NovelToon NovelToon
Love Story: Menemukan Cinta Sejati

Love Story: Menemukan Cinta Sejati

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / CEO
Popularitas:402
Nilai: 5
Nama Author: Irma Nirmala

kisah seorang wanita yang berusaha melupakan mantannya yang mengkhianati kepercayaan.

diperjalanan menemukan jati diri dan kehidupan baru

sebuah kisah cinta yang manis namun penuh komedi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma Nirmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17

...****************...

Mentari pagi menyinari cakrawala Singapura ketika Evelyn membuka tirai kamar hotelnya.

Pemandangan Marina Bay yang megah langsung menyambut pandangannya. Kapal-kapal kecil berlalu-lalang di kejauhan, sementara gedung-gedung pencakar langit mulai dipenuhi aktivitas.

Evelyn menarik napas panjang.

"Hari yang panjang lagi..."

Tak lama kemudian, ponselnya berdering.

Naomi.

"Selamat pagi, Nona."

"Pagi, Naomi."

"Sarapan sudah disiapkan di restoran hotel. Tuan Arseno dan Pak Kosta juga sudah ada di sana."

Evelyn melirik jam.

"Baik. Aku turun sepuluh menit lagi."

Restoran hotel dipenuhi tamu dari berbagai negara.

Arseno sudah duduk di meja dekat jendela sambil membaca berita bisnis di tablet.

Di depannya hanya ada secangkir kopi hitam.

Evelyn datang beberapa menit kemudian.

"Pagi."

Arseno mengangkat kepala.

"Pagi."

Evelyn duduk lalu melihat meja Arseno.

"Kau cuma minum kopi?"

"Aku sudah terbiasa."

"Itu bukan sarapan."

"Cukup."

Evelyn menggeleng pelan.

"Kalau suatu hari kau pingsan, jangan bilang aku tidak mengingatkan."

Arseno tersenyum tipis.

"Yang pernah hampir pingsan karena lupa makan itu siapa?"

"Itu fitnah."

Naomi langsung tertawa kecil.

"Nona memang sering lupa makan."

Evelyn melotot kecil.

"Naomi."

"Maaf."

Kosta ikut menimpali.

"Pak Arseno juga sama."

Kini giliran Arseno yang menatap asistennya.

"Kosta."

"Maaf, Pak."

Evelyn tersenyum puas.

"Ternyata kita sama."

"Aku tidak senang menemukan persamaan itu."

Pelayan datang membawa menu.

Evelyn langsung memesan cukup banyak.

"Croissant, omelet, smoked salmon, buah, dan pancake."

Arseno memperhatikan sambil mengangkat sebelah alis.

"Itu untuk berapa orang?"

Evelyn menjawab santai.

"Satu."

"Kau benar-benar konsisten."

"Dalam hal apa?"

"Soal porsi makan."

Naomi menahan tawa.

Usai sarapan, mereka menuju gedung tempat negosiasi lanjutan akan dilaksanakan.

Hari ini jauh lebih penting.

Jika negosiasi berhasil, investasi bernilai miliaran dolar akan resmi disepakati.

Daniel Lim menyambut mereka di depan ruang rapat.

"Selamat pagi."

"Selamat pagi."

"Semua investor sudah hadir."

Arseno mengangguk.

"Kalau begitu kita mulai."

Di ruang rapat, suasana jauh lebih serius dibanding hari sebelumnya.

Seorang investor asal Korea membuka pembicaraan.

"Kami ingin jaminan mengenai distribusi teknologi."

Arseno menjawab tenang.

"Andreas Corporation memiliki jaringan logistik yang mampu memenuhi kebutuhan tersebut."

Investor lain menoleh kepada Evelyn.

"Bagaimana dengan inovasi produknya?"

Evelyn membuka presentasi.

"Hills Corporation sudah menyiapkan pengembangan untuk lima tahun ke depan."

Ia menjelaskan setiap poin dengan jelas.

Beberapa investor mulai berdiskusi pelan.

Daniel tersenyum.

"Presentasi yang sangat baik."

Namun seorang pria berkacamata di ujung meja mengangkat tangan.

"Saya masih ragu."

Ruangan menjadi hening.

"Silakan," ujar Arseno.

"Bagaimana jika terjadi konflik antara dua perusahaan kalian?"

Evelyn dan Arseno saling berpandangan sesaat.

Evelyn tersenyum tipis.

"Kami memang sering berbeda pendapat."

Arseno melanjutkan,

"Tapi keputusan selalu dibuat berdasarkan data."

"Bukan ego?" tanya investor itu.

Arseno menjawab singkat.

"Kalau memakai ego, kerja sama ini tidak akan pernah terjadi."

Evelyn mengangguk.

"Perdebatan bukan berarti permusuhan."

Daniel tersenyum puas.

"Itu jawaban yang kami harapkan."

Pertemuan berlangsung hampir empat jam.

Ketika sesi terakhir selesai, para investor berdiri memberikan tepuk tangan.

"Selamat."

"Negosiasi berjalan sangat baik."

Daniel menjabat tangan Arseno dan Evelyn.

"Malam ini kami mengundang Anda menghadiri jamuan makan malam sebagai bentuk penghormatan."

Arseno mengangguk.

"Dengan senang hati."

Malam harinya...

Ballroom hotel dipenuhi para pengusaha internasional.

Lampu kristal memantulkan cahaya keemasan yang membuat suasana semakin elegan.

Evelyn mengenakan gaun hitam sederhana.

Arseno memakai jas hitam yang membuatnya tampak semakin berwibawa.

Begitu mereka masuk, beberapa tamu langsung menghampiri.

"Senang bertemu lagi."

"Presentasi kalian luar biasa."

Evelyn tersenyum ramah.

"Terima kasih."

Di sudut ruangan...

Seorang pria asing memperhatikan mereka.

Pria itu berbicara pelan kepada rekannya.

"Itu Evelyn Hills?"

"Iya."

"Dan yang di sebelahnya Arseno Andreas."

"Mereka terlihat kompak."

Pria itu menyipitkan mata.

"Kalau kerja sama mereka berhasil..."

"...perusahaan kita akan kehilangan proyek besar."

Ia menggenggam gelasnya lebih erat.

"Kita tidak boleh membiarkan itu terjadi."

Sementara itu...

Evelyn sedang menikmati hidangan penutup.

Arseno memperhatikannya sambil tersenyum tipis.

"Kau benar-benar suka makanan manis."

"Aku tidak menyangkal."

"Kau makan tiramisu lagi."

"Karena enak."

"Besok jangan salahkan timbangan."

Evelyn tertawa kecil.

"Aku main tenis."

"Itu alasanmu setiap kali makan banyak."

"Karena memang berhasil."

Daniel menghampiri mereka.

"Kalian terlihat akrab."

Evelyn dan Arseno saling berpandangan.

Evelyn menjawab lebih dulu.

"Kami hanya sering bertemu."

Arseno mengangguk.

"Sebagian besar waktu kami habiskan untuk rapat."

Daniel tertawa.

"Syukurlah. Awalnya saya kira kalian tidak akur."

Evelyn langsung menunjuk Arseno.

"Dia terlalu kaku."

Arseno membalas cepat.

"Dan dia terlalu banyak bicara."

"Kau mulai lagi."

"Kau juga."

Daniel tertawa melihat keduanya.

"Saya jadi mengerti kenapa kerja sama kalian berhasil."

Di sisi lain ballroom...

Pria asing tadi kembali mengamati mereka dari kejauhan.

Ia mengeluarkan ponsel.

"Semuanya berjalan sesuai rencana."

Suara di seberang telepon bertanya,

"Apakah mereka mulai lengah?"

Pria itu tersenyum tipis.

"Belum."

"Tapi tidak akan lama lagi."

Ia menutup telepon, lalu kembali menatap Arseno dan Evelyn yang sedang tertawa kecil karena saling menyindir.

"Semakin dekat hubungan mereka..."

"...akan semakin mudah menghancurkan reputasi keduanya."

Pria itu pun meninggalkan ballroom tanpa menarik perhatian siapa pun.

Sementara itu, Arseno dan Evelyn sama sekali belum menyadari...

Bahwa seseorang telah mulai mengawasi setiap langkah mereka.

...****************...

1
Nanda Sa
oke 👍❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!