Mengisahkan tentang kisah cinta Daniel David Johanes seorang perwira angkatan laut yang bertemu dengan teman masa kecilnya Joanna Josephine Josep mahasiswi semester akhir fasultas kedokteran jurusan dokter gigi di Universitas Negeri Surabaya. Apakah Daniel bisa merebut hati Joanna yang sering dipanggil Anna ini ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembaretan
Sudah genap enam bulan dua minggu Lettu marinir Daniel Johanes selesai pendidikan denjakanya. Dan hari ini pembaretan tepat dipantai didekat sekolah Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Marinir Baluran di Situbondo, Jawa Timur. Kami pagi - pagi sudah ke Situbondo karena perjalanan empat jam. Hanya kami berlima. Papa dan Mas Jefry yang bergantian membawa mobil. Aku duduk di bangku belakang sendiri.
Aku sudah mengajukan ijin kepada dokter kepalaku dokter gigi Alex dan semua tugasku sudah kulakukan bergantian dengan teman baikku Juan Ricardo. Karena kami berdua koas satu rumah sakit sedangkan Amelia di rumah sakit lain.
Kami tiba pukul tujuh di Situbondo, upacara belum di mulai. Papa menggunakan seragamnya. Begitu juga dengan mama seragam ibu - ibu organisasi. Mas Jefry dengan baju kebesarannya polisi, sedangkan aku dengan mba Cindy menggunakan dress batik. Kami sudah membawa bunga masing - masing, aku, mama dan mba Cindy.
Saat ini kandungan mba Cindy sudah masuk enam bulan mau ke tujuh. Jadi memang kami sangat menjaga kesehatan mba dan calon anaknya. Anna merasa bersyukur karena dia sangat disayangi oleh mba Cindy. Kami berdua sangat akut sebagai menantu dan calon menantu dari keluarga Johanes.
"Mba kenapa mukanya sama semua."
"Iya ya."
"Mas Dani yang mana? Semua gelap lagi." Mba Cindy bantu mencari, sedangkan mas Jefry tertawa. Karena dia sudah tahu dimana adeknya berdiri.
"Mas kenapa tertawa, bantu adeknya cari Dani."
"Dek, kamu lihat lurus didepan kamu, lihat." Anna dan mba Cindy melihat.
"Iya ya. Dia lagi senyum."
"Mahal amat senyumannya mba."
"Langkah itu dek." Anna dan mba Cindy tertawa.
Anna melihat kekasihnya, dan Daniel balas menatap kekasihnya dengan senyumannya yang mahal. Enam bulan pendidikan Daniel sangat kurus dan kulitnya menjadi gelap. Upacara selesai banyak anggota yang keluarganya datang melihat acara pembaretan ini.
Mama, papa, dan Mas Jefry sudah memasang semua atribut lengkap punya Daniel. Mereka sudah berpelukan. Giliran mba Cindy kaka ipar Daniel. Dan Anna yang terakhir. Anna sedikit malu. Namun Daniel pikir, Anna takut melihatnya.
"Kamu takut sayang, lihat mas mu."
"Sedikit." Anna mencium tangan Daniel dan dibalas oleh Daniel. Kemudian Anna di bawa dalam pelukan. Daniel mencium kekasihnya.
"Adek, kasihan Anna nanti mukanya kena itam di muka kamu itu."
"Calon istri ngak masalah ma, kena sedikit.
"Asal ngomong kamu."
"Adek mas rindu tahu. Kamu rindu mas mu ngak."
"Kangen lah." Anna berbisik di telinga Daniel. Dan Anna senang karena semua pendidikan yang Daniel jalani sudah selesai. Pendidikan enam bulan waktu yang singkat, namun karena latihannya berat, terasa sangat lama.
Anna sedang membantu kekasihnya membersihkan mukanya. Banyak lettingnya melihat kemesraan mereka.
"Ting, pulang pengajuan ya??"
"Jelas dong. Ngak perlu lama - lama."
Kami semua dalam perjalanan ke rumah di Surabaya. Anna sudah tidak sendiri duduk di jok belakang sudah ada kekasihnya. Jelas Anna di manjai oleh Daniel. Saat ini Daniel belum tahu apa yang terjadi dengan David kakaknya. Kami semua sudah siap untuk menguatkannya. Makanya malam ini mas Jefry dan mba Cindy ngak pulang ke rumah dinasnya.
"Mba, baik - baik saja kan. Calon keponakanku sehat kan."
"Mba baik - baik saja dek. Dan calon keponakanmu sehat dia kuat."
"USG laki - laki atau perempuan mba."
"Laki - laki dek."
"Wah opa dan omanya pasti senang karena keturunan Johanes tambah lagi."
"Iya dia akan mengantikan yang hilang." Mama tidak sengaja berkata demikian. Kami semua terdiam. Daniel curiga.
"Siapa yang hilang ma ?"
Air mata mama sudah keluar. Daniel panik dia memeluk mamanya sangat kuat. Dalam pelukan Daniel mama semakin kencang menangisnya.
"Mama, kenapa??"
"Kamu harus kuat ya dek."
"Kuat?? Kenapa ma??"
Mobil sudah terparkir di halaman rumah kami. Tidak ada yang berubah semua tampak biasa saja. Daniel tenang waktu turun, namun dia masih curiga dengan tangisan mamanya. Papa dan mas Jefry sudah berada di belakang mama dan Daniel.
Jantung Daniel seakan mau lepas. Waktu mata tertuju pada meja kecil yang tertata foto David kakaknya namun ada dua lilin didepan foto itu.
"Ma, papa jangan kata itu. Aku tidak mau dengar. Mas... Ini tidak benarkan mas David ada di Papua kan." Papa, mama dan Jefry langsung memeluk Daniel.
"Mas mu David sudah pulang ke rumah Bapa di surga dek. Mas sakit di Merauke, kena serangan jantung. Ini sudah mau dua minggu mas pergi dek."
Daniel menangis dia memeluk foto kakaknya. Dia teringat dua minggu lalu pada saat ujian terakhirnya di laut, hampir dia tidak sadarkan diri. Namun masnya David datang dalam mimpinya untuk bangun, akhirnya Daniel keluar dari dalam air dengan kaki dan tangan terikat. Ternyata hari itu jenasah kakaknya tiba di rumah setelah semalam meninggal di Merauke.
"Sudah malam, besok pagi selesai ibadah kita ke makam mas David."
"Iya ma."
Daniel masih sedih, Dia tidak banyak bicara. Ketika kami makan, kami melihat mata Daniel bengkak. Anna tahu, bahwa Daniel menangis di kamar mandi.
Malam ini dia tidur memeluk Anna namun dia masih menangis. Anna mengelus kepala kekasih hatinya.
"Non... Sayang..... mas sedih."
"Iya mas. Maafkan kami karena mas tidak bisa kami hubungi. Kami mau mas sukses. Jangan marah mama dan papa ya."
"Iya."
"Sekarang mas istirahat, mas kelelahan beru selesai pendidikan kan."
"Jangan tinggali mas ya. Tetap ada di samping mas."
"Iya bawel."
"Jangan mulai nakal ya Joanna Josephine Josep."
"Ampun ya mas."
Pagi harinya, Anna kesulitan untuk bangun. Karena Daniel masih memeluknya. Dan dia tertidur nyenyak. Anna berusaha melepaskan pelukan Daniel dan dia pun keluar dari kamar.
"Non, mama mohon maaf ya."
"Ma, kan ngak ada salahnya mama. Kenapa mohon maaf."
"Daniel tuh, pasti semalam non ngak bisa tidur baik kan."
"Aku malu ma, malu sama mba Cindy dan mas Jefry."
"Kenapa malu. Daniel begitu dek, kalau sudah cinta. Makanya kami meminta papa melamar kamu kemarin waktu ke Ambon."
"Ade sudah siap menikah. Kemarin mba dengar Daniel berbicara dengan lettingnya bahwa dia mau pengajuan."
"Ade siap mba. Ade juga sayang sama mas Daniel."
Satu jam sebelum jam beribadah, Anna sudah ke gereja, karena hari ini dia mengantikan temannya yang bertugas bermain musik. Anna sudah menyiapkan baju untuk Daniel pergi ibadah. Sebelum dia berangkat tadi.
Keluarga Johanes sudah datang beribadah. Banyak warga jemaat mengucapkan selamat kepada Daniel atas keberhasilannya. Karena susah sekali orang bisa lulus seleksi sekolah denjaka. Daniel sebenarnya masih marah kepada Anna karena dia ke gereja tanpa dirinya. Padahal Anna sudah jelaskan kepada mama Reny tadi dan tolong sampaikan kepada Daniel.
Selesai gereja, mereka masih menunggu Anna yang masih berdoa dan evaluasi di belakang. Karena di gereja ada usaha dana menjual makanan, mama tadi sempat beli begitu juga dengan mba Cindy dan Daniel membeli kue kesukaan Anna.
Anna yang baru keluar dari ruang belakang gereja dihadang oleh Daud Triyanto dengan sekotak kue dan kertas. Ternyata Anna mendapat undangan syukuran dia akan di lantik menjadi dokter hari senin. Undangan itu buat Anna dan Daniel. Ternyata pertemuan Anna dan Daud membuat hati Daniel panas dan marah. Emosinya waktu pendidikan dan mendengar kabar duka belum bisa terkontrol dengan baik, akhirnya saat ini dia menarik Anna dengan paksa.
Papa Doni yang melihat Anna di tarik oleh Daniel langsung mau marah, namun di tahan oleh Jefry dan mama.
btw turut berdukacita juga atas dipanggil pulang Opa tercinta
sayang sekali, Alena sudah tidak perawan, kalau masih perawan, meskipun orang tua sudah setuju, tinggalkan saja Daniel, biarkan Daniel berjuang untuk mendapatkan Alena , ini ya sudah sulit
Anna harus jual mahal, supaya Daniel dapat pelajaran, kalau untuk mendapatkan kamu, Daniel harus berjuang
mestinya ceritanya Daniel dan Anna tidak tinggal satu rumah dulu yah, meskipun ada orang tua, biarkan Anna kost di luar, dan mereka berdua harus menjaga kekudusan mereka sampai selesai pemberkatan