"Tinggalkan putraku, maka aku akan membantu biaya pengobatannya."
Di malam hujan itu, Alina akhirnya memilih pergi. Pergi sejauh mungkin tanpa tau jika saat itu ia tengah mengandung.
Empat tahun berlalu. Takdir kembali mempertemukan keduanya.
Kebencian itu terlihat jelas dari manik mata itu. Sakit. Tapi demi biaya pengobatan sang buah hati, ia pun rela menurunkan harga dirinya.
"Tidak apa-apa. Sakiti hatiku sesukamu sampai kamu puas. Ini semua kesalahanku. Aku sadar akan itu. Hingga saatnya tiba, aku berharap kamu akan tau, jika aku sangat mencintaimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reinata Ramadani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Foto Yang Tersebar
Dengan berbalut jas hitam rapi, laki-laki itu telah berdiri dihadapannya dengan wajah tanpa ekspresi. Dingin. Begitu menusuk. Ada kebencian disana.
Tapi Marsha membutuhkannya.
Niat hati mendekat padanya. Namun langkah itu tertahan saat laki-laki itu memilih berlalu begitu saja, seolah mereka tak saling mengenal sama sekali.
Hufttt... .
Alina menghela napas panjang, menatap punggung tegap yang kian menjauh itu dengan mata berkaca-kaca.
Nasi sudah menjadi bubur. Mungkin cinta yang dulu tumbuh subur di hati laki-laki itu kini telah terganti oleh rasa benci yang mungkin sulit untuk dapat di rubah.
Baiklah.
Ia akan memberi jeda.
Ini bukan saat yang tepat untuk meminta bantuan padanya.
Baru saja sampai di ruangannya, sebuah tangan menariknya dengan tiba-tiba. Membuatnya hampir saja berteriak jika saja mulutnya tak segera dibekap saat itu juga.
"Mba, ini aku."
Itu Cyntia.
"Cyn, ada apa sih? Ngagetin aja kamu."
Bukannya menjawab, Cyntia justru langsung merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya. Ia mengotak-atik layarnya sebentar, lalu menyodorkannya tepat di depan wajah Alina.
"Mba lihat ini deh. Ini penyebab kenapa dari pagi orang-orang pada sentimental sama mba. Termasuk Bu Lastri."
Alina menurut. Ia periksa layar ponsel Cyntia, dan seketika itu jantungku mencelos.
Di sana, di dalam grup WhatsApp kantor yang berisi ratusan karyawan, sebuah foto dikirim oleh nomor tak dikenal.
Itu foto dirinya.
Foto semalam saat ia baru saja keluar dari gedung perusahaan sekitar pukul dua tengah malam. Penampilannya berantakan, rambutnya acak-acakan, kancing kemeja atasnya bahkan tak di pasang dengan benar.
Di bawah foto itu, rentetan komentar miring dan hujatan dari karyawan lain terus mengalir tanpa henti.
"Foto ini tersebar dari subuh tadi, mba," ucap Cyntia dengan tatapan cemas. "Semua orang di kantor ini mengira... mba berbuat yang tidak-tidak di dalam ruangan atasan malam-malam. Mba sebenarnya dari mana semalam sih? Kenapa bisa jam dua pagi baru pulang dengan keadaan begitu?"
Alina menggigit bibir bawahnya, menatap layar ponsel itu dengan tatapan nanar. "Aku tidak perduli itu Cyn. Yang terpenting, aku tidak seperti yang dituduhkan. Terserah orang lain menganggap aku bagaimana, itu urusan mereka."
"Tapi, mba akan kesulitan kedepannya. Atasan disini pasti bersikap sentimental dan semena-mena, sama seperti bu Lastri tadi."
"Tidak apa-apa, biarkan saja. Lama-lama mereka akan bosan juga nanti."
Cyntia mencebik, tak terima dengan kepasrahan Alina. "Nanti kalau mereka semena-mena, siram pakai air bekas pel aja mba."
Membuat tawa itu pecah. "Hahaha, ada-ada aja kamu Cyn."
"Terimakasih ya, sudah kasih tau hal ini."
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Tiga hari berlalu, hari itu Alina berniat untuk menemui Leon untuk meminta bantuan pada laki-laki itu untuk melakukan tes uji HLA. Tak perduli bagaimana respon Leon nanti, apakah ia akan diusir, dimaki, atau justru tidak dipedulikan sama sekali, yang terpenting ia harus mencoba dulu demi keselamatan sang putri.
"Permisi, Tuan. Apakah Tuan Leon ada?"
Laki-laki itu tampak terkejut saat Alina menghampirinya di jam segini. Saat itu jarum jam menunjukkan pukul sembilan malam. Semua karyawan bahkan sudah kembali ke rumah masing-masing, tapi perempuan itu malah dengan berani mencari atasannya di jam tidak lazim.
"Ada keperluan apa, nona?" Tanya Max, menatap Alina penuh selidik.
"Emmmm... ada sesuatu yang ingin saya bicarakan."
"Boleh saya tau dengan Nona siapa? Saya harus memastikannya terlebih dulu, karena saat ini tuan Leon sedang sibuk."
"Alina."
Max mengangguk formal, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan Leon. Tak lama, ia kembali dengan ekspresi datarnya. "Maaf Nona, tuan Leon sedang sibuk saat ini. Dan beliau tidak mau di ganggu untuk alasan apapun.
Mendengar itu, Alina tak menyerah.
"Hanya sebentar saja, pak. Saya mohon." Seru Alina penuh permohonan.
Ia sengaja menunggu sampai larut malam agar tidak ada seorangpun yang melihatnya datang ke sini. Segalanya akan sia-sia jika ia harus pulang dengan tangan kosong.
"Sebaiknya nona kembali." Jawab Max, tegas, namun tetap sopan.
☆☆☆☆☆☆☆☆
Annyeong
Happy reading
Saranghaja
tapi tunggu up nya harus bersabar