NovelToon NovelToon
I'M A Villain

I'M A Villain

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Romansa Fantasi
Popularitas:844
Nilai: 5
Nama Author: Usu dedek

Seorang gadis 14th merelakan masa remajanya demi bisa masuk ke organisasi Phantom agar bisa membalas dendam kematian kakaknya. Misi pertama mendekati empat cucu Alexander Starling Gruop.

Demi keberhasilan misi Irish menggunakan apa saja termasuk mempermainkan perasaan targetnya.

Dendam nomer satu, perasaan nomer sekian!!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Usu dedek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

memenuhi hati Zane.

Aku sengaja menyebutkan kota kelahiranku tanpa ragu-ragu. Toh bagaimanapun nanti Aldrik akan tahu semuanya tentangku. Jadi aku tidak ingin berbohong.

Melihat wajah Zane yang tak bergeming membuat hatiku kacau.

"Bagaimana rasanya? apa tidak enak?"

 Keempat pria itu lalu tiba-tiba menggeleng dan menatapku dengan tajam. Sontak aku panik. Aku tidak punya kesempatan menambahkan racun apapun tadi, tapi reaksi mereka membuatku janggal.

"Apa tidak enak?" Tanya ku dengan suara sangat pelan.

"sebenarnya kemampuan apa lagi yang kau miliki, Irish?" Jawab Markus serius.

Pertanyaan itu seketika membuat wajahku berubah pucat. Apa sebegitunya tidak enak masakanku ini. Atau sesuatu yang mencurigakan terjadi?

Aku gelagapan. "A ... ada apa? apa masakanku terlalu aneh di lidah kalian?"

"Itu ini terlalu nikmat untuk disebut sebagai sup. Cita rasanya sangat tajam tapi lembut. Kau belajar masak dari mana?"

"Apa? tajam tapi lembut," aku merasa konyol.

Apa mungkin orang-orang berkulit putih di sini tidak tahu bagaimana rasanya soto. Ya mungkin mereka terbiasa dengan makanan mewah. Burger, steak, dan aneka daging lain.

Ah biarlah, mereka di sini hanya makan roti dan beberapa mentega yang membuat enek perutku. Tentu saja lidah Indonesia seperti itu tidak cocok dengan makanan dari sini. Namun cita rasa yang khas yang kubawa dari Negeriku tentu saja akan mengguncang lidah mereka.

 Aku tidak menyangka kalau masakan sederhanaku ternyata mendapat pujian dari 4 Taipan itu.

"Ternyata panduan buku itu benar, untuk menggaet laki-laki ada empat titik yang harus stabil. Bagian bibir, puasanya mereka dengan kata-kata manis dan manja. Bagian dada, berikan sentuhan di hati mereka dengan kenangan dan kasih sayang. Bagian perut, puasanya rasa lapar mereka. Yang terakhir bagian selangkangan... ah... memikirkannya saja aku malas. " Gumamku dalam hati.

Walau aku mendapat pujian, tapi aku tak ingin berpuas diri. Jurus penggodaku tadi baru setengah berhasil.

Kami lalu memakan makanan itu dengan riang, bahkan Markus mengejekku,

"Irish kau sangat cocok untuk membuka restoran."

 Aku lalu terpikir sesuatu sambil tersenyum.

" Ya benar, aku meminta sebuah kantor kecil untukku berbagi informasi dengan anggota tim. Mengapa aku tidak membuka cafe saja." Benakku.

Ide dari Markus sangat masuk akal bagiku.

" Kau benar. Tiga hari lagi datanglah ke area maen street, aku akan membuka sebuah restoran di sana."

"Really?" Ujar Aldrik.

"Ya ... aku sedari dulu memang suka memasak. Sudah lama aku ingin membuka restoran. "

"Kebohongan macam apa ini? Garing sekali." batinku merasa bodoh.

"Oke ... aku akan datang. Tapi sebelum itu, kita sebaiknya berbelanja, aku akan membelikanmu beberapa pakaian wanita." Ucap Zane dengan lembut.

Tatapannya kini mulai berubah kepadaku setelah kata-kata tadi. Raut wajahnya mulai cerah tak setegang kemarin.

"kena kau Zane! Bukankah kau ingin mendapatkan gudang senjata milik Caspian? jika kau lebih dulu mendapatkanku, kau yang akan menang. Sekarang kau adalah target utama yang akan aku hancurkan." batinku.

Aku masih bertekad mempermainkan perasaan mereka, walaupun sebenarnya mereka sudah diam-diam membatalkan taruhan.

*** Pusat perbelanjaan. ***

Siang itu aku pergi bersama Zane menaiki Mercedes-Benz miliknya. Aku masih mengenakan kemeja Zane dan long blazer ku semalam. Setelah meluncur beberapa menit di aspal, kami sampai ke area pusat perbelanjaan ternama di Los Angeles.

Baru pertama kalinya aku masuk ke tempat perbelanjaan itu. Sepanjang jalan aku melihat keamanan yang diam-diam mengikuti. Pria dengan senjata tersembunyi di saku dan pinggang tampak berjalan berbaur dengan kami. Pakaian mereka biasa, tapi bukan tampak seperti orang biasa.

"Zane ... siapa orang-orang itu?" Sambil terus berjalan memasuki gedung perbelanjaan.

"Itu adalah pengawal pribadiku. Setiap pewaris Starling Gruop memiliki empat pengawal. Itu perintah kakek, aku tidak bisa membantah."

"Apa setiap hari selalu begini?"

"Ya ... kemanapun aku pergi mereka selalu mengikuti. Hal sekecil apapun kakek pasti tau, itu menyebalkan." Tambah Zane terlihat kesal.

"Apa tidak ada privasi?"

"Mereka hanya mengendorkan pengawalan saat di rumah dan area boxing. Kalau aku keluar mereka seperti lalat yang menjengkelkan. "

"Bukankah sangat kau kuat? Kenapa di kawal seperti ini?"

"Kau belum mengenal keluarga Starling, Irish. Ada banyak pembunuh yang mengejar kami. Kepala kami bernilai ratusan juta dolar."

"Itu menyeramkan, Zane."

Aku mengernyitkan alis. Pengawasan dan pengawalan mereka ber empat sangat ketat. Aku tau, kejadian di bar, boxing hall pasti sudah terdengar di telinga Alexander Starling. Aku jadi semakin berhati-hati.

Aku terdiam sesaat. Aku mematung di depan pintu lift. Aku memikirkan cara agar bisa mengedorkan keamanan Zane. Walaupun aku belum bisa bertindak terlalu jauh, tapi setidaknya aku akan lebih leluasa.

"Zane, masih tersisa 12 jam taruhan kita, jika mereka terus mengikuti kita, aku akan merasa risih." Ucapku dengan tujuan Zane akan mengusir mereka.

Zane tak bicara. Ia mangangguk pelan lalu melambaikan tangan. Para Bodyguard itu langsung menjauh. Kami lalu melangkah masuk ke dalam mall.

Zane memilihkan aku beberapa pakaian bagus. Sepatu dan sandal. Setelah puas berbelanja, Zane membawaku ke toko perhiasan ternama di pusat kota.

Aku melihat beberapa perhiasan super cantik dengan harga yang bisa membuatku gila di dalam lemari kaca. Mataku terpaku pada sebuah kalung berlian merah di sana.

"Kau suka itu?"Tanya Zane seolah memberikan harapan lebih.

"Zane ... ini tidak perlu." Ucapku malu-malu.

Sebenarnya aku sangat berharap dia membelikan ku perhiasan itu. Seumur hidupku belum pernah uang gaji dari asosiasi ku pakai untuk foya-foya. Kapan lagi di traktir oleh taipan kaya bertubuh besar.

"Bukankah kau jadi adikku hari ini? Jangan menolak, anggap saja pemberian dari saudara."

Aku tersenyum haru mendengar ucapan itu.

"Thanks brother, Zane."

Secara reflek aku mengecup pipinya. Zane tersipu malu. Aku menyunggingkan senyum licik. Aku semakin hafal, kelemahan Zane adalah di perlakukan dengan lembut. Keinginan terbesar dalam jiwanya pasti begitu.

Dia lalu membayar perhiasan itu dengan black card miliknya. Zane mengambil kalung indah itu dan berniat memasangkannya padaku secara langsung.

"Berbaliklah!"

Aku mengangguk bahagia. Demi menjaga kepropesionalanku, aku menahan gejolak riang dalam jiwa ini. Rasanya aku ingin loncat dan menjerit keras. Betapa bahagianya aku sore ini, kalung berlian merah seharga ratusan juta dollar akan melingkar di leherku.

Aku berbalik dengan anggun menhadap cermin di depanku. Ku tarik rambut panjangku ke depan. Leher putihku terpampang di kedua mata Zane. Kulihat dirinya yang malu-malu dari pantulan kaca. Tangannya sedikit bergetar saat melingkarkan perhiasan itu di leherku.

Aku menangkap tangannya dengan lembut lalu melepasnya.

 "Rilex ... aku tidak akan pergi." Kataku meneguhkan hatinya.

Zane tersenyum simpul. Seolah aku berhasil memenuhi hatinya saat ini. Keraguannya hilang. Aku merasa puas. Tangannya tak lagi bergetar. Dia memasangakn kalung indah itu dengan berat.

"Ada apa?" ucapku.

"Aku tidak pernah memaikan kalung ke leher wanita, jadi ... "

"Jadi ... ?"

"Kaitnya sedikit keras, aku takut rusak."

Sontak aku berbalik. Wajah kami bertemu. Cermin besar ku belakangi menjadi satu-satunya objek yang sangat tau isi hatiku saat ini.

Pelayan toko perhiasan mundur melihat kami begitu dekat. Zane tampak menegak air liurnya. Jakun di lehernya tampak naik turun. Nafasnya panas.

"Pakaikan saja dari depan," ucapku manja.

Zane gelagapan. Bibirnya berdecak acak. Matanya liar tak fokus. Mungkin karena melihat belahan dadaku di bawah hidungnya.

Berselang beberapa detik, dia memaksakan mengait kalung yang tersangkut.

"Au ... " Zane mendesis.

Tangannya tergores dan sedikit berdarah. Dengan cepat aku memasukan jarinya ke mulut. Ku hisap perlahan jari kekar kecoklatan itu. Mata Zane tampak ragu-ragu. Tapi sorot matanya berkaca-kaca.

"Aku tau, dia belum pernah di perlakukan dengan lembut sebelumnya. Pasti hal kecil begini akan berdampak besar padanya."

1
sinnox
berani bgt ni cewe bjir😭
sinnox
10 juta dollar lenyap nih? 😭
sinnox
Jangan mau irish, kmu di jadiin bahan taruhan doang😭
sinnox
Weh baru juga ketemu, Zane sat set bgt 🤣
sinnox
Siapa ituuu🫣
sinnox
Alamak🫣
azza Binury: 🤭🤭🤭 tq
total 1 replies
sinnox
bahaya mbak masuk Phantom😰
sinnox
Di bunbun😰
sinnox
Yang sabar irish😭
azza Binury: terimakasih udah mampir kak. jangan lewatkan update terbaru
total 1 replies
𝜚⍣⃝𝄞®™Maxime😈
semangat 💪
azza Binury: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!