Dia kehilangan segalanya dalam sekejap.
Kecelakaan merenggut nyawa pria yang paling mencintainya, meninggalkan hanya rekaman suara terakhir...yang tiba-tiba menghilang.
Di balik air mata dan luka, Silvia Pliis menemukan rahasia besar yang tidak pernah dia ketahui dari pria yang mencintainya.
Antara cinta yang tak sempat tersampaikan, persahabatan yang setia, dan intrik keluarga penuh ambisi...ia harus memilih:
Tetap jadi gadis polos yang dilindungi, atau membuka pintu menuju kebenaran yang akan menghancurkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momowen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Emosi
Victor mendengus kesal. Ia merapikan dasinya, lalu berdeham pelan. Setelah turun dari mobil, Victor melirik sekilas ke arah Kelvin yang berdiri di depan pintu hotel. Namun, ia langsung berblaik dan berjalan menuju pintu mobil tempat Wendy berada.
Victor sedikit membungkukkan tubuh. Telapak tangannya terbuka ke atas, dengan mantap menopang telapak tangan Wendy yang hangat.
Wendy tersenyum manis dan bersandar ke dalam pelukannya. Keduanya sama sekali melupakan putri mereka yang masih duduk diam di dalam mobil, memperhatikan mereka dari balik jendela.
Silvia dan Nelia saling bertukaran pandangan, keduanya hanya bisa menghela napas bersamaan.
Nelia membuka pintu mobil. Ia menirukan gerakan Victor tadi dengan gaya berlebihan, lalu menggenggam tangan Silvia dari bawah, “Silakan, Princessku.”
Silvia mengangkat sebelah alis. Sudut bibirnya sedikit terangkat, ikut meladeni tingkah Nelia, “Terima kasih, Yang Mulia.”
Kelvin yang menyaksikan tingkah mereka hanya berdiri dengan wajah dingin. Namun, tanpa disadari siapa pun, seulas senyum tipis sempat muncul di matanya.
Setelah Wendy diam-diam mencubit pinggang Victor, pria itu akhirnya berhasil menahan emosinya, “Silvia, ayok kita masuk.”
Kelvin mengangguk dan mengangkat satu tangan, memberi isyaarat agar mereka mengikutinya. Kedua orang tua itu terlebih dahulu masuk ke ruang privat bersama pelayan restoran.
Kelvin diam-diam melirik Silvia yang berdiri di samping Nelia. Silvia menyadari abangnya yang masih berdiri di tempat, “Bang.”
Tatapan Kelvin yang semula dingin perlahan mencair. Kabut yang selama ini menyelimuti matanya seolah tersibak, memperlihatkan kehangatan yang tersembunyi jauh di dalam dirinya.
“Hmm.” Kedua tangan Kelvin tetap berada di dalam saku celananya. Suaranya masih terdengar dingin, “Bagaimana keadaanmu?”
Silvia sedikit terkejut. Ia mengangkat wajah dan menatap mata Kelvin, “Sudah lumayan.”
Melihat percakapan kakak beradik itu yang begitu kaku, Nelia mengerucutkan bibirnya, “Bang Kelvin, memangnya Anda tidak berniat membiarkan kami naik untuk makan?”
“Ehem.” Kelvin sampai kehabisan kata-kata karena ucapan Nelia. Ia bergeser sedikit ke samping, “Silakan.”
Di dalam ruang privat, lampu-lampu kristal memancarkan cahaya terang. Suasana terasa hangat dan penuh keakraban.
Wendy terus mengambilkan makanan untuk Silvia, “Silvia, makanlah yang banyak.”
Di sisi lain, Victor siam-diam menggulung lengan kemejanya. Ia bahkan mengupas sendiri kulit udang dan meletakkan daging udang yang besar ke dalam mangkuk Wendy.
Meliana melihat perhatian semua orang tertuju pada putrinya yang selama ini nyaris tidak pernah dianggap penting. Ia tersenyum lalu memutar piring ikan kukus di hadapan Victor, “Tuan Victor, cobalah ikannya. Saya pernah makan di sini sebelumnya. Ikannya sangat segar.”
Victor membalas dengan senyum sopan, “Terima kasih, Nyonya Meliana.”
Bip, bip—
Ponsel Silvia yang tergeletak di atas meja tiba-tiba berbunyi. Silvia sedikit mengernyit dan melihat pesan yang baru masuk. Melihat ekspresi Silvia yang berubah, Nelai langsung mendekat, “Kenapa?”
Sebelum Silvia sempat menjawab, Nelia sudah melihat nama pengirim di layar hpnya.
[Hills University]
Semangat Nelia sektika menghilang. Ia kembali duduk di tempatnya. Ekspresinya meredup saat perlahan meletakkan sumpit di sisi mangkuk.
Melihat perubahan wajah putrinya, Wendy ikut bertanya dengan hati-hati, “Ada apa dengan Silvia?”
Silvia mematikan layar hpnya dan berpura-pura tenang, “Tidak apa-apa kok. Cuman soal keberangkatanku ke luar negeri.”
Victor langsung bertanya, “Silvia, kapan kamu berencana berangkat?”
Silvia mengambil sepotong ikan dari mangkuknya, “Mungkin dalam satu atau dua bulan ini.”
Nelia langsung mengangkat kepala, nada suaranya tanpa sadar terdengar seperti mempertanyakan keputusan Silvia, “Secepat itu?”
Silvia tersenyum, “Aku pergi untuk kuliah. Semester di sana sebentar lagi akan dimulai. Aku tidak bisa menundanya terlalu lama.”
“Silvia, kenapa kamu tidak membicarakannya terlebih dahulu dengan Ayah dan Ibu sebelum mengambil keputusan?” Meliana berdiri dari kursinya, kedua tangannya saling menggenggam dengan kaku.
Silvia menahan napas, “Ini urusanku. Jadi, biarkanlah aku yang memutuskannya sendiri. Ayah dan Ibu tidak perlu ikut campur dalam urusan ini.”
Kelvin menyaksikan semuanya. Untuk pertama kalinya, ia melihat Silvia dengan tenang menyingkirkan keluarga Pollis dari salah satu keputusan terbesar dalam hidupnya.
Jemari Kelvin tanpa sadar mencengkeram gelas anggur di tangannya hingga ujung jarinya memutih. Suara terdengar lebih terpendam, “Berencana pergi ke mana?”
“Eropa, Hills University.”
Silvia mengambil cangkir teh dan menyesap sedikit.
Kelvin terdiam sejenak, alisnya berkerut, “Hills?”
“Emangnya ada masalah dengan Hills, Bang Kelvin?” Nelia mengangkat alisnya sambil memegang gelasnya dengan tangan kanan.
Kelvin menghela napas, “Tidak ada kok.”
Namun, tatapannya tetap tertuju pada Silvia. Ia tidak tahu sejak kapan adiknya mulai benar-benar tidak membutuhkan dirinya lagi.
Nelia tersenyum dan menggoyangkan gelas di tangannya, “Ngomong-ngomong, bukankah Bang Kelvin juga lulus program magister dari Hills?”
“Iya.” Kelvin tidak bertujuan menjelaskannya lebih jauh.
Rasa alkohol perlahan mulai naik nuju ke kepala. Kedua ayah itu akhirnya diantar masuk ke mobil masing-masing bersama istri mereka.
Setelah melihat mereka pergi, Nelia dan Silvia mengikuti langkah Kelvin menuju mobilnya.
“Mau pulang ke mana?” Kelvin memegang kemudi dengan satu tangan. Tatapannya tertuju pada kaca di atasnya.
Nelia bersandar dari bahu Silvia dan menjawab santai, “Manor Chris.”
Kecepatan mobil tiba-tiba menurun drastis, tangan Kelvin yang menggenggam kemudi mendadak mengerat hingga buku-buku jarinya memutih, “Apa yang baru saja kamu katakan?”
Nelia langsung mengomel, “Bang Kelvin, bagaimana cara Anda mengemudi?”
Kelvin menoleh dan menatap Silvia, satu per satu kata keluar dari mulutnya, “Manor Chris?”
Nelia langsung duduk tegak, ia mengusap ujung hidungnya dan menurunkan suara, “Tidak ada apa-apa kok. Bang Kelvin pasti salah dengar.”
Nelia diam-diam melirik Silvia, “Kita pulang ke Ting Su Residence saja.”
Kelvin tidak bertanya lagi, suasana di dalam mobil kembali hening, hanya suara mesin yang bergerumuh rendah. Beberapa saat kemudian, ia kembali menginjak pedal gas. Namun tangan yang menggenggam kemudi tidak pernah benar-benar mengendur.
Ting Su Residence
Begitu sampai, Nelia langsung menarik Silvia turun dari mobil, “Terima kasih, Bang Kelvin. Selamat malam!”
Nelia melambaikan kedua tangannya ke udara sambil melompat-lompat kecil di tempat.
Kelvin memasukkan satu tangan ke saku celana. Punggungnya bersandar ringan pada kap mobil, tatapannya terus tertuju pada Silvia. Seolah ada begitu banyak hal yang ingin ia bicarakan dengan adiknya.
Namun, pada akhirnya...tidak satu kata pun keluar.
Saat Silvia dan Nelia baru saja berbalik hendak masuk ke gedung apartemen...
“Silvia.” Suara Kelvin terdengar rendah dan sedikit serak, “Kita...bisa bicara sebentar?”
Langkah Silvia terhenti, beberapa detik kemudian, ia perlahan melepaskan tangan yang masih dirangkul Nelia, “Nelia kamu naik dulu saja.”
“Tapi...” Nelia menatap Kelvin dengan raut khawatir, alisnya masih berkerut.
“Tidak apa-apa kok.” Silvia mengangguk pelan sambil menepuk bahu Nelia,
Nelia kembali melirik tatapan dingin Kelvin sebelum akhirnya pergi dengan enggan.
Setelah melihat Nelia benar-benar masuk ke dalam lift, Silvia baru berjalan menghampiri Kelvin.
Kelvin mematikan rokok di antara jarinya, abu rokok berjatuhan sedikit demi sedikit ke tanah. Ia menatap adiknya yang berdiri hanya beberapa langkah di depannya. Tatapannya tenang, begitu pula suaranya, “Kamu... mau belajar bisnis?”
Seolah sudah menduga pertanyaan itu sejak awal, Silvia sama sekali tidak terkejut. Ia hanya menjawab singkat, “Hmm.”
Udara di antara mereka seakan berubah menjadi dinding tak kasatmata. Keduanya berdiri berhadapan dalam keheningan. Tidak ada yang tahu bagaimana cara menghancurkan jarak yang tiba-tiba terbentang di antara mereka.
Kelvin berpikir cukup lama sebelum akhirnya bertanya, “Kenapa harus mempelajari bisnis?”
“Tidak ada alasan khusus. Aku hanya ingin mempelajarinya.” Silvia menjawab santai.
Kelvin membuang abu rokok yang sejak tadi masih berada di telapak tangannya ke tempat sampah. Kemudian ia berbalik, membelakangi Silvia, “Hills tidak setenang yang kamu bayangkan. Di sana berkumpul anak-anak dari keluarga bangsawan luar negeri. Masing-masing memiliki ego setinggi langit dan tidak pernah benar-benar menganggap orang lain sebagai orang. Apalagi program Manajemen Bisnis. Jurusan itu hampir dikuasai oleh para pewaris keluarga besar.”
Silvia mendengar nada khawatir yang terselip di balik perkataan Kelvin. Ia mengangkat wajahnya, untuk pertama kalinya, ia merasa kakaknya yang selalu hanya memperlihatkan punggungnya itu mungkin tidak sedingin yang selama ini ia kira, “Aku tahu.”
Kelvin tertawa dingin, “Kamu tahu?”
Silvia tidak menjawab.
Kelvin berbalik badan. Untuk pertama kalinya, tatapannya benar-benar jatuh ke wajah Silvia, “Kamu tahu tempat seperti apa Hills itu?
“Tahu.”
“Kamu tahu keluarga seperti apa yang berdiri di belakang orang-orang di sana?”
“Tahu.”
Tatapan Kelvin perlahan menjadi semakin berat, “Kalau begitu, kamu masih mau pergi?”
“Aku sudah mempertimbangkan semuanya.”
Brak!
Kelvin menendang tempat sampah di samping kakinya dengan keras. Amarah seketik memenuhi tubuhnya, “Silvia Pollis!”
Untuk pertama kalinya, suaranya benar-benar kehilangan ketenangan yang selama ini selalu ia pertahankan, “Kamu memang harus mencari masalah sampai membahayakan nyawamu sendiri baru mau berhenti?!”
Mata Kelvin memerah, ia menatap adiknya yang tetap berdiri tenang tanpa perubahan emosi berarti, “Silvia...kita tidak usah pergi, ya? Jangan ambil risiko seperti ini...”
“Bang.” Silvia mundur selangkah ke belakang.
Untuk pertama kalinya, ia melihat abangnya kehilangan kendali seperti ini. Namun, suaranya tetap dingin, “Aku harus pergi untuk kali ini.”
Suara Kelvin serak. Rambutnya yang selalu tertata kini mulai berantakan, “Kenapa?!”