Aynara terpaksa menikah dengan Aksa karena perjanjian kedua kakek mereka. Pernikahan itu diikat satu syarat: jika mereka bercerai sebelum satu tahun, Aynara harus membayar denda 10 miliar, sementara Aksa akan kehilangan haknya sebagai pewaris keluarga Wicaksono.
Namun, usai janji suci diucapkan, Wicaksono mengalami kecelakaan dan terbaring koma.
Merasa tak ada lagi yang bisa mengaturnya, Aksa berkata kepada Aynara, "Pernikahan ini terjadi karena Kakek. Aku sama sekali gak suka, apalagi mencintaimu. Dunia kita beda. Mulai sekarang, kita jalani hidup masing-masing sampai tiba waktunya bercerai."
Aynara terpaksa menelan kenyataan pahit itu. Namun, takdir mengubah segalanya ketika kecelakaan merenggut nyawa Aksa.
Regan, pembelot yang sedang diburu organisasi kriminal, memanfaatkan kematian Aksa untuk menyelamatkan dirinya.
Aynara tidak pernah tahu bahwa suami yang ia benci telah mati. Dan pria yang kini hidup sebagai Aksa adalah orang asing yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Rahasia di Balik Sebuah Foto
Sebuah kemungkinan langsung muncul di kepalanya. "Jangan-jangan uangnya lewat Aksa."
Wajah Aynara berubah kesal. "Kalau benar begitu..." Ia mengepalkan tangan. "Berarti Aksa gak pernah ngasih uang dari Kakek ke aku."
Kalau Wicaksono mengira dirinya sudah menerima uang tersebut, sementara kenyataannya ia tidak mendapatkan apa pun, bukankah itu bisa membuat namanya buruk di hadapan sang kakek?
"Jangan-jangan dia malah bikin Kakek mengira aku hidup dari uang yang dia kasih."
Aynara mendengus. "Aksa sialan!"
Tangannya mengepal dan kakinya hampir saja terangkat untuk menendang batang pohon di sampingnya. Namun ia berhenti. Ia menatap pohon tersebut.
"Kenapa aku mau nendang pohon ini, dia 'kan gak salah apa-apa." Aynara menurunkan kakinya. "Yang sakit nanti juga kaki aku sendiri."
Ia menghela napas panjang. "Kenapa aku malah melampiaskan amarah sama pohon?"
Aynara menggeleng, lalu kembali teringat Wicaksono. Bagaimanapun, pria itu adalah kakek mertuanya.
Memang Wicaksono yang memaksanya menikah dengan Aksa, tetapi pria itu juga tidak pernah memperlakukannya dengan buruk.
Bahkan Asti mengatakan bahwa kakeknya memberikan sesuatu kepadanya.
"Ya sudahlah."
Aynara memasukkan ponselnya ke dalam tas. "Lebih baik aku jenguk Kakek."
Ia kemudian memesan taksi dan meninggalkan tempat itu menuju rumah sakit.
***
Matahari mulai condong ke ufuk barat ketika Aynara tiba di rumah sakit.
Setelah turun dari taksi, ia segera menuju ruang rawat Wicaksono. Namun, baru beberapa langkah mendekati pintu, seorang perawat menghentikannya. "Maaf, Nona. Mau menemui siapa?"
"Saya mau menjenguk Kakek Wicaksono."
Perawat itu memerhatikan Aynara dari atas sampai bawah. "Apa hubungan Nona dengan pasien?"
"Saya cucu menantunya."
Perawat mengernyit samar. "Maaf, Nona. Saya belum pernah melihat Nona sebelumnya. Saya juga perlu memastikan identitas keluarga pasien sebelum mengizinkan seseorang masuk. Apalagi ini ruang rawat VIP."
"Saya mengerti," sahut Aynara. "Tapi saya memang istrinya Aksa Wicaksono."
Perawat itu masih tampak ragu.
Kebetulan seorang dokter yang baru keluar dari ruangan sebelah melintas di depan mereka. Melihat perawat sedang berbicara dengan seseorang di depan ruang rawat, dokter itu menghampiri.
"Ada apa?"
Perawat segera menjelaskan. "Dok, Nona ini ingin menjenguk Tuan Wicaksono. Katanya beliau cucu menantu pasien."
Dokter tersebut mengalihkan pandangan kepada Aynara.
"Nona..."
Ia terdiam sejenak. Wajah Aynara terasa familiar, tetapi dokter itu belum bisa mengingat dengan pasti.
Aynara justru mengenalinya. Dokter itu adalah dokter yang menangani operasi Wicaksono beberapa waktu lalu.
"Dokter yang mengoperasi Kakek Wicaksono, 'kan?"
Dokter tersebut mengernyit. "Anda mengenal saya?"
"Saya ada di sana waktu itu."
Dokter itu masih terlihat ragu.
Aynara kemudian menunjuk wajahnya sendiri. "Waktu itu wajah saya merah dan sembap karena alergi."
Mata dokter itu sedikit menyipit.
"Waktu itu ada ibu mertua saya, Aksa, dan seorang pria paruh baya yang bersama yang bersama kami."
Ia tersenyum tipis. "Kalau tidak salah, waktu itu hanya ada empat orang di depan ruang operasi.".
Tatapannya dokter itu kembali mengamati wajah Aynara. Beberapa detik kemudian, ekspresinya berubah.
"Oh..." Ia mengangguk pelan. "Saya ingat."
Dokter itu bahkan sempat tersenyum kecil. "Anda yang waktu itu wajahnya cukup parah karena alergi, bukan?"
Aynara tersenyum canggung. "Iya, Dok."
Dokter menoleh kepada perawat. "Benar. Saya ingat dia."
Perawat itu akhirnya mengangguk. "Baik, Dok."
Dokter kembali menatap Aynara. "Silakan masuk. Tapi jangan terlalu lama. Pasien masih dalam kondisi yang membutuhkan banyak istirahat."
"Baik, Dok. Terima kasih." Aynara kemudian menundukkan kepala sebagai tanda hormat sebelum melangkah memasuki ruang rawat.
Di belakangnya, perawat hanya bisa mengembuskan napas lega, lalu pamit melanjutkan tugasnya.
Sementara dokter itu masih sempat memandang punggung Aynara yang semakin menjauh.
Sulit dipercaya.
Gadis yang beberapa waktu lalu datang dengan wajah merah dan sembap karena alergi itu ternyata memiliki kecantikan yang begitu berbeda ketika kondisinya sudah pulih.
Penampilannya sederhana. Tidak ada riasan berlebihan, tidak ada aksesori mencolok, bahkan pakaian yang dikenakannya pun terlihat biasa saja. Namun justru kesederhanaan itu membuat kecantikannya semakin mudah terlihat.
"Ternyata secantik itu," gumam sang dokter tanpa sadar.
Ia menggeleng kecil, kemudian kembali teringat sesuatu.
Kalau dia benar-benar istri Aksa Wicaksono, kenapa penampilannya sesederhana itu?
Setahunya, keluarga Wicaksono dikenal sebagai keluarga berada. Namun perempuan tadi sama sekali tidak terlihat seperti seseorang yang hidup bergelimang kemewahan.
Bahkan pakaian yang dikenakannya pun tidak menunjukkan merek-merek mahal.
Sang dokter mengangkat bahu kecil.
Mungkin kehidupan pribadi keluarga Wicaksono memang bukan urusannya.
Ia melirik jam tangannya.
"Sudah, waktunya kembali bekerja."
Setelah itu, dokter tersebut berbalik dan melanjutkan langkah menuju ruang pemeriksaan berikutnya.
Sementara itu, Aynara melangkah masuk ke dalam ruang rawat. Pandangan matanya langsung tertuju pada Wicaksono yang terbaring tak berdaya di atas ranjang, dengan beberapa peralatan medis terpasang di tubuhnya.
Pria tua itu tampak begitu berbeda dari sosok tegas yang ia lihat saat pernikahan.
Aynara sebenarnya baru pertama kali bertemu Wicaksono saat pernikahan itu. Namun, ia sering melihat pria itu dalam foto-foto lama milik mendiang kakeknya. Ada banyak foto mereka berdua ketika masih muda.
Tertawa bersama. Berdiri berdampingan dalam berbagai kesempatan.
Bahkan ada satu foto yang membuat langkah Aynara terhenti. Dalam foto itu, Wicaksono sedang menggendong dirinya yang masih kecil. Ia tersenyum lebar sambil menimangnya, sementara mendiang kakeknya berdiri di samping mereka.
Aynara tidak pernah mengingat kejadian itu. Namun melihat foto tersebut membuat dadanya terasa hangat.
Ia perlahan mendekati ranjang, kemudian duduk di kursi yang berada di sampingnya. Beberapa saat ia hanya diam memandangi wajah Wicaksono.
Entah mengapa, tangannya terulur dan menggenggam jemari pria tua itu. Dingin. Aynara mengusapnya perlahan.
"Kenapa Kakek gak pernah datang menemuiku?"
Tentu saja tidak ada jawaban.
Aynara tersenyum tipis. "Kenapa Kakek punya perjanjian pernikahan seperti itu dengan Kakekku?"
Jemarinya masih mengusap tangan Wicaksono dengan lembut. "Mungkin kalau Kakek masih sadar, aku bisa tanya langsung."
Aynara terdiam. Anehnya, meskipun wajah Wicaksono terlihat pucat dan tubuhnya dipenuhi alat medis, ada perasaan hangat yang muncul di dalam dadanya. Seolah-olah ia sedang duduk di samping seseorang yang sebenarnya sudah lama mengenalnya.
"Aneh," gumamnya lirih.
Di luar kamar rawat, seorang pria baru saja meraih gagang pintu. Namun, sebelum sempat membukanya, pandangannya tertuju ke dalam ruangan.
Pintu itu ternyata tidak tertutup rapat. Dari celahnya, ia melihat seorang perempuan sedang duduk di sisi ranjang Wicaksono.
Perempuan itu menggenggam jemari Wicaksono.
Langkahnya terhenti, dahinya berkerut samar.
"Dia..."
Tatapannya terpaku pada Aynara.
Ada sesuatu yang membuatnya merasa pernah melihat perempuan itu.
...🔸🔸🔸...
...“Jangan terburu-buru menilai seseorang hanya dari apa yang terlihat. Bisa jadi, ada kebaikan yang belum kita pahami dan alasan yang belum sempat mereka jelaskan.”...
...“Kemandirian bukan berarti menolak semua bantuan, melainkan memiliki keberanian untuk berdiri sendiri tanpa menjadikan orang lain sebagai sandaran hidup.”...
...“Jangan menilai seseorang hanya dari apa yang terlihat hari ini, karena kita tidak pernah tahu cerita apa yang membentuknya di masa lalu.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
yang berbicara depan Resepsionis dengan Karyawan?
Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Sekarang, Aksa telah resmi menjadi CEO. Dan Aynara, juga sudah menjadi Istri CEO. 😂😂😂 Istri CEO memesona. 😂😂😂
Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏