NovelToon NovelToon
Dia Tak Lagi Membujuknya

Dia Tak Lagi Membujuknya

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Tamat
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Iris Kartika

Keiko Hartono punya rahasia.

Di balik senyum lembutnya, di balik nilai sempurnanya, di balik kebaikannya yang tak pernah meminta balasan — ada hitungan mundur yang tak bisa dihentikan siapapun.

Kanker lambung. Stadium akhir. Paling lama tiga tahun.

Lalu dia pindah ke SMA Bina Bangsa, Bandung. Dan duduk di sebelah Kelvin Susanto — cowok paling ditakuti seantero sekolah. Pembuat onar. Tukang berantem. Nilai paling bawah.

Tapi Keiko melihat sesuatu yang orang lain tidak lihat.

Dan perlahan — lewat soal latihan yang ditandai satu per satu, lewat susu hangat yang diselipkan di saku jaket, lewat video call tengah malam yang harusnya cuma untuk belajar — mereka jatuh cinta.

Masalahnya: Keiko tahu dia akan mati.
Kelvin tidak.

"Kalau kamu bisa mengejar langkahku... aku akan mempertimbangkannya setelah lulus."

Dia memberi syarat yang mustahil. Bukan karena dia tidak mau. Tapi karena dia tahu — dia tidak akan ada di sana saat dia berhasil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 28 - Aji

Setelah hari hujan itu, ada sesuatu yang berubah tanpa diumumkan.

Keiko dan Kelvin tetap duduk di bangku yang sama. Kelvin tetap mengeluh jika Bagas salah menghitung soal terlalu mudah. Keiko tetap menandai kesalahan dengan pulpen merah. Dimas tetap terlihat seperti orang paling lelah di kelas meskipun nilainya tidak pernah jatuh. Dari luar, semuanya tampak biasa.

Namun ketika Kelvin pulang sedikit terlambat, dia mengirim pesan.

**Kelvin**: Masih di sekolah. Jangan tunggu chat.

Ketika Keiko sampai rumah, dia membalas.

**Keiko**: Aku sudah sampai.

Balasan Kelvin biasanya hanya satu kata.

**Kelvin**: Bagus.

Sederhana, tetapi bagi mereka berdua, kata-kata pendek itu seperti lampu kecil di depan rumah. Tidak terang berlebihan. Cukup untuk tahu ada orang yang melihat jalan pulang.

Sore itu, kelompok belajar bubar lebih lambat karena Bagas memaksa semua orang menunggu dia memahami satu soal peluang.

"Kalau dari lima bola diambil dua," kata Bagas sambil memegang kepala, "kenapa hidup gue ikut terasa diambil?"

Dimas menutup buku. "Karena kamu dramatis."

"Gue manusia, Dim. Bukan kalkulator."

"Kalkulator pun kalau dipakai kamu mungkin menyerah."

Keiko menahan tawa, lalu menuliskan langkah penyelesaian lebih pelan. Kelvin duduk di sampingnya, memutar pulpen di jari. Bekas luka kecil di tangannya dari pecahan ponsel sudah hampir hilang.

Setelah akhirnya Bagas mengerti, atau setidaknya berpura-pura mengerti agar bisa makan, mereka berjalan ke warung depan gang belakang sekolah. Warung itu sering dipakai murid Bina Bangsa membeli es teh, roti bakar, atau mi instan setelah kelas tambahan. Sore menjelang magrib, jalan kecil di sana ramai oleh motor, ojek online, dan anak sekolah dari beberapa tempat.

Keiko duduk di bangku panjang dekat dinding, memegang susu kotak hangat yang Kelvin beli dari warung dan diselipkan sebentar di dalam jaketnya. Bagas memesan mi goreng dobel. Dimas hanya pesan teh tawar. Fajar muncul entah dari mana, berkata dia mencium aroma mi, lalu ikut duduk tanpa diundang.

"Fajar, lu punya radar makanan?" tanya Bagas.

"Bakat alam."

Kelvin tidak banyak bicara. Dia berdiri dekat motor, mengecek helm pink yang digantung di spion. Keiko melihatnya sebentar, lalu kembali menatap catatan di ponselnya.

Suara motor berhenti terlalu keras di depan warung.

Tiga motor masuk sekaligus, knalpotnya dibuat berisik. Beberapa murid yang sedang makan otomatis menoleh. Dari motor paling depan, seorang cowok turun dengan seragam putih abu-abu yang sudah dikeluarkan dari celana, jaket hitam lusuh, dan senyum yang tidak sampai ke mata.

Bagas berhenti mengaduk mi.

Dimas langsung menurunkan gelas tehnya.

Kelvin mengangkat kepala.

Cowok itu melihat Kelvin, lalu tersenyum lebih lebar.

"Wah. Beneran jadi anak baik sekarang, Kel?"

Udara di warung berubah.

Fajar, yang biasanya tidak punya insting bahaya, kali ini ikut diam. Keiko melihat tangan Bagas bergerak ke sisi meja, seperti siap berdiri kapan saja. Dimas menahannya dengan satu tekanan kecil di pergelangan.

Kelvin berjalan satu langkah dari motor. "Aji."

Nama itu pendek, tetapi cukup membuat beberapa anak di warung saling melirik. Aji bukan murid Bina Bangsa. Dari seragam dan jaketnya, dia anak SMK di daerah sekitar. Namun rupanya cukup banyak orang tahu namanya, atau setidaknya tahu jenis masalah yang dibawanya.

Aji menyapu pandangan ke meja mereka. Matanya berhenti pada Keiko sedikit lebih lama dari yang sopan.

"Ini alasan lu jarang nongkrong?" tanyanya. "Les privat sama cewek cantik?"

Kelvin tidak bereaksi keras. Justru karena itu, Keiko melihat rahangnya mulai mengeras.

"Urusan lu apa?" kata Kelvin.

"Kangen aja." Aji berjalan mendekat, teman-temannya mengikuti setengah langkah di belakang. "Dulu lu gampang dicari. Sekarang susah. Katanya sudah jadi anak ranking, bawa helm pink, minum susu hangat."

Bagas berdiri. "Ji, kalau mau cari ribut, jangan di sini."

Aji menoleh ke Bagas. "Siapa ngomong sama lu?"

Dimas ikut berdiri, tetapi suaranya tetap datar. "Kami semua ada di sini. Jadi kalau kamu cari ribut, otomatis bicara sama kami."

Keiko memegang susu kotaknya lebih erat. Dia pernah melihat Kelvin berkelahi, tetapi ini berbeda. Waktu itu ada alasan jelas, ada guru yang datang, ada halaman sekolah. Di sini, warung kecil itu penuh murid, motor, panci panas, dan jalan sempit. Satu gerakan salah bisa membuat semuanya pecah.

Kelvin melirik Keiko.

Tatapan itu hanya lewat setengah detik, namun Keiko mengerti. Jangan berdiri. Jangan dekat-dekat.

Kelvin lalu kembali melihat Aji. "Gue nggak punya urusan sama lu."

"Sekarang nggak punya?" Aji tertawa. "Dulu waktu mukulin anak gue di belakang futsal, lu punya urusan."

"Dia ngerampas HP anak SMP."

"Pahlawan banget."

"Kalau dia nggak ganggu orang, gue nggak sentuh."

Salah satu teman Aji maju, tetapi Aji mengangkat tangan. Dia tampak menikmati keadaan ini. Tidak perlu memukul untuk membuat satu warung menahan napas. Cukup berdiri terlalu dekat, cukup menyebut masa lalu Kelvin keras-keras, cukup melihat Keiko seperti sedang menemukan titik lemah baru.

"Santai," kata Aji. "Gue cuma lewat."

Kelvin diam.

Aji mendekat satu langkah lagi. "Tapi gue penasaran. Kalau sekarang ada cewek yang lihat, lu masih berani mukul nggak?"

Bagas mengumpat pelan.

Keiko berdiri.

Gerakannya membuat Kelvin langsung menoleh. "Keiko."

Keiko tidak maju mendekati Aji. Dia hanya berdiri di samping bangku, menatap Aji dengan sopan yang dingin.

"Kalau Mas punya urusan lama, selesaikan tanpa mengganggu orang lain yang sedang makan," katanya.

Aji tertawa kecil. "Mas?"

"Saya tidak tahu harus memanggil apa. Karena nama kamu baru saya dengar setelah kamu datang membuat ribut."

Fajar hampir tersedak udara.

Untuk sesaat, wajah Aji berubah. Bukan karena tersinggung besar, tetapi karena tidak menyangka gadis yang tampak lembut itu bisa menjawab begitu lurus.

Kelvin menarik napas pelan. "Keiko, duduk."

Keiko menurut, tetapi matanya tetap tenang.

Aji menatap Kelvin, lalu Keiko. Senyumnya kembali, kali ini lebih tipis.

"Wah, sekarang ada yang belain."

"Pergi," kata Kelvin.

Satu kata itu membuat udara di antara mereka turun beberapa derajat.

Aji mengangkat kedua tangan seolah menyerah. "Oke. Hari ini gue baik."

Dia mundur, tetapi sebelum naik motor, dia menoleh lagi.

"Besok Jumat, kan? Biasanya anak rajin pulang lewat gang belakang habis kelas tambahan." Aji mengetuk jok motornya. "Jangan terlalu cepat pulang, Kel. Gue mau lihat, lu masih sehebat dulu atau cuma jadi anak les."

Motor-motor itu pergi dengan suara berisik.

Warung baru bernapas lagi setelah knalpot mereka hilang di ujung gang.

Bagas langsung memukul meja. "Anjir, gue pengin banget nyiram mi ke muka dia."

"Dan bikin situasi tambah buruk," kata Dimas.

"Dia nantangin Bang Kel!"

"Makanya justru jangan kasih panggung."

Keiko menatap Kelvin.

Kelvin masih berdiri di dekat motor. Wajahnya datar, tetapi tangannya mengepal di sisi tubuh. Di punggung tangannya, urat tipis terlihat jelas.

"Kelvin," panggil Keiko pelan.

Kelvin menoleh. Ketika melihat wajah Keiko, kepalan tangannya perlahan terbuka.

"Nggak apa-apa," katanya.

Namun malam itu, saat Keiko membuka ponsel sebelum tidur, dia melihat Kelvin belum membalas pesan `sudah sampai?` darinya.

Di layar, pesan itu sudah centang dua.

Tapi tidak biru.

1
Yani
yuk lanjut crita nya yuk Thorr 🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!