Hezlin terjebak dalam pernikahan bisnis dengan Garra Xaverius Kingston, menggantikan Felicia—wanita yang meninggalkannya demi karier. Selama empat tahun, Hezlin perlahan jatuh cinta, meski tahu dirinya hanya pengganti.
Saat Felicia kembali, Hezlin memilih pergi. Ia meminta cerai, yakin Garra akan kembali pada cinta lamanya. Namun keputusan itu justru mengguncang Garra, yang baru menyadari bahwa kehilangan Hezlin lebih menyakitkan dari yang ia kira.
Di antara masa lalu dan perasaan yang tak terucap, keduanya dihadapkan pada satu pilihan: berpisah… atau memperjuangkan cinta yang terlambat disadari.
"Aku ingin kita bercerai," -Hezlin Rayla Iyzebelle.
"Apa yang selama ini tidak cukup membuatmu tetap berada di sisiku?" -Garra Xaverius Kingston.
"Nyonya, Tuan tidak mau berceri!" -Ervan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28 ~ Aku Cemburu
Hezlin perlahan menurunkan tangan Garra dari pipinya. Gerakannya pelan, tapi tegas, seolah menjauhkan satu-satunya jembatan di antara mereka.
"Aku benar-benar tidak ingin memiliki hubungan apa pun denganmu, Garra."
Kalimat itu diucapkan begitu lembut, hampir berbisik tapi menghantam dada Garra sekeras batu. Wajahnya yang biasanya tenang seketika memucat. Tatapannya mengunci wajah istrinya, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Karena Kael?" tanyanya pelan, suaranya bergetar sedikit, pertama kalinya Hezlin melihat dia begitu ragu.
Hezlin menggeleng pelan. Matanya kembali berkaca-kaca, tapi kali ini ia tak lagi memalingkan wajah.
"Ini bukan soal Kael. Tapi aku..."
Ia berhenti sejenak, menelan rasa pahit yang menumpuk di kerongkongan. Bayangan video itu kembali melintas tajam di kepalanya, tangan yang sama lembutnya, tatapan yang sama hangatnya, untuk wanita lain.
"Aku mau istirahat."
Garra terdiam lama sekali. Seolah kata-kata itu baru saja menyedot seluruh kekuatannya. Namun ia tak memaksa, tak bertanya lagi.
"Baik."
Ia berdiri perlahan, matanya tak lepas dari wajah Hezlin penuh luka yang tak sempat ia tumpahkan.
"Tapi aku akan tetap menarik surat gugatan perceraian kita."
Kini giliran Hezlin yang membeku. Ia menatap balik, tak menyangka Garra tetap bersikeras meski ditolak sedemikian rupa.
Garra melangkah pelan menuju pintu, sebelum akhirnya berhenti di sana.
"Dan mulai sekarang... jangan kunci pintu kamarmu."
Ia keluar tanpa menoleh lagi. Pintu ditutup perlahan, menyisakan Hezlin yang masih diam terpaku di tempatnya di antara keinginan untuk menjauh, dan ketegaran Garra yang entah mengapa tak kunjung menyerah.
Baru saja Garra melangkah sampai di depan pintu kamar, ponselnya bergetar. Ia berhenti sejenak, lalu mengangkatnya tanpa beranjak dari tempat.
"Ya."
["Tuan, surat gugatan perceraian sudah berhasil ditarik kembali sepenuhnya."]
Garra mengembuskan napas pelan, seolah beban berat sedikit terangkat.
"Bagus."
["Tapi Tuan,"] suara Ervan terdengar serius di seberang sana. ["Hari ini Anda memiliki pertemuan terjadwal dengan investor utama dari stasiun TV mitra bersama Nona Felicia. Acara ini sudah final, dan sama sekali tidak bisa dibatalkan atau diwakilkan."]
Garra menunduk, menatap lantai sebentar. Ia melirik sekilas ke arah pintu kamar yang baru saja ia tutup, lalu menjawab singkat dengan nada tegas.
"Lima belas menit lagi. Aku akan datang."
Panggilan terputus. Garra melangkah menuruni tangga perlahan, lalu memanggil pelan saat melihat Bi Rum di ruang tengah.
"Bi Rum."
Bi Rum segera menghampiri. "Ya, Tuan?"
"Saya harus pergi sebentar untuk keperluan penting. Tolong jaga Hezlin."
"Baik, Tuan."
Garra menatapnya serius sejenak. "Pastikan dia tidak terlambat makan. Dan jangan lupa, dia harus minum vitamin sesuai jadwalnya."
"Pasti, Tuan. Saya akan ingatkan Nyonya," jawab Bi Rum mantap.
Garra mengangguk singkat, lalu segera bergegas keluar rumah.
••
••
Sementara itu di kantor Xabiru, Kael sudah duduk di ruang rapat. Matanya terus tertuju pada kursi kosong yang seharusnya ditempati Hezlin. Jarak waktu rapat dimulai sudah lewat, namun sosok wanita itu tak kunjung terlihat.
"Dimana Hezlin?" tanyanya pelan namun tegas.
Bu Rina yang duduk disebrang kirinya, menggeleng ragu. "Saya tidak tahu, Tuan. Hari ini Hezlin tidak memberikan kabar, tidak mengirim pesan izin sakit maupun cuti sama sekali."
Alis Kael makin berkerut. "Kalau begitu hubungi dia lagi."
"Sudah, Tuan," jawab Rina pelan. "Tapi ponselnya mati total."
Kael terdiam. Rasa cemas perlahan menyelimuti dadanya. Ia takut terjadi sesuatu pada Hezlin. Dia juga takut jika Garra kembali memaksanya, namun Kael sadar sepenuhnya ia tak punya hak untuk ikut campur lebih jauh. Bahkan beberapa hari lalu ia sempat menyempatkan diri ke apartemen wanita itu, tapi tempat itu sudah kosong.
Ia menghela napas panjang, lalu menatap berkas di depannya dengan berat hati.
"Lanjutkan rapat tanpa dia dulu. Kita pakai draf cadangan," ucapnya akhirnya, meski pikirannya tak kunjung tenang.
••
••
Sore ini mereka baru saja menyelesaikan pertemuan. Garra berjalan keluar ruangan beriringan dengan Felicia menuju lobi, di mana Ervan sudah menunggu di dekat pintu keluar.
Felicia melangkah sedikit lebih dekat, suaranya terdengar memelas namun halus.
"Garra... bisakah kamu mengantarku pulang? Mobilku pagi tadi tiba-tiba mogok di bengkel, belum bisa diambil."
Garra terdiam sejenak, matanya beralih sekilas ke arah Ervan yang sudah siap menunggu.
"Aku janji tidak akan macam-macam," tambah Felicia cepat, berusaha meyakinkan.
Garra menatapnya datar, tanpa ragu sedikit pun.
"Ervan akan mengantarmu pulang."
Ia tak menunggu jawaban wanita itu, langsung berjalan melewatinya menuju mobil pribadinya sendiri.
Felicia berjalan cepat menyusul, lalu dengan nekat menarik lengan Garra hingga langkah pria itu terhenti.
"Garra... tapi aku ingin bicara juga denganmu."
Garra melepaskan pelan cengkeraman di lengannya, tatapannya dingin dan tak sabar.
"Aku tidak ada waktu, Felicia."
"Garra!" serunya sedikit meninggi, lalu berusaha terdengar cemas. "Jika aku pulang bersama Ervan, lalu bagaimana denganmu?"
Garra menatapnya sekilas seolah pertanyaan itu tak masuk akal.
Garra menatapnya sekilas seolah pertanyaan itu tak masuk akal.
"Kita akan pulang bersama," bisik Felicia lembut, berharap suaranya hanya terdengar oleh mereka berdua.
Garra langsung menepis tangannya perlahan namun tegas. Wajahnya makin dingin.
"Supir kantor akan menjemputku."
Ia berbalik menatap Ervan.
"Ervan, antarkan Felicia pulang. Supir kantor sudah dalam perjalanan menjemput mobil cadangan."
"Tapi...." coba Felicia menahan, belum menyerah.
"Baik, Tuan," jawab Ervan segera. Ia menoleh pada Felicia. "Nona Felicia, mari, saya antar."
Felicia menghentakkan kakinya kesal. Rencananya berduaan dengan Garra gagal total. Ia pun terpaksa masuk ke mobil bersama Ervan.
Sementara itu Garra segera menekan tombol panggil.
"Ya, Pak Garra?"
"Segera kirim mobil kantor ke lokasi sekarang. Jemput saya untuk pulang."
"Baik Pak, segera berangkat."
Tak lama kemudian mobil dinas tiba. Garra masuk ke dalam, dan kendaraan pun melaju membawanya pulang menuju rumah.
••
••
Di dalam kamar, Hezlin baru saja selesai mandi. Rambutnya masih basah meneteskan air di bahu, ia mengenakan piyama santai sambil menggerakkan tangan pelan mengeringkan rambut dengan handuk.
Saat matanya jatuh ke meja samping, ia berhenti bergerak. Ia meraih ponselnya, lalu tertegun layarnya gelap total.
"Astaga! Ponselku mati?" bisiknya kaget. "Sejak kapan?"
Ia segera menyambungkan kabel pengisi daya dan menyalakan ponselnya. Begitu layar menyala, notifikasi langsung menumpuk banyak sekali panggilan tak terjawab dan pesan mendesak dari kantor.
Hezlin terperanjat. Tanpa menunggu lama, ia langsung menekan nomor Kael dan meneleponnya detik itu juga.
Sambungan terhubung cepat.
"Kael... aku benar-benar minta maaf," Hezlin langsung bicara dengan nada bersalah. "Aku lupa memberikan kabar atau izin seharian ini. Tadi pagi aku merasa tidak enak badan, lalu ponselku mati seharian tanpa sadar."
["Tidak apa-apa, Hezlin,"] suara Kael terdengar lega sekaligus cemas. "Urusan pekerjaan sudah diatur. Justru aku lebih mengkhawatirkan kamu. Apa kamu benar-benar sudah baik-baik saja?"
Hezlin mengangguk. Meskipun Kael tidak mampu melihatnya. "Aku sudah lebih baik sekarang.. Besok aku pasti akan berangkat bekerja seperti biasa."
"Tidak perlu dipaksakan jika masih sakit." ujar Kael.
"Tidak Kael.. Aku sudah baik-baik saja." ucap Hezlin kekeh.
Hening sesaat. Sampai tiba-tiba Kael kembali bersuara.
"Hezlin.. Boleh aku menanyakan sesuatu?"
"Apa?"
"Aku sempat ke apartemenmu. Tapi... Kamu tidak disana. Apa saat ini kamu kembali tinggal bersama Garra?"
DEG.
"Kael....aku.."
Sementara itu di lantai bawah Garra baru saja melangkah masuk ke rumah. Ia melihat Bi Rum sedang menyiapkan makan malam.
"Dimana Hezlin?" tanyanya singkat.
"Di kamar, Tuan," jawab Bi Rum sopan.
Garra mengangguk, lalu berjalan naik ke kamar. Ia membuka pintu perlahan, melihat Hezlin sedang berdiri membelakangi pintu sambil bicara di telepon.
Tanpa menunggu, Garra berjalan mendekat, mengambil ponsel dari tangan istrinya, dan langsung mematikannya.
"Garra! Aku sedang bicara!" seru Hezlin kaget.
"Aku memintamu untuk istirahat. Bukan berbicara di telepon, apalagi dengan pria lain," jawab Garra datar, meletakkan ponsel di meja samping.
"Garra, tapi ini penting!" cegah Hezlin, tangannya terulur hendak meraih ponselnya kembali.
Garra dengan gerakan cepat namun tak kasar menahan pergerakannya, lalu perlahan mendorong tubuh Hezlin hingga terpaut rapat ke nakas. Jarak wajah mereka kini nyaris bersentuhan.
"Berbicara dengan pria lain... Itu menurutmu lebih penting?" suaranya rendah, berat dan menekan.
Hezlin menahan napas, dadanya bergerak naik turun gelisah. "Garra... apa yang kamu lakukan!"
Garra kemudian menarik pinggang Hezlin mendekat ke arahnya, sedikit meremas lembut di sana seolah tak rela memberi jarak. Matanya menatap lekat ke dalam manik mata istrinya, jujur tanpa lagi menyembunyikan apa pun.
"Aku cemburu."
•
•
❤️