Galang Kurniawan, seorang pedagang makanan kecil bernasib sial yang hidupnya selalu jalan di tempat. Di malam terburuk dalam hidupnya ketika gerobaknya dihancurkan dan ia hampir menyerah, Galang tiba-tiba membangkitkan Sistem Kuliner Acak yang memaksanya berjualan di lokasi-lokasi aneh dengan hadiah gacha yang fantastis. Dimulai dari berjualan di rumah sakit, Galang harus menghadapi berbagai macam pelanggan baru, persaingan bisnis yang kotor, koki arogan yang meremehkannya, hingga tantangan memasak bahan-bahan langka dari sistem.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Petugas Dinas Kesehatan itu tersenyum sinis dan mengeluarkan sebuah map merah dari dalam tasnya.
"Kemarin sore ada laporan bahwa salah satu pelanggan kalian muntah darah dan menemukan silet berkarat di makanannya," tuduh petugas itu dengan suara keras agar didengar semua pelanggan.
Galang langsung menyadari bahwa ini adalah kelanjutan dari serangan Pak Wijaya kemarin sore.
Pengusaha licik itu pasti menggunakan uang dan relasinya di pemerintahan untuk memutarbalikkan fakta kejadian sabotase tersebut.
"Itu fitnah Pak, yang pura-pura muntah darah itu preman bayaran yang bawa silet dan sirup stroberi sendiri dari luar," jelas Galang dengan sangat tenang namun tegas.
"Banyak saksi mahasiswa di ruangan ini yang melihat kejadian aslinya kemarin."
Beberapa mahasiswa yang kemarin ikut makan serempak menganggukkan kepala membenarkan ucapan Galang.
"Iya Pak, itu mah akal-akalan preman saja, makanan di sini enak dan bersih kok," sahut seorang mahasiswi dari meja pojok.
Petugas itu sama sekali tidak peduli dengan pembelaan para pelanggan dan justru memberikan isyarat pada dua rekannya.
"Kami tidak butuh pembelaan sepihak dari konsumen, tugas kami adalah menyegel tempat ini sementara waktu untuk proses investigasi menyeluruh," putus pria berkacamata itu secara otoriter.
Salah satu rekan petugas itu mengeluarkan sebuah stiker merah besar bertuliskan DITUTUP SEMENTARA.
"Silakan kosongkan kedai ini sekarang juga, atau kami akan memanggil aparat penegak hukum untuk membubarkan kalian paksa," ancam petugas tersebut menyebarkan rasa takut.
Bima mengepalkan kedua tangannya bersiap untuk memukul petugas arogan itu saking beraninya mentalnya saat ini.
"Langkah bapak selangkah lagi menempelkan stiker itu, saya pastikan tangan bapak patah," desis Bima dengan mata melotot garang.
Galang buru-buru menahan bahu Bima agar tidak melakukan tindakan fisik yang bisa merugikan mereka di mata hukum.
"Tenang Mas Bima, jangan pakai kekerasan melawan aparat, kita bisa dituntut balik atas pasal penganiayaan nanti," bisik Galang menenangkan.
Galang kembali menatap petugas Dinas Kesehatan itu dengan pandangan sedingin es batu.
"Kalau Bapak mau melakukan investigasi kebersihan, silakan lakukan sekarang juga di depan mata saya," tantang Galang dengan suara bariton yang menggema di ruangan.
"Bapak boleh periksa seluruh sudut dapur saya, dari meja, rak kulkas, sampai ke dasar panci pembuangan."
"Kalau Bapak bisa menemukan satu ekor lalat mati atau satu helai rambut kotor saja di dapur saya, saya sendiri yang akan menempel stiker segel itu."
Petugas berkacamata itu sedikit terkejut melihat seberapa percaya dirinya penjual muda ini.
Biasanya pedagang kaki lima akan langsung gemetar ketakutan atau menyogok jika didatangi oleh petugas dinas untuk sidak.
"Baik, jangan salahkan saya kalau kami menemukan bahan busuk di dapurmu dan mencabut izin usahamu permanen," terima petugas itu sambil menyeringai licik.
"Ayo masuk ke dalam dan geledah semua persediaan bahan makanannya sampai ke sudut-sudutnya," perintahnya pada dua rekan yang lain.
Ketiga petugas berseragam dinas itu melangkah masuk ke area dapur beton Galang dengan langkah sangat angkuh.
Galang dan Bima mengikuti dari belakang, sementara puluhan mahasiswa ikut mengintip dari batas pintu karena penasaran.
Namun begitu ketiga petugas itu melangkah melewati sekat dapur, langkah kaki mereka mendadak terhenti kaku.
Mata mereka membelalak lebar melihat pemandangan di dalam area memasak yang sangat sibuk tersebut.
Dapur itu tidak hanya bersih, tetapi benar-benar higienis layaknya ruang operasi di rumah sakit bertaraf internasional.
Lantai betonnya mengkilap terang tanpa sedikit pun noda minyak atau kerak bumbu yang tumpah dari wajan.
Panci, wajan, dan spatula tergantung sangat rapi di dinding tanpa ada noda hitam gosong sedikit pun di pantatnya.
Bahkan udara di dalam dapur itu terasa sangat segar dengan aroma rempah murni, bukan bau amis khas pembuangan dapur restoran pada umumnya.
"Bagaimana Pak? Mau cek bagian mana dulu? Silakan buka kulkasnya kalau Bapak mau periksa," tawar Galang menyilangkan tangan di dada.
Petugas berkacamata itu menelan ludah dan mulai membuka penutup panci-panci besar milik Galang dengan tangan gemetar.
Klak.
Ia melihat kuah kaldu ayam yang sangat jernih tanpa ada buih kotoran atau gumpalan lemak berlebih yang mengambang.
Ia lalu membuka kotak-kotak penyimpanan sayuran dan menemukan semuanya terpotong rapi dengan tingkat kesegaran seratus persen.
Tidak ada sayur yang sedikit pun layu, tidak ada daging yang berbau aneh, dan sama sekali tidak ada tanda bahan kimia berbahaya.
"Ini... ini mustahil," gumam petugas itu mengusap keringat dingin yang mulai menetes di pelipisnya.
"Dapur hotel bintang lima yang sering kami sidak saja tidak mungkin sebersih dan sesteril ini saat sedang jam operasi penuh."
Kedua rekan petugasnya juga menggelengkan kepala tanda menyerah karena tidak menemukan satu pun celah kesalahan untuk mendenda Galang.
"Jadi bagaimana Pak hasil pemeriksaannya? Laporannya terbukti fitnah dan mengada-ada kan?" sindir Bima dari ambang pintu sambil bersedekap dada.
"Sekarang bapak mau menyegel kedai kami pakai alasan apa lagi? Alasan dapur terlalu bersih sehingga tidak masuk akal dan melanggar hukum?"
Puluhan mahasiswa yang menonton langsung bersorak mengejek ketiga petugas Dinas Kesehatan tersebut tanpa ampun.
Huuuu!
"Dasar petugas titipan koruptor, pulang sana jangan ganggu orang makan!" teriak mahasiswa paling belakang dengan suara melengking.
Wajah ketiga petugas itu berubah merah padam karena menanggung rasa malu yang luar biasa di depan publik.
Petugas berkacamata itu buru-buru memasukkan kembali stiker segel merahnya ke dalam map dengan gerakan kaku.
"Berdasarkan inspeksi dadakan siang ini, dapur kedai Anda dinyatakan memenuhi standar kesehatan secara penuh," ucap petugas itu dengan suara sangat pelan menahan gengsi.
"Kami akan segera merevisi laporan palsu tersebut ke kantor pusat, selamat siang."
Tanpa menunggu jawaban balasan dari Galang, ketiga petugas itu berjalan setengah berlari menembus kerumunan mahasiswa untuk keluar dari kedai.
Mobil dinas putih itu langsung tancap gas pergi meninggalkan halaman parkir secepat kilat.
Suasana kedai kembali riuh oleh tepuk tangan para pelanggan yang merasa menang melawan arogansi birokrasi pemerintah.
"Terima kasih atas dukungan saksi matanya teman-teman semua, mari kembali duduk dan lanjutkan makannya," ucap Galang membungkuk sopan ke arah pengunjung.
Galang masuk kembali ke dapurnya dan menghela napas panjang lalu bersandar di dinding beton.
Pak Wijaya terbukti benar-benar lawan yang sangat berbahaya karena berani menggunakan tangan pemerintah untuk membunuh usahanya.
"Kalau hari ini fitur asisten bayanganku tidak membersihkan dapur dengan kecepatan dewa, preman berdasi itu pasti sudah berhasil mencari-cari celah kesalahan," batin Galang penuh syukur.
Ia mengambil ponsel retak di sakunya dan memutuskan untuk mengirim pesan pada Nadia hari itu juga.
Ia butuh saran dan pandangan dari orang dalam perusahaan besar tentang bagaimana cara melawan pengaruh birokrasi dari penguasa bisnis licik seperti Wijaya.