NovelToon NovelToon
Di Ceraikan,Aku Bangkit Jadi Miliarder

Di Ceraikan,Aku Bangkit Jadi Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fahmishodiq Abdullah

Kirana selalu dianggap istri yang "biasa saja" — tak pintar, tak berguna, hanya pantas mengurus rumah. Saat suaminya, Rangga, menceraikannya demi wanita lain di depan keluarga besar, semua orang mengira hidupnya akan hancur.
Mereka salah.
Di balik status "istri biasa" itu, Kirana menyimpan warisan yang selama ini tak pernah ia buka — dan kejeniusan bisnis yang selama ini ia pendam demi keluarga yang tak pernah menghargainya.
Kini, saat Rangga dan selingkuhannya mulai kehilangan segalanya, Kirana justru bangkit sebagai sosok yang tak seorang pun kenali. Pertanyaannya bukan lagi apakah ia akan kembali — tapi apakah Rangga pantas mendapatkan kesempatan kedua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fahmishodiq Abdullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

nama baru,langkah pertama

Minggu pertama di ruko kecil PT Cahaya Abadi Investama tidak seindah yang Kirana bayangkan.

Ruangan itu penuh debu, sebagian arsip sudah dimakan rayap, dan komputer satu-satunya yang masih menyala harus di-restart tiga kali sebelum benar-benar bisa dipakai. Tapi Kirana tidak mengeluh. Setiap pagi, jam tujuh, ia sudah duduk di kursi tua yang sama, membuka buku catatan ayahnya halaman demi halaman, mencocokkan istilah-istilah yang belum ia pahami dengan artikel-artikel di internet.

"Kamu serius belajar sampai malam begini?" tanya Pak Hadi suatu sore, mendapati Kirana masih di ruko pukul delapan malam, dikelilingi kertas catatan yang mulai menumpuk.

"Saya nggak punya pilihan lain, Pak," jawab Kirana, tanpa mendongak dari layar laptop. "Kalau saya berhenti belajar sekarang, saya akan kembali jadi orang yang dulu—yang dianggap nggak berguna cuma karena diam."

Pak Hadi menatapnya lama, lalu duduk di kursi seberang. "Ayahmu dulu begitu juga. Keras kepala, nggak mau berhenti sebelum paham betul."

"Berarti saya memang anaknya," kata Kirana, tersenyum kecil untuk pertama kalinya sejak malam perceraian itu.

Hari kesepuluh, Kirana mengambil keputusan penting: ia tidak akan memakai nama Kirana Wijaya lagi—nama yang melekat status "istri yang diceraikan", nama yang di mata orang-orang tertentu masih berarti "gagal". Ia kembali memakai nama lahirnya.

Kirana Kusuma Broto.

"Kita daftarkan semua dokumen atas nama ini," katanya pada Pak Hadi, menunjuk KTP lamanya sebelum menikah, yang masih ia simpan di kotak yang sama dengan warisan ayahnya. "Biar tidak ada yang mengaitkan saya dengan keluarga Wijaya."

Pak Hadi mengangguk setuju. "Langkah bagus. Di dunia bisnis, nama baik itu penting—tapi nama yang bersih dari gosip, kadang lebih penting lagi di awal."

Mereka mulai dari yang kecil: menghidupkan kembali dua klien lama Pak Hadi yang masih percaya, memperbarui izin usaha yang sempat mati suri, dan yang paling penting—mencari satu peluang investasi kecil yang bisa jadi bukti bahwa PT Cahaya Abadi Investama masih layak dipercaya.

Kirana menemukannya di halaman terakhir buku catatan ayahnya, sebuah catatan singkat yang ditulis bertahun-tahun lalu:

"Bisnis kecil yang jujur dan konsisten selalu punya nilai lebih dari yang orang kira. Cari yang fondasinya kuat, bukan yang kelihatannya besar."

Petunjuk itu membawa Kirana ke sebuah usaha kecil bernama Roti Bu Darmi, sebuah toko roti rumahan di pinggiran kota yang sudah berjalan dua puluh tahun tapi tidak pernah berkembang karena kekurangan modal untuk memperluas produksi. Kirana menemukannya lewat cerita seorang tetangga kos, dan setelah mengecek langsung, ia melihat sesuatu yang orang lain lewatkan: pelanggan setia yang terus datang meski tokonya kecil dan sederhana, resep yang konsisten selama dua dekade, dan seorang pemilik yang jujur soal keuangan—hanya kurang modal dan strategi.

"Ini terlalu kecil, Kirana," kata Pak Hadi ragu, saat Kirana mengusulkan investasi pertama mereka ke toko roti itu. "Investor besar pasti akan tertawa kalau lihat laporan kita mulai dari toko roti rumahan."

"Biar saja mereka tertawa," jawab Kirana tenang. "Ayah bilang, cari yang fondasinya kuat. Bu Darmi punya itu. Yang dia butuh cuma modal dan orang yang percaya."

Mereka menyuntikkan modal kecil—hasil dari menjual satu-satunya perhiasan peninggalan ibu Kirana yang selama ini tersimpan di brankas bank—untuk membeli mesin pengolahan baru dan menyewa satu ruko kecil kedua sebagai cabang pertama Roti Bu Darmi.

Dalam waktu tiga minggu, omzet toko itu naik dua kali lipat.

Kabar kecil itu, meski tidak besar, mulai menarik perhatian di lingkungan pengusaha kecil-menengah setempat. Seorang jurnalis lokal menulis artikel pendek berjudul "Kebangkitan UMKM Lewat Investor Baru yang Jarang Tampil"—tanpa menyebut nama Kirana secara langsung, karena Kirana sengaja meminta agar wajahnya tidak difoto dan namanya cukup disebut sebagai "K. Broto, perwakilan PT Cahaya Abadi Investama".

"Kenapa kamu nggak mau namamu muncul besar-besar?" tanya Pak Hadi, sedikit heran. "Ini bisa jadi promosi bagus buat kita."

Kirana menggeleng. "Belum waktunya, Pak. Saya masih terlalu dekat dengan nama Wijaya di mata orang-orang tertentu. Kalau muncul sekarang, yang akan dibicarakan bukan bisnis kita, tapi gosip perceraian saya."

Ia menatap keluar jendela ruko, ke jalanan yang mulai ramai sore itu. "Saya mau mereka mengenal saya dulu lewat hasil kerja saya, baru nanti tahu siapa saya sebenarnya. Bukan sebaliknya."

Pak Hadi tersenyum, mengangguk pelan. "Ayahmu pasti bangga lihat kamu sekarang."

Kirana tidak menjawab, tapi matanya berkaca-kaca sesaat sebelum ia kembali menunduk ke laporan keuangan di depannya.

Malam itu, sepulang dari ruko, ponsel Kirana bergetar. Sebuah notifikasi dari akun media sosial lamanya—akun yang sudah lama tidak ia buka sejak menikah, karena Rangga dulu tidak suka istrinya "terlalu aktif di media sosial".

Ada satu unggahan baru dari akun Vania, difoto di sebuah restoran mahal bersama Rangga, dengan keterangan:

"Awal yang baru, bersama orang yang tepat 💍✨"

Kirana menatap layar itu lama. Dulu, foto seperti ini pasti akan membuatnya menangis semalaman. Sekarang, ia hanya merasa... jauh. Seperti melihat kehidupan orang lain yang kebetulan pernah bersinggungan dengannya.

Ia mengunci ponselnya, meletakkannya di meja, dan kembali membuka laporan keuangan Roti Bu Darmi—angka-angka yang jauh lebih berarti baginya malam ini daripada foto pernikahan siapa pun.

Tapi jauh di kepalanya, satu pertanyaan kecil mulai tumbuh: berapa lama lagi sebelum dunia Rangga dan dunia barunya ini—yang sedang ia bangun diam-diam dari sebuah ruko berdebu—akhirnya bertabrakan?

Ia belum tahu jawabannya. Yang ia tahu, saat hari itu tiba, ia tidak akan lagi jadi Kirana yang sama seperti dulu.

1
Kumbang di taman
semangat selalu 😍
Fahmishodiq Abdullah: terimakasih atas kunjungannya
total 1 replies
Kumbang di taman
sukses selalu Author 👍
Adinda
toko utamanya Kirana atau dimas Dan alya,kalau bisa libatkan toko pemeran utamanya Dan tokoh yang jadi pendamping hidup Kirana,jadi ceritanya makin seru.
Fahmishodiq Abdullah: ok kak masukan saya terima kak,makasih atas masukan dan sarannya
total 1 replies
Detie Kurniawati
cerita yg tak aku pahami ahirnya??
Fahmishodiq Abdullah: terimakasih kak kritiknya,saya akan mencoba memperbaruhinya
total 2 replies
Heny
Hadir thor
Fahmishodiq Abdullah: makasih bang
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!