NovelToon NovelToon
Dari Rival Jadi Ibu Tiri

Dari Rival Jadi Ibu Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Duda / Nikah Kontrak
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Rebeca Alexander terbiasa mendapatkan segalanya. Kaya, cantik, dan berpengaruh, ia tak pernah ragu merendahkan Cika, gadis sederhana yang berani menjadi saingannya di kampus.

Bagi Rebeca, Cika hanyalah gadis miskin yang tidak tahu tempat.

Namun hidupnya hancur saat sang ayah membawa seorang wanita baru ke rumah mereka. Dan wanita itu adalah Cika.

"Aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai ibu tiriku!"

Cika menyahut dingin. "Bagus. Karena aku juga tidak berniat menggantikan ibumu. Aku hanya akan menjadi istri ayahmu. Dan mulai detik ini, aku punya aturan baru di rumah ini ... belajarlah untuk menghargai orang lain, terutama aku."

Bisakah dua gadis seumuran dan keras kepala itu bersatu dan akur? Atau malah jadi musuh selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14. ASTAGA!

Rebeca baru saja menyelesaikan makan malamnya. Ia segera masuk ke dalam kamar dan langsung menjatuhkan diri ke atas kasur. Menekan nomor sahabat karibnya, Mili.

Tak sampai lima menit, panggilan itu diangkat. "Halo, Bestie!" suara Mili terdengar ceria dari seberang.

"Milimeter!" jeritnya.

"Lho? Kok heboh banget? Ada apa, Bestie?"

Rebeca tertawa kecil, lalu berkata dengan nada yang sulit menyembunyikan antusiasmenya. "Gue mau cerita!"

"Cerita apa? Cepat!"

Rebeca menarik napas panjang, sengaja membuat Mili semakin penasaran. "Elgar Jeverson ..."

"Kenapa sama idola lo itu?"

"Dia bales DM gue, Mil."

"Hah?!" Suara Mili langsung melengking. "Serius, Beca?!"

"Iya!"

"Ya ampun! Terus? Terus?!"

Rebeca terkekeh geli mendengar sahabatnya sama hebohnya dengan dirinya. "Dia minta nomor WhatsApp gue."

"Apa?!"

"Iya!"

"Terus kamu kasih?"

"Ya iyalah!"

"Terus? Jangan gantung ceritanya!"

Rebeca tak lagi bisa menahan senyum. "Gue dan dia udah chat-an."

Di seberang sana, Mili sampai menepuk-nepuk bantal karena terlalu bersemangat. "Oh My God, Beca! Lo tuh beruntung banget gila! Gue bener-bener nggak nyangka!"

"Gue juga masih nggak percaya, Mil. Ini tuh kayak mimpi."

"Iya, iya." Di seberang, Mili mengangguk-anggukan kepalanya. "Terus dia nge-chat apa aja?"

Rebeca lalu menceritakan semuanya dengan rinci. Mulai dari Elgar yang mengirim pesan pertama, memberi tahu bahwa nomor Rebeca sudah disimpan, sampai berpamitan karena harus kembali syuting dan berjanji akan melanjutkan obrolan setelah selesai bekerja.

Mili mendengarkan tanpa menyela sedikit pun. Begitu cerita itu selesai, ia langsung berseru, "Beca ... ini perkembangan yang luar biasa!"

"Iya, kan?" Rebeca tertawa bahagia.

"Berarti dia memang niat kenalan sama lo."

Pipi Rebeca kembali memanas. "Jangan bilang begitu, Mil, nanti gue jadi geer."

"Lho, memang faktanya begitu."

Rebeca memeluk guling di sampingnya sambil tersenyum malu. "Gue sampai ganti foto profil Instagram sama WhatsApp, lho."

"Hahaha ... serius?"

"Iya. Takut nanti dia lihat profil gue."

Mili langsung tertawa terbahak-bahak. "Lo lucu banget, Beca."

"Lo jangan ngeledekin."

"Nggak ngeledekin. Gue malah senang." Suara Mili kemudian terdengar lebih lembut. "Gue benar-benar ikut bahagia mendengarnya. Semoga ini jadi awal yang baik buat lo dan Elgar."

"Thank you, Milimeter." Rebeca menatap layar ponselnya dengan senyum hangat. Memiliki sahabat yang ikut merasakan kebahagiaannya membuat malam itu terasa semakin sempurna. Bibirnya tak berhenti menyunggingkan senyum.

Sebenarnya ada satu hal lagi yang ingin ia ceritakan kepada Mili. Yaitu tentang pengakuan ayahnya yang berniat menikah lagi. Bibirnya bahkan sempat terbuka. "Mil, sebenarnya ada satu hal lagi yang pengen gue ceritain ke lo."

"Apa, kabar baik lagi?"

"Ah ... nanti aja deh." Rebeca mengurungkan niat itu.

"Kenapa?"

Rebeca tak langsung menjawab, ia berpikir sejenak. "Kayaknya nggak usah cerita sekarang deh. Belum pasti juga Papa mau menikah dengan siapa," putusnya dalam benak. "Tentang bokap gue. Tapi nggak penting juga sih." Akhirnya jawaban itulah yang keluar mulutnya.

"Hm, oke deh." Mili menyahut.

Rebeca pun mengalihkan pembicaraan. "Eh, ngomong-ngomong ..." katanya sambil menyeringai jahil. "Putra masih di apartemen lo?"

Mili langsung terkekeh. "Nggak. Dia udah pulang dari tadi."

"Oh ... kirain masih ngaduk semen."

"Anjir! Ngaduk semen!" Mili tertawa ngakak sampai membuat Rebeca menjauhkan ponselnya dari telinga.

"Ya apalagi? Ngaduk tanah?"

Tawa Mili makin kencang. Setelah beberapa menit berlalu, tawa Mili pun akhirnya berhenti.

"Mil, gue mau tanya sama lo." Rebeca kembali membuka obrolan.

"Nanya apa?"

"Lo nggak bosen apa nge-seks terus sama Putra?"

"Nggak. Enak tahu."

"Enak?" Rebeca bergidik.

"Iya. Enak banget." Suara Mili mendesah sensual. "Lo juga nanti kalau udah punya pacar ... pasti bakal menginginkan hal itu, Beca. Apalagi kalau lo pacarannya sama cowok yang paling lo sayangi. Misal ... Elgar Jeverson?"

"Milimeter!" Sontak Rebeca menjerit. Wajahnya memanas. "Kenapa lo ngomong gitu, sih?"

"Hahaha ...! Lo salbrut ya?"

"Salbrut?" beo Rebeca.

"Salting brutal," jawab Mili diiringi tawa kencang lagi.

"Sialan!" Rebeca juga ikut tertawa.

Obrolan mereka terus berlanjut. Diiringi candaan-candaan mesum dari Mili.

***

Selesai makan malam dan mengobrol sebentar, Robinson dan Cika menuju area parkir rumah sakit. Udara malam terasa sejuk ketika keduanya memasuki mobil. Robinson segera menyalakan mesin, lalu perlahan membawa mobil keluar dari pelataran rumah sakit.

Beberapa menit pertama, suasana di dalam mobil dipenuhi keheningan. Hanya terdengar alunan musik instrumental yang diputar pelan dari audio mobil.

Robinson sesekali melirik Cika yang duduk dengan rapi di kursi penumpang. "Ada yang ingin saya ceritakan."

Cika menoleh. "Tentang apa, Pak?"

"Tentang Rebeca."

Wajah Cika langsung tampak lebih serius.

"Tadi sore saya sudah bicara dengannya tentang niat saya untuk menikah lagi," lanjut Robinson.

Cika tanpa sadar menggenggam tas yang berada di pangkuannya. "Lalu bagaimana tanggapan Beca, Pak?"

Robinson mengembuskan napas pelan. "Di luar dugaan." Cika menunggu kelanjutannya. "Dia tidak keberatan saat saya bilang ingin menikah lagi."

Mata Cika membulat. "Benarkah?"

Robinson mengangguk. "Saya juga kaget."

Selama beberapa detik, Cika hanya terdiam. Rasa lega perlahan memenuhi dadanya. "Syukurlah ..." gumamnya lirih. Setidaknya, langkah pertama sudah berjalan lebih baik daripada yang ia bayangkan. Namun, masih ada satu pertanyaan yang mengganjal pikirannya. Dengan hati-hati, ia menoleh ke arah Robinson. "Pak ..."

"Iya?"

"Bapak ... sudah memberi tahu Beca kalau perempuan yang akan Bapak nikahi itu saya?"

Pertanyaan itu membuat Robinson tersenyum tipis, lalu menggeleng pelan. "Belum." Cika menundukkan pandangan. "Saya masih takut dia syok," lanjut Robinson jujur. "Meskipun tadi dia bilang tidak peduli saya menikah dengan perempuan mana pun ..." Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan. "Saya yakin ucapan itu keluar karena dia belum tahu siapa orang yang akan menjadi ibu tirinya." Cika terdiam. Robinson kembali fokus ke jalanan yang mulai lengang. "Kalau saya langsung bilang calon istri saya adalah kamu ..." Ia menggeleng kecil. "Dia pasti akan mengamuk!"

Cika bergidik. "Pasti, Pak. Dan mungkin dia akan menjambak rambut saya. Bahkan mungkin mencakar wajah saya."

"Maka dari itu, Cika. Saya belum berani mengatakannya kepada Beca. Saya akan cari waktu yang pas dulu. Mungkin nanti pas dia pulang dari Korea."

Mendengar itu, kepala Cika sontak menoleh ke arah Robinson. "Rebeca mau ke Korea?"

"Iya, Cika. Dia mau berlibur ke sana sekalian menemui mamanya."

Cika mengangguk. "Memangnya kapan Rebeca berangkat ke Korea-nya, Pak?"

"Minggu depan, Cika."

"Berapa lama dia di sananya, Pak?"

Robinson tak langsung menjawab. Dia melirik Cika sekilas, lalu fokus lagi ke jalanan. "Mungkin selama libur semester. Tapi entahlah." Ia mengangkat bahu ringan. "Saya belum bertanya kepadanya."

"Begitu ya?" Kepala Cika angguk-angguk. "Tapi Pak ... kalau Rebeca menghabiskan waktu libur semesternya di Korea, berarti pas kita menikah nanti ... dia tidak akan hadir."

Robinson menegang, matanya membola lebar. "Astaga!"

1
PengGeng EN SifHa
Gkpp cika...seru kok pacaran setelah nikah...malu²in malah...seperti q dulu🤣🤣🤣🤣🤣🤣
PengGeng EN SifHa: sampai sekarangpun masih malu apabila tlf thooor🫣🫣🫣 pdhl udah 17thn lo
total 2 replies
PengGeng EN SifHa
tapi jangan jumawa dulu enteeee ELGAAARR...ada satpam gila di belakang becca nantinya..siap lagi kalau bukan si CIKA ..MAMUD nya BECCA...
PengGeng EN SifHa: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣💪
total 2 replies
Popo Hanipo
udah sebaik itu masak iya gak ada rasa kagum dan berakhir jatuh cinta
Ama Apr: pasti ada🤭
total 1 replies
Popo Hanipo
logika aja seorang artis tiba2 chat tlpn penggemar secara terus2an itu nggak wajar sekarang sudah mulai ngatur outfit pasti ada niat terselubung ini pasti terinspirasi artis yg lagi viral ya yg menikah sama penggemar ,,yg skrg lagi ada masalah sama suaminya 😄
Ama Apr: hehe patut dicuraigai ya kk🤭
total 1 replies
Popo Hanipo
jangan ketemu sekarang nanti gagal,,ketemu nanti aja kalo bapakmu sudah menikah
Ama Apr: Iya, nanti Beca ngamuk
total 1 replies
Nice1808
parah si beca jatuh sendiri nyalahin cika, loe sehat beca🤣🤣🤣
Ama Apr: dia otaknya rada nyengsol🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!