NovelToon NovelToon
Namamu Di Mata Yang Salah (Remake Storm)

Namamu Di Mata Yang Salah (Remake Storm)

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:443
Nilai: 5
Nama Author: Kyushine / Widi Az Zahra

Alina Maheswari percaya bahwa cinta selalu menemukan jalannya. Lima tahun bersama Birendra Adhyaksa membuatnya yakin bahwa lelaki itu adalah rumah tempat dimana ia akan pulang selamanya.

Namun sebuah kecelakaan merenggut segalanya.

Ketika sang kakak—Keira Maheswari kehilangan suaminya, dan terjebak dalam trauma yang membuatnya mengira Birenda adalah lelaki yang telah tiada, Alina dihadapkan pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan yaitu mempertahankan cintanya atau merelakannya demi menyembuhkan satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Disaat pengorbanan mulai mengikis hatinya, masa lalu datang mengetuk, sementara rahasia demi rahasia perlahan mengubah arti cinta, kehilangan, dan kesetiaan. Sebab terkadang, yang menghancurkan sebuah hubungan bukanlah hadirnya orang ketiga, melainkan seseorang yang namamu di mata yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 – Rumah yang Kehilangan Suara

“Rumah tidak selalu menjadi sepi kareng kosong. Kadang rumah menjadi sepi karena satu suara tak lagi terdengar.”

--

Pemakaman Raka sudah berlalu tiga hari, waktu berjalan lambat seperti jarum jam yang enggan bergerak. Pagi datang bersama langit mendung dan udara lembab yang masih menyimpan sisa hujan beberapa malam terakhir. Rumah Maheswari tampak sama seperti biasanya, tetapi Alina tahu tidak ada lagi yang benar-benar sama.

Di meja makan, tiga piring tersusun rapi. Hendra menyiapkan sarapan seperti rutinitas yang telah dilakukan bertahun-tahun, namun kini ada satu kursi yang kosong, kursi milik Keira. Alina menatap kursi itu cukup lama, biasanya kakaknya akan datang seraya mengikat rambut seadanya, mengeluh kopi terlalu pahit, lalu meminta Raka menambahkan gula. Kenangan kecil itu muncul begitu jelas hingga dadanya terasa sesak.

“Makan dulu,” ujar Hendra pelan. Alina mengangguk, tetapi suapan pertama terasa hambar di lidahnya, Hendra pun hanya makan beberapa sendok sebelum meletakkan sendoknya kembali. Keduanya kini duduk berhadapan dalam diam, dan kesunyian itu jauh lebih menyakitkan dari pada sebuah tangisan.

Usai sarapan, Alina membereskan meja seraya menahan air mata. Jemarinya berhenti ketika melihat cangkir putih bergambar daun kecil di rak piring, itu merupakan cangkir favorit Keira. Biasanya Raka selalu mencuci cangkir itu sendiri karena tahu Keira tidak suka melihat noda kopi tertinggal di pinggirnya.

Alina memeluk cangkir itu ke dadanya untuk beberapa detik sebelum akhirnya meletakkannya kembali dengan hati-hati. Ia tidak kuat terlalu lama berada di dapur.

Menjelang siang, ponselnya berdering, nama Maya selaku Sekretaris Direksi muncul di layar. Alina sempat ragu untuk menerima panggilan tersebut, namun karena ia merasa dirinya masih memiliki sebuah tanggung jawab, akhirnya ia memilih untuk menerimanya.

“Halo, Mbak Alina…” suara di seberang sana terdengar hati-hati. “Maaf mengganggu, saya Cuma mau mengingatkan soal rapat final Aurora besok pagi.” Jantung Alina seolah berhenti untuk sesaat. Aurora, ia hampir lupa bahwa dunia di luar rumahnya masih terus berjalan.

Peluncuran koleksi terbesar perusahaan tinggal beberapa hari lagi, undangan media sudah tersebar, investor luar negeri telah mengonfirmasi kehadiran, dan seluruh tim desain menunggu keputusan final darinya sebagai manajer desain.

“Saya… saya belum tahu bisa datang atau tidak.” Maya terdiam sejenak mendengar penuturan itu.

“Pak Birendra bilang kesehatan Mbak Alina lebih penting, tapi beliau juga minta saya menyampaikan bahwa keputusan desain terakhir tetap menunggu persetujuan Mbak.” Terang Maya.

Usai panggilan berakhir, Alina duduk perlahan di sofa ruang tamu. Ia menatap papan inspirasi Aurora yang masih berdiri di sudut ruangan. Potongan kain warna champagne, sketsa perhiasan, dan foto bunga melati masih tertempel rapi disana. Dulu semua itu terasa seperti mimpi yang indah, kini rasanya seperti milik orang lain.

Sore harinya, Birendra datang membawa beberapa berkas perusahaan dan buah untuk Hendra. Ia tampak lebih rapi dibanding hari-hari sebelumnya, tetapi lingkar hitam dibawah matanya tidak bisa disembunyikan.

“Ke rumah sakit lagi nanti?” Tanya Hendra dan Birendra mengangguk pelan.

“Malam ini aku jaga beberapa jam.”

Alina keluar dari dapur seraya membawa dua cangkir teh hangat, tatapan Alina dan Birendra bertemu untuk sesaat, dan tanpa ragu Alina duduk di sisi Birendra saat berada di sofa ruang tengah. Jarak di antara mereka nyaris tidak ada, seolah keduanya sama-sama mencari tempat untuk bersandar di tengah hari-hari yang begitu berat.

“Bagaimana kondisi Kak Keira?” tanya Alina pelan.

“Masih sama. Dokter bilang, respon tubuhnya membaik, tapi kesadarannya belum kembali.”

Alina menunduk, ada sedikit lega mendengar kabar itu, meski rasa takut tetap mengendap di dadanya. Ia belum siap membayangkan saat kakaknya membuka mata dan menanyakan keberadaan Raka.

“Kita hadapi pelan-pelan ya.” Alina mengangguk kecil, genggaman itu terasa hangat dan genggaman tersebut membuat dadanya yang sejak tadi sesak terasa sedikit lebih ringan. Beberapa menit kemudian, Birendra mengeluarkan map hitam dari tasnya. “Ini revisi final Aurora, aku butuh pendapatmu.” Ucapnya lagi.

Alina sempat ragu, tetapi akhirnya ia menerima map itu. Di dalamnya terdapat sketsa cincin melati yang mereka kerjakan bersama berbulan-bulan, garis-garis pensil itu begitu akrab hingga membuat matanya panas.

“Kamu masih simpan versi ini?” bisiknya dan membuat Birendra tersenyum tipis.

“Itu adalah versi favoritmu.”

Alina mengusap pelan sudut kertas gambar itu. Dulu mereka sering berdebat soal desain sampai larut malam, lalu tertawa sendiri ketika menyadari kantor sudah hampir kosong. Mengingat semua itu membuat hatinya perih sekaligus hangat.

“Menurutku pengait batu tengahnya terlalu tinggi,” ujarnya seraya mencoba kembali fokus, dan Birendra langsung mencatat.

“Aku juga sempat kepikiran begitu.” Untuk beberapa menit berikutnya, mereka membahas desain seperti biasa. Anehnya, saat berbicara tentang pekerjaan, Alina merasa napasnya sedikit lebih lega. Dunia desain adalah satu-satunya tempat dimana ia masih bisa menjadi dirinya sendiri, bukan sedang menjadi adik yang tengah berduka.

Usai diskusi, Alina menutup map itu perlahan. Kepalanya terasa berat karena kurang tidur, dan tanpa sadar ia menyandarkan diri pada bahu Birendra. Pria itu diam saja, membiarkan Alina bersandar seraya mengusap pelan punggung tangannya dengan ibu jari.

“Kalau kamu belum siap datang ke kantor, jangan paksakan dirimu.” Ucapnya lembut. Alina menggeleng pelan tanpa mengangkat kepala dari bahu pria disisinya.

“Aku nggak bisa terus diam dirumah. Kalau aku berhenti sekarang, aku takut malah makin tenggelam.”

“Kalau begitu aku temani.” Alina akhirnya menoleh dan menatap wajah pria yang berada disisinya. Untuk sejenak ia melupakan rumah sakit, pemakaman, dan segala ketakutan yang sejak beberapa hari terakhir menggerogoti hatinya.

Kini, ia hanya merasakan hangatnya bahu tempat ia bersandar dan keyakinan sederhana bahwa selama Birendra ada di sisinya, ia masih sanggup bertahan sedikit lebih lama.

Malam hari, setelah Birendra pergi ke rumah sakit, Alina masuk ke kamar kerjanya. Lampu mejanya menyala dengan redup, menerangi tumpukan sketsa Aurora. Ia mengambil salah satu gambar kalung yang bertabur batu kecil menyerupai cahaya fajar. Di pojok kertas tertulis tulisan tangannya sendiri.

Aurora hanya terlihat seperti cahaya pertama setelah malam yang panjang.

Alina menatap kalimat itu lama sekali. Ironis, ia menciptakan koleksi tentang cahaya pertama, sementara hidupnya justru tenggelam dalam malam yang terasa tak berujung. Tanpa sadar air matanya jatuh ke atas kertas, tinta pensil sedikit kabur terkena tetesan air mata.

“Aku nggak tahu masih punya cahaya atau nggak,” bisiknya ditengah isak tangisnya. Sebelum tidur, ponsel Alina kembali bergetar, pesan dari Birendra muncul di layar ponselnya.

"Aku dirumah sakit sampai pagi. Kamu nggak usah khawatir soal kak Keira, biar aku yang jaga malam ini. Sekarang kamu istirahat, ya. Jangan nangis sendirian lagi."

Alina membaca pesan itu berulang kali. Setiap kalimatnya terasa seperti tangan hangat yang menenangkan dadanya. Sejak kecelakaan terjadi, Birendra memang selalu memastikan ia makan, minum obat, dan tidur meski hanya sebentar.

Jemarinya mulai mengetikkan balasan, namun berhenti. Ada terlalu banyak hal yang ingin ia katakan, bahwa sebenarnya ia takut tidur sendiri, takut bangun dan mendapati semua yang terjadi benar-benar nyata, ia juga takut kehilangan lebih banyak lagi. Namun pada akhirnya ia memilih untuk mengirimkan kalimat yang paling jujur dari hatinya.

“Cepat pulang. Aku nggak bisa tidur kalau belum tahu kamu baik-baik aja.” Begitulah balasan yang dikirimkan oleh Alina dan tak lama kemudian balasan dari Birendra muncul.

“Aku baik-baik saja. Begitu selesai jaga, aku akan langsung pulang ke kamu.” Mata Alina kembali panas. Ia menekan ponsel itu ke dadanya, seolah bisa merasakan kehadiran pria tersebut melalui layar kecil di tangannya.

“Terima kasih sudah selalu ada.” Alina kembali mengirimkan balasan.

“Aku akan selalu ada, Alin.” Senyum kecil akhirnya muncul di bibir Alina untuk pertama kalinya di hari itu. Ia mematikan layar ponsel, lalu berbaring menghadap langit-langit kamar seraya memeluk bantal.

Di luar, angin malam menggerakkan tirai secara perlahan. Rumah kembali tenggelam dalam sunyi. Tidak ada suara tawa Keira, tidak ada suara Raka yang memanggil dari ruang tamu, dan tidak ada bunyi langkah tergesa menuju dapur tengah malam seperti biasanya.

Alina memejamkan mata seraya memeluk bantal, besok ia harus kembali menghadapi dunia luar—kantor, rapat, desain, dan peluncuran Aurora yang tinggal menghitung hari. Ia belum tahu apa dirinya cukup kuat untuk berdiri di bawah sorot lampu sementara hatinya masih dipenuhi duka.

Jauh di dalam dirinya, ada firasat samar bahwa peluncuran itu tidak hanya akan mengubah masa depan perusahaan mereka, namun peluncuran itu juga akan menjadi titik sebelum hidup mereka berubah dengan cara yang tak pernah mereka bayangkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!