke sana?"
"Maaf ya, Mah, tadi keburu lupa."
"Seru dong makan malamnya pasti?"
"Ih Mama, mulai deh suka menggoda begitu," Indah tersipu malu.
Lalu mata Laras tertuju pada seikat mawar di tangan anaknya. "Loh, ini kok banyak sekali bunganya? Dari Rizki ya?"
Indah langsung berjalan cepat ke arah kamarnya. "Sudah dulu ya, Mah! Indah mau bersih-bersih dulu. Mama ini suka banget menggoda terus!"
Laras menatap punggung anaknya yang menghilang di balik pintu kamar sambil tersenyum hangat.
"Anak ini... kalau sudah jatuh cinta, pasti malu cerita sama Mama. Dasar anak muda, kalau sedang kasmaran memang ada saja tingkah lucunya ya," gumamnya pelan sambil tertawa kecil, lalu berjalan kembali ke ruang tengah dengan hati yang tenang.
Di dalam mobil, hujan masih saja turun deras.
Rizki menyetir perlahan, pikirannya tak bisa tenang. Sesekali tersenyum kecil terukir di bibirnya, teringat wajah malu-malu Indah saat di depan tadi.
"Dia benar-benar gadis yang tulus..." gumamnya pelan sendiri.
Bayangan Indah memberikan uang kepada anak penjual bunga tadi terus terbayang di benaknya. Hatinya terasa sedikit lebih hangat dari biasanya.
Rizki menatap layar ponselnya sebentar, tersenyum kecil saat melihat nama yang tersimpan di sana. Ternyata nomor Indah belum berubah, masih sama seperti dulu.
Sesampainya di rumah, ia memarkirkan mobilnya dan melangkah masuk. Rumah terasa tenang, lampu ruang tengah sudah meredup. Ia berjalan perlahan menuju kamarnya, menutup pintu di belakang punggungnya, lalu duduk di tepi ranjang sambil menatap ponselnya lama sekali.
"Loh... kenapa Hana dari tadi tidak mengabariku ya? Biasanya kalau aku belum pulang atau lama tidak balas pesan, dia pasti sudah menelepon berkali-kali sambil merengek minta perhatian. Hari ini kok sunyi sekali..."
Ia menatap layar ponselnya, tidak ada pesan masuk maupun panggilan dari Hana.
"Apakah dia sedang sibuk? Atau... jangan-jangan dia marah karena tadi aku tidak bisa menemaninya ke mal?"
Rizki mulai merasa gelisah. Kebiasaan Hana yang manja dan selalu menuntut perhatian membuat keheningan malam ini terasa janggal baginya.
Rizki mencoba menelepon Hana. Sekali, dua kali, tiga kali... tidak ada yang diangkat. Hatinya makin gelisah. Tak lama kemudian, pesan balasan masuk.
Ada apa, Sayang?
Ia segera menelepon kembali. Hana mengangkatnya akhirnya.
"Halo? Kamu dari mana saja kok aku susah banget menghubungimu?" tanya Rizki cemas.
"Oh... tadi aku sedang di jalan dari mal. Sinyalnya kurang bagus di sana," jawab Hana santai, nada bicaranya terasa terburu-buru.
"Syukurlah kalau begitu. Aku pikir kamu kenapa-napa."
"Aku nggak kemana-mana kok. Sudah ya, aku mau istirahat."
"Iya, selamat malam. Hati-hati ya."
"Hmm. Dadah."
Telepon langsung terputus. Rizki menatap layar dengan perasaan aneh yang belum bisa ia ungkapkan.
Sementara di ujung lain...
Rio menatap Hana sambil tersenyum miring. "Dia mencarimu?"
"Iya, Rizki itu terlalu posesif. Selalu menanyakan di mana aku, terus-terusan mengirim pesan... capek aku dibuatnya," jawab Hana sambil melempar ponselnya ke meja dengan kasar.
Rio mendekat, membelai pipinya. "Sudah, jangan dimasukkan ke hati. Sekarang waktunya untuk kita."
Hana tersenyum licik, memeluk leher Rio. "Benar juga... kenapa aku harus memikirkan dia kalau aku sedang di sini bersamamu?"
Malam itu mereka tertawa dan bersenang-senang bersama, tanpa sedikit pun merasa bersalah. Sementara di tempat yang berbeda, Rizki masih duduk sendirian di kamarnya, menatap ponselnya, setia pada seseorang yang justru sedang mengkhianatinya.