NovelToon NovelToon
AKU MILIKMU

AKU MILIKMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:422
Nilai: 5
Nama Author: MR1991

Di masa perkuliahan, di sela petualangan dan kebersamaan, benih cinta tumbuh tulus di antara Doni dan Kristin. Hati mereka saling tertaut, menyusun janji dan harapan akan masa depan. Namun setelah lulus, takdir masing-masing membawa mereka berdua ke jalan yang berbeda. Cinta yang sempat bersemi indah pun terpaksa terhenti, dan mereka berpisah — membiarkan waktu dan jarak memisahkan raga, meski perasaan itu tak sepenuhnya hilang. Beberapa tahun kemudian, takdir kembali menyatukan mereka. Saat mata mereka saling bertemu, kenangan lama bangkit seketika. Perasaan yang sempat terpendam seakan kembali menyapa, utuh seperti sedia kala. Namun kini keduanya bukan lagi anak muda yang dulu tanpa beban. Banyak hal telah berubah, banyak hal telah mengisi hidup mereka masing-masing. Di hadapan perasaan yang kembali menyapa, satu pertanyaan menggantung di udara: apakah kali ini mereka akan bersatu, atau justru kembali melanjutkan jalan masing-masing dengan kenangan yang tersimpan rapi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENGAKUAN DONI PADA TEMANNYA

Di dalam kamarnya yang hangat, Kristin masih terbaring sambil menatap langit-langit kamar dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya. Setiap kali ia teringat perkataan Doni tadi sore, hatinya terasa berdebar kencang dan hangat. Ia sama sekali tak menyangka bahwa lelaki yang selama ini ia anggap dingin dan sulit didekati itu bisa mengucapkan kalimat yang begitu menyentuh hati. Perlahan, benak Kristin mulai melayang kembali pada masa-masa awal pertemuan mereka. Saat pertama kali melihat Doni, ia dengan polosnya melabeli lelaki itu sebagai makhluk aneh yang datang dari kutub selatan—sosok yang tampak dingin, jauh, dan tak tersentuh. Namun seiring berjalannya waktu, terlebih dahulu saat mereka berkemah di dalam hutan, Doni menunjukkan perhatian kecil yang tak pernah ia lupakan. Saat itu Doni diam-diam menjaganya hingga ia terlelap dalam tidurnya yang nyenyak. Sejak saat itu, pandangan Kristin perlahan berubah. Ia mulai menyadari bahwa di balik sikapnya yang terlihat kasar dan seperti berandalan, tersimpan hati yang lembut dan tulus.

Namun tiba-tiba, senyum di wajah Kristin perlahan memudar. Sebuah pertanyaan kembali muncul di benaknya dan membuat hatinya kembali gelisah. Jika memang tak ada hubungan apa pun antara Doni dan Nisa, mengapa Nisa datang sendiri hingga ke rumah Doni? Dan lebih dari itu, Nisa bahkan rela menunggu di sana hanya untuk menunggu Doni dari mengantarnya pulang. Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya, hingga ia teringat kembali kejadian di dalam hutan tempo hari. Saat itu ia tak sengaja mendengar percakapan mereka, dan Doni dengan tegas memperjelas bahwa tak ada hubungan apa pun di antara mereka. Kristin mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Doni telah berkata begitu, dan aku percaya padanya. Dengan hati yang mulai tenang, Kristin menarik selimut hingga ke dada, lalu memejamkan matanya. Ia pun terlelap dalam tidurnya sambil berdoa dalam hati, semoga benar-benar tak ada apa-apa di antara Doni dan Nisa.

Sementara itu, di rumah Doni pada waktu yang sama, suasana ruang tamu terasa hening dan agak berat. Doni duduk diam di sofa, menatap lurus ke arah lantai tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Di hadapannya, Nisa duduk dengan tenang namun matanya menatap tajam ke arah pemuda itu. Keheningan itu akhirnya pecah ketika Nisa membuka suaranya.

"Jujurlah, Doni..." ucap Nisa pelan namun tegas. "Apakah sekarang kau sudah menjalin hubungan dengan Kristin?"

Doni mendongak perlahan, menatap wanita itu dengan tatapan yang datar dan tenang. "Itu bukan urusanmu," jawab Doni singkat.

Nisa menghela napas panjang, lalu menatapnya lekat-lekat. "Apa salahnya jika kau jujur saja padaku?"

Doni berdiri perlahan, suaranya terdengar tegas dan tak terbantahkan. "Jujur atau tidaknya perasaanku... itu sama sekali tak ada hubungannya denganmu."

Nisa terdiam sejenak, lalu akhirnya tersenyum tipis dan mengangguk pelan. "Baiklah... aku tak akan memaksamu. Aku hanya ingin mengingatkan satu hal. Jangan sampai Kristin menyesal karena telah memilih untuk bersamamu. Dan satu hal lagi..." Nisa menatapnya dalam, "jangan pernah kau patahkan hatinya."

Setelah mengucapkan itu, Nisa berdiri dan melangkah pergi meninggalkan rumah itu. Doni hanya diam di tempatnya, duduk kembali sendirian dalam keheningan yang panjang, tanpa sepatah kata pun terucap untuk menahan langkah wanita itu.

 

Keesokan harinya, kegiatan pembinaan baru dimulai menjelang sore hari. Hal itu dikarenakan pagi hingga siang harinya mereka masih memiliki jadwal perkuliahan di kelas. Sore itu, di lapangan terbuka kampus yang luas, Doni berdiri di hadapan para peserta baru sebagai pemberi materi. Ia berdiri tegak dengan penampilan yang sederhana namun berwibawa, menjelaskan hal-hal penting dengan suara yang tegas dan lantang.

Di antara barisan peserta, Kristin duduk termenung sambil menatap wajah Doni. Matanya tak lepas dari sosok pemuda itu, seakan tak ingin melewatkan satu pun gerak-geriknya. Pikirannya melayang jauh, teringat kembali perkataan-perkataan Doni kemarin sore hingga membuatnya tak sadar bahwa ia sedang melamun di tengah kegiatan. Di sebelahnya, Ari memperhatikan tingkah Kristin yang sedemikian rupa, lalu hanya tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya pelan.

Belum lama berselang, suara tegas Doni tiba-tiba terdengar memecah lamunan Kristin. "Kristin!"

Kristin tersentak kaget dan seketika tersadar. Ia mendongak dan mendapati Doni sedang menatapnya dengan tatapan yang tajam.

"Kau tidak fokus mendengarkan," ucap Doni dengan nada yang tak bisa dibantah. "Lakukan lari keliling lapangan bola sebanyak lima putaran. Sekarang!"

Wajah Kristin seketika memerah padam. Di hadapan banyak orang, ia merasa malu sekaligus segan. Namun tak ada yang bisa ia lakukan selain menurut. Dengan langkah berat, Kristin bangkit dan mulai berlari mengelilingi lapangan yang luas itu. Keringat mulai menetes membasahi wajahnya, namun ia terus berlari tanpa berhenti. Di tempat mereka berkumpul, Kevin, Rangga, dan Adit hanya bisa menahan tawa melihat kejadian itu, sementara Doni tetap berdiri tegak di tempatnya seakan tak merasa bersalah sedikit pun.

Setelah menyelesaikan hukumannya dan kembali ke barisan dengan napas yang terengah-engah, Doni baru melanjutkan penjelasan materinya seakan tak ada hal yang terjadi. Kegiatan pun berlanjut hingga selesai sepenuhnya.

Matahari mulai terbenam ketika mereka semua berberes hendak pulang. Cintya berpamitan lebih dulu karena hendak menemani sepupunya berbelanja. Sedangkan Ari, Joel, Bobi, dan Jeki segera berangkat pulang bersama menggunakan mobil Jeki. Tinggallah Kristin yang masih berjalan perlahan meninggalkan lapangan. Ia mendongak menatap langit yang mulai berubah menjadi kelabu. Angin bertiup cukup kencang membawa udara dingin, dan sepertinya hujan tak lama lagi akan turun. Kristin mempercepat langkahnya, berniat segera keluar dari lingkungan kampus sebelum hujan turun.

Namun tiba-tiba, suara deru motor terdengar mendekat. Kristin menoleh dan mendapati Doni mengendarai motornya berhenti tepat di sampingnya.

"Naiklah," ucap Doni singkat sambil menatap langit yang semakin gelap. "Sebelum hujan turun."

Kristin tak berpikir dua kali. Ia segera naik ke atas motor di belakang Doni. "Terima kasih, Kak," ucapnya pelan sambil memegang ujung jaket Doni.

Belum jauh mereka berkendara, rintik hujan mulai turun dan perlahan berubah menjadi deras. Air hujan membasahi pakaian mereka berdua, membuat udara terasa semakin dingin. Doni kemudian membelokkan arah motornya menuju sebuah tempat yang cukup dikenal sebagai tongkrongan biasa tempatnya berkumpul.

Sesampainya di sana, Doni memarkir motornya di bawah atap peneduh. Mereka berdua segera berlindung di beranda bangunan itu.

"Kakak sering ke sini?" tanya Kristin pelan sambil menatap sekeliling tempat itu.

Doni mengangguk singkat. "Iya." Lalu ia menatap Kristin. "Jika kau merasa tak nyaman di sini, katakan saja. Kita bisa pergi mencari tempat lain."

Kristin tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, Kak. Lebih baik kita menunggu di sini sampai hujan reda. Aku tidak keberatan."

Belum lama berselang, seorang pemuda berbadan tegap keluar dari dalam bangunan itu. Ia menyapa Doni dengan akrab, lalu seketika matanya tertuju kepada Kristin.

"Waah, Doni..." seru pemuda itu sambil tersenyum menggoda. "Siapa ini? Apakah ini pacarmu?"

Doni menatap pemuda itu dengan wajah datar. "Raka, jangan ikut campur urusanku. Lebih baik kau kembali dan bermain kartu bersama yang lain di dalam."

Raka hanya tertawa kecil mendengar jawaban Doni, lalu melangkah masuk kembali. Namun hati Kristin seketika merasa terasa sesak. Mengapa Doni tidak menjelaskan apa-apa? Apakah ia tak mau mengakui keberadaanku di depan temannya? batin Kristin bertanya dalam hati.

Doni seakan tak menyadari perubahan perasaan Kristin. Ia mengajak gadis itu duduk di salah satu meja yang tersedia, lalu memesan dua porsi sate. Udara yang dingin membuat perut Kristin terasa lapar. Tak lama kemudian, sate itu pun datang. Dengan lahapnya dan seketika, Kristin menghabiskan sate itu hingga tak bersisa. Doni yang duduk di hadapannya hanya tersenyum tipis melihat tingkah Kristin yang begitu polos.

Tak lama setelah itu, beberapa orang pemuda yang tampak seperti berandalan mendekati meja mereka. Salah satunya kembali menanyakan hal yang sama persis seperti yang ditanyakan Raka tadi. "Don, siapa gadis cantik ini? Pacarmu ya?"

Kristin menatap Doni dengan hati yang berdebar kencang, berharap kali ini Doni akan mengucapkan sesuatu. Namun sama seperti tadi, Doni hanya terdiam tanpa menjelaskan satu hal pun. Kristin pun menundukkan wajahnya. Rasa bahagia yang ia rasakan kemarin sore perlahan hilang, berganti dengan perasaan kecewa. Ternyata benar, Doni memang sosok yang sikapnya selalu berubah-ubah.

Namun tiba-tiba, Doni berdiri dari tempat duduknya. Ia menatap para pemuda itu satu per satu hingga mereka terdiam menunggu apa yang hendak dikatakannya.

"Dengarkan baik-baik..." ucap Doni dengan suara yang tegas dan penuh wibawa. "Kalian semua harus mengingat dan menghafal wajah gadis ini."

Para pemuda itu saling pandang, lalu salah seorang dari mereka bertanya, "Untuk apa, Don?"

Doni menatap mereka lekat-lekat, lalu dengan suara yang lantang dan tegas ia menyampaikan pengakuannya di hadapan mereka semua. "Dia adalah pasanganku. Kristin. Jika suatu hari nanti kalian melihatnya sedang dalam kesulitan di jalan mana pun, kalian harus segera datang menolongnya. Ingat pesanku ini."

Para pemuda itu seketika bersorak dan berteriak dengan suara yang riuh. "Wah, ternyata batu yang keras pun akhirnya bisa luluh juga! Siapa sangka Doni yang sedingin es ternyata punya hati juga!" Tawa mereka terdengar riuh namun penuh keakraban.

Wajah Kristin seketika memerah padam, namun kali ini bukan karena malu, melainkan karena bahagia yang meluap-luap. Ternyata Doni bukan tak mau mengakuinya. Ia hanya ingin mengatakannya dengan cara yang begitu tulus dan berarti. Kristin tersenyum bahagia menatap punggung pemuda itu.

Tak lama kemudian, hujan pun mulai reda. Doni berpamitan kepada teman-temannya dan mengajak Kristin pulang. Sebelum naik ke atas motor, Doni melepaskan jaket yang dikenakannya lalu menyampirkannya ke bahu Kristin. "Pakai ini. Agar kau tidak kedinginan sepanjang jalan," ucapnya pelan.

Sepanjang perjalanan, Kristin memeluk pinggang Doni dari belakang dengan perasaan yang penuh kehangatan. Ia pun memberanikan diri bertanya, "Kakak sudah kenal dengan mereka sejak kapan?"

Doni menjawab dengan tenang, "Sejak kami masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Raka adalah salah satu teman sekelasku dulu yang kemudian berhenti sekolah. Mereka adalah orang-orang yang selalu menemaniku sejak kecil."

Kristin pun akhirnya paham. Tak heran jika terkadang sikap dan pembawaan Doni terlihat seperti berandalan. Itu karena lingkungan tempat ia tumbuh dan berteman sejak kecil. Namun di balik itu semua, Doni tetaplah sosok yang tulus dan baik hati.

Sesampainya di depan rumah Kristin, Doni ikut turun. Kristin menatapnya. "Kakak langsung pulang atau mampir sebentar?"

Doni melirik pintu rumah yang terbuka sedikit, lalu tersenyum tipis. "Lebih baik aku mampir sebentar. Aku takut jika aku langsung pergi, Mamamu akan berpikir yang tidak-tidak tentangku."

Mereka pun melangkah masuk ke dalam rumah. Kristin mempersilakan Doni duduk sejenak di ruang tamu, lalu ia berpamitan untuk mandi dan berganti pakaian terlebih dahulu. Tak lama kemudian, Mamanya keluar dari arah dapur sambil membawa dua gelas minuman hangat. Ia menghampiri Doni yang masih sedikit basah terkena percikan air hujan, lalu menyodorkan minuman itu dengan senyum yang hangat dan penuh arti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!