NovelToon NovelToon
The Light We Found

The Light We Found

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu
Popularitas:96
Nilai: 5
Nama Author: Tr_w

Tirta Adira selalu percaya bahwa perasaan manusia adalah hal yang paling sulit ditebak. Hari ini bisa mencintai, esok bisa memilih pergi. Karena itulah, setelah sebuah hubungan yang melelahkan meninggalkan luka, ia memutuskan untuk berhenti menggantungkan kebahagiaannya pada siapa pun.

Hingga takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang terkenal kasar, keras kepala, dan memilih mengurung dirinya di balik masa lalu yang belum selesai. Pertemuan mereka tidak pernah berjalan mulus, tetapi di antara setiap perdebatan dan perbedaan, tumbuh sebuah chemistry yang tak mampu dijelaskan oleh logika.

Ini bukan kisah tentang cinta yang rumit. Ini adalah kisah tentang dua orang yang saling menemukan di waktu yang tak pernah mereka rencanakan, lalu perlahan belajar bahwa terkadang, cinta hadir bukan untuk mengubah seseorang, melainkan untuk mengajarkan bagaimana menerima dan menyembuhkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tr_w, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 5

Dalam perjalanan pulang, gadis itu menangis tanpa suara. Hubungan yang selama ini ia perjuangkan seorang diri kini kandas tanpa sisa.

Namun anehnya, ia tidak merasa sesakit yang ia bayangkan. Yang ia rasakan justru kelegaan, seolah beban berat yang selama ini menyesakkan dadanya akhirnya terangkat.

Malam semakin dingin. Jalanan mulai lengang. Tak ada lagi warung ataupun toko yang masih buka di jam yang hampir menginjak tengah malam.

Tirta mengusap air matanya, lalu menatap sekeliling. Suasana yang begitu sepi membuatnya sedikit merasa takut.

Di tengah gelapnya malam, matanya tertuju pada seseorang yang sedang menatap ke arah jembatan.

Pikirannya langsung berkelana jauh.

Itu manusia... atau hantu?

Mengingat hari sudah sangat malam.

Memang benar kata orang, jangan terlalu peduli dan penasaran pada banyak hal. Karena rasa penasaran terkadang hanya akan membuatmu rugi, atau bahkan terluka.

Namun, manusia yang dipenuhi rasa penasaran itu justru meminggirkan motornya. Ia kembali mengusap air matanya, sementara fokusnya kini hanya tertuju pada sosok yang berada di pinggir jembatan itu.

"Dia... masendiri Gumamnya pada diri sendiri.

Matanya langsung membelalak saat melihat sosok yang duduk di kursi roda itu seperti hendak mengangkat tubuhnya.

Benar.

Orang yang ia lihat ternyata sedang duduk di atas kursi roda. Dan tepat di tempat pria itu berada, lampunya sangat redup hingga membuat Tirta kesulitan melihat wajahnya.

"Astaga! Apa yang dia lakukan? Jangan-jangan dia mau bunuh diri?"

Gadis polos itu segera memarkirkan motornya, lalu berlari kecil menghampiri pria tersebut. Dengan sigap, Tirta menarik bahu lebar pria itu hingga kembali terduduk di kursi rodanya.

Karena suasana yang begitu gelap, mereka sama-sama tidak dapat melihat wajah satu sama lain dengan jelas.

"Jangan lakukan hal yang nekat! Seberat apa pun masalah yang sedang kamu hadapi, jangan menyia-nyiakan hidupmu. Kamu tahu? Aku saja yang baru putus cinta belum tentu mau melakukan hal seperti itu. Kata orang, kalau bunuh diri nanti kita bakal dibakar di alam sana. Kamu mau dibakar hidup-hidup?"

Entah dari mana asal ucapan itu. Yang jelas, Tirta sedang mengarang sebisanya. Kecuali soal dirinya yang memang baru saja putus cinta. ASementara pria yang sedang diberi ceramah itu hanya mengerutkan dahinya.

Omong kosong apa ini? Dan siapa gadis gila ini?

Batin pria itu penuh keheranan.

Ia langsung menepis tangan Tirta dengan kasar. Dirinya memang tidak pernah suka disentuh sembarang orang.

"Dengarkan aku, ya. Kalau kamu sedang stres, jalan-jalan saja atau makan makanan yang kamu suka. Sedih dan terluka dalam hidup itu wajar, walaupun aku tidak tahu sebesar apa rasa sakitmu." Ucapan Tirta mulai melantur ke mana-mana. Pria itu kembali berusaha bangkit. Namun lagi-lagi Tirta mendorong bahunya hingga ia kembali terduduk.

"Hei! Kau ini diberi tahu tidak bisa mengerti, ya? Aku bilang—"

"Berisik!" Suara dingin itu membuat suasana malam terasa semakin menyeramkan.

"Kau ini siapa?"

"Aku? Tirta. Kenapa? Apa kamu mengenalku?" Tanya Tirta dengan polosnya.

Ia sama sekali tidak menyadari bahwa pria di hadapannya sudah berada di ambang kesabaran. Tak pernah ada orang yang begitu kurang ajar padanya. Menyentuhnya tanpa izin, lalu menggurui seolah dirinya benar-benar ingin mengakhiri hidup.

"Gadis gila." Pria itu kembali mencoba bangkit. Namun dengan cepat Tirta kembali menekan kedua bahunya. Bahkan kini gadis itu menggenggam erat bahu pria tersebut agar tidak bisa berdiri dari kursi rodanya.

"Ck. Aku tidak gila. Aku cuma sedang membantumu supaya kamu tidak bunuh di—"

"Siapa yang mau bunuh diri?" Pria itu akhirnya menyerah melawan tenaga Tirta yang terus menekan bahunya.

"Kamulah. Masa aku?" Jawab Tirta dengan santainya.

"Bodoh! Minggir!" Bentakan pria itu terdengar begitu berat dan penuh amarah. Baru saat itulah Tirta sadar. Sejak tadi ia sedang bertengkar dengan seorang pria. Tirta segera mundur beberapa langkah.

Meski begitu, kedua tangannya masih bersiap jika sewaktu-waktu pria itu benar-benar meloncat dari jembatan.

Sayangnya...

Semua tebakannya salah. Pria itu memang berusaha bangkit.

Namun ternyata ia hanya sedang mendorong kursi rodanya agar keluar dari lubang di tepi jembatan. Padahal tadi rodanya hampir berhasil keluar.

Namun kedatangan gadis aneh itu justru membuat roda kursinya semakin masuk ke lubang yang lebih dalam.

"Oh... ternyata kamu tidak mau bunuh diri." Gumam Tirta sambil menganggukkan kepala. Ia segera membantu menarik kursi roda itu dari arah depan. Kini mereka berdiri tepat di bawah lampu jalan.

Untuk pertama kalinya wajah mereka terlihat jelas. Pria itu memiliki wajah oval dengan sepasang mata biru yang begitu indah. Rambut hitamnya tertata rapi. Bibirnya merah keunguan, tampak begitu tegas. Alisnya tebal, bahkan hampir sama seperti milik Tirta.

Bulu matanya lentik, mengalahkan milik gadis itu. Dadanya bidang. Bahu lebarnya membuat tubuh besarnya terlihat semakin gagah. Kaos putih yang ia kenakan semakin mempertegas tubuh kekarnya.

Dalam sekejap...

Tirta terpana.

Namun semua kekaguman itu langsung menghilang begitu mendengar mulut pria itu kembali terbuka.

"Dari mana lepasnya gadis gila ini?" Ujarnya dengan nada judes.

"Hei! Aku cuma mau membantumu. Ini namanya naluri manusia. Kamu pasti mengerti kalau kamu juga manusia." Balas Tirta yang mulai tersinggung karena terus-menerus dipanggil gila. Pria itu justru tersenyum sinis.

"Untuk apa naluri diberikan pada gadis bodoh sepertimu? Tidak semua orang yang berdiri di atas jembatan ingin bunuh diri." Tirta mulai kesal jika harus terus berdebat dengan pria yang tidak jelas seperti ini.

"Ya, ya. Aku memang gila karena masih peduli sama orang sepertimu. Sudahlah, aku mau pulang. Semoga kita tidak bertemu lagi."

"Siapa juga yang ingin bertemu denganmu? Sial sekali hidupku kalau harus terus bertemu dengan gadis sepertimu."

Pria itu mulai menjalankan kursi rodanya, melewati Tirta yang kini berkacak pinggang.

"Wah... kenapa aku mendadak kesal, ya? Rasanya ingin sekali aku cekik kamu, lalu aku dorong dari jembatan ini." Gerutu Tirta sambil memperagakan kedua tangannya seperti hendak mencekik seseorang.

"Sayangnya itu cuma keinginanmu. Dan tidak semua keinginanmu akan menjadi kenyataan, bodoh."

Lagi.

Pria itu kembali memanggilnya bodoh. Dengan menghentakkan kaki karena kesal, Tirta berjalan cepat menuju motornya. Ia mengenakan helm sambil terus mengomel sendiri.

Meski begitu...

Diam-diam ia masih menunggu. Ia memastikan pria itu benar-benar dijemput oleh taksi online yang telah ia pesan.

Saat pria itu sempat menoleh sekilas ke arahnya sebelum masuk ke dalam mobil, Tirta buru-buru menyalakan motornya lalu pergi meninggalkan tempat itu.

"Sepertinya aku memang bodoh. Bagaimana bisa aku menunggu pria itu dijemput dulu baru pulang? Dasar Tirta bodoh."

Gerutunya sambil terus merutuki dirinya sendiri.

Sesampainya di rumah, Tirta langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.

Malam sudah semakin larut. Begitu selesai, ia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Lala yang sempat terbangun hanya melirik sekilas ke arah Tirta. Melihat sahabatnya baik-baik saja, gadis itu kembali memejamkan mata dan melanjutkan tidurnya.

Ia pikir...

Mungkin sudah tidak ada masalah apa pun lagi dari raut wajah Tirta.

...****************...

💌 Terima kasih sudah menemukan dan membaca kisah ini bersama. Sampai jumpa di halaman berikutnya. Tr_w 💜

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!