NovelToon NovelToon
Dear My Destiny (Kepada Takdirku, Bersamamu)

Dear My Destiny (Kepada Takdirku, Bersamamu)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Romansa / Bad Boy
Popularitas:286
Nilai: 5
Nama Author: Bella Kristy Cecilia

Emily adalah seorang remaja cantik yang pintar dan dikenal sebagai juara di SMA Harapan Bangsa. Ia bertemu dengan Sean, seorang pria kaya raya yang hidupnya berantakan.

Mereka mulai saling mengenal dan akhirnya memutuskan menjadi sepasang kekasih. Namun, banyak sekali masalah yang harus mereka hadapi seperti restu keluarga, perbedaan visi dan misi, kepribadian dan pemikiran yang jauh berbeda, dan masih banyak lagi.

Apakah mereka berhasil bersama sampai akhir? Atau mereka memilih menyerah? Ikuti terus kisahnya!

IG = @bellakristyc_
Email = bellakristyc@gmail.com

Note : Author terinspirasi untuk menulis novel ini dari kisah nyata yang digabungkan dengan imajinasi. Apabila ada kesamaan nama tokoh, tempat, dan yang lainnya tidak ada yang disengaja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perang di Meja Belajar

Gema ketukan sepatu hak tinggi Victoria Blackwood perlahan memudar di balik lorong taman Kampus Sunway, menyisakan ketegangan pekat yang membekukan udara tropis siang itu.

"Mil! Sorry ya lama, tadi antrean di toilet panjang banget!"

Suara ceria Mei Ling memecah keheningan. Sahabatnya itu muncul dari balik rimbunan pohon palem sambil membawa dua piring curry mee hangat dan kantung berisi es teh. Mei Ling terhenti sejenak, mengedipkan matanya bingung saat melihat Sean berdiri kaku di samping Emily dengan wajah dingin yang menyala amarah.

"Eh... ada mas-mas ganteng lagi," bisik Mei Ling canggung, memelankan langkahnya.

Emily menghembuskan napas pelan, menyapu helai rambut hitamnya ke belakang telinga. Dalam hitungan detik, ekspresi wajahnya yang semula tegang dan tajam seketika melunak, kembali menjadi Emily Valencia, mahasiswi tingkat satu yang polos dan ramah.

"Nggak apa-apa, Mei," ujar Emily lembut seraya menerima mangkuk mi-nya. "Kenalin, ini Sean. Sean, ini Mei Ling, temen sekelas aku."

Sean mengendalikan dadanya yang bergolak emosi. Ia menarik napas panjang, menundukkan kepalanya sedikit pada Mei Ling dengan senyum kaku yang dipaksakan. "Halo, Mei Ling. Makasih ya udah nemenin Emily di kampus."

"Sama-sama, Mas!" sahut Mei Ling heboh, lalu berbisik pada Emily. "Gila ya, cowok kamu kalau lagi muka lempeng tetep ganteng banget..."

Tawa renyah kecil lolos dari bibir Emily. Di tengah ancaman raksasa investasi Wall Street yang baru saja dijatuhkan Victoria ke pundak mereka, momen-momen sederhana bersama teman kuliah seperti ini menjadi jangkar yang menjaga kewarasan Emily. Ia menolak untuk membiarkan ketakutan merusak masa mudanya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Sore harinya, hujan deras kembali mengguyur kawasan Subang Jaya. Bunyi gemertak air yang menghantam kaca jendela apartemen studio di SS15 mengiringi keheningan kamar yang hangat.

Aroma gurih bawang goreng dan uap panas Maggi Goreng buatan Sean memenuhi ruangan kecil berukuran dua puluh meter persegi itu. Sean yang biasanya memimpin puluhan direktur di ruang rapat Jakarta, kini duduk bersila di atas karpet empuk, mengenakan kaus oblong abu-abu tua dan celana santai. Tangannya yang biasa memegang pena emas jutaan rupiah kini telaten menyodorkan sepasang sumpit pada Emily.

"Makan dulu, Mil," bisik Sean lembut. Tangannya terulur membetulkan posisi kacamata tipis Emily yang agak melorot saat gadis itu sibuk menatap layar laptop. "Dari tadi siang kamu belum makan nasi."

Emily mendongak dari monitornya, menyunggingkan senyum hangat yang teramat tulus. "Makasih ya, Sean. Kamu pinter juga bikin mi goreng."

"Belajar demi kamu," kekeh Sean tipis, mengecup pelipis Emily dengan kelembutan yang teramat dalam.

Namun, di balik sikap perhatiannya, Emily tahu ada kecemasan besar yang menyiksa batin Sean. Batalnya ekspansi Wijaya Group di Jakarta mungkin berhasil diatasi, tetapi Blackwood Global Management di New York adalah monster finansial yang jauh lebih mengerikan. Victoria memiliki akses ke clearing house internasional yang sanggup membekukan arus kas Helios Capital hanya dalam hitungan hari.

Emily meletakkan sumpitnya, lalu menggenggam jemari Sean yang dingin di atas karpet.

"Sean... kita bedah skema Blackwood sekarang," ujar Emily dengan suara jernih dan tenang.

Sean menatap gadis di hadapannya, helaan napas berat lolos dari bibirnya. "Victoria nggak main-main, Mil. Keluarga Blackwood punya tiga puluh persen saham di lembaga pemeringkat kredit bursa New York. Kalau mereka menerbitkan rumor risikonya besok pagi, seluruh bank mitra Helios di Asia bakal panik dan menarik likuiditasnya."

Emily menyunggingkan sebuah senyuman penuh percaya diri yang memancarkan kecerdasannya sebagai lulusan terbaik Zurich.

"Itu kalau mereka pakai skema konvensional, Sean," sahut Emily seraya memutar layar laptopnya menghadap Sean. Layar itu menampilkan ratusan baris data transaksi rahasia berkode WallStreet-Offshore-88.

Dahi Sean berkerut dalam. "Ini... laporan leverage Blackwood?"

"Iya," tegas Emily, jemarinya menunjuk grafik penurunan modal yang tersembunyi di anak perusahaan Victoria. "Selama empat tahun aku di Swiss, aku nggak cuma belajar cara analisis saham. Aku memantau seluruh pergerakan keluarga Blackwood karena aku tahu suatu hari nanti mereka bakal mengusik warisan Ibumu."

Emily mendekatkan wajahnya, matanya berbinar tajam dari balik lensa kacamatanya.

"Victoria keliatan kuat karena dia meminjam modal sembilan puluh juta dolar dari konsorsium bank Jepang pakai jaminan obligasi palsu," bisik Emily dengan nada yang sangat memikat. "Dia pikir dia bisa menggertak kita pakai nama New York. Tapi kenyataannya kas Blackwood Global di Asia Tenggara sebenarnya kosong melompong!"

Sean membelalakkan matanya kaget. "Kamu... kamu nemuin celah akutansi mereka?"

"Tepat," senyum Emily melebar. "Victoria mau membekukan Helios besok pagi untuk menutupi kebangkrutan anak perusahaannya sendiri di bursa Singapura sebelum auditor New York datang minggu depan."

Rasa kagum yang tak terhingga membuncah di dalam dada Sean. Cowok itu menarik tubuh kecil Emily ke dalam pelukannya, memeluknya begitu erat seolah ingin menyerap seluruh kehebatan gadis itu.

"Kamu bener-bener jenius, Princess..." bisik Sean, suaranya bergetar haru. "Aku nggak salah menyerahkan seluruh hidupku ke tangan kamu."

Emily membalas pelukan Sean, membenamkan wajahnya di dada bidang yang bernapas teratur itu. Kehangatan ini, rasa saling percaya ini, adalah alasan mengapa ia mau terus berjuang tanpa kenal lelah.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Keesokan harinya, pukul 09.00 pagi. Gedung Auditorium Utama Universitas Sunway.

Gedung berkapasitas lima ratus orang itu dipadati oleh mahasiswa baru, jajaran dekan, serta puluhan tamu undangan eksekutif dari berbagai bank internasional di Kuala Lumpur. Hari ini diselenggarakan International Banking & Market Liquidity Symposium, sebuah seminar bergengsi yang dihadiri oleh praktisi finansial papan atas.

Di atas panggung utama yang megah, Victoria Blackwood berdiri dalam balutan setelan blazer merah menyala. Dengan gaya bicara yang sangat dominan, percaya diri, dan penuh pesona khas Wall Street, ia menyampaikan presentasinya tentang penguasaan modal global.

Di barisan kursi tengah, Emily duduk tenang berdampingan dengan Mei Ling. Emily mengenakan pakaian maba sederhananya: kemeja putih berlapis kardigan rajut warna abu-abu, celana jins gelap, dan kacamata tipisnya. Di pangkuannya, terbaring sebuah tablet terenkripsi yang terhubung langsung ke sistem bursa efek Malaysia.

"Sekian paparan dari saya," ujar Victoria seraya menyapu pandangannya ke seluruh auditorium dengan senyum kemenangan yang amat tinggi. "Di era modern ini, perusahaan kecil di Asia Tenggara tidak akan pernah sanggup bertahan tanpa perlindungan modal dari lembaga raksasa seperti Blackwood Global. Apakah ada pertanyaan dari hadirin?"

Victoria sengaja melempar pandangannya ke arah Emily, menantikan raut wajah ketakutan dari mahasiswi beasiswa yang ingin ia hancurkan itu.

Namun, Emily berdiri dari kursinya secara perlahan.

Seluruh isi auditorium menoleh ke arah mahasiswi baru berdandan sederhana itu. Mei Ling membelalakkan matanya panik, berbisik pelan, "Mil! Kamu mau nanya apa ke eksekutif New York itu?!"

Emily tidak menghiraukan kepanikan di sekitarnya. Ia mengambil mikrofon berdiri di lorong bangku, membetulkan posisi kacamatanya, lalu menatap lurus ke arah Victoria di atas panggung.

"Terima kasih atas kesempatannya, Nona Blackwood," suara Emily mengalun sangat jernih, tenang, dan tajam menyengat dalam bahasa Inggris yang amat fasih. "Paparan Anda tentang efisiensi modal sangat menarik. Namun, saya punya satu pertanyaan sederhana mengenai kepatuhan aturan Basel III."

Victoria menyipitkan matanya, mengukir senyum cemooh. "Silakan, Mahasiswi Baru. Tanyakan apa saja yang tidak kamu pahami dari dunia kelas atas."

Emily menyunggingkan senyuman dingin yang mendadak membuat bulu kuduk Victoria berdiri.

"Bagaimana respon Blackwood Global," lanjut Emily dengan nada suara yang ditinggikan agar terdengar jelas oleh seluruh tamu bankir internasional di panggung VVIP, "jika Otoritas Jasa Keuangan Malaysia dan Singapura pagi ini secara resmi menahan izin transaksi likuiditas Anda... akibat ditemukannya pinjaman offshore tanpa jaminan sebesar sembilan puluh juta dolar di anak perusahaan Anda di Labuan?"

BOOM!

Pertanyaan itu bagaikan gumpalan dinamit yang meledak di tengah keheningan auditorium.

Para perwakilan bank internasional di meja VVIP seketika berdiri dari kursi mereka dengan wajah pucat kaget, mulai berbisik-bisik gempar. Rektor dan dosen-dosen senior saling bertukar pandang tak percaya.

Wajah Victoria yang semula penuh percaya diri seketika berubah pucat pasi bagaikan mayat. Tangannya yang memegang pemicu slide bergetar hebat. "Kamu... dari mana kamu dapat angka itu?! Itu informasi rahasia internal!"

"Data tersebut bukan lagi informasi rahasia, Nona Blackwood," jawab Emily datar seraya mengangkat tabletnya yang menyala. "Karena lima menit yang lalu, Helios Capital selaku pemegang obligasi sah telah menyerahkan laporan audit investigatif itu ke Bank Negara Malaysia."

Tepat pada detik itu, pintu kaca belakang auditorium terdorong terbuka.

Empat orang pejabat berwenang dari Otoritas Pasar Modal Malaysia atau Securities Commission Malaysia melangkah masuk dengan wajah kaku dan tegas. Mereka berjalan lurus menuju panggung utama, menyodorkan surat perintah penyidikan resmi ke hadapan Victoria Blackwood.

"Nona Victoria Blackwood," ujar petugas utama dalam bahasa Melayu dan Inggris. "Anda diminta ikut bersama kami ke kantor pusat untuk memberikan klarifikasi atas tuduhan pemalsuan obligasi dan manipulasi likuiditas bursa."

Kamera-kamera humas kampus dan media finansial lokal yang hadir seketika menyala, mengabadikan momen di mana Ratu Wall Street itu membeku tak berdaya di atas panggung, hancur total oleh skakmat telak seorang mahasiswi baru berpenampilan sederhana.

Di sudut paling belakang auditorium yang remang, Sean berdiri bersandarkan dinding. Mengenakan kaus hitam santai dan topi kastinya, Sean menatap Emily dengan binar mata yang dipenuhi rasa bangga, haru, dan cinta yang tak terhingga.

Emily menoleh ke arah belakang auditorium, membetulkan kacamatanya, lalu melempar senyum manis nan lepas pada Sean. Perang Wall Street di Sunway telah mereka menangkan secara mutlak.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Malam harinya, pukul 20.00. Kedai Mamak SS15, Subang Jaya.

Suara riuh klakson kendaraan, derai tawa warga lokal, dan aroma gurih Roti Canai Telur yang baru diangkat dari wajan menyambut keheningan malam yang sejuk.

Di meja plastik berwarna merah langganan mereka, Emily dan Sean duduk berhadapan. Di atas meja, terhidang dua piring roti canai hangat, sepinggan kuah dhal pedas, dan dua gelas Teh Tarik Ais dengan busa melimpah.

Emily menyingsingkan lengan kemeja putihnya, mencelupkan potongan roti canai ke dalam kuah dhal lalu melahapnya dengan nikmat.

"Enak banget!" cetus Emily riang, matanya berbinar bahagia dari balik kacamata tipisnya.

Sean terkekeh hangat, mengusap pelan bercak kuah kari di sudut bibir Emily dengan tisu dapur. "Pelan-pelan makannya, Princess. Nggak ada yang bakal merebut makanan kamu."

"Aku laper banget, Sean!" kekeh Emily. "Dari pagi ngadepin dosen, terus ngadepin Victoria di auditorium... energi otakku bener-bener ludes!"

Sean menopang dagunya dengan sebelah tangan, memperhatikan raut wajah Emily yang kini begitu lepas tanpa beban. Di kedai murah seharga delapan ringgit ini, Emily terlihat begitu cantik, nyata, dan sangat manusiawi. Tak ada lagi ancaman dari keluarga Wijaya, tak ada lagi gertakan dari Gabriel Setiawan, dan Victoria Blackwood kini sedang sibuk berhadapan dengan hukum di Kuala Lumpur.

"Makasih ya, Mil," bisik Sean tulus, jemari tangannya terulur menggenggam erat telapak tangan Emily yang halus di atas meja plastik. "Kamu udah mengembalikan seluruh hak waris Ibuku, dan kamu udah menyelamatkan aku dari neraka itu."

Emily tersenyum hangat, membalas genggaman tangan Sean dengan kehangatan yang amat tulus. "Kita kan udah janji... kita bakal bangun masa depan kita sendiri di sini."

Suasana malam di SS15 terasa begitu damai dan sempurna. Dua insan yang dulu terluka oleh kekejaman keluarga masing-masing kini telah berhasil merebut kembali takhta kehidupan dan cinta sejati mereka di tengah kesederhanaan kota Kuala Lumpur.

Namun, di tengah momen bahagia itu, ponsel milik Sean yang tergeletak di meja mendadak bergetar pelan.

Sebuah panggilan masuk terenkripsi dari nomor rahasia berstempel dinas pengadilan internasional muncul di layar.

Sean menggeser layar dan menempelkan ponsel itu ke telinganya. "Halo?"

Suara seorang pengacara senior di Zurich terdengar dari seberang telepon dengan nada yang amat serius dan tergesa-gesa:

"Tuan Sean Anderson, almarhumah Ibu Anda tidak hanya meninggalkan dana seratus juta dolar di Singapura. Surat wasiat rahasia tahap akhir baru saja dibuka di Mahkamah Swiss malam ini. Dan seluruh sisa kepemilikan saham utama Anderson Group di Jakarta secara sah telah dihibahkan penuh atas nama tunggal, yaitu Emily Valencia."

Napas Sean seketika tercekat. Matanya membelalak menatap Emily yang sedang tersenyum manis meminum teh tarik dinginnya.

Gadis kacamata sederhana di hadapannya ini... kini secara sah telah menjadi pemilik mutlak dari seluruh raksasa bisnis Anderson Group.

Bersambung......

1
Alia Chans
Hadir atuuu/Smile//Smile/
Bella: haloo kakk, makasihh yaa 🥰 enjoy ceritanyaa 💖
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!