NovelToon NovelToon
MENANTANG PARA DEWA

MENANTANG PARA DEWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:702
Nilai: 5
Nama Author: Kausafiksi.id

​"Jika menyelamatkan dunia harus mengorbankanmu... maka akan kubakar seluruh langit hingga menjadi debu!"

​Lima ratus tahun lalu, Bencana Langit merobek Benua Tianlan. Di tengah reruntuhan yang membara, Mo Xie hanya bisa menyaksikan tangan Chu Yurou—gadis yang dicintainya—hancur memudar menjadi serpihan cahaya. Janji polos masa muda mereka hancur, berganti menjadi dendam yang membakar jiwa.

​Berbekal Pedang Kehampaan yang terlarang dan Inti Es Purba di Dantiannya, Mo Xie bangkit dari abu kehancuran. Bersama Xue Qingyue—Peri Es dari Sekte Es Abadi—ia menelusuri batas dimensi demi mengumpulkan kembali serpihan jiwa yang hilang.

​Bagi para Dewa, ia hanyalah serangga fana yang menantang takdir. Namun bagi Mo Xie, selama jiwanya belum padam, takhta langit adalah sasaran berikutnya.

​"Dunia ini tidak lagi butuh penyelamat. Yang mereka butuhkan... adalah pembalasan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: INGATAN YANG HILANG

​"Coba gunakan teknik formasi teleportasi milikmu," ucap Mo Xie, melirik ke arah Xue Qingyue dengan sebelah alis terangkat.

​Mata kirinya yang bersinar biru gletser redup menatap pedang kristal dan gaun perak-biru milik praktisi wanita itu, berharap ada solusi cepat untuk memotong jarak ribuan mil yang membentang di depan mereka.

​Xue Qingyue menghentikan langkahnya sejenak. Ia berbalik setengah badan, menatap Mo Xie dengan tatapan datar yang sedingin es di sekeliling mereka. Jubah perak-biru di bahunya berkibar pelan saat ia menghela napas.

​"Formasi ruang dan perpindahan jarak jauh membutuhkan aliran Qi yang stabil dan koordinat yang tepat, Aku sudah menjelas kannya dari awal Mo Xie," jawab Xue Qingyue, suaranya terdengar anggun namun penuh penekanan.

​Ia mengangkat tangan kanannya, menunjuk ke arah langit selatan yang masih menyisakan rona ungu-kemerahan samar dari bekas celah dimensi.

​"Sisa-sisa Qi Kegelapan di wilayah ini telah mengacaukan struktur ruang di sekitar kita. Jika aku memaksa membuka pintu formasi es atau memindahkan kita sekarang, koordinat kita bisa bergeser. Kita bisa saja berakhir terjebak di dalam pilar es purba, atau lebih buruk... terlempar ke dalam retakan dimensi yang belum sepenuhnya stabil."

Mo Xie hanya menghela nafas, "Iya.. Iya... Aku hanya bertanya.

​Xue Qingyue kembali berbalik dan melanjutkan langkah kakinya yang anggun namun kokoh, membelah hamparan salju hitam yang tebal.

​"Jadi, simpan keluhanmu dan gerakkan kakimu. Perjalanan ini akan membersihkan sisa-sisa dampak korosif di tubuhmu jauh lebih cepat daripada jika kau hanya diam meratapi nasib."

​Mo Xie mendengus mendengar penjelasan logis tersebut. Ia tahu Xue Qingyue benar, namun membayangkan harus berjalan menembus badai es abadi dengan tubuh fana yang baru saja terkikis Qi Kegelapan bukanlah hal yang menyenangkan.

​"Baik, baik..." gumam Mo Xie setengah pasrah.

​Ia merapatkan jubah hitamnya yang koyak untuk menghalau terpaan angin sedingin silet yang mulai menusuk kulitnya.

​Dengan langkah berat namun pasti, sepatu kain tebalnya mulai menapak di atas salju hitam, menyusul langkah Xue Qingyue yang selalu tampak anggun tanpa cela.

​Di bawah langit merah membara yang perlahan menggelap, kesunyian malam Benua Tianlan kembali merayap di antara mereka. Hanya ada suara gesekan salju di bawah kaki dan deru badai belerang yang lamat-lamat mendingin di kejauhan.

​Setelah beberapa saat berjalan dalam keheningan yang panjang, Mo Xie melirik ke samping. Rasa penasaran yang sejak lama ia simpan akhirnya tidak bisa dibendung lagi.

​"Qingyue...?" panggil Mo Xie, memecah kesunyian malam.

​Xue Qingyue tidak menghentikan langkahnya, namun telinganya bergerak samar di balik helaian rambut seputih salju. "Ada apa?" sahutnya tenang.

​"Apa kau sudah lama bergabung di sekte?" tanya Mo Xie.

​Mata kirinya yang bersinar biru gletser redup menatap profil samping wajah Xue Qingyue yang selalu tampak menawan.

​"Maksudku... berada di bawah bimbingan Ketua Agung Han Wuyan dan mengabdi pada Sekte Es Abadi. Kau sudah berada di puncak ranah Awakened di usia yang terlihat masih sangat muda. Berapa lama kau telah menjalani semua ini?"

​Xue Qingyue terdiam sesaat. Langkah kakinya sedikit melambat, membuat bunyi gesekan salju di bawah kakinya terdengar lebih berirama.

​Matanya menatap lurus ke depan, ke arah pegunungan es abadi yang menjulang megah, seolah sedang memanggil kembali memori yang telah lama terkubur di bawah lapisan salju purba.

​"Sangat lama, Mo Xie," jawab Xue Qingyue akhirnya, suaranya terdengar lembut namun membawa beban sejarah yang berat.

​"Aku diadopsi oleh sekte sejak aku masih sangat kecil, saat Bencana Langit besar pertama meruntuhkan wilayah timur. Ketua Agung Han Wuyan yang menemukanku di antara pilar es purba yang hancur."

​Ia menyentuh pedang kristal di pinggangnya sekilas.

​"Bagi praktisi yang telah melampaui batas mortalitas, waktu berjalan dengan cara yang berbeda. Usia kami tidak lagi berputar seperti manusia biasa di ranah Mortal. Jadi, jika kau bertanya berapa lama... rasanya sudah berabad-abad aku berdiri di sisi Ketua Agung, menjaga batas utara dari kepunahan."

​Xue Qingyue kemudian menoleh sedikit, menatap Mo Xie dengan sepasang mata biru esnya yang tajam namun kini tampak lebih hangat.

​"Mengapa kau menanyakan hal itu? Apakah jalan ribuan mil ini sudah mulai membuat pikiranmu melantur?"

​"Entah kenapa..." Mo Xie bergumam pelan, pandangannya beralih dari profil Xue Qingyue ke telapak tangan kanannya sendiri yang terbalut kain hitam.

​"Aku merasa pernah tertidur cukup lama. Ratusan tahun, mungkin."

​Langkah kaki Xue Qingyue mendadak terhenti sepenuhnya.

​Keheningan malam di pegunungan es seakan membeku dalam satu waktu yang menegangkan.

​Wanita itu berbalik perlahan, jubah gaun perak-birunya memantulkan cahaya redup dari langit malam yang merah membara.

​Sepasang mata biru es miliknya menyipit tajam, menatap lurus ke dalam mata kiri Mo Xie yang membawa Inti Es Abadi dan mata kanannya yang hitam pekat. Ada riak keterkejutan yang sangat besar tertangkap di wajah anggunnya, sebelum ia dengan cepat menguasai dirinya kembali.

​"Tertidur... ratusan tahun?" bisik Xue Qingyue, mengulangi kata-kata Mo Xie dengan nada suara yang bergetar samar.

​"Apa yang membuatmu berpikir seperti itu, Mo Xie? Apakah ingatanmu yang hilang mulai menampakkan dirinya kembali?"

​Sebelum Mo Xie sempat menjawab, Inti Es Abadi di dalam dadanya mendadak berdenyut kencang—bukan dengan rasa sakit yang membakar, melainkan dengan sensasi dingin yang begitu murni hingga membuat napas Mo Xie tercekat.

​Di dalam kepala Mo Xie, kilas balik buram berkelebat dengan kecepatan ekstrem: bayangan langit Benua Tianlan lima ratus tahun lalu yang masih hijau, murni, dan utuh... momen mengerikan ketika daratan runtuh pecah menjadi benua melayang... dan sosok seorang gadis bergaun Kuning keemasan dan berambut keemasan yang memudar menjadi abu di depannya sembari membisikkan sebuah nama yang diukir di jiwanya.

​Yurou.

​"Aku tidak tahu," jawab Mo Xie, suaranya terdengar sangat rendah dan dalam, hampir tenggelam sepenuhnya oleh deru angin malam.

​"Setiap kali Qi Kegelapan dari pedang ini beresonansi dengan inti es di dadaku... ada bagian dari diriku yang terasa sangat asing, namun juga sangat akrab."

​Ia mengepalkan tangan kanannya hingga kain hitamnya berkerut.

​"Seolah-olah aku pernah menyaksikan secara langsung awal mula Bencana Langit yang menghancurkan dunia ini lima ratus tahun lalu... sebelum akhirnya terbangun di era hancur sekarang sebagai seorang praktisi ranah Mortal tanpa ingatan yang utuh."

​Xue Qingyue menatap Mo Xie dengan saksama selama beberapa saat, seakan mencoba membaca kedalaman jiwa pemuda itu dari balik pendar sepasang matanya.

​Perlahan, ia mengembuskan napas hangat yang langsung menguap putih di udara beku.

​"Jika apa yang kau rasakan itu benar..." Xue Qingyue menjeda kalimatnya, nadanya berubah menjadi sangat serius dan dingin.

​"Maka kau bukan sekadar korban selamat biasa dari celah dimensi, Mo Xie. Ada alasan yang jauh lebih besar mengapa Ketua Agung Han Wuyan bersikeras menyambutmu ke Sekte Es Abadi dan membiarkanmu membawa Pedang Kehampaan itu."

​Ia berbalik kembali dan mulai melangkah maju, namun kali ini tempo langkah kakinya jauh lebih cepat dan tegas.

​"Kita harus segera sampai ke Aula Utama sekte. Hanya Ketua Agung di ranah Ascendant yang bisa menjawab teka-teki tentang garis waktu dan keabadian jiwamu."

1
Septiana Athorid
Bagus dan menarik
Day Chuk
Novel yang Rekomen
Kausafiksi: terimakasih
total 1 replies
Pena Quality
keren
Kausafiksi: terimakasih 🙏
total 1 replies
Kausafiksi
best
Kausafiksi: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!