Miskin seumur hidup, ia bahkan harus mengakhiri hidupnya karena penyakit yang tak mampu ia obati.
Namun, ketika membuka mata, ia justru mendapati dirinya telah masuk ke dalam novel sebagai seorang wanita yang baru saja melompat dari sebuah gedung demi melarikan diri dari pernikahan perjodohan.
Seharusnya ia ikut kabur.
Tapi setelah mengetahui bahwa pria yang akan menjadi suaminya adalah seorang pewaris kaya raya, pikirannya berubah.
“Melarikan diri? Untuk apa? Bukankah lebih baik aku menikah dan hidup nyaman?”
Kini, ia bertekad mempertahankan pernikahan yang bahkan tidak diinginkan oleh pemilik tubuh asli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Elena masih memegang dokumen itu erat-erat. Matanya menyapu baris kalimat yang sama berulang kali, seakan berharap tulisan itu akan berubah seketika. "Pernikahan ini akan dibatalkan segera setelah tujuan yang telah disepakati tercapai."
Namun kalimat itu tetap tertera di sana, tegas dan jelas. Elena perlahan mengangkat wajahnya. Isabella masih menatapnya dengan penuh keyakinan, seolah sudah menunggu detik di mana Elena akan menangis, marah, atau membatalkan pernikahan itu saat itu juga.
Namun kenyataannya justru sebaliknya. Elena menghela napas panjang, lalu menatap Isabella dengan tenang.
"Cuma ini?"
Isabella mengerutkan kening, bingung. "Apa maksudmu?"
"Maksudku, bukti yang kau punya ini," Elena mengangkat dokumen itu sedikit, menatapnya sekilas seakan benda itu tidak berarti apa-apa. "Hanya ini?"
"Ya." Isabella tersenyum tipis, kembali merasa yakin. "Bukankah sudah jelas? Itu tanda tangan Sebastian. Tidak ada keraguan lagi."
Elena menatap tanda tangan itu lebih dekat. "Memang mirip sekali."
"Bukan mirip. Itu benar-benar miliknya."
"Kalau begitu... lalu apa?"
Isabella terdiam, tak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu. Elena perlahan melipat dokumen itu dan memasukkannya kembali ke dalam amplop dengan rapi.
"Aku tetap akan menikah dengannya."
Wajah Isabella langsung berubah kaku. "Kau... kau tidak percaya padaku?"
"Aku tidak bilang begitu."
"Lalu kenapa? Kenapa kau masih ingin menikah dengannya setelah melihat ini?"
Elena mengangkat bahu santai. "Karena aku sudah memutuskan."
"Tapi Sebastian mungkin akan menceraikanmu setelah tujuannya tercapai!" seru Isabella tidak percaya.
Elena justru tersenyum tenang. "Kalau itu benar-benar terjadi, aku akan memikirkannya saat itu nanti."
Isabella menatapnya seakan melihat makhluk aneh. "Kau tidak takut?"
"Tidak." Elena berdiri tegak, menatap Isabella lekat. "Yang penting sekarang adalah aku menikah dengannya."
"Kenapa?"
Elena terdiam sejenak. Di dalam hatinya, jawaban itu sudah jelas dan nyata.
Karena Sebastian kaya. Karena aku sudah pernah merasakan hidup miskin sampai nyawaku terancam.
"Karena aku percaya pada pilihanku sendiri."
Isabella mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih. "Kau bodoh, Elena."
"Mungkin saja," jawab Elena santai. Ia berjalan menuju pintu, lalu berhenti sejenak dan menoleh ke belakang. "Tapi bagaimanapun juga, aku tetap akan menjadi Nyonya Hale."
Elena membuka pintu itu. Namun sebelum melangkah keluar, ia menoleh kembali. "Oh, satu hal lagi."
Isabella menatapnya dengan tatapan tajam. "Apa?"
"Terima kasih sudah menunjukkan dokumen ini padaku."
Isabella mengerutkan kening. "Untuk apa?"
"Supaya aku tahu ada seseorang yang begitu sibuk mengurusi urusan pernikahanku," ucap Elena sambil tersenyum manis namun penuh makna. "Semoga kau menikmati harimu, Isabella."
Pintu tertutup rapat. Isabella berdiri terpaku di tempatnya. Rencananya gagal. Ia sudah membayangkan Elena akan lari ketakutan dan membatalkan pernikahan itu. Namun wanita itu justru semakin teguh pendiriannya.
"Bagaimana mungkin?" Isabella menggigit bibirnya, menatap pintu yang baru saja ditutup Elena. "Kenapa dia tidak takut sama sekali?"
Di luar hotel, Elena masuk ke dalam mobil. Begitu pintu tertutup rapat, ia langsung menghela napas panjang, rasa lega menyelimuti dadanya.
"Untung aku tidak mudah dibodohi," gumamnya pelan. Namun senyum itu perlahan menghilang. Ia menatap amplop yang masih digenggamnya erat.
"Tapi... dokumen ini harus diperiksa kebenarannya." Elena tidak sepenuhnya mempercayai Isabella, namun ia juga tidak cukup bodoh untuk mengabaikan hal ini begitu saja. Ia segera merogoh ponselnya.
Ada satu nama yang ingin ia hubungi sekarang juga. Sebastian. Jari-jarinya sudah hampir menekan tombol panggil ketika sebuah pesan masuk.
Sebastian: Aku sudah selesai. Kau di mana?
Elena terdiam sejenak, lalu mengetik balasannya.
Elena: Di hotel.
Balasan datang seketika. Sebastian: Hotel mana?
Elena tersenyum kecil. Elena: Grand Palace.
Beberapa detik kemudian, panggilan masuk dari Sebastian. Elena segera mengangkatnya.
"Halo?"
"Apa yang kau lakukan di sana?" Suara Sebastian terdengar cemas dan serius.
"Ada seseorang mengundangku ke sana."
"Siapa?"
Elena melirik amplop di pangkuannya. "Isabella."
Hening menyelimuti seberang sana sejenak. "Dia... mengatakan sesuatu padamu?"
Elena tersenyum tipis. "Banyak hal."
"Aku datang menjemputmu sekarang."
"Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri kok."
"Elena." Nada suaranya berubah tegas, tak bisa dibantah. "Tunggu aku. Aku akan segera sampai."
Elena terdiam, hatinya terasa hangat. "Baik. Aku tunggu."
...tp trus lanjuuut💪💪😘😘