Di Benua Aldabaron yang dipenuhi sihir, monster, dan teknologi Rune, seorang ronin muda bernama Ryosuke Tagawa kehilangan seluruh keluarganya akibat perang yang dipicu ambisi tersembunyi Empire Krusador. Dalam pengembaraannya, ia menemukan Tenkū Matō, pedang legendaris yang ditempa dari pecahan meteor dan menguasai sihir kegelapan. Bersama katana warisannya, Nichirin-gatana, yang memiliki sihir cahaya, Ryosuke menguasai gaya pedang Hyoho Niten Ichi-ryū. Ketika pasukan Krusador menginvasi Kepulauan Great Sea dengan senjata mengerikan Beast Crust Rune Cannon, Ryosuke harus menentukan pilihan: tetap menjadi pengembara yang menghindari perang, atau bangkit melindungi mereka yang tidak mampu melawan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 — Dasar dari Sebuah Regu
Beberapa hari berlalu sejak Regu Shugo Ryu kembali ke barak tentara bayaran setelah menyelesaikan misi pengawalan dan menyelamatkan Amanda dari desa yang dihancurkan oleh Empire Krusador.
Suasana barak perlahan kembali seperti biasa. Para tentara bayaran menjalankan latihan, memperbaiki perlengkapan, menerima tugas, dan mempersiapkan diri menghadapi keadaan di perbatasan Green Continent yang semakin tidak stabil.
Namun bagi Ryosuke dan anggota Shugo Ryu, ada perubahan besar yang terjadi.
Mereka bukan lagi hanya sekumpulan orang yang berjalan bersama karena keadaan.
Mereka telah menjadi sebuah regu.
Pagi itu, halaman latihan barak dipenuhi oleh beberapa anggota yang berkumpul di sekitar Amanda. Perempuan itu berdiri dengan tongkat kayu di tangannya, sementara pada ujung tongkat tersebut terpasang Crystal Rune yang memancarkan cahaya samar.
Beberapa anggota muda memperhatikan dengan serius.
Amanda mengangkat tongkatnya perlahan.
"Pertama, kalian harus memahami satu hal."
"Crystal Rune bukan sumber kekuatan."
"Crystal Rune hanya media untuk menyimpan dan mengalirkan mana."
Para anggota mendengarkan tanpa suara.
"Mana adalah energi yang ada di alam."
"Setiap orang memiliki kemampuan berbeda dalam mengendalikan mana."
"Namun tidak semua orang memiliki elemen."
Amanda kemudian mengangkat tangan.
Api kecil muncul di telapak tangannya.
"Aku memiliki elemen api."
"Karena itu aku dapat mengubah mana menjadi sihir api."
Api tersebut bergerak mengikuti kendalinya sebelum kembali menghilang.
"Tapi bukan berarti semua orang yang menggunakan Crystal Rune bisa melakukan hal yang sama."
"Elemen adalah sesuatu yang sudah dimiliki sejak lahir."
Beberapa anggota mulai memahami maksudnya.
Amanda lalu melihat ke arah seorang prajurit yang membawa pedang.
"Contohnya, seseorang yang tidak memiliki elemen tetap dapat menggunakan mana."
"Mana bisa diubah menjadi teknik bertarung."
"Menambah kekuatan serangan."
"Meningkatkan kecepatan."
"Memperkuat pertahanan tubuh."
"Semua tergantung bagaimana orang tersebut mengendalikan mana."
Di sisi lain halaman, Ryosuke berdiri bersama Hana, Hector, dan Melinda memperhatikan penjelasan tersebut.
Hector menyilangkan tangan.
"Jadi aku tidak membutuhkan Crystal Rune untuk menggunakan mana?"
Amanda menggeleng.
"Tidak."
"Kau sudah menggunakan mana dengan caramu sendiri."
Hector menatap tangannya.
Amanda melanjutkan.
"Kau mengalirkan mana langsung ke tubuh."
"Itu yang membuat kekuatan fisikmu meningkat."
"Daya tahan mu lebih kuat."
"Dan mentalmu lebih sulit goyah."
Hector tersenyum kecil.
"Jadi kapakku bukan satu-satunya alasan aku kuat."
"Tepat." jawab Amanda.
"Senjatamu hanya alat."
"Kekuatan sebenarnya berasal dari bagaimana kau menggunakan mana."
Kemudian Amanda melihat ke arah Alfaro yang berdiri tidak jauh dari mereka.
"Begitu juga dengan Kapten Alfaro."
Alfaro mengangkat alis.
"Aku?"
Amanda mengangguk.
"Kau tidak memiliki elemen."
"Tapi kemampuanmu dalam mengendalikan mana membuat teknik bertarung mu berbeda."
"Mana yang kau gunakan memperkuat gerakan."
"Membuat serangan lebih cepat, lebih tajam, dan lebih presisi."
Alfaro hanya tersenyum kecil.
"Itu hanya hasil latihan panjang."
"Tapi tetap berasal dari cara menggunakan mana."
jawab Amanda.
Ryosuke diam mendengarkan.
Ia memahami bahwa setiap orang memiliki jalannya sendiri.
Hana memiliki elemen Air.
Hector menggunakan mana untuk memperkuat tubuh.
Alfaro mengubah mana menjadi teknik.
Mereka semua berbeda.
Tetapi semuanya berasal dari sumber yang sama.
Mana.
Hana kemudian menunjukkan kemampuannya.
Air muncul perlahan dari tangannya.
Tidak seperti api Amanda yang membakar, air Hana bergerak dengan tenang mengikuti aliran mana yang ia kendalikan.
"Aku menggunakan elemen Air."
kata Hana.
"Mana milikku bisa berubah menjadi penyembuhan."
"Dan juga serangan."
Amanda mengangguk.
"Itulah perbedaan pengguna elemen."
"Mereka dapat mengubah mana menjadi bentuk yang sesuai dengan atribut mereka."
Ryosuke memperhatikan tangan Hana.
Kemudian ia melihat dirinya sendiri.
Sejak dulu ia merasakan sesuatu yang berbeda dalam dirinya.
Ada kekuatan yang belum ia pahami.
Sesuatu yang tidak sama dengan orang lain.
Namun ia belum mengetahui apa sebenarnya.
Dan ia tidak berniat memaksakan jawabannya sekarang.
Alfaro kemudian mendekati Ryosuke.
"Kau mulai mengerti?"
Ryosuke menoleh.
"Mengerti apa?"
"Bahwa setiap anggota regu memiliki cara bertarung berbeda."
"Pemimpin tidak bisa memaksa semua orang bertarung dengan cara yang sama."
Ryosuke melihat kembali kepada anggota Shugo Ryu.
Hana.
Hector.
Melinda.
Amanda.
Mereka semua memiliki kemampuan yang berbeda.
Dan tugasnya bukan membuat mereka menjadi sama.
Melainkan membuat perbedaan itu menjadi kekuatan sebuah regu.
Latihan berlanjut hingga siang.
Setelah menjelaskan dasar mengenai mana, Amanda mulai membantu para anggota memahami cara mengendalikan energi dalam tubuh mereka. Ia tidak mengajarkan semua orang untuk menjadi penyihir, karena ia memahami bahwa tidak semua orang memiliki kemampuan elemen.
Yang ia ajarkan adalah dasar.
Bagaimana merasakan aliran mana.
Bagaimana mengendalikan kekuatannya.
Bagaimana menggunakan kemampuan yang sesuai dengan diri masing-masing.
"Jangan mencoba meniru orang lain." kata Amanda.
"Mana setiap orang berbeda."
"Kalau kalian memaksakan cara orang lain, kalian hanya akan membuang tenaga."
Para anggota mengangguk.
Pelajaran itu sederhana, tetapi penting.
Selama ini banyak orang hanya memahami bahwa kekuatan berasal dari senjata atau sihir.
Namun mereka mulai memahami bahwa cara seseorang menggunakan mana juga menentukan kemampuan mereka.
Di sisi lain, Ryosuke melakukan latihan bersama Shugo Ryu.
Kali ini bukan latihan kekuatan.
Melainkan latihan kerja sama.
"Melinda."
Ryosuke menunjuk arah hutan latihan.
"Kau tetap menjadi pengamat."
"Informasi adalah kekuatan."
Melinda mengangguk.
"Hector."
"Kau menjadi pertahanan utama."
Hector tersenyum.
"Aku memang paling cocok di depan."
"Hana."
"Kau mendukung dari belakang."
Hana mengangguk.
"Dan Amanda."
Ryosuke melihat tongkat dengan Crystal Rune di tangannya.
"Serangan jarak jauh dan dukungan."
Amanda tersenyum kecil.
"Dimengerti."
Mereka mulai berlatih.
Awalnya gerakan mereka masih kaku.
Hector terlalu maju.
Melinda terlalu sering bergerak sendiri.
Hana dan Amanda terkadang terlambat menyesuaikan posisi.
Tetapi perlahan mereka mulai memahami ritme satu sama lain.
Mereka tidak lagi bergerak sebagai individu.
Mereka mulai bergerak sebagai regu.
Dari kejauhan, Alfaro memperhatikan tanpa mengganggu.
Ia tahu perjalanan mereka masih panjang.
Shugo Ryu belum memiliki nama besar.
Mereka belum memiliki kekuatan besar.
Namun sebuah kelompok besar selalu dimulai dari sesuatu yang kecil.
Saat matahari mulai tenggelam, latihan akhirnya selesai.
Hector duduk sambil mengatur napas.
"Ternyata bekerja sebagai regu lebih sulit daripada bertarung sendiri."
Melinda tersenyum.
"Karena sekarang kau harus memikirkan orang lain."
Hector tertawa kecil.
Ryosuke melihat mereka semua.
Dulu ia hanya berjalan karena kehilangan.
Ia mencari jawaban atas kehancuran desanya.
Namun sekarang ia memiliki sesuatu yang berbeda.
Orang-orang yang berjalan bersamanya.
Orang-orang yang mempercayainya.
Dan tanpa ia sadari, dirinya perlahan berubah.
Bukan hanya seorang pendekar yang bertarung untuk bertahan hidup.
Tetapi seseorang yang mulai belajar memimpin.
Malam itu, di bawah langit Benteng Vargan, Regu Shugo Ryu terus berkembang.
Mereka masih kecil.
Mereka masih belum dikenal.
Tetapi langkah mereka mulai membentuk sesuatu yang lebih besar dari sekadar kelompok tentara bayaran.
Sebuah awal dari kekuatan yang suatu hari akan berdiri melawan Empire Krusador.
..._BERSAMBUNG _...
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉