Rekaila Amanda tidak menyangka setelah dua tahun berpisah akan kembali dipertemukan dengan mantan suaminya. Reka, begitu ia akrab di sapa, memutuskan menjauhi kehidupan mantan suami dengan alasan yang hingga detik ini tidak diketahui oleh sang mantan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28.
Seusai makan siang bersama, Leon dan Reka kembali ke apartemen. Suasana terasa sangat berbeda tanpa keberadaan baby Richard, terutama bagi Reka. Walaupun Leon sudah mengingatkannya untuk tidak perlu merasa canggung, tetap saja Reka tak mudah menghilangkan kecanggungan dihati saat hanya berdua saja seperti saat ini.
Daripada terus diselimuti kecanggungan saat berduaan saja dengan Leon, Reka memilih berlalu menuju kitchen untuk sekedar merapikan beberapa barang di kulkas. Kebetulan kemarin sore ia membeli beberapa barang dan belum sempat menyusunnya dengan rapi ke dalam kulkas.
Mulai dari sayuran, daging-dagingan, camilan, susu uht kemasan serta beberapa minuman soda di keluarkan Reka dari dalam kresek belanjaan, hendak menyusunnya dengan rapi ke dalam kulkas. Ada juga beberapa kaleng susu formula untuk baby Richard.
Semua sudah beres, sudah tersusun dengan rapi, hanya tinggal kaleng susu formula untuk baby Richard yang belum berhasil di letakkan Reka ke dalam kitchen set karena posisinya yang cukup tinggi. Wanita itu sedikit berjinjit agar bisa meletakkan kaleng susu tersebut bersama dengan deretan persediaan susu formula baby Richard yang lain.
"Kenapa tidak meminta bantuan, kalau merasa kesulitan, hm?." Suara bariton tersebut terdengar tepat disamping telinga Reka, hingga membuat wanita itu terkejut dan sontak saja berbalik badan.
"Ma_mas Leon...." Reka terbata.
Jarak diantara mereka sangat dekat, Reka bahkan dapat menghirup aroma mint yang berasal dari hembusan napas pria itu, setiap inci pahatan yang terbilang nyaris sempurna di wajah tampan Leon pun terlihat dengan sangat jelas di mata Reka. Sedikit saja ia bergerak, bisa dipastikan tubuh mereka akan menempel. Reka spontan menyandarkan tubuhnya pada top table kitchen, sedangkan tangannya nampak ikut menopang. Ya, Reka memilih menggunakan tangannya menopang pada top table kitchen ketimbang pada dada bidang Leon yang mungkin saja akan menimbulkan hal yang bukan-bukan nantinya.
"Kamu kenapa? Tubuhmu terlihat tegang sekali." Leon sedikit memberi jarak setelah membantu meletakkan kaleng susu formula milik baby Richard ke tempat seharusnya.
"Mana ada tegang, biasa saja." Reka berusaha menepis dan kembali berbalik badan membelakangi Leon.
"Kalau dulu, mas pasti sudah memelukmu dari belakang bila melihatmu sibuk didapur seperti ini, tidak peduli dengan keberadaan bibi yang pastinya akan malu sendiri melihat sikap mas."
Deg.
Ingin sekali Reka menyumbat mulut Leon yang bicara tentang masa lalu indah mereka tanpa ragu ataupun malu sedikitpun, berbeda dengan dirinya yang sudah seperti ini lari dari sana.
"Sayang...." Leon berseru sambil mengusap lembut rambut panjang Reka yang kini masih mempertahankan posisinya, membelakangi dirinya.
Panggilan sayang Leon mampu membuat jantung Reka berdebar lebih kencang dari biasanya.
"Hmm."
"Sepertinya kita harus fokus untuk membahas tentang pernikahan! Mas khawatir tidak akan sanggup menahan diri jika berduaan denganmu."
Reka tak bodoh untuk mengartikan maksud dari menahan diri yang dikatakan oleh Leon. Ia lantas kembali berbalik badan dan menghadap pada Leon.
"Mas, sebelum membahas lebih dalam tentang pernikahan, aku ingin bertemu dengan Georgina terlebih dahulu. Aku ingin memohon maaf padanya. Kalaupun Georgina sampai menamparku, aku tidak akan keberatan."
Kedua tangan Leon langsung mengepal kuat, seolah tak rela bila Georgina benar-benar menampar wajah cantik wanitanya itu.
Menyadari sikap Leon, Reka lantas memegang kepalan tangan Leon dan berkata.
"Mas tidak perlu cemas, aku pasti bisa menghadapinya! Lagipula, Itu sudah menjadi konsekuensi bagi wanita perebut." Reka mencoba tersenyum, walaupun ia sendiri tak yakin akan sanggup menghadapi kemarahan Georgina atau tidak nantinya.
Leon terdiam. Tak lama kemudian, Leon pamit ke kamar dan Reka mengangguk mengiyakan.
Setibanya di kamar, Leon mengambil ponselnya dari atas nakas kemudian melakukan panggilan telepon pada nomor kontak Georgina.
Dua kali berdering, panggilan telepon pun tersambung.
"Kamu di mana?." Begitu panggilan tersambung pada Georgina, Leon langsung menanyakan keberadaan wanita itu.
"Ck...." Dari seberang sana Georgina terdengar berdecak lidah. Bukannya mengucap salam, Leon malah langsung kepo dengan keberadaannya. "Ada apa mencari ku? Jangan bilang kau merindukanku, Leon?." Sambung Georgina setengah bergurau.
"Aku serius, Geo."
"Tentu saja sedang bekerja, memangnya sedang apa lagi."
"Aku dan Reka ingin bertemu denganmu. Jika kamu ada waktu, boleh kita bertemu di restoran xxx malam ini!."
"Baiklah."
"Terima kasih sebelumnya." Terima kasih lantas diucapkan Leon karena Georgina sudah bersedia meluangkan waktunya.
"Hmm."
Setelahnya, Georgina pamit untuk menyudahi sambungan telepon karena masih banyak pasien anak-anak yang mengantri dengan ditemani oleh orang tua masing-masing.
Baru saja hendak meletakkan ponselnya ke atas nakas, tiba-tiba benda pipih tersebut kembali berdering. Rupanya panggilan telepon dari mommy-nya Georgina. Leon tak langsung menerimanya, cukup lama Leon menatap panggilan telepon dari kontak yang dinamai Aunty Tika tersebut.
"Halo Aunty...."
"Halo Leon.....hiks....hiks....hiks...." Terdengar suara mommy-nya Georgina kemudian disusul dengan suara Isak tangis hingga membuat Leon mulai berpikir keras.
"Apa yang terjadi, aunty?." Leon mulai berpikir bahwa mommy-nya telah menghubungi mommy-nya Georgina dan menyampaikan berita yang akhirnya membuat wanita itu menangis tersedu-sedu.
"Sebelumnya Aunty ingin memohon maaf sebesar-besarnya sama kamu, Leon. Maaf karena Aunty sudah gagal mendidik Georgina hingga melakukan hal memalukan seperti ini."
"Apa maksud aunty? Leon sama sekali tidak mengerti, Aunty." Leon sudah memaksa otaknya untuk berpikir namun tetap saja tak dapat menebaknya.
"Sepertinya rencana pernikahan kamu dan Geo tidak bisa dilanjutkan." Ada jeda sesaat. "Karena....Geo sedang mengandung anak dari pria lain, Leon."
Deg.
Bukan kecewa, Leon hanya terkejut saja, mengingat selama mengenal Georgina, ia tahu betul bahwa wanita itu tak pernah neko-neko. Jadi, mana mungkin Georgina bisa tiba-tiba mengandung, anak dari pria lain pula. Leon merasa ada yang janggal dalam hal ini.
"Leon....." Lama tak mendengar suara Leon, mommy-nya Georgina lantas berseru.
"Aku masih di sini, aunty. Sekarang aunty tenang dulu! Untuk urusan rencana pernikahan aku dan Geo, aku sama sekali tidak marah jika harus dibatalkan. Mungkin kami memang tidak berjodoh. Untuk Daddy dan juga mommy, biar itu menjadi urusan Leon. Leon akan mencari alasan yang sekiranya tidak menjatuhkan pihak Geo." Perasaan Leon saat ini bercampur aduk, antara senang dan juga bingung. Apa benar Georgina sedang mengandung?
"Terima kasih banyak, Leon.... Sebenarnya aunty sangat malu sekali untuk menyampaikan tentang hal ini sama kamu, tapi aunty tidak punya pilihan lain. Lagipula, tidak mungkin kami membiarkan kamu bertanggung jawab untuk sesuatu yang tidak pernah kamu lakukan."
Leon mengangguk paham, walaupun ia sendiri tahu kalau mommy-nya Georgina pasti tidak akan melihatnya.
Setelahnya, panggilan telepon berakhir.
"Permainan apa sebenarnya yang sedang kau mainkan Georgina?." Gumam Leon. Ia yakin ini bukanlah sebuah kebetulan. Semalam kedua orang tuanya tiba-tiba mendatangi apartemen, dan keesokan harinya mommy-nya Georgina menyampaikan kabar tentang kehamilan putrinya. Sangat kebetulan untuk sebuah kebetulan.