NovelToon NovelToon
MISTERI RUMAH WARISAN KAKEK

MISTERI RUMAH WARISAN KAKEK

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Hantu / Rumahhantu
Popularitas:711
Nilai: 5
Nama Author: Iephe Tyo

Theo adalah seorang laki laki yang baru saja menikah dengan perempuan bernama Tiara. keduanya adalah pasangan yang bahagia yang tinggal cukup sederhana di Kota. namun ketenangan mereka berubah ketika Thao mendapatkan warisan rumah dan tinggal di rumah tersebut.

keanehan demi keanehan ia alami selama tinggal di rumah tua yang memang sudah terkenal angker sejak lama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iephe Tyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Pak Harto kemudian berpaling, menatap Theo yang berdiri paling dekat di sampingnya, lalu menggenggam jemari cucunya itu sedikit lebih erat.

"Theo... Jaga Ayah dan Ibu, ya. Rukun-rukun kalian semua... Kakung sudah tenang melihat kalian berkumpul begini."

Ruangan yang tadinya dipenuhi rasa lega, kini perlahan kembali dicekam keheningan yang berat. Kalimat yang diucapkan Pak Harto terasa begitu janggal—bukan seperti ucapan seorang pasien yang baru sembuh, melainkan sebuah pesangon terakhir yang disampaikan dengan penuh keikhlasan.

"Kakung ngomong apa sih!" ucap Theo tampak ketakutan mendengar perkataan sang kakek.

"Ayah, jangan bicara sembarangan." Pak Wibowo juga tampak tak senang dengan perkataan sang ayah.

Suasana kamar inap mendadak semakin hening, seolah udara di dalam ruangan menipis. Pak Harto menarik napasnya dalam-dalam, mengatur sisa-sisa tenaga yang kian menipis, sebelum kembali berbicara dengan tatapan yang semakin teduh namun menusuk relung hati.

"Theo... Kakung punya satu permintaan terakhir untukmu, Le." ucap Pak Harto, suaranya terdengar semakin berat.

Semua mata di ruangan itu kini tertuju pada Theo. Dengan napas yang tertahan, Theo mengangguk pelan.

"Apa sih kung, jangan bicara ngawur kung." ucap Theo yang tak sadar air matanya sudah mulai mengalir di pipi nya.

"Kakung minta kamu sama Kiki untuk menjaga rumah dan peternakan peninggalan kita di sana. Kakung titip Uti, temani dan rawat utimu dengan baik ya Le." pesan Pak Harto. Matanya beralih menatap Bu Sri—istrinya—yang berdiri di dekat sudut ranjang.

Wanita paruh baya itu tidak lagi mampu menahan bendungan air matanya. Tangisnya pecah tanpa suara. Bu Sri menutup mulutnya dengan kedua tangan, bahunya bergetar hebat. Tatapannya kepada Pak Harto menyiratkan kepedihan yang mendalam; ia tahu betul, dan seolah batinnya telah ikhlas menerima bahwa ini adalah detik-detik terakhir suaminya.

Pak Harto kembali menatap Theo lekat-lekat, menggenggam tangan cucunya itu dengan sisa-sisa kekuatannya yang terakhir.

"Kakung minta kamu yang tinggal di sana, karena Kakung percaya sama kamu, kamu mampu menjaga rumah ." bisik Pak Harto.

Theo tertegun sejenak, ia mencoba mencerna setiap perkataan Kakeknya tersebut.

Sebelum helaan napasnya terdengar semakin pelan, Pak Harto menolehkan kepalanya perlahan ke arah seorang gadis yang berdiri di samping ibu Theo, yakni Tiara.

"Dan Tiara..." suara Pak Harto melemah, menyisakan deru napas yang berat. "...dampingi selalu Theo, ya. Dalam suka maupun duka. Jaga dia seperti dia menjagamu."

Tiara tertegun, air matanya tumpah seketika mendengar titipan penuh makna itu. Ia mengangguk sambil terisak, menggenggam tangan Theo yang satu lagi dengan erat.

"Kakung jangan ngomong gitu, Kakung pasti sembuh kok." ucap Tiara sambil terisak.

Kini, Pak Harto menatap putra semata wayangnya, Pak Wibowo. Pak Harto tersenyum pilu saat menatap Pak Wibowo.

"Jaga keluargamu nak, jaga mereka baik baik."

Beberapa detik setelah kalimat terakhir itu terucap, monitor detak jantung di samping ranjang mendadak mengeluarkan satu nada panjang yang lurus. Garis hijau di layar itu mendatar.

Pak Harto menutup matanya untuk terakhir kalinya, meninggalkan keheningan abadi di tengah keluarga yang mengasihinya. Wajahnya tampak damai, tenang dengan senyum tipis di wajah beliau.

Isak tangis yang tertahan seketika pecah memenuhi ruangan inap rumah sakit begitu suara monitor EKG berubah menjadi nada panjang yang konstan. Suasana duka yang pekat langsung meredam seluruh isi ruangan.

Bu Sri jatuh terkulai lemas di lantai, ditopang oleh anaknya yang juga terisak hebat. Seluruh anggota keluarga tak kuasa menahan hantaman kesedihan yang begitu mendalam, terkhusus bagi Theo. Lelaki muda itu mematung, menatap kosong pada sosok sang kakek yang kini telah terbujur kaku.

Di tengah kekacauan dan isak tangis itu, Bu Ani—ibu Theo—dengan langkah gontai dan air mata berlinang segera berlari keluar menuju ruang perawat. Ia memanggil dokter jaga untuk segera memastikan kondisi Pak Harto. Tak lama kemudian, dokter bersama seorang perawat tergesa-gesa masuk ke ruangan. Setelah melakukan pemeriksaan singkat dengan stetoskop dan mengecek pupil mata Pak Harto, sang dokter dengan wajah berat akhirnya mengangguk pelan, menyatakan bahwa nyawa lelaki paruh baya itu sudah tidak tertolong.

"innalilahi wa innailaihi rojiun, maaf tapi Pak Harto sudah berpulang pukul 05.40 WIB." ucap sang dokter dengan suara lesu.

Dunia Theo seakan runtuh seketika.

Ia kembali jatuh bersimpuh di sisi ranjang, menggenggam erat tangan kakeknya yang perlahan mulai mendingin. Di tengah deru tangis keluarganya, pertahanan diri Theo jebol. Pikirannya melayang, menerobos waktu mundur ke kenangan masa-masa terakhir ia bertemu dengan sang kakek sebelum kecelakaan itu terjadi—lima bulan lalu di beranda rumah tua peternakan tersebut. Tiara yang kini berada di samping Theo mencoba menguatkan suaminya, meskipun ia sendiri ikut terlarut dalam kesedihan.

Theo teringat bagaimana Kakung dengan sabar mengajarinya merawat hewan-hewan ternak, menasihatinya dengan suara yang berat namun penuh kasih, hingga gelak tawa kecil mereka saat menikmati teh hangat di sore hari. Kakung bukan sekadar kakek bagi Theo; beliau adalah figur ayah, pelindung, dan sahabat terbaik yang membentuk dirinya sejak kecil.

Dan kini, sosok hangat itu telah pergi untuk selamanya, meninggalkan segalanya—termasuk rahasia mistis rumah tua itu—di pundak Theo.

.

.

.

Di tengah suasana duka yang menyelimuti rumah sakit, Pak Wibowo—ayah Theo—berusaha mengumpulkan sisa-sisa ketenangannya. Ia melangkah ke sudut koridor yang sepi untuk mengurus segala administrasi rumah sakit sekaligus mempersiapkan kepulangan jenazah sang ayah tercinta.

Di sela-sela kesibukan itu, ia teringat pada seseorang yang selama ini menjadi tangan kanan dan orang kepercayaan almarhum di peternakan. Pak Wibowo segera mengeluarkan ponselnya dan mencari kontak Joko.

*Tut... tut...

Tidak butuh waktu lama, panggilan tersebut langsung terhubung di dering pertama.

"Halo, Pak Wibowo..." suara Joko terdengar di ujung telepon, bernada hormat namun sedikit heran karena dihubungi pak Wibowo sepagi ini.

Dengan suara yang tercekat dan berat menahan tangis, Pak Wibowo menyampaikan kabar duka itu. "Joko... bapak sudah tidak ada. Beliau baru saja meninggal di rumah sakit."

Di ujung sambungan sana, keheningan sempat tercipta beberapa detik sebelum napas Joko terdengar memburu. Sebagai orang yang selama bertahun-tahun mengabdi dan menemani Pak Harto mengurus peternakan, Joko sangat menghormati majikannya itu. Pertahanan Joko runtuh; isak tangis berat lolos dari mulutnya.

"Innalillahi wainnailaihi raji'un... Ya Allah, Ndoro Harto ..." suara Joko bergetar hebat, sarat akan duka mendalam.

"Tolong, Joko," lanjut Pak Wibowo dengan suara parau, "urus dan siapkan segala keperluan pemakaman bapak di desa ya. Kami akan segera membawa jenazahnya pulang."

Meskipun hatinya hancur kehilangan sosok yang sudah dianggap seperti orang tua sendiri, Joko langsung meneguhkan niatnya. Ia mengangguk di balik sambungan telepon, menyanggupi amanah terakhir dari majikan sekaligus gurunya itu.

"Baik, Pak Wibowo. Saya akan langsung ke rumah duka sekarang, menyiapkan semuanya dengan layak untuk pemakaman Ndoro Harto," jawab Joko tegas, meski isak tangisnya masih tersisa.

Sambungan telepon pun ditutup. Pak Wibowo segera kembali menuju ketempat keluarganya menunggu untuk pemulasaraan jenazah Pak Harto.

.

.

.

DI DESA BOJASARI

Langkah Joko tergesa menapaki jalanan desa untuk menuju ke rumah salah satu tokoh di desa tersebut. Begitu tiba di kompleks masjid desa, ia langsung menemui Kyai Umar. pemimpin spiritual sekaligus tokoh yang sangat dihormati di sana yang rumah nya memang terletak tak jauh dari masjid. Dengan suara bergetar dan mata yang masih basah karena air mata, Joko menyampaikan kabar duka bahwa Pak Harto telah berpulang.

Kyai Umar tertegun, wajah sepuhnya menyiratkan duka yang amat dalam. Tanpa membuang waktu, suara Kyai Umar yang parau namun tenang akhirnya mengudara melalui pengeras suara masjid, memecah keheningan pagi.

 *"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un... Kepada seluruh warga Desa Sukamaju, berita duka yang mendalam. Orang tua kita, sesepuh kita, mantan kepala desa kita tercinta, Bapak Haji Harto, telah berpulang ke rahmatullah di rumah sakit..."*

1
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Aduuuh... Bakalan ada apa lagi, nih?
Tiba-tiba hawanya dingin begitu...
🤨🤨🤨
Tita Tata
sumpahhhh penasaran bgt sama kelanjutannya
Tita Tata
pokoknya terus lanjut bacaa
Tita Tata
suara apa itu thorrrrrrr
Tita Tata
lanjut thor ... semakin seruuuu
Tita Tata
jadi Theo pernah se trauma itu yaaa
Tita Tata
aku suka bngt sama tulisan author ini
Tita Tata
apa yang akan terjadi selanjutnya yah
Tita Tata
tegang bgt sumpah
Tita Tata
lanjut thorrrr
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Loh, wafatnya Kakung Theo belom dikasih kabar ke orang tuanya kah??? 😭😭😭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Kira-kira Theo bisa "merasakan" kejanggalan di rumah peninggalan Kakeknya gak, ya???
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Owalaaah... Jadi makhluk-makhluk yang mengganggu itu kiriman orang lain ternyataaa... Gak bisa dibiarin terus kalo begitu...
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Aduuuh, saya bener-bener jadi inget sama Almarhum Mbah saya pas baca BAB ini, Kak... Emosi memorinya kuat banget... 😭😭😭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Jangan-jangan semua makhluk yang ada di rumah Almarhum Kakek Theo itu, sosok penjaga rumah itu kah???
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Saya suka banget nih, ceritanya semakin mendebarkan... 🤭🤭🤭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Siapa sih, wanita yang menangis itu? Penasaran banget jadinya...
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Waaah, nostalgia banget pas baca kata "Playstation"... Jadi sama-sama inget masa SMP dulu, mirip kayak Theo... 😭😭😭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Waduh, ada rahasia apa di balik rumah dan peternakan Almarhum Kakek Theo, ya???
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Wah... Makin seru ceritanya Thor!

Kira-kira, suara rintihan dari sosok siapa atau apa yang di denger sama neneknya Theo, ya???

🤨🤨🤨🤨🤨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!