NovelToon NovelToon
Sistem Ayah Level Dewa

Sistem Ayah Level Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Kaya Raya / Bapak rumah tangga
Popularitas:16k
Nilai: 5
Nama Author: Surya Mandala

"Arya Pratama adalah mahasiswa miskin yang hidup pas-pasan. Satu-satunya kebanggaannya adalah Kirana, pacar tercantik di kampus.

Namun segalanya hancur saat Kirana datang dengan kabar: ""Aku hamil."" Keluarga Kirana yang kaya raya menghina dan mengusirnya.

Dunia Arya runtuh—hingga sebuah sistem misterius aktif di kepalanya: [Sistem Ayah Level Dewa]. Setiap langkah tanggung jawabnya sebagai ayah diganjar hadiah luar biasa: uang miliaran, saham, teknologi canggih.

Kini Arya berjuang melawan preman, fitnah, dan musuh politik, sambil membangun kerajaan bisnis. Bisakah ia membuktikan bahwa menjadi ayah muda bukanlah akhir—melainkan awal dari segalanya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 008 - Badai dan Berlian

Arya pulang sebelum siang.

Di saku jaketnya, kotak cincin masih tersimpan. Ia belum mengatakan apa pun kepada Kirana. Setelah bertemu Denny, ia semakin yakin waktunya harus dipilih dengan hati-hati.

Kirana sedang duduk di sofa, membaca brosur kehamilan dari Klinik Bunda Sehat. Di meja ada pisang, air mineral, dan vitamin.

"Kamu ketemu Denny?" tanyanya tanpa melihat ke atas.

Arya berhenti melepas sepatu.

"Sari kasih tahu kamu?"

"Aku kenal wajahmu. Kamu terlihat habis menahan marah."

Arya duduk di kursi seberang. "Dia mencoba memancing keributan. Sudah selesai untuk hari ini."

"Untuk hari ini?"

"Orang seperti Denny jarang berhenti setelah sekali gagal."

Kirana menutup brosur. "Maaf."

"Jangan minta maaf untuk kelakuan dia."

Panel sistem muncul sebelum Kirana sempat menjawab.

【Tugas sampingan: lengkapi kebutuhan awal ibu hamil.】

【Target: pakaian nyaman, nutrisi, perlengkapan istirahat, alat pemantau dasar.】

【Hadiah mengikuti kualitas perlindungan dan ketepatan kebutuhan.】

Arya membaca cepat.

"Kita keluar sebentar."

Kirana mengerutkan kening. "Ke mana?"

"Surya Plaza. Beli kebutuhanmu."

"Arya, kemarin kamu sudah terlalu banyak mengeluarkan uang."

"Kemarin kita beli obat dan makanan. Sekarang kita beli hal yang membuat kamu nyaman."

"Aku bisa pakai baju biasa."

"Cardiganmu sudah kamu tarik sampai hampir robek sejak kemarin."

Kirana melihat ujung cardigan di tangannya. Benar, kainnya melar.

"Baik. Tapi jangan berlebihan."

Arya tidak menjanjikan apa-apa.

Surya Plaza ramai menjelang sore. Lift, lampu toko, musik dari gerai pakaian, dan aroma roti dari lantai bawah membuat Kirana beberapa kali berhenti untuk menarik napas.

Arya memperhatikan wajahnya.

"Pusing?"

"Sedikit."

"Kita duduk."

"Baru sampai."

"Duduk dulu."

Ia membawa Kirana ke bangku dekat toko bayi. Setelah lima menit dan beberapa teguk air, warna wajah Kirana membaik.

Mereka mulai dari toko pakaian ibu hamil. Kirana memilih dua dress longgar dan satu celana nyaman. Arya menambahkan beberapa pilihan warna netral.

"Ini kebanyakan."

"Kamu perlu ganti saat mual atau cepat gerah."

"Kamu bicara seperti dokter."

"Aku mendengarkan dokter."

Di toko berikutnya, Arya membeli bantal tubuh, minyak anti-stretch mark, botol minum besar, camilan rendah gula, susu ibu hamil, buah, dan wadah makanan kecil. Ia menolak membeli barang bayi yang terlalu awal, meski staf toko terus menawarkan stroller mahal.

"Nanti," kata Arya. "Sekarang fokus ke ibunya."

Kirana mendengar kalimat itu dan menunduk, menyembunyikan senyum.

Mereka masuk ke apotek besar di lantai bawah. Arya membeli alat pengukur tekanan darah digital dan termometer. Petugas menawarkan paket mahal dengan fitur yang tidak mereka butuhkan.

Arya membaca label, membandingkan garansi, lalu memilih alat yang lebih sederhana.

"Yang penting akurat dan mudah dipakai," katanya.

Kirana menyentuh kotak alat itu. "Kamu benar-benar berubah jadi orang yang memikirkan tekanan darah."

"Tekanan darah lebih penting daripada komentar Denny."

"Akhirnya ada kalimat bijak dari calon ayah."

Total belanja berhenti di Rp 38.750.000.

Kirana melihat struk panjang itu dengan mata membesar.

"Arya."

"Masih dalam batas."

"Batas siapa?"

"Batas kebutuhan."

"Itu jawaban yang sangat mencurigakan."

Arya mengambil kantong belanja dari kasir. "Kalau ada yang tidak terpakai, kita donasikan nanti."

Di tengah perjalanan kembali ke parkiran, Kirana berhenti di depan toko perhiasan kecil. Etalasenya menampilkan cincin sederhana dan gelang bayi.

Kirana menatap sebentar, lalu cepat berjalan lagi.

Arya melihatnya, tetapi tidak bertanya.

Kotak di sakunya terasa menyentuh tulang rusuk.

Saat mereka masuk mobil, sistem muncul.

【Tugas sampingan selesai.】

【Evaluasi: kebutuhan ibu hamil terpenuhi tanpa pemborosan ekstrem.】

【Hadiah diberikan: kemampuan perawatan kehamilan Lv.2.】

【Fitur baru aktif: pemantauan kondisi Kirana Putri Ayu.】

Panel kecil terbuka di sisi pandangan Arya.

Nama: Kirana Putri Ayu

Status: hamil awal, sekitar 6 minggu

Tekanan emosi: sedang

Kelelahan: ringan

Risiko saat ini: rendah

Saran: makan porsi kecil, istirahat, hindari konflik intens

Arya menggenggam setir lebih erat.

Fitur itu membuat dadanya sedikit lega.

Ia tidak akan menyebut panel ini kepada Kirana. Terlalu sulit dijelaskan. Namun mulai sekarang, ia punya alarm diam-diam. Kalau emosi Kirana naik, ia bisa memperlambat langkah. Kalau lelahnya bertambah, ia bisa menghentikan aktivitas. Sistem memberi angka, Arya tetap harus membaca wajahnya sendiri.

"Kamu kenapa?" tanya Kirana.

"Aku senang kamu tidak terlalu lelah."

Kirana memandangnya curiga. "Kamu bisa tahu dari mana?"

"Wajahmu lebih baik daripada tadi."

"Hmm."

Langit Surabaya berubah gelap saat mereka tiba di Grand Surya Residence. Awan berat menggantung rendah. Begitu mereka masuk unit, guntur pertama pecah.

Kirana langsung berhenti.

Arya menoleh. "Takut petir?"

"Sejak kecil."

Guntur kedua menyambar lebih keras. Lampu ruang tamu berkedip. Kirana memegang lengan Arya.

Arya menurunkan kantong belanja, lalu menutup tirai. Ia mematikan lampu utama, menyalakan lampu meja yang hangat, dan mengambil selimut dari kamar.

"Duduk di sofa."

Kirana menurut.

Hujan turun deras, memukul kaca apartemen. Kota di luar berubah buram. Arya menyeduh air hangat, menaruh bantal tubuh di sisi Kirana, lalu duduk di sampingnya.

Kirana menarik selimut sampai ke bahu.

"Waktu kecil, kalau hujan besar, atap rumah bocor," katanya. "Mama selalu taruh ember di ruang tamu. Aku tidur dekat dia sambil dengar air jatuh."

"Sekarang atapnya aman."

"Aku tahu."

"Dan aku di sini."

Kirana menatapnya. Guntur kembali terdengar, tetapi kali ini ia tidak menunduk. Ia perlahan menyandarkan kepala ke bahu Arya.

Arya tidak bergerak.

Pemantauan sistem menunjukkan tekanan emosi Kirana turun sedikit demi sedikit.

Di luar, badai masih keras.

Di ruang tamu itu, napas Kirana akhirnya melambat. Ia tertidur dengan tangan masih memegang ujung jaket Arya.

Arya menatap wajahnya lama.

Untuk pertama kalinya, apartemen besar itu terasa seperti rumah.

Di sisi lain Surabaya, Denny Hartono duduk di ruang kerja rumahnya. Di depan meja, seorang pria menyerahkan map tipis.

"Kami dapat data awal. GR Supra atas nama Arya Pratama. Unit Grand Surya Residence juga atas nama dia. S-Class di basement apartemen sama."

Denny membuka map itu.

"Sumber dana?"

"Belum ketemu. Tidak ada jejak pinjaman bank besar. Tidak ada catatan perusahaan aktif atas namanya."

Denny menyandarkan punggung.

Lampu ruang kerja memantul di jam Rolex-nya.

"Mahasiswa miskin tiba-tiba punya tiga aset mahal."

Ia tersenyum dingin.

"Terus gali. Kalau uangnya kotor, aku yang kubur dia. Kalau uangnya bersih, aku cari cara lain."

Pria itu menyerahkan foto lain. Foto Arya di koridor fakultas, berdiri di depan Denny tanpa menunduk.

"Video kecil dari mahasiswa juga mulai beredar, Den. Banyak yang bilang Arya berani."

Denny mengambil foto itu. Ibu jarinya menekan wajah Arya sampai kertas sedikit melengkung.

"Berani bisa dibuat terlihat sombong."

"Mau saya sebarkan narasi?"

"Tunggu. Kita butuh bahan yang lebih kuat."

Pagi berikutnya, Arya bangun dengan Kirana masih tertidur di sofa. Ponselnya bergetar pelan.

Panel sistem muncul.

【Peringatan: aktivitas investigasi eksternal terdeteksi.】

【Target investigasi: aset host, sumber dana, tempat tinggal.】

【Saran: segera bangun rantai legal sumber aset.】

1
Ria Gazali Dapson
kirana bnyak tanya ya, udh untung arya mo tanggung jawab, dg fasilitas wow , ga da rasa syukur nya ,cuma penasaran⁹ doang , liatin ja dulu , bersama dg waktu akn mnjawab semua , karena suatu anugerah, sedang tercurah k arya
Maulana Sejati
buruk
Maulana Sejati
ni yg nggak masuk akal, punya sistem,sdh tau ada ancaman tpi trnyata msh dbuat cerita yg bgini...prettt
penggemar_Uangkecil?!
👍👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
sitanggang
gak seru, kok system org Lain ad yg tau🤣🤣🤣🤣🤣
σяιмσтσ (^• . •^)
.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!