"Mas Akball itu mobilan Aqil balikin ngga!" teriak sebuah suara cempreng dari arah ruang tengah.
"Bukan! Ini punya Mas Akbar! Kemarin Aqil udah main yang warna merah, sekarang Mas yang biru!" balas Akbar
Sejak perceraiannya tiga tahun lalu, Abi memang mantap untuk tidak mempekerjakan ART. Ia ingin merawat dan membesarkan kedua buah hatinya dengan tangannya sendiri, meski statusnya sebagai duda beranak dua sering kali menguras energi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Abi sengaja tidak mengangkat panggilan itu. Ponselnya dibiarkan terus bergetar di dalam saku sampai akhirnya berhenti sendiri. Dalam situasi kepala dingin dan ada anak-anak di dekatnya, Abi tahu persis bukan waktu yang tepat untuk berkonfrontasi dengan Arya lewat telepon.
"Pegang gorengannya yang kuat, Bar," pesan Abi seraya menatap anak sulungnya lewat kaca spion.
"Siap, Yah!" sahut Akbar rapat menempel di punggung ayahnya.
Abi memutar gas, membawa kedua anaknya melaju melewati rumah Bu Marni dan langsung menuju ke rumahnya sendiri yang berjarak tak jauh di ujung jalan desa.
Akbar dan Aqil melompat turun dengan gembira, lalu membawa bungkusan plastik ke teras depan. Mereka duduk bersila di atas lantai ubin yang adem, membuka bungkusan gorengan dan membagi es teh ke dalam dua gelas plastik.
Abi ikut duduk di tepi teras, menyandarkan punggungnya pada tiang kayu. Rasa lelah seharian mengurus sawah dan ditambah beban masalah adiknya membuat bahunya terasa berat. Ia merogoh kantong plastik, mengambil satu tempe mendoan hangat, lalu mengunyahnya pelan seraya memperhatikan kedua buah hatinya yang makan dengan lahap.
"Pelan-pelan makannya, Cil, nanti keselek," ujar Abi lembut seraya mengelus kepala Aqil.
Setelah menghabiskan gorengannya dan menyapu sisa minyak di jarinya dengan saputangan, Abi merogoh saku celana. Ia mengeluarkan ponselnya, menatap layar yang menampilkan tiga panggilan tak terjawab dari nama yang sama.
Abi menarik napas panjang, menetralkan emosinya agar tetap tenang. Dengan ibu jarinya, ia membalas panggilan tersebut dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.
Nada sambung berdering... satu kali... dua kali... hingga akhirnya suara di ujung telepon menyahut.
"Halo, Mas Abi?" Suara Arya terdengar di ujung telepon. Nadanya agak tergesa-gesa, terkesan berusaha menutupi rasa cemas. "Mas, Nadia ada di sana, ndak? Saya pulang dinas, rumah kok kosong melompong. Ditelepon dari tadi ndak diangkat-angkat."
Abi mengelus dada, berusaha menahan emosi yang mendidih di dalam dirinya agar tidak meledak di depan kedua anaknya. Ia melirik sebentar ke arah Akbar dan Aqil yang sedang asyik berebut pisang goreng di sebelahnya.
Abi berdiri pelan, melangkah menjauh sedikit ke sudut teras rumah agar percakapan mereka tak terdengar jelas oleh anak-anaknya.
"Nadia ada di rumah Ibu, Ya," jawab Abi dengan suara berat dan datar.
Suara desahan napas lega Arya terdengar samar dari seberang saluran. "Oalah... di rumah Ibu. Kirain ke mana, Mas. Ya sudah, ini saya jalan ke sana sekarang mau jemput dia—"
"Ndak usah ke sini dulu, Arya," potong Abi dingin, membuat ucapan adik iparnya itu terhenti seketika.
Hening sejenak di seberang telepon.
"Maksudnya gimana, Mas?" suara Arya mulai berubah agak ragu.
"Saya kan suaminya. Kenapa ndak boleh jemput?"
Abi menggenggam ponselnya lebih erat. "Nadia butuh istirahat. Dan kamu... Mas rasa kamu tahu betul kenapa Nadia nekat pulang ke rumah Ibu tanpa ngabarin kamu."
"Mas, jangan dengar omongan Nadia yang ndak-ndak dulu," sangkal Arya cepat.
"Dia cuma salah paham soal kerjaan saya....."
"Salah paham?" sambung Abi tegas, menyela ucapan Arya tanpa ragu.
"Foto yang dikirim ke HP Nadia itu salah paham juga?"
"Mas, demi Allah, itu bukan saya!" seru Arya di ujung telepon, nada suaranya kini terdengar panik.
"Foto apa yang Mas maksud? Saya benar-benar ndak tahu!"
Abi diam, membiarkan adik iparnya itu memberikan penjelasan, walau rahangnya masih mengeras menahan prasangka.
"Kemarin malam pas saya lagi tugas lapangan, ada penggerebekan, Mas... Saya tertembak di lengan," lanjut Arya ngos-ngosan, seperti menahan rasa sakit. "HP saya pecah dan mati total gara-gara benturan. Semalaman saya dirawat di RS Bayangkara, Mas bisa tanya perawat di sana! Semalam saya diamanin di ruang perawatan!"
Abi mengerutkan keningnya, amarahnya sedikit tertahan oleh berita penembakan itu. "Tertembak? Terus kenapa baru pulang sekarang?"
"Ini saya juga baru banget nyampe rumah, Mas. Tangan saya juga masih diperban ini!" suara Arya terdengar penuh kesakitan dan keputusasaan.
"Demi anak yang dikandung Nadia, Mas Abi... saya ndak pernah khianati adik Mas. Saya ini taruhan nyawa di lapangan! Kalau Mas ndak percaya, Mas ke rumah saya sekarang, lihat sendiri kondisi saya!"
Abi menghela napas panjang, tatapannya menajam menatap lurus ke arah jalanan desa. Rasa tidak percaya masih membendung di dadanya. Terlalu sering ia mendengar janji manis laki-laki, dan bukti foto di ponsel Nadia bukanlah hal yang bisa diabaikan begitu saja.
"Kamu pikir Mas bisa percaya gitu aja, Ya?"
"Foto di HP Nadia itu jelas. Laki-laki di foto itu mirip kamu. Kalau kamu ndak berbuat, ndak mungkin ada foto kayak gitu sampai ke tangan adikku!"
"Mas Abi..." suara Arya di ujung telepon terdengar makin parau.
"Saya berani sumpah demi apa pun, Mas. Saya sangat sayang sama Nadia... Dia istri saya, calon ibu dari anak saya. Ndak pernah ada sedikit pun pikiran di otak saya buat khianatin dia!"
Arya menghela napas tersengal, mengumpulkan sisa tenaganya untuk meyakinkan kakak iparnya.
"Mas Abi kan tahu sendiri gimana perjuangan saya buat dapatin Nadia dulu. Tolong percaya sama saya... Saya sangat sayang sama Nadia. Saya ndak mau rumah tangga kami hancur gara-gara fitnah yang saya sendiri ndak tahu dari mana asalnya."
"Saya bakal ajukan libur dinas dulu mulai besok, Mas. Saya mau langsung ke rumah Ibu," lanjut Arya.
"Saya mau jelasin semuanya langsung di depan Nadia. Tolong... tolong jaga Nadia ya, Mas. Jangan sampai dia kepikiran terus, kasihan kandungannya."
Abi memejamkan mata sejenak, mengembagkan napas gusar yang teratur. Hatinya yang keras perlahan melunak. Bagaimanapun, ia tidak ingin rumah tangga adiknya hancur begitu saja, apalagi berakhir tragis seperti dirinya. Cukup Abi saja yang merasakan pahitnya kegagalan dan kehilangan, jangan sampai Nadia mengalami hal yang sama.
"Ya sudah," jawab Abi akhirnya.
"Kamu obati dulu tanganmu itu. Nanti kalau sudah bisa ke sini, kita bicara baik-baik bertiga. Nadia aman sama Mas dan Ibu."
"Matur nuwun sanget, Mas... Matur nuwun," balas Arya penuh rasa lega sebelum akhirnya panggilan telepon itu ditutup.
Abi menurunkan ponselnya dari telinga, menarik napas dalam-dalam untuk menetralkan sisa ketegangan. Namun, baru saja ia hendak melangkah kembali ke teras, terdengar suara tangisan melengking.
"Huaaa! Ayahhh!" Akbar tiba-tiba menangis sesenggukan seraya menunjuk-nunjuk adiknya.
Abi mengernyit heran dan bergegas mendekat. "Kenapa lagi ini, Bar? Kok malah nangis?"
"Aqil ambil goreng pisang aku, Yah!" adu Akbar sambil mengusap air matanya.
Abi langsung menoleh ke arah si bungsu. Sementara yang dimaksud, si kecil Aqil, malah panik dan buru-buru memasukkan sisa pisang goreng yang masih utuh itu bulat-bulat ke dalam mulutnya hingga pipinya menggelembung besar
"Ehh! Jangan ditelan bulat-bulat gitu, Aqil! Nanti tersedak!" seru Abi panik sambil buru-buru menghampiri si bungsu dan menepuk pelan punggungnya.
Aqil mengunyah dengan susah payah, matanya membelalak lucu dengan mulut yang masih penuh sesak. Setelah berhasil menelan pisang goreng itu dengan selamat, ia menyengir tanpa dosa, memperlihatkan deretan giginya yang kecil-kecil.
"Udah habis, Mas Akbar..." bisik Aqil polos tanpa rasa bersalah.
"Tuh kannn! Ayah lihat kann! Pisang Akbar dimakan semua sama Aqil!" tangis Akbar semakin keras, merajuk sambil menghentakkan kakinya ke lantai kayu teras.
"Sudah, jangan menangis lagi, jagoan. Nanti kita minta Mbak Nadia buatkan goreng pisang lagi yang baru, yang lebih banyak. Mau?"
Tangisan Akbar mendadak berhenti. Matanya yang masih basah menatap sang ayah dengan berbinar. "Beneran, Yah? Pakai keju?"
"Iya, nanti minta pakai keju sama gula merah," jawab Abi terkekeh
"Kamu juga, Cil, kalau mau pisang goreng itu bilang baik-baik sama Mas, jangan asal comot terus dimasukkan semua ke mulut begitu. Nanti kalau tersedak gimana?"
Aqil cuma mengangguk-angguk polos sambil menunduk.
Abi + Kayla
Abi+ Dinda.
Kayla+ Pardi
Abi + Yanti