Dua tahun lalu, Tsania memilih mengakhiri hubungannya dengan Arsen, pria yang sangat ia cintai. Bukan karena cinta itu hilang, melainkan karena sebuah rahasia pahit yang memaksanya pergi tanpa penjelasan. Sejak saat itu, mereka menjalani hidup masing-masing, menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Takdir mempertemukan mereka kembali dengan cara yang paling menyiksa.
Hari pertama bekerja di perusahaan impiannya berubah menjadi mimpi buruk ketika Tsania mengetahui bahwa CEO muda yang dingin, arogan, dan disegani semua orang adalah Arsen, mantan kekasih yang pernah ia tinggalkan. Kini, Arsen adalah bosnya.
Bagi Arsen, pertemuan itu bukan kebetulan, melainkan kesempatan untuk membalas rasa sakit yang selama ini ia pendam. Ia bersikap dingin, memberi tugas-tugas sulit, dan terus menguji kesabaran Tsania. Namun, di balik tatapan tajam dan sikap tak berperasaannya, masih tersimpan cinta yang tak pernah benar-benar padam.
apakah yang akan terjadi kepada mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tsania 24
Pintu kamar VVIP 601 mendadak terbuka. Raihan masuk membawa sebungkus buah-buahan segar dan berkas medis tambahan. Melihat situasi kamar yang kacau dengan Tsania yang menangis histeris di pelukan Maya, Raihan langsung meletakkan barang-barangnya dan berlari mendekati ranjang.
"Ada apa ini, Maya?!" tanya Raihan tegap dengan raut wajah cemas.
"Pak Raihan... Tsania hysteris karena menemukan cincin ini di atas nakas!" terang Maya panik seraya menunjuk cincin perak yang tergenggam di tangan Tsania.
"Dia takut kalau Pak Arsen datang ke ruangan ini!"
Raihan menatap cincin perak kusam itu, lalu teringat ucapan Arsen di ruangannya kemarin sore: 'Jangan biarkan dia tahu kalau seluruh biaya ini dariku... aku tidak bisa menemuinya secara langsung.'
Raihan mengepalkan tangannya. Pria angkuh itu rupanya nekat menyelinap masuk ke kamar ini di tengah malam saat Tsania tertidur pulas.
Raihan melangkah maju, memosisikan dirinya tepat di samping ranjang, menatap Tsania dengan sorot mata yang tenang namun sangat tegas dan meyakinkan.
"Tsania," panggil Raihan dengan intonasi suaranya yang dalam dan menenangkan.
Tsania mendongak dengan wajah yang sudah basah oleh air mata, menatap Raihan dengan tatapan penuh keputusasaan.
"Pak Raihan... tolong saya... Saya tidak mau ketemu Pak Arsen... Tolong minta rumah sakit ini perketat penjagaannya..."
Raihan perlahan berlutut di samping ranjang Tsania, menyajajarkan pandangannya agar Tsania merasa aman dan tidak terintimidasi.
"Dengarkan saya baik-baik, Tsania," ujar Raihan lembut namun penuh kepastian.
"Saya sudah bicara dengan kepala keamanan rumah sakit ini. Mulai detik ini, tidak akan ada satu orang pun, termasuk CEO Pratama Group atau siapa pun itu yang diizinkan melangkahkan kaki melewati pintu lorong lantai ini tanpa izin tertulis dari saya dan Maya."
Tsania terisak pelan, menyapu air matanya. "Benarkah, Pak...?"
"Saya jamin dengan nama baik saya," janji Raihan mantap. Ia meraih tisu dari atas nakas dan menyerahkannya pada Tsania.
"Tugas kamu sekarang cuma satu, fokus memulihkan fisikmu. Makan makananmu, minum obatmu, dan istirahat yang cukup. Jangan biarkan pria yang sudah menyakiti mentalmu itu terus mengontrol ketakutanmu."
Raihan melirik cincin perak di tangan Tsania, lalu menyodorkan sebuah kotak kecil dari dalam saku kemejanya.
"Kalau keberadaan cincin itu membuatmu cemas, biarkan Maya yang menyimpannya di tempat yang tidak terlihat," tambah Raihan rasional.
"Kamu tidak perlu menatap barang-barang yang memicu trauma masa lalumu lagi."
Tsania memandangi Raihan, lalu perlahan menganggukkan kepalanya. Rasa hangat dan perlindungan yang ditunjukkan oleh sang arsitek membuat gejolak ketakutan di dadanya perlahan mereda. Tsania menyerahkan cincin itu kepada Maya, yang langsung menyimpannya jauh di dalam tas.
"Terima kasih banyak, Pak Raihan..." bisik Tsania tulus, suaranya mulai kembali tenang meski masih terdengar parau.
"Saya tidak tahu harus membalas kebaikan Bapak dan Maya seperti apa..."
Raihan tersenyum tipis, sebuah senyuman jarang yang membuat raut wajah tegasnya kelihatan jauh lebih ramah.
"Kamu tidak perlu membalas apa pun," sahut Raihan.
"Sembuhlah dengan cepat. Dunia ini terlalu luas untuk membiarkan dirimu dihancurkan oleh satu orang yang salah di masa lalu."
Maya menghembuskan napas lega melihat sahabatnya mulai bisa tersenyum kecil di balik sisa-sisa air matanya. Sementara itu, Raihan berdiri kembali dan berjalan menuju jendela besar kamar VVIP.
Dari balik kaca tebal lantai enam RS YPK Mandiri, mata tajam Raihan melirik turun ke pelataran parkir bawah. Di sana, di balik pepohonan rindang taman rumah sakit, sosok pria bersetelan jas hitam tegap tampak masih berdiri terdiam, menatap lurus ke arah jendela kamar tempat mereka berada.
Arsen berdiri di sana menembus dinginnya angin pagi, tidak berani mendekat satu langkah pun, hanya bisa menjaga dari jauh seperti bayangan yang terikat oleh dosa masa lalunya sendiri.
Raihan menarik gorden tipis kamar itu perlahan, menutup akses pandangan dari luar, memberi Tsania ketenangan mutlak yang sangat ia butuhkan untuk menyembuhkan luka fisik dan batinnya.
Setelah Raihan menarik gorden tipis kamar VVIP dan berpamitan keluar bersama Maya untuk menyelesaikan urusan administrasi medis tambahan di lantai dasar dan kembali bekerja di kantor, ruangan berukuran luas itu kembali diselimuti keheningan yang tebal.
Tsania menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal empuk. Matanya menatap lurus ke arah nakas kosong, tempat cincin perak kusam itu sempat tergeletak beberapa saat lalu. Walau benda itu kini sudah tersembunyi jauh di dalam tas Maya, bayangan bentuk dan kilau kusamnya seakan terpatri abadi di pelupuk mata Tsania.
Ia menarik jemari kirinya, menatap jari manisnya sendiri yang polos tanpa perhiasan. Sebuah sentuhan hangat dari ingatan masa lalu mendadak menyengat batinnya, membuyarkan ketenangan yang baru saja ia rasakan. Senyum manis dan juga kelembutan Arsen yang selalu dia terima selama dua tahun bersama. Pria yang sejujurnya masih ada di dalam hatinya sampai saat ini. Tsania terpaksa harus meninggalkan Arsen dan dia juga merasa bersalah karena sampai membuat Arsen sakit keras di Singapura karena dia pergi tiba-tiba dan menghilang.
Namun saat itu, Tsania tak memiliki kekuatan apapun untuk menjelaskan kepada Arsen atas apa yang terjadi dengan hubungan mereka, apalagi dia tahu kalau Pak Bisma bisa melakukan apapn untuk memisahkan mereka, termasuk dengan membu-nuh ayahnya secara tak langsung. Bahkan bukan hanya ayahnya, dia sendiri hampir menjadi korban kekerasan sek-sual oleh orang-orang suruhan Bisma. Karena itulah dia lebih memilih untuk mundur dan mencoba mengubur cintanya kepada Arsen.
Tanpa Tsania tahu jika Arsen di Singapura sana juga mengalami derita yang sama sakitnya, selain harus kehilangan Tsania yang pergi tanpa pamit. Arsen juga mendapatkan banyak kiriman foto kegiatan Tsania dengan banyak pria. Hingga dia frustasi dan bahkan hampir bunuh diri. Padahal semua foto-foto itu asalah hasil reayasa ayahnya. Namun karena Arsen yang sudah di kuasai emosi dan kecewa, tak bisa berfikir dengan jernih.
Hingga akhirnya saat bertemu kembali dengan Tsania, dia meluapkan segala emosi yang dia tahan selama ini. Namun sekarang dia juga menyesal sudah bersikap kasar kepada wanita yang selalu ada di dalam hatinya.