NovelToon NovelToon
Aku, Kamu Dan Sebuah Rasa

Aku, Kamu Dan Sebuah Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:507
Nilai: 5
Nama Author: Madelyn_Sa

Setelah bertahun-tahun memendam perasaan tanpa kepastian, Kiara akhirnya memilih mundur dan membuka hati hingga menerima lamaran Dimas, pria dewasa yang memberinya komitmen nyata. Namun, tepat sebulan sebelum akad nikah, sebuah rahasia masa lalu terbongkar...
Rahasia apakah itu???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Keheningan yang Bising

Keheningan selalu menjadi ruang aman bagi Arga. Sejak kecil, ia lebih suka mendengarkan ketimbang bersuara, lebih nyaman berada di balik layar ketimbang menjadi pusat perhatian.

Namun ... pagi ini, keheningan yang menyapa Arga saat terbangun dari tidurnya terasa amat berbeda. Keheningan itu bukan lagi tempat yang menenangkan, melainkan sebuah ruang kosong yang luas dan membingungkan.

Arga meraba nakas di samping tempat tidurnya, meraih ponsel pintar yang layarnya masih gelap. Ia menekan tombol daya. Layar itu menyala, menampilkan jam digital 05.30 pagi dan beberapa notifikasi dari grup obrolan kantor membahas masalah pekerjaan.

Tidak ada pesan dari Kiara.

Biasanya, tepat setelah adzan Subuh berkumandang dari toa Masjid Besar, sebuah pesan singkat akan masuk ke ponselnya. Pesan yang selalu sederhana, namun konsisten selama bertahun-tahun: “Pagi Arga, jangan lupa sarapan ya. Hari ini katanya mau ada rapat di kantor, semangat ya!” atau sekadar, “Pagi Ga, jangan lupa diminum vitaminnya ya.”

Arga mengusap wajahnya kasar. Jemarinya bertahan di atas layar ponsel selama beberapa detik, mengusap nama ‘Kiara’ yang berada di barisan obrolan bawah. Ia ingin mengetik sesuatu, namun ibu jarinya terlalu kaku. Karakter tertutup yang telah mendarah daging membuatnya kembali mengunci layar ponsel itu dan meletakkannya telungkup di atas meja.

"Cuma belum terbiasa aja," gumam Arga pada dirinya sendiri di dalam kamar yang dingin.

Sementara itu, di sebuah rumah berpagar hijau di Kelurahan Sukamaju, suasana hangat tercipta di meja makan kecil. Kiara sedang mengoleskan selai cokelat pada selembar roti tawar. Wajahnya memang agak pucat, dan lingkaran hitam tipis di bawah matanya memperlihatkan bahwa ia tidak benar-benar tidur nyenyak semalam. Tatapannya kini jauh lebih jernih dari hari-hari sebelumnya.

Memutuskan untuk berhenti mengejar seseorang yang dicintai selama belasan tahun bukanlah hal yang mudah. Semalam, Kiara menghabiskan dua jam pertama setelah Isya untuk menangis di dalam kamarnya, membiarkan seluruh rasa lelah, kekecewaan, dan kepedihan menetes keluar bersama air mata. Setelah air mata itu mengering, ada perasaan lega yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

Rasa sakit itu masih ada, menyengat di sudut hatinya. Akan tetapi, beban berat untuk terus-menerus menyenangkan hati orang lain dan berharap pada keajaiban kini telah terangkat.

"Ra, nanti sore jadi ikut sepupu kamu ke pameran buku di pusat kota?" tanya Ibunya sambil meletakkan segelas teh hangat di meja.

Kiara menoleh dan tersenyum tipis—sebuah senyuman yang kini terasa lebih murni tanpa berpura-pura tegar. "Jadi, Bu....nanti pulang kerja Kiara langsung ketemu Mbak Nisa di sana. Mau cari beberapa buku baru untuk referensi juga."

"Baguslah... kamu itu dari kemarin kerja terus, mbok ya sesekali jalan-jalan gitu biar pikiran fresh," sahut Ibunya lembut, mengelus bahu putri satu-satunya itu.

Kiara mengangguk pelan. Mulai hari ini, ia berjanji pada dirinya sendiri: energi, waktu, dan rasa yang ia miliki tidak akan lagi dihabiskan untuk mengejar bayangan yang tak mau disinggahi. Ia akan menata kembali hidupnya, mengembalikan fokus pada impian dan kebahagiaannya sendiri.

Siang harinya, di area perbatasan antara Kelurahan Damai dan Sukamaju, lalu lintas di jalan raya utama tampak lumayan padat.

Sebuah minimarket besar yang berada tepat di samping stasiun pengisian bahan bakar menjadi titik temu banyak orang dari kedua kelurahan tersebut.

Arga baru saja keluar dari minimarket sambil memegang botol kopi dingin ditangannya. Ia mengenakan kemeja kerja berwarna biru gelap yang lengannya dilipat hingga siku.

Pikirannya tidak benar-benar berada di tempat. Sepanjang pagi di kantor, konsentrasinya terpecah. Setiap kali ponselnya bergetar di atas meja kerja, jantungnya berdesir berharap itu adalah panggilan atau pesan dari Kiara—hanya untuk merasa kecewa saat melihat notifikasi dari grup aliansi proyek.

Saat Arga hendak membuka pintu mobilnya yang terparkir di pelataran minimarket, pandangannya tidak sengaja menangkap sosok perempuan yang sangat ia kenal.

Perempuan itu baru saja keluar dari toko alat tulis di sebelah minimarket. Kiara mengenakan tunik simpel berwarna krem dengan jilbab senada, membawa sebuah tas belanja kain berukuran sedang. Di sampingnya, ada seorang rekan kerjanya. Mereka sedang tertawa kecil membicarakan sesuatu.

Langkah kaki Arga terhenti. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya.

Sudah menjadi refleks bertahun-tahun bagi Arga untuk memperhatikan Kiara dari jauh.

Melihat tawa lepas di wajah gadis itu—tawa yang tidak dibebani oleh rasa canggung atau harapan yang tertahan—membuat dada Arga berdenyut nyeri. Senyuman itu teramat cantik, tapi rasanya bukan lagi ditujukan untuk dirinya.

Seolah menyadari ada tatapan tajam yang mengarah padanya, Kiara menghentikan tawa dan menoleh. Pandangan mata mereka bertemu di antara riuhnya pelataran minimarket dan deru mesin kendaraan di jalan raya.

Sejenak waktu seolah berhenti di antara mereka. Menyisakan ruang hanya untuk mereka berdua.

Arga menegakkan posisinya. Bibirnya agak terbuka, hendak memanggil nama gadis itu. Ada dorongan kuat di dalam dadanya untuk melangkah mendekat, meminta maaf atas sikap dinginnya selama ini, atau sekadar bertanya bagaimana kabarnya hari ini.

Tetapi, reaksi Kiara adalah sesuatu yang sama sekali tidak diprediksi oleh Arga.

Kiara tidak menghindar, tidak pula menunjukkan wajah marah atau sedih. Gadis itu justru menghentikan langkahnya, berdiri tegak, dan memberikan sebuah senyuman yang amat sangat ramah.

Ramah tapi terasa asing... Sopan tapi serasa ada benteng yang teramat tinggi d depan mereka.

"Eh, Arga....lagi di sini juga?" tegur Kiara halus saat Arga akhirnya memberanikan diri melangkah dua tapak mendekatinya. Suaranya terdengar begitu ringan, persis seperti nada bicaranya kepada tetangga atau kenalan biasa yang tak sengaja berpapasan di jalan.

Arga tertegun. Langkahnya tertahan. Kata-kata yang sudah ia susun di kepala mendadak buyar melihat tatapan mata Kiara yang tidak lagi menyimpan binar kehangatan khusus untuknya.

"Iya, Ra... ini baru beli kopi biar ndak ngantuk" jawab Arga, suaranya agak kaku. "Kamu... habis dari mana?"

"Habis beli beberapa perlengkapan kantor sama temen," jawab Kiara santai, lalu menunjuk temannya yang tersenyum sopan pada Arga. "Sekalian mau balik ke kantor, tapi mampir sebentar."

"Oh... begitu." Arga menggenggam botol kopi dingin di tangannya lebih erat sampai jarinya memutih. "Soal... soal yang kemarin di masjid—"

"Eh, Ga, sorry banget ya, aku buru-buru nih" potong Kiara dengan sangat halus, tanpa ada nada ketus sama sekali. Ia melihat ke arah jam tangannya. "Temenku udah ditungguin di kantor soalnya. Aku duluan ya... bye Ga."

Kiara memberikan sedikit anggukan kepala yang sopan—sebuah gestur penghormatan yang biasa dilakukan pada teman sejawat. Tanpa ada keraguan dalam langkah kakinya, Kiara berbalik dan melangkah menuju mobil temannya yang terparkir tak jauh dari sana.

Arga berdiri terpaku di bawah terik matahari yang begitu menyengat siang itu.

Ia memperhatikan mobil berwarna hitam itu perlahan bergerak meninggalkan pelataran minimarket, menyatu dengan deretan kendaraan yang melaju cepat di jalan raya utama.

Tidak ada lirikan ke belakang dari kaca spion. Tidak ada lambaian tangan tersembunyi. Kiara benar-benar berlalu, meninggalkan Arga dalam keheningan yang kini terasa bising memekakkan telinga.

Arga menatap botol kopi di tangannya. Tiba-tiba saja, minuman dingin itu terasa amat pahit di tenggorokannya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arga yang selalu pendiam dan tertutup menyadari sebuah kenyataan pahit: rasa takutnya untuk membuka diri telah menghancurkan satu-satunya hal paling berharga yang pernah singgah dalam hidupnya.

Dan yang paling menakutkan adalah... Kiara tidak sedang berpura-pura marah. Dia benar-benar telah melangkah pergi, menjaga jarak dan menjauh dari kehidupan Arga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!