Nayara Zayna Az-Zahra putri kiai besar yang anggun, taat agama, dan berprestasi cemerlang hidup di balik pagar syariat yang ketat. Dunianya yang tenang seketika terusik oleh kehadiran Revan Al-Gibran: bad boy kampus, playboy legendaris, dan mantan kekasih dari lebih dari sepuluh wanita.
Berawal dari sebuah taruhan egois untuk menjadikannya kekasih yang kelima belas, Revan justru terjebak dalam pesona ketulusan dan benteng pertahanan Nayara. Di tengah teror cemburu dari sang ketua geng penindas kampus, pertarungan antara dunia bebas sang pemuda dan dunia suci sang bidadari pesantren dimulai.
" Bisakah seorang bad boy berandalan meluluhkan hati wanita yang dijaga ketat, atau justru keyakinan dan cinta sejatilah yang mengubah segalanya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Garis Dua di Balik Pintu Kamar Mandi dan Kejutan Pagi
Udara pagi di awal bulan November menyapa Kota Surabaya dengan kesejukan yang menenangkan. Sinar matahari pagi merayap perlahan menembus celah gorden kamar tidur utama di rumah minimalis modern kawasan Graha Famili. Suasana rumah begitu hening, kecuali suara dengkuran halus dari AC yang menyala di sudut ruangan.
Nayara Zayna Az-Zahra terbangun lebih awal dari biasanya. Ia membuka matanya perlahan, merasakan sensasi mual aneh yang tiba-tiba bergejolak di dalam perutnya. Dengan langkah hati-hati, gadis itu bangkit dari tempat tidur berukuran king size, berusaha agar tidak membangunkan suaminya, Revan Al-Gibran, yang masih terlelap pulas di sampingnya dengan lengan kekar yang melintang di atas bantal.
Namun, rasa mual itu semakin menjadi-jadi. Nayara menutup mulutnya dengan sebelah tangan, lalu bergegas melangkah turun dari tempat tidur dan berlari kecil menuju kamar mandi dalam kamar mereka.
Huek... huek...!
Nayara membungkuk di atas washbasin, memuntahkan cairan bening. Kepalanya terasa sedikit pusing, dan tubuhnya mendadak lemas. Ia menyeka mulutnya dengan tisu, lalu membasuh wajahnya dengan air dingin untuk meredakan rasa pening yang menyerang.
Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar kamar mandi. Wajahnya tampak sedikit lebih pucat dari biasanya. Nayara mengerutkan kening, mencoba mengingat-ngingat siklus bulanannya yang ternyata sudah meleset hampir dua minggu dari jadwal normal.
'Apakah mungkin...?' batin Nayara membatin, jantungnya mulai berdegup kencang bukan karena takut, melainkan karena percampuran antara rasa tidak percaya, cemas, dan harapan yang membuncah.
Ingatannya melayang pada kotak perlengkapan medis darurat di dalam laci lemari luar di mana ia pernah menyimpan beberapa alat tes kehamilan mandiri yang dibelinya beberapa waktu lalu saat rotasi di bagian kebidanan rumah sakit.
Dengan tangan yang sedikit bergetar, Nayara membuka laci lemari secara perlahan, mengambil alat kecil berwarna putih itu, lalu kembali masuk ke dalam kamar mandi.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan kamar mandi yang menegangkan. Nayara memejamkan mata rapat-rapat saat meletakkan alat tersebut di atas meja marmer, menunggu beberapa detik sesuai instruksi penggunaan.
Ketika ia membuka matanya dan menunduk menatap alat tersebut, napas Nayara seketika tertahan di tenggorokan.
Dua garis merah horizontal terpampang jelas di jendela kecil alat tes kehamilan itu. Positif.
Air mata haru seketika tumpah dari pelupuk mata Nayara. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, berusaha meredam isak tangis bahagianya agar tidak terdengar sampai ke luar kamar mandi. Tubuhnya merosot pelan bersandar pada dinding keramik dingin, merasakan gelombang rasa syukur yang teramat besar menghantam dadanya.
Di luar kamar mandi, di atas tempat tidur, Revan Al-Gibran mulai merasa terusik oleh kesunyian yang ganjil. Pria itu membuka matanya perlahan, meraba sisi sebelah kanannya yang terasa kosong.
"Nay...?" panggil Revan dengan suara serak khas bangun tidur, manik matanya menyapu sekeliling kamar yang temaram.
Melihat pintu kamar mandi tertutup rapat dan terdengar isak tangis tertahan dari dalam, kekhawatiran langsung melanda diri Revan. Pria berot itu bangkit seketika, melepas selimutnya, dan melangkah cepat menghampiri pintu kamar mandi.
Tok... tok... tok...!
"Nay? Zawjati, kamu di dalam? Ada apa, sayang? Kenapa nangis?" tanya Revan dengan nada panik, jemarinya mengetuk pintu dengan tidak sabar. "Buka pintunya, Nay!"
Cklek.
Pintu kamar mandi perlahan terbuka dari dalam. Nayara berdiri di ambang pintu, mengenakan piyama tidur motif bunga lembut dengan jilbab instan yang disampirkan seadanya. Wajahnya basah oleh air mata, namun ada senyuman paling indah dan berseri yang pernah Revan lihat terukir di bibirnya.
Revan langsung mencengkeram kedua bahu istrinya, menatap wajah Nayara dengan pandangan cemas bercampur bingung. "Nay, kamu sakit? Ada yang luka? Kenapa pucat begini?"
Nayara tidak langsung menjawab. Ia mengangkat tangan kanannya yang sejak tadi disembunyikan di belakang punggung, lalu perlahan mengulurkan benda kecil bergaris dua itu ke hadapan dada suaminya.
Revan terpaku. Manik matanya menatap lekat-lekat alat tes kehamilan di tangan istrinya, lalu beralih menatap manik mata Nayara yang berkaca-kaca. Otak tajam seorang mantan bad boy sekaligus pengusaha muda itu mendadak bekerja sangat lambat untuk mencerna makna dari dua garis merah tersebut.
"Ini... artinya apa, Nay?" bisik Revan parau, suaranya nyaris tak terdengar, seolah ia takut salah mengartikan kenyataan di hadapannya.
Nayara mengangguk pelan, air matanya kembali menetes diiringi senyuman tulus. "Alhamdulillah, Mas... Kamu bakal jadi seorang ayah. Aku... aku hamil."
Seketika itu juga, dunia di sekitar Revan seolah berhenti berputar.
Seluruh beban hidup, rasa bersalah atas masa lalu yang kelam, ketegangan teror kampus, hingga perjuangan berat membangun kehidupan rumah tangga baru seolah sirna dan terbayar lunas dalam satu detik yang sangat magis ini. Pertahanan diri Revan runtuh sepenuhnya.
Pria bertubuh tegap itu langsung menerjang maju, mendekap tubuh Nayara erat-erat sedemikian rupa, seolah ia ingin menyatukan raga istrinya ke dalam jiwa raganya. Isak tangis kebahagiaan yang begitu dalam lolos dari bibir Revan tangisan seorang pria tangguh yang akhirnya menemukan muara kedamaian sejati dalam hidupnya.
"Ya Allah... Alhamdulillah... Alhamdulillah ya Allah..." rindu Revan berulang-ulang di telinga istrinya, mencium seluruh wajah, kening, dan puncak kepala Nayara dengan penuh air mata cinta. "Terima kasih, Nay... Terima kasih sudah memberiku anugerah terindah ini..."
Nayara melingkarkan kedua tangannya di leher suaminya, balas memeluk Revan dengan erat, menyalurkan kehangatan dan rasa syukur yang sama di dada bidang pria itu.
Berita kehamilan Nayara tidak hanya membawa kebahagiaan bagi mereka berdua, tetapi juga langsung mengubah drastis ritme kehidupan rumah tangga di kediaman Graha Famili dalam beberapa bulan ke depan.
Sikap posesif dan perhatian Revan yang tadinya sudah tingkat tinggi kini mendadak meningkat sepuluh kali lipat.
Pernah suatu sore, saat usia kandungan Nayara memasuki bulan keempat dan perutnya mulai tampak sedikit membuncah di balik gamis longgarnya, Nayara mencoba turun sendiri ke dapur untuk mengambil segelas air hangat.
Belum sempat kaki Nayara melangkah melewati anak tangga kedua, suara bariton Revan sudah menggelegar tegas dari ruang kerja lantai bawah.
"Nayara Zayna Az-Zahra! Mau kemana kamu?!" teriak Revan setengah berlari menaiki tangga, mengenakan kemeja kerja yang lengannya belum dikancingkan sempurna.
Nayara terkejut, menghentikan langkahnya sambil tersenyum geli. "Cuma mau ambil air minum di dapur, Mas. Haus banget rasanya."
Revan langsung berdiri di hadapan istrinya, menggelengkan kepala dengan ekspresi panik yang dibuat-buat. "Kenapa nggak panggil aku? Kalau kamu kenapa-napa di tangga gimana? Kan sudah kubilang, kalau butuh apa-apa, cukup panggil Suamimu yang siaga ini!"
Tanpa menunggu bantahan, Revan langsung mengangkat tubuh Nayara dalam gendongan bridal style dengan sangat mudah, membawanya turun ke lantai bawah menuju sofa ruang keluarga, seolah Nayara adalah seorang ratu rapuh yang terbuat dari porselen mahal.
Nayara hanya bisa tertawa kecil, memukul pelan bahu suaminya. "Mas, aku cuma hamil empat bulan, bukan nggak bisa jalan! Kamu ini berlebihan banget, deh."
"Biarin!" balas Revan tegas namun penuh cinta, mendudukkan istrinya dengan sangat hati-hati di atas sofa empuk, lalu menyusul dengan menyodorkan segelas air hangat dan semangkuk buah potong segar. "Dokter Maya kemarin bilang, trimester kedua ini kamu harus banyak istirahat dan jangan banyak bergerak aktif di rumah sakit dulu. Tugas klinis berat di IGD sudah aku minta tolong alihkan ke dokter residen lain."
Nayara menggelengkan kepala, tersenyum manis melihat betapa cintanya sang suami kepada dirinya dan calon buah hati mereka. Ia menerima gelas air dari tangan Revan, lalu menarik tangan suaminya agar duduk di sampingnya.
"Iya, Pak Dokter Pribadi... Istrimu ini bakal nurut sama semua instruksi suaminya," jawab Nayara menggoda.
Revan tersenyum puas. Ia merangkul pinggang istrinya, lalu mendekatkan telinganya ke perut Nayara yang mulai membuncah. Dengan sangat lembut, pria itu mengelus perut sang istri, lalu berbisik pelan, mengajak calon bayi mereka berbicara.
"Hei, jagoan kecil di dalam sana... Jangan nakal ya, jangan bikin bunda kerepotan di rumah. Cepatlah besar, karena ayah sudah tidak sabar ingin segera menggendongmu dan melindungimu seumur hidup."
Mendengar bisikan penuh kasih sayang dari suaminya, hati Nayara terasa sangat hangat dan lapang. Badai masa lalu kini telah benar-benar tenggelam, digantikan oleh fajar baru yang terang benderang sebuah perjalanan keluarga kecil yang diridai oleh Sang Pencipta, diikat oleh cinta suci yang abadi selamanya.
bawangnya kebanyakan thor